Eceng Gondok, si Cantik Invasif dengan Dua Sisi Mata Uang …

Perlahan-lahan negeri ini mulai kehilangan bio hayati endemiknya. Dilaporkan sebanyak 1.800 flora, fauna, maupun mikroorganisme di Indonesia diperkirakan telah terintroduksi jenis asing invasif (JAI), baik yang berupa hewan atau tumbuhan asing yang berasal dari luar negara maupun luar pulau, yang kedatamgannya dapat mengganggu bahkan mengancam kelestarian flora dan fauna lokal. Artinya banyak flora dan fauna lokal yang akan, sedang, dan hampir menuju kelangkaan maupun kepunahan bila tidak diambil langkah-langkah yang preventif dan efektif. Angka tersebut dalam kenyataannya tentu jauh lebih besar lagi. Semula tujuan pendatangan jenis asing ini demi kebaikan, segi kemanfaatannya maupun keindahan. Namun dalam perkembangannya, spesies invasif yang mayoritas berasal dari luar negeri ini menggeser keberadaan dan kemapanan spesies lokal / endemik. Untuk penulisan berikutnya, apabila disebut spesies invasif itu berarti ditujukan bagi spesies yang berasal dari luar negara bukan luar pulau atau daerah. Mengapa? Karena spesies yang berasal dari luar negara lebih sulit penanganannya dibanding spesies antar pulau atau daerah apabila keberadaannya telah memberikan dampak negatif.

Spesies invasif adalah spesies yang muncul sebagai akibat dari aktivitas manusia, melampaui penyebaran normalnya yang dapat mengancam lingkungan, pertanian dan sumber daya lainnya. Tumbuhan invasif biasanya mempunyai karakteristik tumbuhnya cepat, reproduksi terutama secara aseksual cepat, kemampuan menyebar tinggi, toleran terhadap kondisi lingkungan, dan berasosiasi dengan manusia. Karakteristik fauna invasif kurang lebih sama dengan kemiripan karakteristik yang dimiliki tumbuhan invasif. Eceng Gondok sebenarnya adalah tumbuhan pendatang dari Brasil. Karakteristik lingkungan asal dengan lingkungan baru jelas-jelas berbeda, namun Eceng Gondok mampu beradaptasi di lingkungan invansifnya dengan sangat sukses. Berbeda di lingkungan asalnya – Sungai Amazona – yang berada dalam pengendalian alam, Eceng Gondok yang telah berpindah ke berbagai negara menjadi gulma yang sangat sulit diberantas negara-negara tersebut, termasuk Indonesia. Begitu juga dengan kedatangan ikan Mujair dan Nila dari Afrika yang menggeser keberadaan dan manfaat dari ikan-ikan lokal Indonesia merupakan salah satu contoh spesies fauna invasif. Lingkungan yang berbeda tidak membuat kedua ikan ini menjadi merana. Justru kedua ikan ini mampu berkompetisi dengan ikan-ikan tuan rumah. Kedua ikan ini memang mempunyai tingkat adaptasi, pertumbuhan dan perkembangbiakan yang tinggi. Mayoritas waduk-waduk atau bendungan-bendungan di negara kita ditebari kedua jenis ikan ini, hingga menggeser ikan-ikan lokal / endemik. Dahulu di telaga-telaga atau rawa-rawa pun sungai-sungai masih banyak ditemukan ikan-ikan cantik ini, bahkan dijual bebas di pasar-pasar sebagai lauk-pauk atau dijadikan ikan asin.

 sepat1 Foto(239) wader ijo wader melem wader nilem 10730_13

Pun ikan-ikan kali yang dulu biasa kita makan …

  sidestripe-rasbora-rasbora-paviei silver-rasbora-rasbora-argryotaenia Wrestlinghalfbeak

Ikan-ikan itu dulu sangat umum kita temukan karena saking banyaknya bertebaran di sungai-sungai yang membuat orang-orang, bahkan anak-anak seperti saya waktu itu tergoda untuk menjala, memancing, atau menyikrak(?)nya. Namun kini keberadaannya kian tergeser dan tersisih, meski di waduk-waduk masih bisa kita dapatkan. Penyebabnya, selain petani ikan lebih menyukai membudidayakan ikan-ikan yang telah jelas mendatangkan inkam cepat dan tinggi dibanding berkonsentrasi terhadap ikan-ikan lokal liar, juga semakin rusaknya habitat-habitat sungai-sungai, telaga/danau, dan rawa-rawa. Faktor-faktor ekonomis memang tak pernah mendukung faktor-faktor alami.

Ikan-ikan di bawah ini mulai atau sudah langka di alamnya …

arwana-arowana belida-lopis ikan wader goa

Jika tidak diambil tindakan-tindakan lebih lanjut, maka ikan-ikan di atas juga di bawah ini akan menghilang dari bumi Nusantara, in memoriam …

 TRICHOGA rainbow_blue RedIrianRainbowfish Irianthrina werneri

125PX_ME file_008

     Satu sisi keberadaan spesief invasif ini – seperti tujuan semulanya – memang mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi manusia. Di sisi lain, bila fungsi kontrol dan manajerial terhadap jenis invasif tersebut lemah, maka spesies-spesies ini akan menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Setelah Ruellia dalam postingan kita tanam, kini giliran bunga akuatik berwarna ungu biru yang dianggap sebagai gulma, namun kalau mau jujur mereka memiliki kemanfaatan yang luar biasa. Tumbuhan yang dianggap gulma ini memiliki kelebihan-kelebihan yang di antaranya tidak dimiliki oleh tumbuhan lain di muka bumi ini. Ya … dialah Eceng Gondok, yang kehadirannya bagaikan dua sisi mata uang, yang sejatinya antara sisi-sisinya saling melengkapi, bukan saling kontra.

Orang bule menyebutnya Water Hyacinth. Bagi pecinta bunga, nama Hyacinth pasti nggak asing lagi ya… Saya pikir nama gondok itu mungkin diambil dari ‘batang’ daunnya yang menggelembung mirip gondok di leher orang yang kekurangan zat yodium. Di Malaysia jamak disebut Orkid Air, atau Keladi Bunting, yang nampaknya sebutan ini berasal dari ‘batang’nya yang menggembung mirip orang hamil. Di sana, tumbuhan ini juga dijadikan sebagai pakan ternak, seperti lembu dan kambing. Mungkin ide ini bisa dipakai oleh peternak kita ya … Kalau di musim kemarau sulit mencari rumput, ya kasih saja daun eceng sebagai makanan ternak. Selain membantu mengontrol perkembangannya, juga membantu perairan agar tetap seimbang. Namun pendapat berbeda dilontarkan Bapak Suharsono. Dari hasil penelitiannya, menyatakan bahwa serat yang tinggi pada enceng gondok ternyata bisa diurai dengan baik oleh ternak jenis unggas dan atau ternak non-ruminansia, seperti ayam petelur, ayam potong, bebek, dan itik karena unggas mempunyai lambung jamak semu (pseudo polygastric animals). Jenis ternak non-ruminansia lainnya adalah binatang yang berlambung tunggal (monogastric animals) di antaranya kuda, babi, kucing, anjing, dan lain-lain. Sedang sapi dan kambing bukan termasuk hewan non-ruminansia karena berlambung jamak (polygastric animals). Mana yang benar? Pendayat saya, Bapak Suharsono melakukan pendekatan secara scientific dengan melakukan penelitian yang tentunya tidaklah sebentar terhadap eceng gondok sebagai pakan ternak, sedang para peternak Malaysia mendasarkan pada pengalaman mereka. Dugaan saya, pemberian eceng gondok sebagai pakan yang dilakukan peternak Malaysia tidaklah bersifat rutinitas / harian, namun sebagai selingan saja untuk menambah nutrisi bagi ternak-ternak mereka. Allah yang Maha Tahu.

hyacinth-muscari-armeniacum-flower-anggur eceng gondokEceng Gondok dan Blue Hyacinth / Blue Bell / Armeniacum Flower / Muscari atau Anggur Eceng Gondok

Blue Hyacinth / Blue Bell / Armeniacum Flower / Muscari atau Anggur Eceng Gondok dan Eceng Gondok

Meski cantik, belum banyak yang menjadikannya sebagai tanaman hias. Tapi saya pernah menemukan sebuah situs yang menjual on-line seharga IDR 5K/tanaman. Perkembangbiakannya yang super cepat melalui runner atau tunas anakan menjadikan harga si eceng ini murah meriah, bahkan gratis jikalau kita mau meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk memperolehnya di lokasi tumbuhnya seperti kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air – saluran-saluran irigasi – yang lambat, danau, tempat penampungan air, dan sungai.

Awalnya bunga ungu yang memikat ini didatangkan ke Indonesia sebagai penghias kolam laksana teratai. Namun karena kita kesulitan menekan perkembangbiakannya, maka jadilah si Eceng Gondok dilabeli sebagai tumbuhan gulma pengganggu, biang kerok mampet dan dangkalnya saluran air serta irigasi, menurunkan produksi sektor perikanan, bahkan merusak ekosistem lokal. Ditengarai tingginya populasi disebabkan karena tidak dikendalikan oleh musuh alaminya ataupun adanya tekanan kompetisi dari spesies tumbuhan lain yang berkarakter sama. Tidak hanya itu saja penyebabnya. Namun polusi air yang tinggi juga menjadi penyebabnya dari aktivitas humanian maupun industri juga menjadi pemicunya, membuat si eceng kian subur makmur saja.

Populasinya yang sangat besar kian menambah kompleksnya permasalahan, baik secara ekologi maupun estetika. Kian tergeser atau hilangnya biota lokal, menurunnya jumlah ikan akibat terhalangnya intensitas matahari dan oksigen, serta tingginya tingkat perkembangbiakan nyamuk yang membawa penyakit bagi manusia menjadi permasalahan yang sulit diatasi. Populasi eceng gondok yang tinggi juga akan memperbesar prosentase terjadinya banjir, ketidakoptimalan aliran air, dan mengurangi daya tampung / debet air. Segala cara memang telah dilakukan, namun keefektifan atau hasilnya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Di Jakarta saja, saat diadakan pengerukan Waduk Sunter Utara, Papanggo, Tanjung Priok terkumpul 30 truk penuh lumpur dan eceng gondok dalam jangka waktu sekitar 3 bulan. Sedangkan upaya revitalisasi danau Limboto dan sungai Alopohu yang dipenuhi padang enceng gondok dengan cara pengerukan dan pengangkatan gulma, serta normalisasi menelan biaya sebesar Rp 80 milyar. Bukan termasuk murah kan? Sedang di Danau Kerinci untuk membasmi eceng gondok memerlukan waktu 10 tahun dengan menggunakan musuh alamiahnya, ikan Grass Carp. Bukan waktu yang sebentar. Kemampuannya berkolonisasi secara cepat dituduh sebagai penyebabnya. Jadilah si innocent ini menjadi kambing hitam atas kesalahan manusia. Padahal sebenarnya bukanlah kesalahan dari si cantik ini, namun tindakan-tindakan yang jitu serta bijak perlu dilakukan agar masalah-masalah tidak semakin meluas dan merunyam, yang akhirnya berdampak negatif yang besar terhadap manusia. Populasinya harus dikendalikan. Solusinya dicarikan cara-cara efektif yang saling menguntungkan. Maka, harus dicari cara lain yang lebih ekonomis dan efisien. Pada alinea-alinea akhir postingan ini, saya mengajukan dua cara untuk penanggulangan eceng gondok. Semoga cara ini berhasil, aamiin.

 

Kelebihan-kelebihan Eichhornia crassipes

Di balik stereotype negatifnya, eceng gondok mempunyai kelebihan-kelebihan yang di antaranya tidak dipunyai tanaman-tanaman lain dan bermanfaat bagi manusia. Namun memang untuk membongkar kemanfaatan si eceng ini membutuhkan waktu yang tak singkat, biaya yang tak sedikit, dan harus dilakukan penyeringan kontak antara manusia dan eceng gondok. Kita harus lebih berdekat-dekat dengan eceng gondok, agar tak hanya sisi negatifnya saja yang kita nilai. Untuk penilaian seperti ini, saya teringat film “sanctum-movie-poster-135x200” yang diadaptasi dari kisah nyata. Film ini menceritakan seorang peneliti gua – saya lupa istilah tepatnya – yang dicap para kolega bahkan putranya sendiri sebagai manusia tanpa perasaan, tak punya hati, dan sangat tega meski dalam masalah nyawa sekalipun. Namun salah satu sahabat mengatakan kepada si putra peneliti bahwa pandangan negatif itu hadir disebabkan belum mengenal karakter sejati si peneliti gua itu. Hal ini terbukti saat si peneliti, beberapa kolega dan putranya terjebak di gua yang sedang banjir karena datangnya badai. Mereka harus mencari jalan keluar dari gua tersebut dengan cara mengikuti kelok-kelok sungai bawah tanah yang menuju laut, sebagai satu-satunya jalan. Jelas tak mudah, karena sungai bawah tanah bukanlah seperti sungai di atas bumi yang selama ini kita lihat dan ketahui. Di sinilah dramatisasi film dibangun menuju puncak. Satu demi satu para kolega menemui ajalnya. Puncaknya, si peneliti mengorbankan dirinya, bahkan nyawanya demi sang anak. Wah untuk yang session ini saya tak kuasa untuk termehek-mehek tak karuan …

Wis, bar nangise, ayo mbalik ke pak Tukul maneh, eh … ke kelebihan eceng gondok ding …

Inilah beberapa kelebihan eceng gondok …

  • Toleran terhadap perubahan ekstrem, mulai dari faktor ketinggian air, arus, perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur, hingga racun-racun dalam air.
  • Mampu menyerap residu pestisida dan polutan, terutama logam-logam berat berhahaya, sehingga digunakan sebagai filterisasi alami terhadap limbah pabrik. Dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam-logam berbahaya seperti logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni) dengan kadar serapan yang tinggi. Logam chrom (Cr) dapat diserap eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Masya Allah.
  • Sistem perakaran eceng gondok mempunyai kekuatan luar biasa dalam menyerap kotoran dan mampu memurnikan air hingga dapat menghemat jutaan dolar, serta digunakan di banyak pusat penanganan limbah di kota besar di AS – hasil studi riset NASA –.
  • Dan lain-lain (belum terekspos dan tereksplor)

Segudang Manfaat Eceng Gondok

  • Sebagai pupuk natural / kompos

Kaya akan asam humat penghasil Senyawa Fitohara yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman hias maupun budidaya. Cara membuatnya mudah saja. Potong kecil-kecil – lebih lembut lebih baik, sehingga mikroorganisme akan lebih mudah dalam menguraikannya – seluruh bagian tumbuhan. Tambahkan cacing tanah sebagai salah satu pengurainya. Pengurai lain berupa mikroorganisme tidak usah anda cari mereka akan datang dengan sendirinya. Tambahkan juga dengan kotoran lembu yang telah dikeringkan. Dengan demikian, dekomposisi eceng gondok akan terjadi lebih cepat. Lakukan penyiraman, pembalikan, dan pemeriksaan rutin setiap hari. Akhirnya kompos eceng gondok siap digunakan. Namun kalau anda tak punya waktu untuk itu, cacah saja dan langsung tanam dalam pot bunga. Memang akan lebih lama terurainya, namun anda bisa memangkas kerepotan, waktu dan tenaga anda untuk membuat kompos tersebut.

  • Sebagai bahan baku industri kerajinan, komoditas ekonomi, dan mendatangkan inkam

Para pengepul di Ambarawa, Jawa Tengah mampu menjual eceng gondok setiap truknya seharga Rp 1.250.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 berisi kurang lebih empat kuintal. Tentunya yang paling diuntungkan adalah para pemungut atau petani eceng yang mendapatkannya gratis dari alam. Dia hanya mengeluarkan tenaganya saja untuk memanen eceng gondok. Hasil kerajinan berupa sandal, tas, pigura, perabotan (rumah tangga) dan lain-lain memang mempunyai nilai ekonomi cukup prospektif.

th_018 th_007 20130217090730_337

  • Bahan pembuatan kertas
  • Sebagai media pertumbuhan jamur merang
  • Sumber energi biomasa sederhana

Dihasilkan dengan cara memanfaatkan serat biomasa yang ada pada eceng gondok hingga menjadi sumber energi alternatif terbarukan. Caranya eceng gondok dan sampah basah diolah melalui proses hidrolisis dengan senyawa tertentu pada suhu 10 derajat Celcius selama 30 menit. Kemudian dilakukan fermentasi menggunakan bantuan mikroorganisme selama 96 jam. Bahan bakar alternatif bioetanol ini juga ramah lingkungan. Pada penggunaan teknologi yang lebih canggih, eceng gondok – dan juga sampah – dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit energi listrik secara besar-besaran atau industrialisasi. Sumber energi yang terbarukan – eceng gondok dan sumber energi terbarukan lainnya, misal sampah basah – yang berlimpah ruah di bumi Indonesia kita ini, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Untuk itu pemerintah harus mempunyai peranan yang sangat besar, baik sebagai pelaku, pelindung maupun pendorong.

  • Bioindikator perairan

Dalam kasanah ekologi perairan, kehadiran eceng gondok dan atau bersama-sama beberapa tumbuhan air lainnya merupakan petunjuk hayati bahwa perairan tersebut telah tercemar, baik oleh zat-zat polutan berbahaya maupun over dosis bahan-bahan organik. Karena itu, pada tahap awal kolonisasi, eceng gondok tidak perlu dibasmi, tapi yang utama adalah penanganan masalah pencemaran yang terjadi di perairan. Sumber utama pencemaran ini tentu saja dari aktivitas di daratan, seperti penggunaan pestisida, kegiatan sehari-hari humanian, limbah-limbah industri atau polusi, dan sebagainya.

  • Dan sebagainya

Betapa besar sejatinya manfaat eceng gondok. Namun, pamor positif ini masih kalah dengan pamor negatifnya, yakni sebagai gulma perusak. Mengingat akibat negatif yang ditimbulkannya juga tak kalah banyak – dalam jumlah besar dan tak terkendali –, maka memanfaatkan eceng gondok secara bijak adalah jawabannya. Pabrik atau siapa pun tidak boleh membiarkan tanaman ini lepas ke perairan bebas. Bagi industri kerajinan juga harus menjaga benar-benar keadaan ekosistem perairan yang ditanami eceng gondok tersebut, jangan sampai keberadaan eceng gondok tersebut mematikan biota asli. Bagi Anda yang menanamnya sebagai penghias kolam / taman, sebaiknya tanam di wadah tersendiri agar dapat terus terpantau perkembangannya. Jika sudah banyak atau sudah bosan, jangan buang sembarangan. Setelah dicacah-cacah dahulu kemudian dikeringkan dapat kita manfaatkan sebagai kompos / pupuk bunga atau tanaman. Bila tetap berkeinginan membuangnya, pastikan si eceng benar-benar telah mati. Jaga jangan sampai eceng gondok tersebut masuk ke perairan bebas dengan cara apapun, yang kelak bisa menimbulkan dampak yang sangat merugikan.

seorang-petani-mengambil-eceng-gondok-ilustrasi-_12060516094 antisipasi-banjir-eceng-gondok-di-waduk-sunter-diangkut 200px-Eceng

     Allah, Tuhan Pengatur Sekalian Alam telah mengatur sedemikian rupa semua berjalan dengan seimbang, serasi, dan selaras. Tentunya Allah tidak membiarkan Eceng Gondok berkembang pesat tanpa dikendalikan. Allah juga menyediakan pengendali alamiahnya yang berada di Sungai Amazon, Brasil – sekali lagi saya belum tahu apa saja pengendali alamiahnya itu –. Bila kita berkeinginan untuk mendatangkan musuh alaminya, perlu dipertimbangkan secara matang agar keberadaan musuh alami ini tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Logika sederhananya, si musuh alami didatangkan untuk memakan dan memusnahkan si Eceng. Nah kalau si eceng sudah tidak ada lagi, maka bagi pemangsanya hanya tersedia dua opsi baginya, yakni mati atau mempertahankan hidupnya dengan segala cara. Namun menurut ilmu pengetahuan yang kita pelajari, setiap makhluk mempunyai daya juang untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya maupun generasi keturunannya. Dampaknya akan timbul permasalahan baru yang belum tentu akan bisa terpecahkan di kemudian hari apabila pilihan kedua lebih kuat prosentasenya dibanding opsi pertama. Maka, apapun tindakan yang akan kita ambil harus mampu menekan atau menghilangkan dampak negatif seminimal mungkin. Salah satu pengendali alami yang diketahui adalah adanya kandungan garam. Di danau-danau daerah pantai Afrika Barat, pertumbuhan eceng gondok terhambat saat musim kemarau, dan meninggi di waktu musim penghujan tiba . Namun tentunya cara ini tidak tepat kalau kita terapkan di danau-danau, waduk-waduk atau perairan-perairan murni air tawar. Selain akan memusnahkan biota-biota yang ada, juga akan menimbulkan permasalahan lain lagi. Yang umum digunakan sebagai musuh biologis bagi si eceng adalah ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) – di negeri kita dikenal sebagai ikan koan –, berasal dari China yang lagi-lagi mempunyai perbedaan karakteristik dan kondisi lingkungan hidupnya. Dilaporkan ikan ini sangat rakus dan menyukai pakan pokoknya yakni ganggang-ganggangan. Namun jika ganggang sudah tidak tersedia, mereka mau memakan semua jenis tumbuhan apa saja, bahkan rumput-rumput darat juga mereka sikat. Bayangkan kalau si ikan ini dilepas ke perairan bebas tanpa pengawasan. Tak akan terbayangkan banyaknya tumbuhan-tumbuhan akuatik maupun non-akuatik asli Indonesia yang musnah dimangsa ikan ini.

grass_carp

     Selain ikan koan, pengendali alamiah dari si Water Hyacinth adalah jamur patogen Cercospora piaropi sinonim Cercospora rodmanii yang dikembangkan sebagai bioherbisida. Jamur ini mempunyai daya rusak yang tinggi terhadap inangnya. Karena jamur ini tak hanya menyerang eceng gondok saja, melainkan juga tanaman bit dan bit gula, maka dalam penggunaannya harus hati-hati dan selalu dalam pengawasan yang ketat karena mungkin saja jamur ini mempunyai kisaran inang yang lebih luas dari yang diketahui. Hingga sekarang terus dilakukan research dan kajian yang mendalam terhadap jamur Cercospora dan jenis-jenis jamur lain sebagai bioherbisida. Meski musuh alamiah bersifat ramah lingkungan, namun dalam penanganannya tetap harus sebijak mungkin agar tidak menimbulkan masalah baru karena tentu saja masing-masing mempunyai sisi positif dan negatifnya.

Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan eceng gondok saya mempunyai dua ide. Ide pertama, dibuatkan saja suatu kolam / bendungan tersendiri berisi ikan Koan yang letaknya di bawah bendungan utama yang banyak ecengnya. Boleh juga letaknya sejajar asal ada pintu airnya, agar dapat diatur sirkulasinya juga menjaga ikan Koan agar tidak lepas ke perairan bebas. Caranya mudah saja. Eceng gondok dialirkan ke bendungan khusus tersebut secara berkala agar dimakan ikan Koan. Bila eceng gondok di kolam khusus habis, dialiri lagi eceng gondok dari bendungan utama. Begitu seterusnya diulang-ulang sampai eceng gondok di bendungan utama benar-benar habis. Setelah benar-benar habis, kita dapat memanen ikannya untuk dikonsumsi atau dijual ke daerah atau negara yang membutuhkan. Jadi, permasalahan eceng gondok selesai, begitu juga dengan permasalahan ikan koan. Bagaimana?

Ide kedua yang saya pandang benar-benar saling menguntungkan bagi semuanya dan dapat berlangsung secara terus-menerus ialah …

  • Pemerintah sebagai aktor utama pembangunan mendata kantong-kantong eceng gondok yang berada di seluruh Indonesia, sambil terus memonitor perkembangannya. Secara bersamaan, pemerintah juga mencari atau mendata tempat-tempat industri, kelompok usaha, atau masyarakat yang telah memanfaatkan eceng gondok secara besar-besaran, seperti industri kerajinan, industri biomasa, dan lain-lain.
  • Kemudian eceng gondok di daerah kantong-kantong disalurkan ke tempat-tempat yang membutuhkan. Tentunya pemerintah harus memotong ongkos transportasi dan biaya-biaya lain yang terkait, atau istilahnya memberikan subsidi. Gambaran sederhananya begini. Salah satu daerah kantong eceng gondok misalnya Danau Limboto, sedang sentra pengrajin eceng gondok berada di Bantul Yogyakarta yang selama ini mendatangkan eceng gondok dari kota lain sesama wilayah Jawa Tengah dengan harga sekitar Rp 1.250.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 per truknya. Maka pemerintah harus berani menambal atau mensubsidi biaya pengiriman dari Danau Limboto ke Bantul. Hal itu berlaku juga bagi industri-industri lain yang membutuhkan eceng gondok sebagai bahan bakunya, seperti industri kertas, industri pupuk / kompos, dan lain sebagainya yang letaknya berjauhan dari kantong-kantong eceng gondok. Industri tersebut hanya membayar sebesar biaya yang telah umum mereka bayarkan. Bila terdapat selisih pembayaran yang disebabkan bertambahnya ongkos kirim, biaya-biaya lain, maka pemerintah yang menanggung atau mensubsidinya.
  • Selain itu, pemerintah juga dapat menempuh cara lain yakni memberikan sosialisasi maupun pelatihan-pelatihan kepada masyarakat sekitar daerah produsen eceng gondok untuk memanfaatkan eceng gondok sesuai dengan minat dan keterampilan yang mereka punyai. Misalnya saja didirikan kelompok-kelompok usaha biomasa, kelompok pembuat kompos, kelompok pembuat kertas atau pengrajin-pengrajin eceng gondok, dan sebagainya. Tutornya dapat didatangkan dari daerah-daerah yang telah lama memanfaatkan eceng gondok tersebut atau dapat juga berasal dari dinas-dinas pemerintah terkait.
  • Bila eceng gondok yang berada di suatu kantong telah mencapai keseimbangannya, pemerintah dapat beralih ke kantong eceng gondok lainnya, sambil menunggu eceng gondok di kantong sebelumnya tumbuh melimpah lagi yang kemudian akan didistribusikan kembali ke daerah-daerah yang membutuhkan.
  • Begitu seterusnya.

Dengan cara-cara di atas, saya berpendapat bahwa populasi eceng gondok semakin lama akan semakin terkendali, sehingga antar dua sisi, sisi manfaat dan sisi kerugian akan berjalan seimbang. Di sisi lain, semua industri dan kelompok usaha maupun masyarakat yang menggantungkan harapannya kepada eceng gondok tetap akan terus berjalan aktivitasnya dan dapat dijadikan sebagai mata pencahariannya. Jadi semua berjalan secara alamiah dan berkesinambungan. Tak ada yang dirugikan, baik si eceng gondok sendiri yang terus ada keberadaannya di alam, flora fauna yang terkait, maupun manusianya.

Kehadiran Eceng Gondok memang bagaikan duo sisi mata uang. Sisi positif – negatif, kemanfaatan – kerugian. Namun yang kita perlukan bukanlah pembasmian tumbuhan tersebut, melainkan manajemen pengendalian perkembangbiakannya. Harapan saya si Eceng benar-benar mempunyai duo sisi mata uang yang sesungguhnya. Manapun sisi yang timbul, kemanfaatanlah yang kita peroleh bukan kerugian yang kita dapatkan. Laksana membayar untuk apapun. Sisi manapun dari uang yang kita ulurkan, uang tersebut tetap syah karena ada nilai nominal yang tercantum di semua sisinya. Wallahu a’lam.

Referensi: http://id.wikipedia.org; http://www.kompasiana.com/aryani_leksonowati; http://www.blogspot.com/; http://cauchymurtopo.wordpress.com/; blogmangyono; kaskus.com; Merdeka.com; http://flora-faunaindonesia.blogspot.com/http://wirausahaindonesia.com/archives/author/wirausaha-indonesia; REPUBLIKA.CO.ID; dan lain-lain

Kode Pemesanan: – Eceng Gondok: Tanaman (EGT)

Eceng Gondoki dapat Anda peroleh GRATIS.


  1. Ping balik: Wewehan, Maman Lelaki, dan Boroco Menuntut Ilmu Hingga ke Negeri Cina « bluepurplegarden

  2. Ping balik: The Meaning of Morning Glory’s Flower « bluepurplegarden

  3. Sangat bermanfaat sekali artikelnya, saya setuju bahwa enceng gondok dapat dibuat berbagai jenis kerajinan, bahkan enceng gondok juga menjadi bahan baku pembuatan furniture.
    Kami Rotan Kita – Furniture Rotan & Art, menyediakan berbagai jenis furniture dari bahan rotan dan enceng gondok, seperti : Kursi tamu, kursi makan, kursi teras, kursi santai, dan handicraft.
    Untuk mengetahui lebih jelas tentang produk kami, silahkan kunjungi website kami di : RotanKita.com
    Terimakasih.. 🙂

    Suka

    • Terima kasih atas kunjungannya, mudah2an Rotan Kita terus berkembang dan melakukan inovasi2 dan pembaharuan. Mungkin anda dp bekerjasama dg pabrik2. Anda menyediakan eceng gratis bagi mereka dg perjanjian andalah yg memanennnya. Jadi sekali tepuk 2 nyamuk pun mati… barakalah

      Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s