Behind Story: Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

akan datang hari mulut dikunci
kata tak ada lagi
akan tiba masa tak ada suara
dari mulut kita


berkata tangan kita
tentang apa yang dilakukannya
berkata kaki kita

kemana saja dia melangkahnya


tidak tahu kita bila harinya
tanggung jawab tiba

Rabbana…
tangan kami…
kaki kami…
mulut kami…
mata hati kami…

luruskanlah…
kukuhkanlah
di jalan cahaya….
sempurna

mohon karunia kepada kami
hambamu yang hina

Diiringi lantunan lagu di atas, saya pun menuliskan artikel ini.

Mengapa Lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata?

Banyak lagu yang dicipta dengan cara yang tidak biasa atau diciptakan tidak seperti umumnya. Banyak sebab yang menjadikannya sedemikian itu. Ada yang melodi serta syairnya sudah siap atau lancer-lancar dalam proses pengerjaannya, namun ada juga instrumennya sudah siap, giliran syairnya yang macet. Termasuk kategori yang terakhir ini, salah satunya adalah lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Lagu yang sangat sakral dan indah ini, dalam proses penulisan liriknya sangat menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Bayangkan pujangga besar sekelas Taufik Ismail pun dibuat mati kutu saat diminta untuk membuat syairnya. Sedangkan sang penciptanya, Chrisye yang sudah puluhan tahun malang-melintang di industri musik Indonesia pun dibuat mati ide dan tak berdaya menuliskan liriknya. Melodi (minus one)nya sudah jadi, namun Chrisye tak puas atas lirik-lirik yang telah dibuatnya. Tidak ada harmonisasi di sana. Lalu dimintalah bantuan sang penyair besar tersebut. Dan dari sinilah penulisan liriknya yang tak biasa menemui kisahnya.

Dengan deadline 1 bulan, Sang Pujangga besar Indonesia itu pun menyanggupinya. Waktu selama itu, bagi seorang Taufik Ismail sangatlah longgar sekali, karena mungkin dalam hitungan jam saja syair yang diminta pun sudah jadi. Nyatanya tidak demikian. Satu minggu berlalu, tak ada ide yang datang pada Bapak Taufik. Dua minggu pun lewat. Tiga minggu pun juga telah selesai, hingga hamper di ujung dari tenggat waktu, sang pujangga benar-benar mati kutu, sudah akan menyerah serta tak sanggup melanjutkan proyek liriknya. Namun takdir Allah memang harus terjadi, jikalau lagu yang sangat melodius dan religius ini harus benar-benar ada. Karena itu, Allah menganugerahkan ilham pada Taufik Ismail saat mengaji al-Quran. Inspirasinya datang saat membaca ayat ke-65 surat Yasin. Alhamdulillah, kebuntuan ide itu pun sirna. Dengan bergegas, Bapak Pujangga itu pun menuangkan makna ayat tersebut ke dalam lagu tersebut. Akhirnya jadilah syair lagu yang diberi judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Chrisye Sangat Syok Saat Menyanyikannya

Lagu sudah lengkap. Syair sudah berada di tangan. Chrisye pun mencoba mendalami maknanya dan kemudian latihan menyanyikannya. Ternyata baru dua baris saja, sang penyanyi besar itu tak sanggup meneruskannya karena sudah menangis tersedu-sedu. Begitu berulang kali. Setiap kali latihan menyanyi, Chrisye selalu menangis dan menangis, hingga membuatnya lemas. Kejadian itu juga berulang pula saat take vocal. Berkali-kali seperti kejadian sebelumnya, Chrisye menangis dan menangis saat membawakan lagu ini, sehingga membuat sang istri, Yanti, menjadi gelisah dan khawatir. Begitu juga sang maestro sekaligus music director, Erwin Gutawa, menjadi senewen. Akhirnya, meski bersusah payah, Chrisye pun bernyanyi hingga akhir, tanpa take ulang, karena Chrisye sudah benar-benar tidak sanggup untuk menyanyikannya kembali. Kelak di kemudian waktu, lagu ini pun hanya satu kali saja dinyanyikan Chrisye secara langsung. Beginilah kisah Chrisye tentang lagu ini dalam suatu memoarnya yang ditulis oleh Alberthiene Endah, Chrisye –Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309) pada majalah Horison dari sumber yang saya dapatkan entah yang sudah ke berapa kalinya.

Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.

Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.

Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.

Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Makna Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Dari susunan kata-katanya, sebenarnya tidak ada yang istimewa. Tidak ada kata-kata puitis di sana. Sederhana dan mudah dimengerti oleh siapa saja. Lugas. Hanya saja pemaknaannya tidak semua orang mampu mendalami dan merasakannya. Selain pengetahuan akan agama yang mendalam, dia juga harus memiliki hati yang lembut. Banyak penyanyi, seperti Fatin Shidqia Lubis, Fadly, Tulus, Melly Goeslaw, Cakra Khan, Gigi, dan lain-lain mampu menghayati saat menyanyikannya. Namun tidak ada yang benar-benar sesensitif dan sebaper sang penyanyi aslinya, Chrisye. Perbedaan emosi, perjalanan hidup, dan juga kelembutan hatilah yang membedakan Chrisye dengan penyanyi-penyanyi dari generasi belakangan.

Seperti kita ketahui, lirik lagu ini maknya diambilkan dari ayat ke-65 surat Yasin, yang bunyinya.

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلۤـٰى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَاكَانُوْايَكْسِبُوْنَ

Alyauma nakhtimu ‘alaa afwaahihim wa tukallimunaa aidiihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun”

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Dari arti translatenya saja sudah dapat kita ketahui dan reka-reka mengenai apa ayat ini mengabarkan. Ya itulah peradilan akhirat nanti yang mana seluruh jin dan manusia tidak peduli apa ras, agama, kepercayaan, dan keadaannya akan dimintakan pertanggungjawaban apa-apa yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Bahkan orang gila pun akan diminta pertanggungjawabannya manakala sebelum datang kegilaan kepadanya. Orang yang berkebutuhan khusus sejak lahir juga akan ditanya siapa tuhannya, nabinya, dan kitab sucinya. Tak ada pengecualian bagi siapapun jua. Selain para nabi dan rasul, hanya golongan bayi yang meninggal baru lahir atau setelah kehamilan 4 bulan serta para syuhada yang gugur dalam medan peperangan saja yang tidak dimintakan pertanggungjawabannya. Karenanya, kita harus membekali anak-anak kita, apapun keadaannya, dengan pengetahuan mendasar tentang siapa itu Allah, Nabi Muhammad, dan kitab al-Quran, terlepas apakah mereka mengerti atau tidak, utamanya anak-anak yang berkebutuhan khusus sejak lahir.

Sedangkan pada hari itu, mulut akan dikunci rapat-rapat dan tidak dapat mengeluarkan suara sedikitpun. Tidak dapat mengeluarkan bantahan atau alasan apapun dari apa-apa yang telah dikatakan oleh tangannya, kakinya, perutnya, dan seluruh badannya mengenai apa yang telah mereka kerjakan selama di dunia.

Dan artikel ini saya hanya sanggup menuliskanya hanya sampai sekian saja. Hanya video ini saja yang terakhir berbicara.

download

 

Terakhir kali, dalam suatu bait burdah sholawat, dikatakan:

هُوَالحَبِبُ الَّذِى تُرْجَى شَفَاعَتُهُ

Dialah kekasih yang diharapkan syafa‘atnya

لِكُلِّ هَوْلِ مِنَـْلاَهْوَالِمُقْتَحِمِ

Untuk menghadapi setiap peristiwa dahsyat yang menimpa umat manusia

Wallahu a’lam bishshowwab

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s