Pyrrosia piloselloides, Paku-Pakis Sisik Naga

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Melihat namanya, apakah paku ini memang memiliki kemiripan daunnya dengan sisik-sisik naga, hewan mitologi Cina atau Yunani itu?. Entahlah. Kalau di Indonesia (dan Malaysia) disebut Sakat Ribu-ribu, Paku Duduwitan (Pakis Duduitan), Pakis Duwitan, atau Daun Picisan. Menurut saya, nama inilah yang paling layak disematkan pada paku ini.

Paku Sisik NagaYang jelas, Pyrrosia piloselloides merupakan salah satu paku-pakis yang banyak kita jumpai atau merupakan paku pakis genus Pyrrosia yang paling umum. Hidupnya menempel pada pohon-pohon besar di tempat-tempat yang lembab seperti hutan, ladang, pekuburan, dan sebagainya. Meski nampak indah dan eksotik karena mampu membuat indah batang pohon yang ditempelinya, namun para petani/pekebun lebih sering menganggapnya sebagai gulma pada tanaman perkebunan, karena dipandang menghambat pertumbuhan bunga atau buah dari pohon budidaya. Hingga saat ini pun, paku ini belum menjadi komoditi dagang walau sudah banyak yang menanamnya sebagai tanaman hias. Mungkin kelak kalau mengetahui kemanfaatannya, niscaya paku-pakis ini akan berharga mahal.

Termasuk tumbuhan epifit atau kremnofit yang cepat perkembangan dan perkembangbiakannya. Meski menumpang pada pohon inangnya, tetapi karena paku ini termasuk jenis epyphit (bukan parasit), menurut saya prosentase gangguannya sangatlah rendah/kecil.

Kronologis Nama Pyrrosia piloselloides

Sebelumnya bernama Drymoglossum heterophyllum. Tentu saja sesuai namanya paku ini berada dalam genus Drymoglossum. Sebelumnya lagi memiliki nama binomial yang berganti-ganti, mulai Acrostichum heterophyllum, Lemmaphyllum microphyllum, Notochlaena piloselloides, Oetosis piloselloides, Pteris piloselloides, hingga Taenites piloselloides. Sekarang, genus Drymoglossum telah dilebur menjadi satu dalam genus Pyrrosia, yang terdiri dari kurang lebih 100 spesies yang tergabung dalam Familia Polypodiaceae, Ordo Polypodiales, Kelas Pteridopsida, Divisi Pteridophyta (paku-pakuan). Penampilannya juga saling mirip sehingga akan membingungkan kita pakis manakah yang sedang dibicarakan. Oleh sebabnya, BPG pun menambahkan kata Piloselloides di belakang nama Indonesianya atau kata Common di depan nama internasionalnya untuk membedakan pakis ini dengan pakis Picisan lainnya, menjadi Daun Picisan Piloselloides atau Common Scale Dragon. Kata common saya tambahkan karena spesies paku inilah yang persebarannya paling merata di seantero wilayah Asia tropik dan sedikit wilayah Australia, mulai dari India, Asia Tenggara hingga Papua New Guinea dan Australia bagian utara pada ketinggian hingga 1000 m dpl.

Tumbuhan C.A.M.

Seperti tumbuhan epiphyt lainnya – termasuk juga anggrek –, paku ini juga memiliki sistem fotosintesis yang disebut Crassulacean Acid Metabolism yang membuatnya mampu tahan terhadap kekeringan dan sangat adaptif terhadap intensitas cahaya tinggi. Siang hari stomatanya menutup dan kemudian membuka pada malam hari. Pengambilan CO2 pada malam hari untuk disintesis menjadi asam krassulasen. Pada siang hari setelah reaksi menghasilkan ATP dan NADH, CO2 dilepas dari asam krassulasen untuk dimasukkan ke siklus Calvin.

Budidaya

Seperti halnya paku-pakis lainnya, Pyrrosia microphyllum dapat diperbanyak dengan spora dan pemisahan batang/rumpun. Tidak ada perawatan yang berarti apabila kita memelihara paku-pakis ini. Saat musim penghujan tiba atau jika kita rajin menyiraminya, paku-pakis akan tumbuh dengan suburnya.

+++>> MORFOLOGI <<+++

Daun

daun batang akarDaun dimorfik atau memiliki 2 tipe daun berbeda, yakni daun berspora (fertil) dan daun steril. Daun steril berwarna hijau, umumnya tebal, tekstur berair, bentuk membulat tak sempurna (orbicularis) hingga jorong dengan ujung tumpul atau membundar sedangkan pangkalnya meruncing, tepi daun rata, bertangkai pendek. Tulang daun tipe menyirip (penninervis) seperti susunan tulang ikan. Daun muda permukaan bawahnya berambut. Dari bentuk daun inilah kemungkinan paku ini mendapatkan namanya Pakis Picisan atau Paku Duduitan.

Daun yang berspora (fertile) bentuknya linier atau seperti pita, tangkai pendek atau duduk. Kumpulan sporanya berada di sepanjang alur longitudinal tepi (margin) daun.

 

Akar

daun batang akar2Akar rimpang tipis, bersisik dengan sisik peltate dan merayap jauh atau memanjang dengan diameter sekitar 1 mm yang melekat kuat pada cabang atau dahan pohon inang.

Spora

Termasuk tumbuhan homospora / isospora yang hanya menghasilkan satu macam spora saja yang terletak pada sorrus di bawah daun. Pada tipe homospora seperti ini, spora yang jatuh akan berkembang menjadi prothalus yang mengandung organ kelamin jantan atau betina saja, sehingga dalam fertilisasinya (percampurannya) diperlukan air atau lingkungan yang basah agar sperma bersilia (bercambuk) dapat berenang menuju sel telur, karena itu tumbuhan paku banyak hidup di habitat basah.

Sori

Linier, memanjang, terus menerus, jarang terputus, kurang lebih tenggelam dalam lekukan atau sulkus dan kurang lebih jauh dari pinggir. Penutup tidak ada.

Kemiripan Spesies

Pyrrosia adnascens yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

== Kemanfaatan ==

Manfaat Herbal

Selain sebagai tanaman hias (meski belum banyak yang membudidayakan atau memperjualbelikannya), air rebusan daun atau herba segarnya dapat digunakan untuk mencuci kudis atau koreng. Dapat juga dimanfaatkan sebagai ramuan berkumur bagi penderita sariawan dan radang gusi. Herba segar yang digiling atau ditumbuk sampai halus yang kemudian dibubuhkan dapat digunakan sebagai obat penyakit kulit, seperti kudis, kurap, radang kulit bernanah, radang kuku, atau luka berdarah.

Untuk yang diminum (pengobatan dalam) dapat melawan penyakit abses paru-paru, TB paru disertai batuk darah, kencing nanah (gonorhoe), keputihan (leukore), perdarahan (luka berdarah, mimisan, berak darah, muntah darah, perdarahan pada perempuan), rematik, sakit kuning (jaundice), sukar buang air besar (sembelit), sakit perut, disentri, TBC kulit dengan pembesaran kelenjar getah bening (skrofuloderma), maupun gondongan (parotitis).

Paku-pakis ini memang digunakan sebagai pengobatan karena mengandung minyak atsiri, sterol/triterpen, steroid-trierpenoid, fenol, flavonoid, saponin, polifenol, triterpen/sterol, plavonoid, gula, dan tanin. Selain berkhasiat sebagai antiradang, antitoksik, peluruh dahak, pencahar (laksan), dan menghentikan pendarahan, juga ditengarai paku-pakis ini sebagai anti kanker, misalnya kanker payudara dan penyakit tumor lainnya.

Anti Bakteri

Ekstrak alkohol daun (ekstrak petroleum) yang mengandung sedikitnya enam senyawa sterol/triterpen dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli, sedangkan ekstrak alkohol – mengandung paling sedikit satu senyawa sterol/triterpen, empat senyawa fenol, lima senyawa flavonoid, dua senyawa tanin dan satu senyawa gula – dan ekstrak airnya – paling sedikit satu senyawa fenol, empat senyawa flavonoid, dua senyawa tanin dan satu senyawa gula yang dikandungnya – dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus aureus.

Selain itu, daunnya juga mcngandung paling sedikit sembilan senyawa minyak atsiri.

pada pohon

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s