Pistia stratiotes, antara Tanaman Hias, Gulma Air, dan Fitoremediasi (Penetral Polutan)

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Allah dalam menciptakan sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Begitu juga dalam menciptakan tanaman air (hydrophytes) Pistia stratiotes ini. Karakteristik maupun morfologinya sangat jauh berbeda dengan anggota family Araceae/Arum (talas-talasan) lainnya, dan menjadi satu-satunya spesies dari famili ini yang hidup di air sebagai floating plants (tanaman mengapung). Tak ada umbi yang menjadi ciri khas dari tanaman talas-talasan, namun memiliki stolon sebagai alat perkembangbiakan vegetatif dan penghubung/transportasi makanan antara induk dengan anakannya.

pistia 3Pistia stratiotes berarti tanaman air, dari kata pistos (air) dan stratiotes (Mesir) yang artinya tanaman air. Mudah dijumpai pada habitat sungai, kanal/saluran irigasi buatan, danau, rawa-rawa atau tempat tergenang (stagnant water) lainnya. Asal muasalnya memang masih menjadi kontroversi. Ada yang mengatakan dari Afrika, namun ada pula yang menyebut Afrika sekaligus Amerika. Dari sumber yang saya yakini Apiospermun obcordatum berasal dari Amerika Selatan, seperti Chili dan Brasil dengan habitat sungai-sungai yang ada di sana, seperti sungai Amazon.

Tanaman-apu-apuPenampilan layaknya kobis mungil yang sedang merekah, karenanya dikenal dengan nama Water Cabbage atau Water Lettuce atau Nile Cabbage, atau pun Shellflower. Ada juga yang menyebutnya Floating Aroid, Pistia, Tropical Duckweed, Water Bonnet, Water Fern, atau Water Lily. Di Indonesia dikenal sebagai Apu-apu, Kapu-kapu, Kayu Apung, Kiapu, Kiapung, Kayu Apu, Apon-apon. Di Malaysia dikenal dengan sebutan Kiambang, sedangkan di Indonesia nama Kiambang merupakan sejenis serangga yang mampu berjalan di atas air.

Kecantikannya itu mampu memikat orang-orang untuk menjadikannya sebagai tanaman hias aquarium/aquascape, kolam, tempayan, atau vas. Juga sebagai pelengkap dari paludarium (habitat rawa tiruan). Memiliki kemampuan menyerap amoniak sebagai biang keladi tumbuhnya lumut yang menjadi musuh berat para aquascaper. Pada empang atau kolam budidaya digunakan sebagai pelindung burayak (anak ikan), tempat bercumbunya ikan-ikan maupun menempelnya telur ikan. Meski sering kali membuat jengkel karena perkembangan populasinya yang pesat, anggota family Araceae yang unik ini mampu berfungsi sebagai pembersih air dari zat radioaktif, gas amoniak yang berlebihan dan logam-logam limbah industri tanpa mengurangi kandungan oksigen di air (kata blog dari Indonesia), namun pada blog-blog luar negeri, ternyata Apu-apu ini dalam jumlah yang sangat besar/populasi padat dapat menurunkan kualitas air yang artinya dapat mengurangi kandungan oksigen dalam air yang sangat dibutuhkan oleh binatang-binatang air.

pistia 2Perennial monocotyledonous aquatic plant ini juga mampu tumbuh di darat dalam substrat basah (Emergent Plants). Perawatannya pun sangat mudah dan bandel. Asal tidak sampai kering air, Limnonesis commutate akan tumbuh dengan subur. Tak usah dipupuk karena akan membuat populasinya kian tambah meledak. Memang dalam jumlah yang normal akan bermanfaat, namun dalam populasi yang tak terkendali akan menjadi gulma atau tanaman invansif yang tentunya akan merugikan biota-biota air endemik. Apalagi tumbuh dan berbiaknya (secara generatif (biji) dan vegetatif (stolon)) sangat pesat, plus ditunjang dengan kemampuan hidupnya dalam rentang kondisi dan iklim yang luas, mulai dari daerah tropis (Asia, Amerika), tropis panas (Afrika), hingga daerah sub tropis Eropa, sebagian Amerika, dan sebagian Australia pada kondisi air yang parah sekalipun, seperti bersalinitas rendah maupun tercemar, membuatnya telah menjadi spesies invasif/gulma di beberapa negara. Karenanya pengawasan terhadap populasinya mutlak dilaksanakan.

 

Pengaruh sebagai Gulma

Apabila manajemen pengendaliannya tidak berjalan dengan baik dalam arti populasi Limnonesis friedrichsthaliana meledak, tanaman ini akan membawa dampak kerugian yang besar, antara lain:

  • Menurunkan kualitas air. Hamparan Pistia aegyptiaca yang berada di atas permukaan air akan menghalangi sirkulasi udara sehingga pasokan oksigen di dalam air pun berkurang dan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan oleh biota air lainnya pun menjadi terhalang, sehingga. Lambat laun organisme endemik (penghuni lama) akan tersingkir bahkan lenyap.
  • Kegiatan bersampan/berperahu, memancing dan aktivitas air lainnya menjadi tidak mungkin dilakukan karena padatnya populasi Pistia aethiopica yang menutupi permukaan air.

karpet pistia

Agen Pengontrol /Biocontrol Organism

Karenanya diperlukan pengontrolan dengan sistem dan manajemen yang terpadu dan baik. Di alam, Allah telah menyediakan agen-agen pengontrol dari makhluk hidup. Tercatat kurang lebih 21 jenis pemakan tumbuhan (herbivorous) yang sebagian besarnya dari bangsa serangga sebagai pengendali populasi dari Pistia africana ini. 5 spesies berada (dari) Afrika, 11 di Asia, dan 9 spesies pemakan Pistia amazonica ada di Amerika. Yang terkenal misalnya Weevil (Kutu Gajah) Neohydronomus affinis dan Neohydronomus spp. menjadi biological control di Amerika Selatan dan Tengah yang kemudian diintroduksi ke Australia, Botswana, Zimbabwe, Benin, Senegal, Afrika Selatan, Papua Nugini, USA, serta Kepulauan Pasifik. Kemudian ulat/larva dari ngengat Argyractis drumalis yang khusus memakan akar Pistia asiatica ini. Larva dan Kutu Gajah Argentinorhynchus bruchi khusus memakan Pistia brasiliensis bersama-sama dengan Argentinorhynchus bennetti, Argentinorhynchus breyeri, Argentinorhynchus minimus, dan Argentinorhynchus squamosus. Seperti namanya, serangga-serangga tersebut berasal dari Argentina. Sedangkan The Noctuid Moth (Indonesia’n name?) Spodoptera pectinicornis menjadi pengontrol Pistia commutate (ada yang menulis Pistia commutata) di Thailand. Begitu pula Kutu Gajah Bagous pistiae.

Herbivora lainnya: Lepidelphax pistiae, Neohydronomus elegans, Neohydronomus pulchellus (Afrika Selatan, USA), Oreochromis niloticus, Samea multiplicalis (stadium larva).
Organisme-organisme lain yang juga menyerang Pistia crispate adalah Nymphula spp., Hydrozetes tobaicus, Nisia atrovenosa and Cercospora canescens.

Selain serangga dan hewan, beberapa jenis fungi seperti Ramularia spp. atau Sclerotinia sclerotiorum juga mampu mengendalikan ledakan populasi Pistia cumingii.

Mungkin juga perlu diujicobakan menggunakan ikan-ikan herbivora dari jenis-jenis Chiclid Afrika, Nila misalnya atau ikan Karper seperti cara pengendalian pada Eceng Gondok.

 pistia 1

Pengendalian ala Kimiawi dan Mekanik

Selain memakai agen biocontrol, pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida diquat beserta kombinasinya dengan triclopyr, glyphosate, chlorsulfuron, terbutryn, 2,4-D dan endothall. Namun perlu diperhatikan benar-benar bahwa zat-zat kimia tersebut memiliki dampak negatif bagi organisme-organisme lainnya utamanya manusia yang menjadikan sungai-sungai sebagai tempat kegiatan sehari-sehari seperti mandi, mencuci, sumber air minum, berenang, mencari ikan, atau sarana tranportasi air.

Secara mekanik dengan cara mengeluarkan Pistia gardneri dari air, kemudian dicacah atau dipotong-potong menggunakan mesin gurdi apabila jumlahnya banyak. Apabila jumlahnya sedikit, dapat dicacah secara manual atau ditumpuk begitu saja pada area yang terpapar sinar matahari.

Karena tidak tahan terhadap cuaca dingin atau embun beku, mungkin dapat digunakan zat pendingin untuk mengendalikan populasi Pistia horkeliana ini.

 

=== MORFOLOGI ===

Daun

Melebar berwarna hijau pucat. Ujung membulat pangkal agak meruncing dengan helai daun bergelombang atau berlekuk-lekuk mirip kobis atau mawar. Panjang 2 – 10 cm, lebar 2 – 6 cm. Ini ukuran yang umum dijumpai di Indonesia. Namun di luar negeri, ukuran Pistia leprieuri dapat mencapai 20 cm. Besar juga ya … seperti kubis anakan. Terdapat rambut tebal yang lembut pada permukaannya. Pertulangan daun sejajar. Daun-daun melebar dan tersusun secara roset yang mengepit (sessile), sehingga hampir tak bertangkai daun maupun batang. Dengan susunan seperti itu ditambah daunnya yang memiliki struktur berongga-rongga – terdapat rongga kosong pada jaringan mesofilnya yang disebut jaringan aerenkim – membuatnya mudah mengapung pada permukaan air karena jaringan penyusunnya tidak padat dan berat.

 

Akar

Serabut, jumbai panjang mencapai 80 cm, berwarna putih, menggantung di bawah roset dan memiliki stolon. Rambut-rambut akar membentuk suatu struktur seperti keranjang yang dikelilingi gelembung udara, sehingga meningkatkan daya apung.

Pada akar inilah yang menyerap dan mengakumulasi bahan radioaktif tertentu sehingga konsentrasi pada biota jauh di atas konsentrasi media tanamnya, kemudian mengalami translokasi di dalam tumbuhan, dan dilokalisasi pada jaringan. Salah satu contoh bahan radioaktif yang ada yaitu Cs (Cesium).

 

Bunga, Buah, dan Biji

Tipe bunga tongkol yang muncul di ketiak daun atau tengah roset, berwarna keputihan. Ukuran sekitar 1 cm, berambut dan dilindungi oleh seludang. Letak tersembunyi sehingga tidak nampak jelas. Buah buni, bulat, berwarna merah, ukuran 5 – 8 cm. Bijinya bulat, berwarna hitam, berukuran sekitar 2 mm.

 

Host Plants/Plants Affected

Bersaing dengan tanaman Padi/Oryza sativa dalam memperebutkan zat-zat hara.

 

Kandungan Kimiawi

Alkaloid, tanin, flavonoid, polifenol, saponin, minyak, lemak dan glikosid. Flavonoid sendiri bermanfaat untuk melindungi struktur sel terhadap lingkungan luar, semisal serangan mikroorganisme atau kondisi lingkungan yang tercemar. Dengannya sel-sel akan tetap melakukan akitivas seluler dengan baik dan tidak mengalami suatu kerusakan dan gangguan. Bila gangguan itu berupa serangan makhluk hidup seperti bakteri, kuman, atau biorenik lainnya, flavonoid berfungsi sebagai antibiotik.

 

 

Khasiat Pengobatan
Rasa herba (daun)nya pedas, sejuk, dan memiliki khasiat antirematik, antiradang, peluruh keringat (diaforetik), dan peluruh kencing (diuretik). Akar tidak dapat dimanfaatkan sebagai obat karena mengandung sedikit toksik.

Berbagai macam penyakit dapat dilawan dengan penggunaan daunnya baik kering maupun segar, antara lain: flu, demam, batuk rejan, pegal-linu (reumatism), bengkak terbentur (memar), bengkak (edema), kencing terasa nyeri (disuria), kencing nanah, gatal alergi (urtikaria), gatal-gatal (pruritus), rash campak yang keluarnya sedikit, disentri, dan penyakit kulit seperti bisul dan eksim. Untuk pemakain dalam dengan cara merebus daunnya, sedangkan pemakaian luar caranya adalah menggiling hingga halus herba segar, peras dan air perasan tersebut digunakan untuk mengompres atau bisa juga dengan merebus daun segar yang mana air rebusannya digunakan untuk membasuh bagian yang sakit.

 

Sinonim

Sebagian nama sinonimnya tersebar pada artikel di atas, dan berikut nama sinonimnya yang lain.

Pistia linguiformis, Pistia minor, Pistia natalensis, Pistia obcordata, Pistia occidentalis, Pistia schleideniana, Pistia spathulata, Pistia stratiotes var cuneata, Pistia stratiotes var obcordata, Pistia stratiotes var spathulata, Pistia texensis, Pistia turpini, Pistia turpinii, Pistia weigeltiana, Zala asiatica.

pistia 4
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s