Anthurium crystallinum, Kuping Gajah yang bukan Kupingnya Gajah

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

daunShob-shob yang lahir sebelum tahun 2000 pasti kenal dengan tanaman hias daun yang indah ini. Selain familiar, namanya juga unik dan gampang diingat. Ya, dialah si Kuping Gajah yang bentuk daunnya lebar-lebar mirip telinga gajah. Namun ternyata di dunia ini ada dua nama Kuping Gajah yang berbeda jauh bentuk habitus maupun genusnya. Ngehnya saya bermula dari bincang-bincang blog dengan Ibu Lois yang tinggal di https://kiyanti2008.wordpress.com/ . Waktu itu saya ‘ngotot’ kalau Kuping Gajah yang selama ini dikenal di Indonesia adalah dari genus Anthurium. Namun beliau menjawab Elephant Ear (translate bahasa Inggrisnya) berasal dari genus Colocasia. Saya kemudian berpikir, Bu Lois yang berasal dari Indonesia meski kini berdomisili di Australia tidak mungkinlah nggak kenal dengan namanya Kuping Gajah. Akhirnya saya pun berjanji akan menulis tentang tanaman hias ini. Dan setelah searching di internet, benarlah ada dua versi Kuping Gajah, yakni Anthurium crystallinum yang hanya dikenal di Indonesia saja – saya tidak tahu apakah negeri-negeri jiran juga menyebut Kuping Gajah untuk tanaman yang satu ini – dan satunya lagi adalah Elephant Ear dari genus Colocasia, Alocasia, dan Xanthosoma dikenal luas di seluruh dunia. Jenis pertama berasal dari benua Amerika bagian Selatan dan Tengah atau dari Panama hingga Peru dan jenis kedua berasal dari benua Asia. Namun untuk artikel ini saya hanya bahas tentang Kuping Gajah versi Indonesia saja.

Pada era sebelum 80-an si Kuping Gajah ini pernah menjadi tanaman hias idola yang ekslusif serta prestise. Harganya juga mahal. Saya tahu karena tetangga depan rumah juga punya tanaman ini. Subur sekali dengan tampilan yang sangat cantik, sehingga membuat banyak orang kepincut. Namun meski ditawar dengan harga yang lumayan mahal, tidak diberikan, karena memilikinya termasuk golongan eksklusif. Memang sebelumnya beberapa anggota genus Anthurium dikenal sebagai tanaman hias prestise karena hanya para raja-raja dan bangsawanlah yang memilikinya. Namun sekarang, tanaman hias daun yang bentuknya mirip cuping telinga gajah ini sudah masuk daftar yang tak dirindukan. Entah nanti.

Dari genus Anthurium sendiri, banyak variasi Kuping Gajah yang penampilannya sangat mirip, namun berbeda-beda bunganya. Nama binomialnya pun juga beda. Yang jelas Anthurium crystallinum yang familiar adalah tampangnya seperti pada gambar-gambar pada artikel ini yang memiliki tangkai daun berbentuk bulat atau silinder. Malai bunganya mirip ekor sehingga ada juga yang menamakannya Tail Flower, meski sejatinya nama ini juga digunakan untuk jenis Anthurium Kuping Gajah yang lain. Namun agar tak tertukar atau simpang siur, sebaiknya nama untuk kuping gajah ini adalah Crystal Anthurium.

Walaupun memiliki bunga, namun letak keindahan tanaman hias ini ada pada daunnya yang lebar, berwarna hijau, berbentuk mirip cuping telinga gajah atau bisa juga dibilang bentuk hati dengan urat-urat ayau tulang-tulang daun yang nampak menonjol berwarna putih. Belahan pada pangkal daunnya hampir berdempetan bahkan overlapping, serta mempunyai tangkai dan daun yang kaku. Ternyata di alam aslinya sana, salah satu keluarga dari Araceae ini menempel pada batang pohon atau termasuk tanaman epifit. Namun di sini saya belum pernah memergoki orang menanam Kuping Gajah dengan cara ditempel.

daun1Kuping Gajah yang berpenampilan prima adalah daun-daunnya tampak mulus, tidak ada kecacatan (sobek, hangus, mlungker ujungnya, dan lain-lain), tumbuh roset dan kompak. Susunan daun juga harus membentuk trap atau tingkatan. Semakin muda daunnya, ukurannya harus semakin lebar dibanding daun-daun yang berada di bawahnya atau tumbuh sebelumnya.

Tidak menyukai panas matahari, jadi sangat cocok digunakan sebagai tanaman hias indoor maupun di tempat-tempat yang ternaung. Jadi shob yang hanya memiliki halaman seuprit atau hanya memiliki tembok saja, asalkan lembab dan teduh, dapat menggunakan tanaman Kuping Gajah dengan versi Vertical Garden. Apalagi pemeliharaannya juga mudah, hanya perlu menjaga daun-daunnya saja agar tidak rusak.

Katanya dapat digunakan sebagai tanaman obat, namun saya belum menemukan rujukan yang valid. Jadi saya pun tak membahas kegunaannya.

serupa tapi tak sama

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s