Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Aerides odorata var. calayanensis, Anggrek Asem Wangi Bersplash Ungu

gu copy

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

Karena data dan informasi di negeri kita ini tidaklah memadai, maka meski sudah banyak yang mengulas anggrek Aerides odorata, namun hanya sedikit keterangan mengenai Bunga Ungu atau Anggrek Ungu (namanya di Kalimantan) ini. Indonesia meski memiliki kekayaan alam yang sangat besar, namun eksplorasi dan penelitiannya sangatlah minim, padahal varian yang ada di Indonesia terbanyak di dunia. Sedangkan kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh para peneliti atau pemerhati lingkungan tidak dapat mengejar tingkat kelajuan kian langka dan raibnya populasi kekayaan hayati kita, utamanya anggrek. Pembukaan pembangunan industri, kawasan pemukiman, peternakan, peternakan, maupun perkebunan mempercepat hilangnya flora dan fauna Indonesia. Plus alih fungsi lahan, kebakaran hutan, atau penebangan liar. Karena itu diduga sudah ada kekayaan kita yang sudah punah sebelum sempat ditemukan.

Karena penelitian atau eksplorasi terhadap anggrek ini sangat kurang membuat saya juga kesulitan untuk menulis anggrek ini dengan informasi yang berbeda. Karena itu saya terus berusaha untuk menggali infonya dengan membaca lebih banyak lagi blog-blog anggrek ditambah hasil pengamatan dan pengalaman saya mengenai anggrek ini. Dan inilah ‘laporan’ saya.

bunga2Anggrek Asem yang telah masuk kriteria Endangered (EN) atau genting – info lain memberitakan bukan termasuk anggrek yang dilindungi – ini sangat lambat dalam pertumbuhan maupun adaptasinya dibanding Phalaenopsis Alliance lainnya. Misalnya member dari genus Vanda.

Karena persebarannya merata, di Indonesia dan juga negeri-negeri sekitarnya, kemungkinan adanya banyak varian juga sangat besar, apalagi anggrek ini juga termasuk tinggi perkembangan generatifnya melalui biji, sehingga berbeda tempat (pulau/negara), tampang atau warna bunganya juga berbeda. Ada varian/form immaculata, alba, annamensis, ballantiniana, birmanica, calayanensis, cochinchinensis, demidovii, eburnea, major, micholitzii, pallida, virens, dan lain-lain. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, jenis Anggrek Lilin manakah yang termasuk kriteria EN tersebut, mengingat ada banyaknya variasi. Saya kira kita tak perlu mempermasalahkan variasi yang mana ya, karena semua varian membutuhkan perhatian dan perlakuan untuk dilestarikan dengan sama besar/tinggi.

Tempel di pohon, lebih surviveKarena pada lingkungan aslinya anggrek menempel pada pohon tertentu seperti Asam atau Mangga Hutan, seharusnya para hobiis juga membuat rekayasa habitat yang sedemikian itu. Namun yang saya lihat biasanya orang menempelkan anggrek ini pada pohon jambu, rambutan, mangga buah, atau pohon-pohon lain yang telah ditanam di kebun atau halaman depan. Masalah cocok atau tidaknya pohon inang pada anggrek budidaya ini, pengaruhnya pada tingkat perkembangan dan pertumbuhannya serta jumlah malai plus kuntum bunganya. Selama ini Fox Brush Orchids yang saya tempelkan pada pohon Jambu Air meski hidup subur, namun saya tak pernah mendapati anakannya yang berasal dari biji. Padahal setiap masa berbunga dihasilkan banyak buah.

:: Cara Budidaya

Karena pemeliharaannya tidak sulit, cocok untuk pemula hobiis anggrek spesies. Cukup ditempelkan pada batang pohon. Itu merupakan cara yang termudah dan teraman. Namun ada juga yang menanamnya pada pot dengan media porous seperti cacahan pakis atau arang. Digantung lebih baik karena akarnya akan bebas menjalar kemana-mana. Termasuk anggrek yang tahan terhadap penyakit. Selama ini saya juga belum pernah menjumpai hama dan penyakit yang serius. Paling-paling bercak-bercak daun saja yang relatif tidak begitu berpengaruh terhadap perkembangannya. Hanya saja pertumbuhannya sangat lamban. Apalagi kalau kita mensplit tunas anakan yang masih kecil, akan semakin lama proses adaptasi dan perkembangannya. Sebaiknya kalau ingin memperbanyaknya, potong batang yang terdapat akar dan daun dengan panjang minimal 10 cm untuk menghindari waktu yang kelamaan untuk adaptasi dan pertumbuhannya. Biarkan dahulu anggrek tetap pada tempatnya. Setelah potongan tadi mulai menunjukkan kualitas pertumbuhan dan perkembangan yang baik, anggrek boleh kita letakkan pada tempat yang kita inginkan. Perbanyakan sebaiknya dilakukan setelah masa berbunga selesai.

Karena termasuk monopodial (satu titik tumbuh), ada trik untuk menumbuhkan tunas lebih dari satu, yakni tempelkan atau letakkan batang secara horisontal atau datar atau paling tidak miring. Kalau beruntung akan tumbuh 2 – 3 tunas anakan. Perbanyakan dapat juga dengan memotong batang bawah yang sudah tua dan masih berakar (syukur juga kalau masih ada daunnya). Biarkan pada tempatnya beberapa waktu hingga keluar tunas. Bila tunas sudah mapan, anggrek dapat dipindahkan ke tempat yang kita inginkan.

:: Akar

MKarena ukuran akarnya besar-besar, maka penerimaan terhadap ketahanan intensitas matahari tidak dapat langsung. Kebutuhan sinar didapatkan dari cahaya yang condong/miring dan yang menerobos dari sela-sela pohon inang. Kalau memang perlu, bisa dipasang paranet. Akar utama yang tumbuh langsung dari batang berbentuk gilig (silindris) dengan ujung berwarna hijau agak transparan. Akar cabang lebih kecil ukurannya dengan ujung hijau bersemburat coklat. Akar tua berwarna putih. Selama tahun 2016 hingga Februari 2017 ini, anggrek nihil berbunga yang diakibatkan terus turunnya hujan hampir setiap hari. Minimal satu bulan hujan turun sebanyak 4x. Akibatnya intensitas sinar yang dibutuhkan untuk berbunga pun berkurang. Terakhir berbunga pada November 2015.

:: DaunM

habitusKarena sangat mirip dengan anggrek Vanda, banyak hobiis yang salah mengira kalau The Fragrant Aerides adalah Vanda karena kemiripan habitusnya (akar, batang, susunan daun). Para ahli taksonomi juga memasukkan anggrek ini sekeluarga dengan Vanda. Saya juga masih suka ‘kecolongan’ mengira anggrek ini adalah anggrek Vanda kalau melihat di luar kebun saya. Misalnya di penjual bunga hias atau rumah-rumah penduduk. Memang sekilas sulit juga ya. Meski sama-sama memiliki daun yang tebal dan kaku (coriaceus), namun biasanya daun anggrek Vanda lebih kaku. Cara mengeceknya dengan cara memencet kedua tepi daunnya. Biasanya juga susunan antar daun pada Vanda lebih rapat. Daun dari Anggrek Asem serta akarnya dapat digunakan sebagai anti inflamasi dan TBC. Tipe daunnya ligulate, sedangkan ujung daun bertipe mucronate. Seperti ini gambarnya …

:: Penyerbuk

Karena mudah mendatangkan serangga dan tingginya prosentase keberhasilan penyerbukannya, anggrek ini gampang berbuah. Meski penyerbuk utamanya adalah Lebah Lanceng, namun saya menduga Anggrek Asem termasuk tumbuhan yang dapat menyerbuki dirinya sendiri (self polinate). Buah yang dihasilkan pun cukup banyak, sehingga saya pun kebingungan mau diapakan buah-buah ini karena saya belum bisa menyemaikan bijinya karena membutuhkan perlakuan yang rumit.

:: Sinonim

Aeeridium odorum, Aerides (ballantiniana, cornuta, dayana, jucunda, latifolia, micholitzii, nobilis, reichenbachii, rohaniana, suaveolens, suavissima, virens, wilsoniana), Epidendrum aerides, Epidendrum odoratum, Limodorum latifolium, Orxera cornuta, Polytoma odorifera.

Nasib Anggrek Kini

LKarena pengrusakan habitat alamnya serta adanya eksploitasi yang tidak memperhatikan masa depan anggrek, maka seperti anggrek Indonesia lainnya, populasi Anggrek Kuku Macan pada habitat aslinya juga kian mengenaskan. Beberapa laporan menyebutkan sudah sulit dijumpai di beberapa titik habitat di Pulau Jawa. Namun informasi berbeda berasal dari PAI Bandung yang menyebutkan kalau populasi anggrek ini di hutan-hutan Jawa Barat masih melimpah. Namun data tersebut mungkin telah valid ya karena dirilis pada tahun 2009. Dari informasi lain pada beberapa spot di provinsi Kepri atau Lesser Islands (Nusa Tenggara) beberapa tahun lalu masih dapat dijumpai anggrek ini dengan jumlah populasi terbanyak kedua dari berbagai jenis anggrek. Untuk habitat exsitu, saya lihat jumlahnya juga tidak bisa dibilang baik. Tak banyak penduduk yang menanam Anggrek Kuku Macan, tidak seperti Anggrek Larat atau Dendrobium x superbiens yang lebih populer dan lebih cepat tumbuh dan berbunganya atau anggrek-anggrek impor yang gampang dipelihara seperti Oncidium maupun Cattleya. Stoknya juga tidak banyak, meski masih diperdagangkan, namun pedagang biasanya hanya mampu menjual beberapa rumpun atau pot saja. Nah, kalau Cat’s-tail Orchids yang populasinya menempati urutan kedua terbanyak saja sudah masuk kategori EN, lalu bagaimana dengan anggrek-anggrek lainnya dengan populasi di bawah Anggrek Asem?

Karena nasibnya kian runyam, maka anggrek ini layak untuk dilestarikan, utamanya pada habitat alamiahnya agar anak cucu kita nanti tidak hanya mengetahui dari gambarnya doang.

Catatan:

Aerides (tanaman udara) odorata (wangi)

buah

Thanks to: https://elimgs.wordpress.com/2010/10/11/more-smelly-orchids-aerides-odorata/

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s