Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Phalaenopsis amabilis subspecies amabilis, si Ratu Anggrek Bulan dari Jawa

gu-copy

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kalau anggrek Dendrobium phalaenopsis mengundang perdebatan mengenai asal-usul habitat endemiknya, apakah dari Pulau Larat – Maluku – Indonesia ataukah dari Cooktown Island – Australia, serta apakah Dendrobium bigibbum merupakan nama sinonimnya atau bukan, maka anggrek Phalaenopsis amabilis ini diperdebatkan mengenai namanya oleh hobiis/pemerhati anggrek negeri sendiri. Perlu diketahui agar tidak mengundang perdebatan lagi, bahwa penamaan (lokal, nasional, internasional) suatu spesies biasanya mengikuti kesepakatan keumuman, baik tertulis maupun tidak. Sedangkan penamaan binomial mengikuti pendapat ahli taksonomi. Ini pun sifatnya juga tak pasti karena saking banyaknya ahli, terkadang satu spesies memiliki nama sinonim yang banyak. Sedangkan nama ‘resmi’nya mengikuti keumuman atau yang paling banyak dipakai.

bunga7Di Indonesia, Phalaenopsis amabilis telah dikenal dengan nama Anggrek Bulan (Moon Orchid). Ada juga yang menyebut Anggrek Lebah atau Anggrek Kupu-kupu. Nama lokalnya Anggrek Wulan (Jawa dan Bali), Anggrek Terbang (Maluku), atau Anggrek Menur (Jawa). Nah, dari nama yang sudah ada, apakah kita harus mengganti dengan nama Anggrek Ngengat (ditranslate dari Moth Orchid)? Tidak bukan? Begitu juga di dunia internasional yang tidak memakai nama Moon Orchid. Jadi nama suatu spesies mengikuti sifat keumuman, kecuali ada aturan yang pasti dan dipatuhi di seluruh dunia, ceritanya beda lagi. Namun seperti ini musykil terjadi, kecuali untuk spesies yang baru ditemukan.

Sedangkan mengenai asal-usul nama Anggrek Bulan, saya belum menemukan sumber yang valid. Tetapi yang jelas nama Anggrek Bulan sudah disahkan pemerintah melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 dengan menetapkannya sebagai Puspa Pesona Indonesia. Sedangkan nama Moth Orchid didapat dari bentuk bunganya yang sekilas mirip ngengat yang sedang mengembangkan sayapnya seperti ini …

bunga3Tidak berlebihan kiranya jika The Lovely Phalaenopsis ini menyandang predikat Puspa Pesona. Beberapa persyaratan mampu dipenuhi dengan baik, seperti kecantikan, keanggunan, daya pesona, kebersahajaan, kelembutan, juga keawetan, kuntumnya banyak, dan lain-lain. Apalagi habitatnya hampir tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Karenanya hal yang lazim bila terdapat banyak varian/form maupun sub spesiesnya. Ada varian cinerascens, grandifloria (Kalimantan), papuana, rosenstromii, aurea, vinicolor, concolor, fuscata, marmorata, gloriosa, aphrodite, fournieri, gracillima, moluccana, ramosa, rimestadiana, borneensis, atau ruckeri. Begitu pula sub spesiesnya: moluccana, amabilis, rosenstromii. Terlepas apakah data-datanya valid atau tidak, namun begitulah yang saya dapatkan dari berbagai sumber. Yang jelas, kecantikan dan keanggunannya memang mampu memikat siapa saja, ‘tuk para pecinta anggrek tentunya.

Karena banyak varian dan sub spesies dari Anggrek Bulan, maka untuk artikel kali ini saya hanya membahas sub spesies amabilis dari Jawa saja, tepatnya dari Trenggalek – Jawa Timur. Insya Allah kalau saya memiliki varian-varian lainnya, saya akan post lagi.

Karakteristik

Anggrek monopodial yang menyukai kesejukan, berangin, keteduhan (namun tidak terlalu gelap), kelembaban, dan aerasi (perputaran angin) yang bagus, dan tidak tahan panas atau tidak boleh dijemur atau mendapatkan sedikit cahaya matahari saja. Untuk daerah rendah yang panas memang memerlukan paranet atau dapat langsung ditempel pada pohon yang rindang. Sinar pagi dan sore yang condong serta yang menerobos dari sela-sela dedaunan masih dapat ditoleran. Bila letaknya dekat sungai atau sumber air, perkembangannya akan lebih bagus lagi. Bila tidak, dapat diletakkan wadah air di bawah pohon atau deretan anggrek, sehingga terjadi penguapan alamiah. Jaga jangan sampai menjadi sarang nyamuk.

Bunga

Saya tidak akan membahas secara mendetail mengenai morfologi bunganya yang dapat kita lihat pada gambar-gambar pada artikel ini.

Mungkin shob bertanya “Bagaimana membedakan dengan Anggrek Bulan dari luar Jawa?”. Perbedaan yang nampak jelas ada pada labellumnya, seperti ini.

 

pembeda

(1) Ujung lateral lobe tidak begitu merapat atau tidak menutupi ‘kepala’ (2) Garis bibir pada callus tampak rapi (relatif tegas) berwarna merah kecoklatan (3) Corak warna pada labellum kuning hampir jingga (tidak kuning murni) (4) + (5) Misai (Cirrus) kuning jingga yang panjang dan pada pertemuan pangkal keduanya terdapat tonjolan (puting) sedikit Diameter 8 cm (anggrek saya) atau bisa mencapai 10 cm (kata referensi).

Lama Mekar

bunga2Variatif ya. Ada yang mengatakan 2, 3, atau 4 minggu. Namun anggrek koleksi saya per kuntum mampu bertahan hingga sekitar 45 hari dengan jumlah 10 kuntum. Hingga 60 hari, masih ada 2 kuntum yang masih segar bugar, padahal itu pun sudah hampir setiap hari diguyur hujan. Kini telah menyusul 2 knop bunga dari ujung spike untuk mekar gelombang kedua. Perkiraan saya, insya Allah gelombang ketiga juga ada, nampak di antara dua kuncup tersebut masih ada ujung tangkai yang masih kosong. Yang jelas lama mekar dipengaruhi banyak faktor, baik in maupun ekstern. Faktor utama dalam proses pembungaan adalah cocok tidaknya intensitas cahaya yang diterima.

Daun dan Akar

Daun hijau dengan bentuk lanset dan tebal. Akar tua putih, bulat memanjang, dan berdaging dengan ujungnya hijau kekuningan dan terdapat warna kecoklatan. Dari warna akar dapat kita prediksi kebutuhan sinarnya. Bila akar muda warna hijaunya semakin berkurang dan juga tercampur warna lain, maka kebutuhan sinarnya menjadi kian rendah. Sebaliknya jika ujung akar semakin nampak hijau, maka kebutuhan sinar juga semakin besar/banyak. Dan semakin besar ukuran akar, semakin rendah pula intensitas cahayanya.

Perawatan

seperti-ngengatBanyak yang mengeluh anggrek ini sulit berbunga. Namun tidak sedikit yang berhasil membudidayakan Anggrek Bulan. Ada cara termudah dan teraman untuk merawat Anggrek Bulan yang dapat kita aplikasikan kepada anggrek epifit lainnya, yakni menempelkan anggrek pada pohon. Kemudian kebutuhan sinar mataharinya dapat kita gali dari sumber-sumber referensi anggrek yang banyak diunggah di internet. Anggrek Bulan memerlukan kondisi yang teduh. Jadi sangat aman bila anggrek kita ikat pada batang pohon yang teduh. Pohon apa saja bisa. Dapat juga menggunakan paranet. Anggek Bulan di kebun saya tempel pada pohon rambutan, terlindung dari sinar matahari langsung karena tertutup pohon Melinjo saat pagi hari, tajuk pohon rambutan saat siang hari, dan pohon Jambu saat sore hari. Dengan kondisi seperti itu, anggrek tumbuh subur dan mempersembahkan bunganya dalam waktu 1,5 tahun dari pertama kali saya membelinya berupa young plant dengan tiga daun. Nah, kalau shob belum cukup berpengalaman dengan dunia anggrek atau menanam anggrek pada pot dengan media seperti akar pakis cacah, moss (hidup atau kering), sabut, arang, kulit kayu, pecahan bata/genting dan tidak berhasil dengan baik, maka sebaiknya ditempel saja pada pohon. Tidak usah memakai bahan tambahan apapun kecuali tali untuk mengikat anggrek agar tidak goyah. Cara ini memang lebih simpel dan juga murah meriah walau memerlukan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi (keluarnya akar baru), namun hasilnya juuoossss ….

Habitat

bunga1Tersebar merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Ada yang memasukkan Australia bagian utara sebagai wilayah habitat, namun ada juga yang tidak. Mayoritas menyebut genus Phalaenopsis sub genera Phalaenopsis hanya ada di Indonesia, Malaysia, dan Philipina. Indonesialah yang terbanyak memiliki varian dan subspesies. Malaysia dan Philipina hanya sebagian kecil saja terdapat habitat Anggrek Bulan.

Sinonim

Sebelum dimasukkan ke dalam genus Phalaenopsis, pernah didaftar dalam genus Angraecum, Cymbidium, Epidendrum, dan Synadena.

Polinator

Umumnya diserbuki Lebah Tukang Kebun (carpenter bees) genus Xylocopa. Prosentase keberhasilan mencapai 50%.

Nasib si Ratu Anggrek Kini

Meski jenis-jenis keturunan hibridnya sangat banyak, namun populasi dan kelestarian si Ratu Anggrek ini di alam liarnya semakin terdesak oleh hilangnya habitat (tempat hidup) akibat deforestasi hutan (penebangan liar maupun kebakaran), juga eksplorasi besar-besaran tanpa mengindahkan keberlangsungan si anggrek ini.

bunga5

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s