Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Coelogyne speciosa ssp. speciosa, Anggrek Putri Hutan yang Eksotik, Cantik, Unik, dan Cetar Membahana

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

bagai-putriKeeksotikannya khas anggrek tropis Indonesia. Cantik? So pasti lah. Makanya dinamakan speciosa (cantik) dan dikenal sebagai Beautiful Coelogyne. Di Indonesia dikenal dengan nama Anggrek Bibir Berbulu. Bunganya besar dengan diameter sekitar 12 cm! Labellumnya juga lebar. Kalau saya analogikan bentuk lidah serupa seorang wanita yang bergaun dengan mengangkat kedua tangannya. Maka beginilah deskripsinya. Ujung gaun berwarna putih yang berlekuk (wiru) dengan tepian bergelombang, bagian atasnya terdapat corak berwarna coklat agak kemerahan. Bajunya lengan panjang (lateral lobe) berhiaskan garis-garis dan corak coklat menyatu dengan baju. Jadi, seakan-akan mengembang seperti sayap. Lehernya jenjang berhiaskan ‘mantel’ (callus) bulu hingga mencapai bagian putih gaunnya. Ada tiga baris bulu. Dua bentuknya seperti alis yang melengkung dengan 2 – 3 deretan bulu yang dimulai dari pangkal callus hingga hampir sampai ujung lidah, dan satu berupa garis lurus yang memanjang hingga tengah-tengah lidah. Kepala (column) menunduk dan bertopi (anther cap) lebar mirip topi wanita Eropa jaman dulu kala. Warnanya putih gading atau krem sangat pucat. Warnanya hijau kekuningan cenderung putih kehijauan. Baunya juga wangi lembut, berasa manis mirip aroma jeruk (Mandarin?) atau Musk (seperti wangi bunga Mawar yang manis) atau kalau menurut saya seperti bau mangga matang.

tidak-mekrokUkuran petalnya yang jauh lebih ramping dibanding sepalnya membuatnya benar-benar unik. Sungguh berbeda dengan bunga anggrek kebanyakan – kecuali beberapa jenis dari Phalaenopsis – dan juga mengandung ketidakterdugaan. Apa pasal? Karena model tumbuhnya tidak dapat dipastikan, apakah tegak/lurus, miring, melintir, melingkar, melengkung, spiral, bengkok, atau yang lainnya. Arahnya pun bisa ke atas, bawah, samping, depan, atau ke belakang.

Sedangkan 2 petal dan 3 sepalnya bila dilihat dari sudut tertentu dan terkena sinar seperti berkilau dan nampak seperti dilapisi lilin. Menurut info bunga yang seperti ini awet mekarnya. Hingga tulisan ini diunggah, bunga telah mekar 15 hari dan belum ada tanda-tanda kelayuan. Benar-benar luar biasa. Tak heran bila ada yang menjulukinya “Sang Putri Hutan”. Julukan putri sungguh tepat baginya, yang idiomnya adalah cantik, harum, dan berumur panjang. ‘Hebat’nya masih bayi sudah berbunga! Nah lho, kurang apa coba. Belum lagi keunggulan-keunggulan lainnya, semisal kemampuan adaptasi yang tinggi, bersifat self pollinating, dan lain-lain. Maka tak mengherankan bila pecinta anggrek bule memuji bunganya dengan ungkapan spektakuler atau cetar membahana bila meminjam istilahnya Syahrini .

Asal Muasal Anggrek dan Penanganan Tingkat Pertama

Anggrek ini saya dapatkan dari salah satu kios pusat tanaman hias Rembang Kediri. Keadaannya tampak parah. Daunnya ada yang membusuk, ada juga yang sudah mengering berwarna coklat tua. Terdapat banyak bercak-bercak berwarna coklat dan abu-abu di sana-sini. Bulbnya yang berjumlah empat juga ada bercak-bercaknya. Dua sudah mulai keriput, satu masih nampak hijau dan agak mulus. Yang nampak sehat dibanding lainnya hanya 1 bulb saja. Pot yang satu ini keadaannya lebih parah dibanding pot-pot lainnya. Ya sudah, saya pun membelinya dengan meminta kemiringan harga. Alasan saya, prosentase risikonya sangat besar. Apalagi saya juga belum berpengalaman dengan jenis Coelogyne. Tapi karena memang sudah niat untuk melestarikan dan meramaikan slogan Aku Cinta Anggrek Indonesia, saya pun nekat membelinya. Andaikan penjualnya tak mau menurunkan harga pun, anggrek tetap akan saya bawa pulang. Alhamdulillah, dikasih harga miring, sangat miring malah .

Di rumah, daun-daun yang membusuk dan mengering saya gunting dan buang. Bagian daun dengan bercak-bercak yang parah juga saya gunting. Bercak-bercak abu-abu saya kerik. Namun kemudian saya pikir bercak abu-abu yang ternyata kerak ini bukanlah penyakit. Jadi saya biarkan saja. Toh setelah berkali-kali diguyur hujan, kerak-kerak tersebut juga sudah sangat jauh berkurang.

Meski epifit, namun saya taksir anggrek sudah berminggu-minggu di tempat penjualnya, tandanya ada rumput yang tumbuh di pot. Jadi saya pikir anggrek mulai adaptif dengan cara barunya itu, maka saya pun tetap menanamnya pada pot. Pot bawaan yang terbuat dari tanah liat tidak saya ganti. Pot dibongkar. Di dalamnya ada kelabang merah dan siput-siput imut. Tentu saja hama ini saya buang. Media saya susun kembali dengan menambahkan pecahan genting dan bata pada lapisan terbawah agar terdapat banyak rongga di dalam pot, disusul moss kering dan cacahan pakis bawaan dari penjual. Pot diletakkan pada tempat yang terkena cahaya matahari selama 2 jam lebih, namun tidak terlalu panas karena sudah diserap oleh tembok tetangga dan atap kanopi. Selebihnya anggrek mendapat intensitas cahaya terang secara tidak langsung atau dari pantulan. Alhamdulillah, setelah 2 minggu sudah mulai bermunculan akar-akar baru. Dan dua bulan kemudian anggrek sudah mulai mekar.

Daun

1 helai. 2 helai sangatlah jarang adanya. Bentuk lanceolate (lanset/elips) yang ujungnya meruncing (acuminate), bertangkai, warna hijau tua, kaku, jumlah alur sebanyak 5 garis dan terdapat juga alur-alur yang tipis. Keadaan daun tidak mulus banget, ada bercak-bercak hitam atau coklat, namun saya kira tak mengganggu. Yah … seperti kulit manusia yang banyak tahi lalatnya.

Bunga

Mulai dari knop hingga berbunganya membutuhkan waktu hingga dua bulan lebih. Jumlahnya hanya 1 – 3 yang mekarnya bergantian. Katanya termasuk bunga majemuk. Memiliki daun pelindung berbentuk bulat telur atau bulat memanjang dengan ujung runcing. Tiga sepal berwarna hijau kekuningan berbentuk bulat memanjang dengan ujung berlekuk dan meruncing. Sepal mediannya lebih banyak tidak mekar sempurna. Jadi mirip payung yang memayungi ‘kepala’ labellum. Petala juga hijau kekuningan dengan bentuk serupa pita memanjang dengan lebar 2,5 – 3,3 mm.

Bulb

Seperti telur yang bersudut empat. Namun bentuknya tak mulus banget. Ada yang miring, ada yang sudutnya tak beraturan, dan sebagainya. Warna hijau tua dengan panjang 5 – 8 cm. Diameter pangkal sekitar 4 – 5 cm. Pada pangkalnyalah tumbuh tunas anakan sekaligus bakal bunganya.

Akar

Ukuran sangat kecil, lebih kecil dibanding akar Dendro umumnya. Warna coklat dan nampak kering bila sudah tua. Akar muda hijau kekuningan. Bila tak melekat pada media, akar mudah hangus jika terkena sinar. Secara akaliah sungguh tak bisa menalarnya bagaimana mungkin akar sekecil itu mampu menopang bulb, daun, dan bunga yang besar. Dan itulah masih rahasia Allah Sang Maha Kreator yang harus kita pecahkan maknanya.

Sub spesies dan varian

bagan

Keterangan: 1. Lateral sepala 2. Anther cap 3. Column, terdapat rostellum, talon, stipe, dan pollina 4. Petala 5. Calon bunga berikutnya 6. Callus (dasi) 7. Lateral lobe 8. Sepala kiri-kanan 9. Lip

Kategori sub spesies dengan varian sangatlah membingungkan. Meski secara umum saya mengetahui perbedaannya, namun tentu saja saya juga tak bisa seenaknya mengatakan anggrek ini sub spesies anu atau varian anu. Secara garis besar, sub spesies memiliki perbedaan-perbedaan yang banyak, bisa nyata atau samar-samar dibanding spesies utamanya, namun belum dapat membentuk suatu spesies sendiri atau dengan kata lain mengacu pada perbedaan dalam hal fisik (morfologi) plus fisiologis dan yang lainnya. Banyak faktor yang mempengaruhi adanya sub spesies ini, misalnya lokasi habitat, iklim dan cuaca, pertunasan melalui proses generatif, mutasi gen, dan sebagainya. Sedangkan varian merupakan variasi dalam hal bentuk, warna, atau yang lainnya dari suatu spesies maupun sub spesies atau dengan kata lain mengacu pada bentuk fisik semata. Jumlah perbedaannya hanya satu atau dua saja. Misalnya Phalaenopsis amabilis yang memiliki varian berdasarkan lokasi habitatnya, seperti Pleihari, Jawa, Sabah, Sumatra, Kalimantan, dan lain-lain yang mana masing-masing memiliki perbedaan-perbedaan kecil dan juga terkadang samar. Sedangkan Coelogyne speciosa sendiri memiliki 3 sub spesies yang kesemuanya anggrek endemik Indonesia yang dapat dibedakan berdasarkan ukuran petala, sepala dan labellum serta warna bunga secara keseluruhan, bahkan penampakan buahnya. Ketiga sub spesies tersebut adalah:

  • fimbriata – hanya ada di pulau Sumatera

  • incarnata – Sumatera dan Jawa Barat

  • speciosa – Jawa dan Flores (nama-nama lokasi saya simpan)

Dari lokasi habitat dan juga membanding-bandingkan gambar, sub spesies yang saya miliki adalah speciosa.

Sedangkan varian Coelogyne speciosa, antara lain:

  • rubiginosa

  • albicans

  • salmonicolour – telah menjadi spesies Coelogyne salmonicolor

  • alba (= albicans?)

  • major

  • fimbriata

  • green

Menurut pengamatan dari gambar-gambar di internet, varian yang saya miliki ini mirip bahkan mungkin adalah varian albicans, yang katanya endemik di salah satu titik habitat di Jawa Tengah. Benar atau tidaknya informasi ini saya tidak begitu tahu, mungkin juga saya juga salah dalam mengidentifikasinya. Namun apapun itu, kalau endemik ya alhamdulillah, tidak pun juga alhamdulillah. Meski begitu bagi saya juga tetap kebingungan apakah anggrek saya ini termasuk sub spesies ataukah varian atau mungkin juga kedua-duanya. Jadi kalau misalnya saya memakai dua nama yang dipakai sekaligus atau sendiri-sendiri, yakni Coelogyne speciosa sub species speciosa dan/atau Coelogyne speciosa var. albicans atau bisa juga Coelogyne speciosa sub species speciosa var. albicans, tentunya sah-sah saja ya? Namun, untuk sementara ini saya cenderung memakai nama Coelogyne speciosa sub species speciosa. Wallahua’lam.

Agar lebih jelas, saya sertakan banyak gambar, terutama perhatikan topi dari ‘kepala’ labellum yang tidak terdapat warna kuning atau pun kekuningan sama sekali.

tidak-mekroklabellumkepala1kepalabunga4foto-0054gu1bunga3bunga1

Pollinator

Berbagai jenis semut dan juga serangga kecil mirip lebah (bukan lanceng) datang silih berganti menyambangi sang bunga, padahal anggrek sudah saya letakkan di dalam ruangan agar terhindar dari hujan. Mungkin disebabkan tebaran wangi baunya ya … Menurut info, anggrek ini mampu menyerbuki sendiri. Kalau seperti itu, tentunya angin dan hujan juga mampu bertindak sebagai polinator juga kan?

Meski bukan anggrek langka (hanya terdaftar pada Appendix II CITES) dan tidak termasuk dalam IUCN Red List, namun pelestarian yang dimulai saat ini mutlak dilakukan.

foto-0052

Keadaan bunga setelah mekar 2 mingguan, belum ada tanda kelayuan


Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s