Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Thrixspermum centipeda, Anggrek Gurita yang Kecantikannya Hanya Sesaat

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

bunga1Tak pernah sekalipun saya membayangkan memiliki anggrek ini. Selain tak tahu-menahu dan juga tak ngeh meski sering browsing tentang anggrek, serta bukan termasuk anggrek favorit para hobiis anggrek, jadi saya pun tidak memasukannya dalam wishing list saya. Namun suratan takdir yang telah digariskan oleh Allah Sang Maha Kuasa telah menarik saya dengan caranya yang unik dan tak terduga, sehingga saya diberi kesempatan untuk merawat salah satu makhluk Allah dari jenis anggrek-anggrekan ini. Saya memperolehnya dari salah satu kios tanaman hias yang tak pernah masuk dalam daftar kios-kios sasaran saya dalam berburu anggrek. Namun ya itulah, takdir telah membawa saya ke sana. Dan akhirnya saya pun dapat membawanya pulang, meski sebenarnya anggrek waktu itu dalam keadaan tidak sehat. Daunnya banyak yang membusuk, tidak ada akar muda sama sekali, setengah batang palsunya juga telah kering. Namun karena ingin menyemarakkan gerakan Aku Cinta Anggrek Indonesia dan juga rasa ingin melestarikan anggrek Indonesia, akhirnya saya pun membelinya, meski tak tahu sama sekali bagaimana cara merawat anggrek ini. Ya sudah, saya hanya meniatkan demi kebaikan saja, bismillah, akhirnya terbelilah.

20161231_111048

Kondisi awal saat beli

Setelah nyampe di rumah, pot dari tanah liat itu saya bongkar. Lapisan paling bawah diletakkan pecahan genting dan bata seperti kebiasaan saya selama ini. Media tanamnya yang semula dari sphagnum moss dan cacahan pakis diganti dengan potongan kayu yang besar-besar. Pikir saya kayu merupakan media terbaik bagi anggrek epifit, apalagi ditambah dengan pecahan genting/bata yang mengandung banyak mineral. Tak berapa lama mekarlah bunganya. Rupanya meski nampak merana, si anggrek masih mampu berbunga dan tak peduli dengan keadaannya sendiri. Karena kondisi dan situasi sangat kondusif, bunganya pun tak segan mekar. Rangsangan munculnya bunga dipengaruhi oleh turunnya hujan di malam hari (suhu dingin) namun suhu panas pada siangnya, meski tidak seekstrim pemicuan proses berbunganya Dendrobium crumenatum (Anggrek Merpati). Sayangnya masa mekar hanya beberapa jam saja. Mula-mula petal dan sepal yang ukuran, bentuk, dan warnanya sama berwarna putih gading, kemudian berangsur-angsur menjadi krem, kekuningan-kuningan agak coklat pucat mengkilap saat layu. Namun, singkatnya mekar bunga ditebus dengan periode berbunga yang tak mengenal musim.

Yang menarik sekaligus unik dari anggrek ini selain bentuk sepal dan petal yang mirip kaki laba-laba / boleh juga serupa bintang / seperti gurita atau lily laut yang panjang @ ± 4 cm adalah labellum/lip/lidah-nya yang berkantong meskipun ukurannya jauh lebih kecil dibanding anggrek Paphiopedilum yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya anggrek berkantung Indonesia. Ujung lidah agak lancip pada bagian depan dan tumpul pada bagian belakang dengan ukuran yang relatif lebih panjang dibanding jenis lainnya. Motif pada labellum berupa titik-titik dan noktah dan sapuan warna merah atau pink kuat. Keunikan lain dari anggrek ini adalah tangkai bunga (malai) yang bentuknya seperti gergaji ada juga yang mengatakan seperti lipan – yang mana bunganya muncul bergantian dari tiap ruas tangkai bunganya yang terdapat semacam lubang (vas / pot).

Habitusnya juga unik. Daun serupa Dendrobium, plus susunannya yang selang-seling. Semula memang saya kira dari jenis Dendro. Pseudobulbnya serupa Anggrek Bulan/Phalaenopsis. Akarnya yang putih dan berujung hijau serupa akar Aerides, atau lebih tepatnya Arachnis yang ukurannya tidak begitu jauh berbeda. Jadi dapat menerima sinar matahari langsung, namun dihindarkan/dinaungi dari sinar yang terik. Apalagi ukuran akarnya juga relatif besar (meski di bawah ukuran akar Anggrek Aerides), yang artinya derajat panas atau lamanya sinar matahari langsung tidak lebih besar dibanding anggrek-anggrek Dendrobium yang memiliki tipe akar sama namun berukuran kecil-kecil itu yang memang lebih tahan diguyur sinar terik. Ini penilaian (subjektif) saya terhadap akar anggrek-anggrek epifit.

————\\\\\/////————

Seperti telah saya singgung di atas, kalau saya tak sebersit pun akan memiliki anggrek ini, maka saat mencari ID anggrek ini juga cukup susah. Semula saya kira member Dendrobium karena daunnya kok serupa. Namun setelah beberapa hari keluar bunga, ternyata bukan Dendro. Saya pun lebih teliti lagi mengamatinya. Ternyata akarnya besar-besar dan tumbuh pada sembarang bagian batangnya. Pseudobulbnya mirip Phalaenopsis. Daunnya pun ternyata mirip Phalaenopsis doritis, walau ukurannya jauh lebih kecil. Dan dari bentuk bunganya itu, saya pun search di internet. Genus ketemu, yakni Thrixspermum, namun nama jenisnya masih ngambang karena adanya banyak kemiripan spesies satu dengan lainnya. Beberapa kandidat nama adalah … Thrixspermum raciborskii, Thrixspermum celebica/celebicum, Thrixspermum platystachys, Thrixspermum aticulata, dan juga Thrixspermum centipeda yang telah saya pilih menjadi pemenang sebagai nama dari anggrek ini.

bunga1Dulu saya pernah mencoba membantu mencari ID dari anggrek yang ditemukan oleh Ibu Made pada artikel Anggrek Liar Di Batang Bunga Sokahttps://nimadesriandani.wordpress.com/. Dan ternyata jawaban yang saya kirimkan itu … salah. Anggrek ini ternyata bernama Thrixspermum centipeda , bukan Eria javanica seperti dugaan saya waktu itu.

Sebelumnya The Centipede Thrixspermum pernah dimasukkan ke dalam genus Vanda, Vanda pauciflora, mungkin karena batang semu dan akarnya yang memang mirip. Sedangkan susunan daun dan bunganya sangat jauh berbeda dengan Vanda. Pernah juga didaftarkan dalam kelompok Aerides dengan nama Aerides arachnites dan Aerides flos-aeris, yang artinya laba-laba, mengacu pada bentuk bunganya, plus batang dan akarnya yang juga mirip. Selainnya, anggrek ini tidak cocok masuk dalam kelompok Anggrek Asem-aseman. Pernah menghuni grup Dendrobium, yakni Dendrobium auriferum. Form daunnya memang sangat mirip. Awalnya saya juga menduga kalau anggrek ini berasal dari genus Dendrobium. Namun karakter lainnya tidak mencerminkan karakter khas Dendrobium. Begitu juga tidak mirip dengan karakter dari genus Epidendrum, Epidendrum thrixspermum atau Dendrocolla, Dendrocolla arachnites. Terbanyak penamaan yakni pada genus Sarcochilus, mulai dari Sarcochilus aurifer, Sarcochilus arachnites, Sarcochilus auriferus, Sarcochilus centipeda, hingga Sarcochilus hainanensis. Sebelum dipakai namanya yang sekarang, pernah juga dilabeli Thrixspermum arachnites, Thrixspermum auriferum, Thrixspermum hainanense, atau Thrixspermum papillosum.

Masih berkerabat dekat dengan Anggrek Bulan karena termasuk dalam Phalaenopsis Alliance. Dan bersama-sama dengan genus Acampe, Arachnis, Brachypeza, Dyakia, Pelatantheria, Pomatocalpa, Trichoglottis, serta Vanda membentuk bangsa Vanda.
Pemeliharaannya sangat mudah. Saya meletakkannya pada tempat yang terkena sinar langsung namun masih terhalang rumah tetangga. Ada yang menyarankan sebaiknya anggrek diletakkan pada tempat yang teduh dan cukup lembab seperti sepupunya, Anggrek Bulan. Terserah shob mau mengikuti cara yang mana.

Katanya sudah termasuk langka dan terancam keberlangsungan hidupnya pada habitat alamiahnya. Sungguh ironis kalau demikian adanya, karena anggrek ini tersebar luas di beberapa negara. Dapat disebutkan di sini: Tiongkok, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Philipina, Malaysia, dan Indonesia yang habitatnya berada di pulau Kalimantan, Jawa, dan Sumatra.

Catatan:

# Saya tinggal di daerah panas Kabupaten Kediri, ± 95 m dpl. Anggrek tanpa paranet sama sekali, terkena sinar langsung.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s