Anggrek? Ih … bosan ah ….

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

Apa kabar hobiis anggrek yang memiliki koleksi anggrek hingga ratusan jenis dan telah mengulasnya dalam blognya? Mengapa sekarang blognya mati suri? Apakah sudah kehabisan bahan untuk dibicarakan? Ataukah sudah dihinggapi rasa bosan?

Ya, salah satu karakter alamiah manusia yang dianggap sebagai ‘penyakit’ adalah bosan. Kalau bosan terhadap hal-hal negatif yang nggak sesuai dengan norma dan agama, itu mah bagus dan patut disyukuri. Tetapi beda ceritanya bosan terhadap hal-hal

baik yang malah membikin celaka diri sendiri atau orang lain atau makhluk lainnya atau semuanya, termasuk salah satunya adalah bosan kepada anggrek koleksi. Walau dihinggapi perasaan bosen namun masih mau merawat dan melestarikan anggreknya sih ya no problemlah. Lha, kalau bosannya tersebut membikin anggreknya merana, ya gak apiklah. Bukankah sudah banyak waktu, tenaga, pikiran, dan juga dana yang kalau ditotal bisa puluhan juta itu apa ya g eman-eman? Lebih baik anggreknya dilungsurkan ke saya atau hobiis anggrek lainnya.

Ya memang, rasa bosan bisa menghampiri siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Hanya saja efek dan prosentase ‘serangannya’ berbeda-beda, tergantung kekuatan orang yang dihinggapinya. Dan bosan kepada anggrek akan membuat nasib anggrek yang sudah kelam, kian tambah runyam.

Anggrek memang bukanlah tanaman hias yang cepat berkembang, cepat berbunga, dan cepat berganti dengan yang baru. Mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dewasa dan kemudian mengeluarkan bunganya yang cantik dengan syarat-syarat tertentu. Apabila individu anggrek berasal dari biji, wow … tambah lama lagi nunggunya. Sekedar gambaran saja, fase juvenil (seedling) membutuhkan waktu minimal 2 tahun. Kalau shob pernah mengamati perkembangan biji anggrek dalam media khusus, tentu akan paham. Dan itu belum menunggu berbunganya lho … Ada yang harus menunggu hingga 12 tahun untuk melihat anggrek tanah berwarna merahnya mekar (saya lupa apa nama anggreknya itu). Nah … inilah yang perlu disadari oleh pemula dan hobiis anggrek. Bila tak sanggup dalam merawat dan juga menunggu selama itu, sebaiknya memelihara anggrek-anggrek hibrida saja yang juga tak kalah cantiknya, bukan anggrek spesies.

Hadirnya rasa bosan tersebut biasanya dipacu oleh ekspetasi yang tinggi (menggebu-gebu) saat awal-awal menyukai anggrek. Blusukan ke stand-stand anggrek bahkan ke hutan rela dilakoni. Tak peduli keluar biaya banyak untuk harga anggrek yang tidak murah, plus pupuknya, medianya, dan lain-lainnya. Kemudian bila memamerkan anggrek-anggrek koleksinya di medsos atau blog-blog juga membutuhkan waktu, biaya, pikiran, dan juga lainnya lagi. Celakanya, saat koleksinya sudah habis dikupas, blognya pun mati suri. Banyak yang seperti ini. Padahal koleksi mereka ini jumlahnya ratusan jenis lho … Mungkin saja karena kesukaan akan anggrek terlalu instan, maka hilangnya pun juga cepat. Dan bosan pun menunggu obatnya.

Kalau seperti itu, mungkin beberapa tips berikut bisa mengusir atau setidaknya mengurangi rasa bosan kita.

  1. Ingat-ingat perjuangan dan kesusahan kita dulu untuk mendapatkan anggrek yang kita inginkan. Butuh waktu, perlu uang, dan juga tenaga, plus kesabaran yang lebih.

  2. Mungkin shob bisa mendatangi taman-taman anggrek yang caem-caem, kalau bisa dipaskan saat mereka mekar secara serentak. Dengan melihat pemandangan seperti itu, siapa tahu dorongan untuk merawat anggrek pun timbul kembali.

  3. Naik gunung atau masuk hutan untuk melihat dan mengamati anggrek di habitat aslinya. Apakah hutan tempat habitat mereka masih ada? Bagaimana kondisi habitat mereka? Dan bagaimana pula keadaan anggrek-anggreknya, apakah masih bisa kita temui atau sekarang sudah raib?

  4. Membaca berita-berita dan informasi-informasi mengenai nasib anggrek-anggrek kita yang kian lama kian tragis.

  5. Mem’balung-sumsum’kan atau istilahnya rasa hidup mati untuk anggrek perlu dibina terus-menerus.

  6. Anjangsana atau silaturahmi ke hobiis pemula yang sedang semangat-semangatnya untuk berburu anggrek. Dengan melihat semangat itu, siapa tahu kita juga ikut timbul semangat kembali.

  7. Mungkin kita bisa belajar pada rekan-rekan pecinta alam yang hanya memfoto atau mengambil gambar-gambar anggrek di alamnya tanpa ada keinginan untuk memeliharanya. Biasanya kerinduan mereka akan anggrek di alamnya akan terjaga, karena tentu saja mereka tidak berjumpa dengan anggrek setiap saat, beda dengan kita yang memeliharanya di rumah yang setiap saat ketemu dan ketemu lagi dengan anggrek. Jadi, mungkin kita say good bye dulu pada anggrek untuk pergi kemana gitu dengan tak lupa titip pada orang untuk tetap menjaga dan merawat anggrek.

  8. Atau dengan cara-cara lain yang shob sukai .

Ok, mudah-mudahan bermanfaat, dan tetap semangat untuk “AKU CINTA ANGGREK INDONESIA”.

gu-nasib

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s