Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Dendrobium phalaenopsis|Anggrek Larat, Benarkah bukan Anggrek Endemik Maluku serta Kontroversi yang Melingkupinya

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

== Kontroversi Anggrek Larat ==

banyak-variasi

Puluhan blog Indonesia yang saya baca mengenai anggrek ini separuhnya isinya setipe dengan dirubah sedikit di sana-sini. Dan …, separuhnya lagi pleg 100%. Saya tidak tahu, blog ‘indukan’nya yang mana?

Kemudian informasi dari blog negeri dhewek itu ternyata berbeda dengan blog manca (utamanya Australia). Berikut di antaranya:

1. Indonesia: Dendrobium phalaenopsis memiliki nama sama dengan Dendrobium bigibbum, selain Vappodes phalaenopsis. Manca: ≠.

2. Indonesia: Dendrobium phalaenopsis endemik Maluku ada juga yang mengatakan pertama kali ditemukannya di Pulau Larat. Manca: berasal Nortwest Australia, tepatnya Cooktown. Ada juga yang menulis berasal dari Northeastern Australia, termasuk Cape York Peninsula. Referensi lain menulis native to South East Asia and Australia.

3. Indonesia: disebut Anggrek Larat karena endemik Pulau Larat, Tanimbar, Maluku. Manca: Cooktown, karenanya dikenal dengan nama Cooktown Orchid. Dan tak ada satupun blog manca yang saya baca menyebut Maluku sebagai tempat asalnya!!! Namun menurut saya, melihat anggrek ini begitu familiar dan ditanam hampir di seluruh pelosok tanah air, prosentase asalnya dari Cooktown sangatlah kecil. Kita lihat juga berapa gelintir hobiis yang memiliki anggrek-anggrek yang berasal dari Australia. Selain iklimnya yang jauh berbeda, bukankah untuk mendatangkan anggrek dari sana ke Indonesia membutuhkan biaya yang tidak sedikit? Dan itu sangatlah berat bagi kantong hobiis kacangan seperti saya. Anggrek-anggrek Australia yang telah dibudidayakan di sini pun harganya juga belum murah. Lagian iklim yang berbeda juga memerlukan perlakuan yang khusus pula. Saya rasa kasus ini bagai tempe yang dipatenkan oleh ‘pihak-pihak’ non-Indonesia.

4. Manca: Dendrobium bigibbum merupakan versi kecilnya atau berukuran lebih kecil dibanding Dendrobium phalaenopsis. Di Wikipedia, Dendrobium bigibbum disebut Anggrek Larat Langsing.

variasi-1Dari gambar-gambar, saya mengamati perbedaan bunganya, bila Dendrobium phalaenopsis petal dan sepalnya tegak atau agak condong ke depan (agak menelungkup), sedangkan Dendrobium bigibbum condong ke belakang (agak telentang). Namun ini juga tak pasti juga sih. Tapi ya sudahlah … apapun perbedaan itu yah saya terima saja. Nanti kalau ada sumber yang valid saya akan bahas lagi. Dan untuk sementara ini saya berpendapat bahwa Dendrobium bigibbumDendrobium phalaenopsis karena ada beberapa alasan yang insya Allah kelak akan saya utarakan di artikel berikutnya.

Anggrek Dendrobium phalaenopsis ini sudah melanglang buana, hingga ke Eropa dan Amerika. Indonesia sebagai salah satu ‘pemiliknya’ hanya bisa melongo melihat semua itu. Para hobiis manca itu sukses membudidayakannya dan menjualnya ke berbagai tempat di dunia ini sesuai tempat tinggal pembeli/pemesannya dengan harga yang tidak murah. Kesesakan kita tak sampai di situ saja, Thailand yang sebelumnya juga terkenal sebagai negara penghasil hibrida ikan diskus juga sukses membuat jenis-jenis hibrida dengan indukan Dendrobium phalaenopsis ini beserta section phalaenopsis lainnya. Salah satu kelompok type hibrida yang terkenal dari mereka adalah Burana yang mempunyai mahkota bunga lebih bulat dan juga bentuk petal dan sepalnya lebih rapat sehingga secara keseluruhan nampak lebih membulat. Kabarnya bentuk bunga yang membulat seperti ini lebih mahal harganya. Begitu pun Hawai yang juga pusat kegiatan hibridasisasi section phalaenopsis. Taiwan dan Jepang jago dalam hibrida section nobile. Padahal indukannya, kita juga yang punya. Untuk menghibridakan Dendrobium section spatulata yang katanya difokuskan di negeri ini, kita pun juga harus bersaing ketat dengan Singapore yang tentunya sudah maju beberapa langkah di depan. Kita lihat hasil terbaru mereka, yakni Dendrobium Iriana Jokowi juga bertipe spatulata/keriting.

Dan anggrek-anggrek hibrida yang mereka hasilkan tersebut kemudian dipasarkan ke seluruh dunia, dan pembelinya sebagian besar di antaranya adalah … hobiis (dan juga pedagang) anggrek Indonesia, seperti Kampung Anggrek Kelud. Padahal untuk edisi-edisi awal, harga silangan ini tentu masih sangat mahal dan menguras kantong. Kemudian oleh pembeli Indonesia dibudidayakan lagi dan dijual kepada … orang Indonesia lagi. Weleh-weleh … Dan untuk anggrek hibrida yang sudah lama, harga yang mereka bandrol jauh lebih murah dibanding hasil budidaya orang-orang kita sendiri. Maka dari itu, peran pemerintah tetap diharapkan untuk mengurangi kran impor ini.

Fakta-fakta yang menyedihkan ini sudah lama membuat prihatian pecinta anggrek sejati kita. Beberapa di antaranya berusaha bersaing dengan negara-negara lain, baik dalam pembudidayaannya maupun pemuliaannya. Untuk mengejar ketertinggalan memang membutuhkan waktu yang lama dan juga biaya yang tidak sedikit, namun kalau tidak sekarang dilakukan lha … kapan lagi?. Memang untuk itu perlu adanya terobosan-terobosan. Salah satunya menurut saya dibentuknya Asosiasi Budidaya Anggrek Larat yang anggotanya terdiri dari berbagai kalangan. Kemudian dalam pemeliharaannya diserahkan pada segelintir orang, yang dipilih dari kalangan pakar dan pecinta anggrek sejati. Dengan asosiasi ini kita dapat mengajukan kepada pemerintah untuk melarang pengiriman Anggrek Larat ke luar negeri, baik anggrek dari hasil budidaya maupun yang diambil dari habitatnya. Yang dijual adalah jenis hibridanya yang telah dihasilkan asosiasi ini. Memang untuk menikmati ‘kesuksesan’ yang seperti ini akan membutuhkan waktu yang tidak terbatas, bisa puluhan tahun, apalagi para pesaing tentu juga akan terus berusaha menghasilkan jenis-jenis baru yang lebih dahsyat. Tetapi kan itu memang harus kita lakukan kan ya …?. Dan cara seperti itu tidak hanya diterapkan pada Dendrobium saja, tetapi juga pada genus anggrek lainnya, seperti Grammatophyllum/Anggrek Tebu, Paphiopedilum /Anggrek Kantung Semar, dan lain-lain. Jadi nanti akan banyak asosiasi di Indonesia ini. Itulah khayalan saya.

====== \\\/// ======

Baru tahu kalau Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis var. schroederianum atau Dendrobium striaenopsis atau Dendrobium bigibbum subsp. laratensis) memiliki bunga yang dominan putih juga. Selama ini yang saya ketahui warnanya kalau nggak magenta atau merah keunguan, ya paduan antara putih dan magenta (seperti gambar pada artikel ini), bukan dominan putih. Ukuran batang dapat lebih dari 40 cm hingga > 1 m dengan jumlah anak daun yang berbentuk lanset dan kaku mencapai 15 helai atau lebih. Letaknya berselang-seling, yang mana ujung daunnya mencuat/kaku atau ada yang sedikit menekuk. Bila kondisi memungkinkan, baru 6 helai daun saja, anggrek sudah mampu berbunga, seperti yang ada di kebun saya. Batang atau pseudobulbnya agak sedikit membesar secara merata yang dimulai dekat pangkal hingga dekat ujung batang. Ada yang mengatakan mirip gada. Ada lho yang menanam anggrek ini pada pot dengan media tanah. Saya lihat anggrek hidup baik dan kini malahan sudah berbunga, mendahului anggrek yang ada di tempat saya, masya Allah.

Warna bunga sesuai kondisi tanaman dan lingkungannya, mulai dari merah keunguan hingga ungu, atau gradasinya, dan terdapat juga warna putih atau paduannya. Biasanya warna putih yang timbul membentuk semacam garis-garis pada petalnya. Setiap tandan terdapat 6 – 24 kuntum dengan diameter yang relatif besar yakni ± 6 cm. Dari sekian banyak bunga yang mekar, hanya sedikit yang menghasilkan buah.

kuncupAnggrek Larat membutuhkan sinar matahari langsung dengan cukup. Bila sedikit terlindung juga tidaklah mengapa, asal masih terkena sinar. Beberapa referensi mengatakan untuk menghindarkan dari panas yang terik (pukul 12.00 – 14.00).

Turunan-turunan dari Dendrobium phalaenopsis sangat disukai para penggemar anggrek dan lebih laku karena memiliki bunga yang relatif besar, kuntum relatif banyak, mekarnya juga lama, diameter juga lebih membulat. Batang/pseudobulb jenis hibrid ini biasanya juga besar-besar.

Saya tidak begitu njelimet merawat anggrek ini. Cukup menyiraminya seperti biasa, yakni siraman besar dua hari sekali. Selama musim penghujan, hampir saya tidak pernah menyiraminya. Pemupukan bila sempat saja menggunakan air cucian beras atau air bekas teh. Untuk susu yang telah basi saya biasanya mengencerkannya lebih dulu. Pemupukan seperti ini saya lakukan beberapa jam sebelum melakukan penyiraman atau sebelum hujan turun.

wKelembaban yang diperlukan Anggrek Larat menurut info cukup rendah, minimal 50% sudah cukup baginya. Saya tidak menerapkan trik khusus untuk menjaga kelembaban karena di halaman depan sudah ada tiga pohon yang sudah bisa menyediakan kelembaban.

Berdasarkan kabar-kabar, penyiraman dengan air cucian beras akan mendatangkan hasil yang memuaskan. Tanaman tumbuh subur, bunga besar, serta kuntumnya banyak. Ada juga yang memakai air kelapa, air bekas cucian daging atau air vetsin. Namun untuk air kelapa harus dicampur dengan air biasa dengan skala 1:3. Sebaiknya jenis pupuk alami tidak monoton, agar zat hara yang didapatkan dapat bervariasi.

Cara mengembangbiakkan anggrek ini caranya sama jenis-jenis Dendro lainnya.

Dari salah satu blog, saya membaca jika anggrek ini termasuk 15 anggrek spesies termahal Indonesia. Namun saya tidak menelisik lebih jauh apa kriterianya dan siapa yang menjual dengan harga yang mahal tersebut. Sedangkan anggrek ini saya beli di Splendit Malang seharga 10/15K (saya lupa tepatnya) pada tahun 2006. Jikalau ada yang berminat membelinya dengan harga mahal, saya rela melepas sebagiannya.

Artikel Anggrek Larat ini didedikasikan kepada: para pendukung Aku Cinta Anggrek Indonesia

Catatan:

  • Anggrek-anggrek koleksi saya berada di dataran rendah yang panas dan tanpa paranet

  • Tidak dipupuk, kecuali dari air cucian beras (itupun kadangkala), atau dari daun teh yang sudah dipakai atau air rendaman dedaunan atau berasal dari udara

  • Perawatan sebisa mungkin very very simple dan tak mengikuti aturan yang ada di blog-blog anggrek

  • Media atau apapun yang berkaitan dengan anggrek berasal dari barang-barang bekas atau tak terpakai atau sudah ada sebelumnya

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s