Tithonia diversifolia, Pupuk Alamiah yang Murah dan Ramah Lingkungan

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebutan di Indonesia untuk Tithonia diversifolia kedengarannya aneh dan unik: Rondo Noleh, Rondo Semoyo, Kembang Bulan, Kembang Daun Insulin, Kayu Paik, Kipait dan Harsaga atau Paitan, padahal nama Inggrisnya keren punya Mexican Sunflower. Saya tidak tahu arti nama-nama itu dalam bahasa Sunda. Kalau diartikan dalam bahasa Jawa: Rondo = janda, Noleh = menengok, menoleh, Semoyo = mengundur-undurkan janji, Harsaga = ?. Untuk nama selainnya kita bisa mengira-ngira apa artinya. Sedangkan nama Paitan, Kipait atau Kayu Paik diperoleh karena daun dan batangnya berasa sangat pahit, hingga ayam pun ogah memakan tunas-tunas dan daun mudanya.

Nama Mexican Sunflower diperoleh dari daerah asalnya yakni Meksiko. Sunflower, karena bunga kuningnya menyerupai bunga matahari namun dengan ukuran jauh lebih kecil.

bunga

Tumbuh liar di pinggir sungai atau pinggir saluran-saluran air yang mengandung kelembaban tinggi namun masih terpapar matahari. Awalnya saya pikir di Kediri tidak ada bunga ini. Namun saat saya melintasi jalan dekat sungai pada salah satu area kecamatan di Kediri, saya menjumpainya. Dan langsung jatuh hati pada warna dan bunganya yang indah. Namun saya tidak bisa mendomestikasinya, karena spot tumbuhnya di jurang sungai dan tidak dapat terjangkau dengan tangan. Akhirnya saya pun melupakannya dan tidak berharap untuk membawanya ke rumah. Alhamdulillah, saya menjumpai kerumunan Daun Insulin ini pada spot lainnya, masih di area sungai namun mudah saya jangkau walau sedikit bersusah payah untuk sampai ke area tumbuhnya. Melalui pemotongan batangnya, saya pun menanamnya di rumah. Gagal. Akhirnya saya coba lagi dengan memotong batangnya yang sudah tua serta membawa biji-bijinya dan menyemaikannya di rumah. Alhamdulillah, kedua cara ini berhasil. Karena pekarangan rumah tidak muat, maka beberapa di antaranya saya pindahkan ke rumah nenek yang halamannya masih luas. Berhasil berkembang dengan pesat dan berbunga.

Daun termasuk daun menjari.

daun

Bunga ada kurang lebih 11 – 12 helai mahkota bunga berwarna kuning. Ukuran diameter bunga berbeda. Mahkota yang agak pendek namun melebar, diameternya lebih kecil, sedangkan mahkota yang memanjang namun agak menyempit, diameternya lebih besar.

Tanaman ini mengandung zat insulin pada daunnya, karena itu dapat digunakan sebagai obat penyakit diabetes. Meski kegunaannya sangat penting, namun jarang orang yang menanam maupun membudidayakannya. Saya tidak tahu penyebabnya. Namun saya kira karena perawakannya yang tinggi dengan cabang-cabang yang banyak menjadi kendala, sebab membutuhkan area yang relatif luas.

Kelebihan

Sebagai antidiabetes dan anti virus.

Dapat digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan.

Obat malaria, liver, dan radang tenggorokan.

Tumbuh mudah hampir di segala tempat, asal lembab dan terjaga ketersediaan airnya. Walaupun batangnya digunakan sebagai penyangga tanaman lain, namun batang ini mampu hidup dan bertunas.

Resep

10 lembar daun insulin (segar atau kering) direbus dalam 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Minum saat hangat atau sudah dingin. Ampasnya dapat direbus kembali hingga berwarna bening. Konsumsi 3x sehari (@ 1 gelas). Jika gula darah sudah turun frekuensi konsumsi jamu bisa dikurangi menjadi 2x sehari dan 1x sehari. Rutin memeriksakan kadar gula darah dan harus dibarengi dengan diet gula.

Untuk pencegahan, konsumsi jamu daun insulin hanya 1x sehari saja.

Selain bermanfaat untuk manusia, tumbuhan ini juga bermanfaat untuk flora lainnya terutama tanaman pertanian, karena mengandung unsur N, P, K, giberlin (hormon perangsang tumbuh yang juga banyak terkandung dalam bonggol pisang, rebung bambu dll), sitoksinin (hormon perangsang pembelah sel yang terkandung dalam keong), auxin (hormon yang merangsang pembentukan buah atau bunga yang biasanya terdapat pada bluluk, atau sabut kelapa), dan cendawan micorhiza vesicular-arbuscular yang mampu melepaskan fospor dalam tanah yang terikat oleh aluminium (ALPO), Besi (FePO), Dan Mangaan (MnPO),

Caranya bisa dibuat kompos atau MOL (mikroorganisme lokal). Jadi ada alternatif untuk bertani yang murah dan ramah lingkungan.

Penjelasan:

Pada perakarannya hidup jutaan cendawan dan bakteri pelarut kalium dan fospat seperti bakteri-bakteri dari genus Azotobacter dan Azospirillum yang mampu melarutkan kalium dan fospat yang umumnya mengendap dalam tanah serta menambat nitrogen dari udara. Itu artinya bunga liar yang cantik dari familia Asteraceae ini dapat dijadikan pupuk alami. Selain itu bakteri-bakteri tersebut juga menghasilkan fitohormon seperti auksin, giberelin, dan sitokinin yang kegunaannya sudah disebutkan di atas. Akar Titonia juga terinfeksi cendawan mikoriza yang mampu memperluas zona perakaran. Mikoriza ibarat penambang hara sehingga tanaman efektif menyerap hara. Lahan yang disebarkan kipahit lebih gembur. Cacing yang dikenal memperbaiki kesuburan tanah pun lebih banyak ditemukan dibanding yang disebar pupuk organik lain.

Sebagai pupuk hijau efektivitasnya lebih tinggi dibanding pupuk hijau dari keluarga legum, padahal selama ini keluarga legum disebut pupuk hijau terbaik. Keunggulannya karena Titonia menyediakan nitrogen, kalium, fosfat, plus fitohormon sekaligus. Dan Kenya adalah negara yang paling banyak menggunakan titonia sebagai pupuk hijau. Namun alangkah baiknya petani tidak berat sebelah terhadap kedua pupuk hijau. Kalau ada Titonia ya pakai Titonia, kalau yang tersedia adalah pupuk hijau dari keluarga Legume, ya itu yang dipakai.

tampilan

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s