Laportea interrupta, Bolehkah Saya Menamakannya Jelatang Jawa?

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

– JELATANG –
gu2.jpgItulah keyword yang saya dapatkan kala membaca puluhan blog berisi tumbuhan ini. Sebutannya bermacam-macam sesuai bahasa setempat: Lateng, Latengan, Tereptep, Jilatang, atau Sosoro. Stinging Nettle adalah keyword dari blog-blog berbahasa Inggris. Apapun jenis tumbuhan beracun (Poisonous Plants), semuanya disebut Jelatang saja. Entah itu Jelatang, Daun Pulus, atau Gympie-gympie, atau selainnya. Entah bergenus Urtica, Boehmeria, Fleurya, Laportea, Dendrocnides, Toxicodendron, Rhus dan selainnya. Semuanya disebut Jelatang saja.
Di Indonesia macam-macam jelatang juga lumayan banyaknya. Ada Jelatang Ayam, Jelatang Kambing, Jelatang Kerbau, Jelatang Gajah, Jelatang Akar, Jelatang Tulang, Jelatang Api, Jelatang Merah, dan lain-lain. Beberapa blog ada yang mencoba membeda-bedakannya, namun tidak diulik secara tuntas. Jadi tulisan saya juga sifatnya mengambangnya informasinya, karena saya juga harus pandai-pandai memadu-padankan informasi-informasi tentang Jelatang yang berceceran pada puluhan blog agar terbentuk sebuah gambaran mengenai Jelatang per jenisnya. Prosentase kesalahan besar itu so pasti, namun setidak-tidaknya ada langkah awal agar dapat didapatkan informasi-informasi per spesiesnya. Tidak mudah memang.
Jelatang berbagai jenisnya dan juga kerabat-kerabatnya yang telah disebut di atas itulah yang membuat mountain climbers ciut nyalinya dibanding ketakutan akan bertemu dengan ular, harimau, kalajengking dan binatang-binatang buas dan berbisa lainnya. Kalau hewan-hewan itu, secara naluriah kita memang akan bersikap hati-hati, namun tidak pada tumbuhan beracun ini. Penampakannya yang tidak ‘ganas’ membuat mereka nyaris diabaikan keberadaannya. Namun akibatnya bisa fatal. Gatal-gatal, perih, dan panas hingga sampai tulang dengan rentang waktu seminggu atau lebih itulah yang akan para pendaki terima bila tak mempunyai pengetahuan yang cukup akan tumbuh-tumbuhan berbisa dari Familia Urticaceae ini. Bahkan Gympie-gympie (Dendrocnides moroides) termasuk tumbuhan yang mematikan. Tumbuh-tumbuhan beracun ini umum dijumpai di daerah gunung atau pegunungan karena memang menyukai area yang lembab. Karena tidak ada gangguan dari manusia yang menebang atau memotongnya, maka Jelatang yang berbatang tegak atau merambat ini pun hidup merimbun dengan damainya.
Karena racun dan penanganan masing-masing jenis tumbuhan berbeda-beda, maka perlunya pemahaman akan tumbuhan ini sangatlah bermanfaat, terutama bagi para pendaki gunung. Karena itu advis dari para pendaki yang lebih berpengalaman dan juga penduduk setempat sangatlah diperlukan dalam menangani keracunan tumbuh-tumbuhan ini. Penanganan keracunan ada yang diolesi pake air seni, disiram air, air remasan tanaman Alocasia macrorrhiza (Talas Gajah), ada yang bulu-bulunya dicabut memakai plester, ada yang diusap-usapkan ke rambut kepala, atau ada yang memakai daun Pacing Merah. Ada juga yang menggunakan nasi lembek atau jajanan tradisional (dodol misalnya) yang lengket untuk menarik miangnya atau bulu-bulu racunnya. Ada juga yang menempelkan lakban|medicinal plester dan kemudian menarik miangnya. Ada yang memakai getah batang/akarnya sebagai obat olesnya. Atau menggosok-gosok bagian yang tersengat dengan tanah gembur yang kering. Untuk mengobati efek gatalnya, selain disiram air, biasanya dibantu dengan getah pohon Jelatang yang dioleskan pada kulit dan membiarkannya sampai mengering, kemudian baru dibersihkan. Ada juga saran untuk membaluri dengan minyak tawon sebanyak-banyaknya. Tindakan pencegahan yakni dengan memakai celana panjang dan jaket, dan juga keawasan keberadaan tumbuhannya.
Jelatang sendiri menurut kamus artinya adalah tumbuhan yang daunnya dapat menimbulkan rasa gatal, perih, juga panas pada kulit apabila tersentuh. Jadi termasuk tumbuhan beracun. Daun dan batang Jelatang memang memiliki bulu-bulu halus yang melepaskan bahan kimia saat kontak dengan kulit, sehingga menyebabkan iritasi. Semakin besar ukuran daun dan ternanya, efek racun yang ditimbulkannya juga semakin kuat.
Mengapa Jelatang beracun? Alasan utamanya adalah sebagai alat pertahanan diri agar tak punah. Bulu-bulu beracun yang dimilikinya itu merupakan senjata untuk mempertahankan diri dari hewan-hewan pemakan tumbuhan. Namun, beberapa hewan seperti ulat kupu-kupu Admiral dan Kaisar sangat nyummi dengan daun-daunnya. Bahkan ulat-ulat tersebut hanya memakan daun Jelatang saja, yang artinya keberadaan kupu-kupu ini sangat tergantung pada ketersediaan pakan mereka. Tidak heran mereka sangat menyukai daun Jelatang karena mengandung berbagai zat-zat yang mereka butuhkan. Jelatang memiliki kandungan tinggi akan mineral (kalsium, magnesium, besi, kalium, fosfor, mangan, silika, yodium, silikon, natrium, belerang), klorofil dan tannin, vitamin C, beta-karoten, dan vitamin B kompleks. Kandungan proteinnya yang mencapai 10% lebih tinggi dibanding sayuran.

Secara kimiawi tentang racunnya dapat diterangkan bahwa bulu-bulu pada daun dan batang Jelatang mengandung bahan kimia asetilkolin, histamin, 5-HT atau serotonin, acid (asam format dan histamin), sterol, flavonoid, dan mungkin juga format.
Jelatang mempunyai manfaat sebagai diuretik, tonik, atau detoks. Dapat mengobati berbagai penyakit, artinya racun dilawan racun. Caranya daun Jelatang dikeringkan dahulu, kemudian celupkan 1 – 2 sendok teh daun Jelatang kering dalam air mendidih selama 5 – 10 menit hingga dihasilkan secangkir teh jelatang. Teh ini mengandung vitamin A, B, dan K, riboflavin, niasin, folat, karbohidrat (71,33%), lemak (2,36%) dan protein (25,8%), plus mineral seperti kalsium, zat besi, kalium, fosfor, mangan, seng, tembaga dan magnesium. Dikatakan bahwa beberapa penyakit bisa diobati dengan jelatang antara lain: anemia, artritis, gout, sakit otot, nyeri sendi, infeksi saluran kencing, gigitan serangga. Namun yang perlu mendapatkan perhatian adalah jenis yang manakah yang bermanfaat herbal ini, karena informasi yang saya dapatkan dari blog saling simpang siur. Untuk itu alangkah bijaknya bila shob berkonsultasi dahulu dengan ahli herbal atau penduduk yang berpengalaman Jelatang manakah yang bermanfaat herbal.

– Laportea interrupta –
Alhamdulillah, akhirnya bisa menulis tentang tumbuhan yang menyandang nama latin java. Saya tak tahu pasti apakah tumbuhan ini asli Indonesia atau tidak. Hanya saja dua nama sinonim dari Laportea interrupta ini adalah Boehmeria javanica dan Urtica javanica, dua di antara sederet sinonim: Urtica spicigera, Urtica sessiliflora, Urtica capitata, Urtica affinis, Urtica racemosa, Urtica lomatocarpa, Urtica interrupta, Urtica gaudichaudii, Schychowskia interrupta, Fleurya spicata interrupta, Fleurya spicata, Fleurya interrupta, Fleurya glomerata, Boehmeria spicata, dan Boehmeria interrupta.
Saya tidak tahu pasti apa nama padanannya di Indonesia, karena informasinya simpang siur dan lagian saya belum mendapatkan website yang bagus. Ada yang menyebutnya Jelatang Ayam, namun referensi lain menyatakan Jelatang Ayam itu binomialnya Urtica dioica atau yang terkenal dengan sebutan Stinging Nettle. Padahal nama ini tidak terdapat dalam deretan sinonim di atas. Ada juga yang menyebutnya Hawaii Woodnettle, padahal mayoritas blog menulisnya sebagai Stinging Nettle. Jadi untuk sementara ini, saya menyebutnya Jelatang Jawa saja.

daun1

Jelatang dengan lebar daun sekitar 5 – 7 cm dan panjang daun 8 – 12 ini sering kita jumpai di sekitar pekarangan, pinggir kebun, atau semak-semak di area pedesaan, pada tempat-tempat yang terlindung dan jarang hidup pada area yang terbuka penuh. Begini beberapa penampakannya.

daun2Daun meski permukaannya tampak kasar, namun saat kita sentuh tampak halus karena ditumbuhi rambut-rambut halus (miang) beracunnya. Warna hijau tua hingga hijau lembut dengan lebar antara 3 hingga 15 cm. Tepi|marginnya bergerigi tajam dan kasar, bentuk seperti hati, ujung acuminate|meruncing.

 

 

 

 

 

batang.jpg

Tegak dan bercabang-cabang.

bungabunga1bunga close upbunga close up1
Bunga tipe inflorescence, artinya bersusun-susun dalam tangkai. Menurut info bunga jantan dan betina terpisah dengan pollen berwarna putih.
Perkembangbiakan dengan biji-bijinya yang berjatuhan di tanah.

Tumbuh secara single ataupun menyemak dengan vegetasi lainnya. Mampu hidup secara litofit pada berbagai jenis tembok, rekahan-rekahan atau ceruk-cerukannya dengan media tumbuhnya dari kumpulan debu.

koloni

– Genus Laportea –
Laportea aestuans, L. bulbifera, L. canadensis, L. cuneata, L. cuspidata, L. interrupta, L. urentissima, L. sinuata (Kemadu|Kemaduh), L. stimulans (Pulus).
– Catatan –
Kesalahan ID bisa lebih dari 50%.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s