Cara Mudah Langkah Awal Menanam Anggrek

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wow … tukang kebun-tukang kebun Blue Purple mendapat hadiah anggrek? Tidak hanya bunganya saja, namun sekalian tanemannya. Ya … siapa yang tak senang mendapat hadiah, meski kita sebenarnya tak ngarep. Tak ngarepnya karena pengetahuan anggrek kita sangat minim, dan kita takut kalau anggrek tersebut mati. Tak hanya dari hadiah saja, beberapa blogger yang saya baca tulisannya mendapatkan anggrek karena ‘nemu’. Bisa saat jalan-jalan di hutan eh nemu anggrek yang tergeletak begitu saja, atau pohon tumbang ada anggreknya, atau minta kepada kerabat, teman, atau tetangga karena terpesona kecantikannya. Kalau saya seringnya nemu di tempat sampah. Beberapa tetangga memang membuang sampah sembarangan, di area sungai di sisi jembatan. Apapun dibuang di sana, termasuk tanaman hias. Pada rapat RT, saya sebenarnya sudah mengajukan saran supaya tak buang sampah di kali, namun dimentahkan. Ya sudah, terpenting saya sudah mencobanya ya … Tempat sampah tersebut tampak seperti pada foto ini.

Sisi sungai yang dipaksa menjadi tempat sampah

Sisi sungai yang dipaksa menjadi tempat sampah

Banyak jenis bunga yang dibuang di situ, namun saya tak ngambil semuanya, hanya anggrek dan beberapa jenis bunga lainnya. Sayang sekali kan kalau nggak dipelihara, lha wong di alamnya saja anggrek sudah sulit ditemukan je. Dari jenis anggrek, hanya anggrek Scorpion yang saya dapatkan, karena jenis ini memang batangnya nlolor/memanjang hingga bermeter-meter hingga tetanggas pun sering memangkasnya.

Dari mulanya mendapat anggrek hadiah, beberapa hobiis sekarang ada yang telah menjadi pecinta anggrek sejati. Seorang hobiis di Jerman sukses merawat bermacam-macam varian Anggrek Bulan. Sedangkan hobiis di Belanda sukses membudidayakan berbagai jenis anggrek. Begitu pula yang lainnya. Awalnya mereka kelabakan saat mendapat hadiah anggrek, karena tak mengerti sama sekali terhadap dunia penganggrekan. Namun mereka mau belajar dan terus belajar yang biasanya dari internet. Dan kunci utama bagi seseorang yang berani merawat anggrek, baik untuk pemula maupun yang sudah expert adalah KESABARAN. Ya, kesabaran dalam merawatnya, terutama kesabaran dalam menunggu keluarnya bunga. Itulah bagian terlama kesabaran kita dalam menunggu.

Pada post kali ini saya akan mencoba membagi resep cara mudah langkah awal untuk menanam anggrek. Bagi seorang yang sangat awam sekali pun, insya Allah cara-cara berikut mudah diaplikasi. Saya sengaja tak akan menyebut jenis-jenis anggreknya, hanya mendasarkan pada ciri-cirinya saja agar awamers tak gamang saat menerima hadiah anggrek, yang kemudian membuangnya begitu saja karena memang tak paham akan anggrek. Berikut cara-caranya.

 

Tanam dalam Pot atau Media yang Mudah Dimoving

Tujuan dari media yang mudah dipindah-pindah adalah karena kita belum mengetahui secara pasti karakter anggrek kita.  Dengan media yang mudah dimoving, maka pemindahan ke tempat yang sesuai dengan karakteristik anggrek tidak akan membuat anggrek kita merana. Media tanam adalah pot dengan banyak lubang di sisi-sisinya – biasanya saya gunakan marang yang gambarnya dapat anda intip pada post yang lalu –, dan media tempel berupa sabut kelapa.

Media Pot

Langkah pertama saat mendapat anggrek dari jenis apapun adalah kita tanam dalam pot dengan media yang paling aman yakni arang. Arang besar kita pecah menjadi kepingan-kepingan atau ukuran kecil-kecil. Pakai media lain juga bisa. Namun itu untuk nanti, saat anda sudah berhasil mengadaptasikan si anggrek.

Menilai plus minus dari sifat-sifat berbagai media tanam, maka saya merekomendasikan arang sebagai media dalam pot. Arang meski padat tidak akan melukai batang atau akar anggrek. Karena gampang kering, arang juga tak akan membuat busuk akar. Selain itu dalam pot juga terdapat sirkulasi udara yang sangat dibutuhkan akar. Namun kita juga perlu hati-hati saat memperlakukan akar anggrek, jangan sampai tergesek terlalu kuat saat menanamnya. Hanya saja, anda harus lebih rajin menyiram anggrek anda karena arang tidak mampu menyimpan air.

Media Tempel Sabut Kelapa

Sabut kelapa sangat cocok sebagai media tempel anggrek. Mampu menyerap air dan juga menjaga kelembaban, serta akar pun akan selalu terkena sirkulasi udara. Akar yang minim sirkulasi akan mudah busuk. Cara menempelnya sederhana saja, cukup diikat dengan tali/rafia atau dapat juga menggunakan kawat. Sebelumnya sabut harus diperlakukan sedemikian rupa untuk menghilangkan zat racunnya. Caranya dapat anda baca di sini.

Jika anda ingin tahu, dari kedua media tersebut mana yang terbaik, berdasar pengalaman saya untuk langkah awal menanam anggrek, media tempel sabut kelapa adalah yang terbaik.

 

Penempatan Media

Media tempel sabut kelapa diletakkan pada tempat yang teduh namun cukup terang

Media tempel sabut kelapa diletakkan pada tempat yang teduh namun cukup terang

Letakkan pada tempat yang ternaungi, seperti teras atau di bawah pohon. Media sabut bisa anda ikat pada tiang teras, pagar, pohon, atau digantung pada paku yang berada di tembok.

 

Kebutuhan Air

Pada musim kemarau, anggrek harus sering disiram, bisa sehari sekali atau tiga kali tergantung tingkat kekeringan cuaca. Bila panas sekali seperti Jakarta dan Surabaya, tentu tiga kali penyiraman dalam sehari merupakan hal ideal bagi anggrek.

Pada musim penghujan, anggrek tak perlu disiram bila medianya anda letakkan pada tempat terbuka seperti di bawah pohon, hingga musim hujan berakhir. Namun bila media tak terkena air hujan, anda cukup menyiram tiga hari sekali bila anggrek masih terkena tampiasan air hujan. Kalau anggrek sangat terproteksi dari air hujan, anda cukup menyiram sekali saja seharinya.

 

Kelembaban

Kondisi lembab patut dijaga, namun tidak boleh 100% atau dalam kondisi basah terus-menerus. Pada musim panas, kelembaban dapat anda jaga dengan cara menanam pohon, atau bunga-bunga lainnya dengan jumlah yang banyak, membuat kolam, genangan air, sungai, atau meletakkan baskom/mika bekas nasi/apapun yang penting dapat diisi air di sekitar anggrek anda.

Kebutuhan Cahaya

Inilah faktor terpenting dari seluruh kehidupan alam ini, termasuk tumbuhan. Harap dimaklum apabila bahasannya agak panjang.

Pada tumbuhan berhijau daun, cahaya diperlukan untuk proses fotosintesis. Hasilnya adalah makanan dan oksigen. Kebutuhan ini antara satu tanaman dengan tanaman lainnya berbeda-beda. Prosentase kebutuhan sinar matahari terendah dari semua jenis anggrek adalah 10% – ada yang hanya 5%, tapi itu sedikit jenis anggreknya – yang dapat dipenuhi dengan cara meletakkan pada tempat yang terang namun di bawah naungan. Awalnya saya menduga bahwa prosentase cahaya yang ditulis berbagai milis itu adalah total waktu kebutuhan cahaya untuk seharinya. Namun ternyata tidak seperti itu. Prosentase tersebut menunjukkan tingkat keredupan hingga keterangan cahaya yang mampu diterima sang anggrek. Kalau diasumsikan cahaya matahari yang diterima secara langsung itu adalah 100%, maka 10% artinya cahaya tersebut harus ‘disaring’ sebesar 90%. Nah saringan tersebut dapat berupa pohon, atap, paranet, dan lain-lain. Namun kalau ada keterangan bahwa si anggrek mampu menerima full sun sebesar 50% misalnya, itu artinya si anggrek dapat dihujani sinar matahari tanpa pelindung selama 5 – 6 jam per harinya.

Kebutuhan cahaya ini sangat penting sekali bagi anggrek. Dengan pemenuhan kebutuhan cahayanya, si anggrek akan mampu berbunga. Jika anggrek sudah mampu beradaptasi yang ditandai dengan pertumbuhan akar, daun, batang atau tumbuhnya tunas, namun dalam jangka waktu yang cukup lama belum berbunga, coba anda lihat warna daunnya, apakah hijau tua atau hijau biasa/muda. Kalau hijau muda, berarti anda harus menambah lagi kesabaran menunggu berbunganya. Kalau warna daun hijau tua, media dapat anda geser ke tempat lainnya atau ke tempat yang lebih terang lagi sinarnya. Memang tak ada patokan pasti mengenai ciri-ciri anggrek yang mampu hidup dengan sinar yang redup atau pun sinar langsung. Untuk mengetahuinya, anda dapat ‘melongok’ koleksi anggrek sekitar anda. Jenis mana yang mampu berbunga kala diletakkan di tempat redup/ternaung dan jenis mana yang berbunga di tempat terbuka full sun. Kalau cara ini cukup sulit juga menurut anda, cobalah media anda geser ke tempat yang lebih terang dari sebelumnya, namun jangan terlalu ekstrim langsung diletakkan di tempat terbuka yang terhujan sinar matahari langsung. Bila daun berubah kuning, itu tandanya anggrek tersebut cocok di tempat semula/teduh. Bila daun terdapat gurat-gurat warna ungu atau kemerahan, itu tandanya anggrek tersebut mampu menerima sinar yang lebih terang dan cocok dengan intensitas sinar yang seperti itu. Apabila dalam jangka waktu yang cukup lama, anggrek dengan daun bergurat tersebut belum mengeluarkan bunganya, berarti kebutuhan intensitas sinarnya ditingkatkan, digeser ke tempat yang lebih terang lagi. Jika di tempat baru tersebut daun terbakar, berarti anggrek tak mampu menerima sinar barunya. Geser lagi ke tempat yang lebih rendah sinarnya namun lebih tinggi dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Namun perlu diingat, saat geser menggeser tersebut jangan dihitung jam-jaman atau harian namun mingguan atau bahkan bulanan, kecuali kalau daun memang terbakar atau berwarna coklat, seketika anda boleh menggeser media ke tempat yang lebih rendah lagi intensitas sinarnya.

Warna daun memang menjadi ciri yang paling umum untuk mengetahui tingkat kebutuhan anggrek terhadap cahaya. Namun bisa saja saat acara geser menggeser media tumbuhnya tersebut tak tampak adanya perubahan dari daunnya. Ada isyarat lainnya yang dapat anda gunakan untuk mengetahuinya, yakni dengan mengamati akarnya. Apakah akar tumbuh lebih sehat atau lebih lebat di tempat barunya? Kalau ya, berarti anggrek cocok di tempat barunya. Begitu pula kesebalikannya.

Warna daun dengan intensitas sinar yang cocok

Warna daun dengan intensitas sinar yang cocok

Catatan: Perubahan warna tersebut diasumsikan anggrek dalam keadaan sehat, bukan berpenyakit. Untuk warna-warna yang menandakan anggrek berpenyakit, insya Allah akan di post di waktu yad. Selain itu, saya tidak membahas efek perpindahan anggrek dari DTT ke DTR, atau sebaliknya, karena saya belum ada pengalaman untuk itu.

KETERANGAN:

Penulis tinggal di Kediri bagian dataran rendahnya, sekitar 90 mdpl. Bisa saja anda yang berada di dataran lebih rendah dari itu atau lebih tinggi akan memiliki perlakuan yang berbeda.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s