Alysicarpus vaginalis, Bunga Subsitusi Arachis pintoi sebagai Ground Cover Bukanlah Bunga yang Berkonotasi Porno

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

Ada satu blog yang menulis kalau ahli taxonomy dahulu punya ‘humor’ unik, yakni menamakan spesies dengan nama-nama yang nyerempet-nyerempet bahaya, salah satunya tumbuhan kacang liar ini. Coba shob baca lagi namanya. Menurut saya sih tidaklah demikian. Kita sekarang kan hidup pada zaman yang serba cepat dan canggih. Proses asimilasi, pergeseran, dan perubahan begitu cepat terjadi, baik bahasa, budaya, teknologi, dan sebagainya. Apalagi bahasa sendiri juga sudah banyak mengadopsi istilah-istilah dari negara-negara lain. Apa yang dahulu dianggap wajar sekarang bisa saja menjadi istilah yang konotasinya negatif. Contoh begini. Di negara kita sudah jamak menyebut burung pada alat kelamin laki-laki, agar terdengarnya lebih sopan. Nah, kalau nama burung kan diartikan sebagai hewan yang bersayap blablabla, padahal nama burung sendiri kan punya makna aslinya tersendiri. Contoh lainnya seperti bahasa gaul anak sekarang yang memakai kata lu – gue yang asalnya dari lu – gua yang menggeser pemakaian kata ente – ane. Sedangkan ente – ane sendiri berasal dari bahasa Arab anta – ana. Semuanya artinya sama kamu – aku. Kita baca lagi nama vaginalis pada tumbuhan ini. Sekarang, bila kita mendengar kata itu, pikiran langsung tertuju pada sesuatu yang menjadi milik pribadi kaum hawa yang bahasa halusnya mahkota wanita. Padahal semula kata vagina kan bukan itu artinya. Mungkin saja arti awal dari vagina adalah kelepak atau yang lainnya – saya bukan ahli bahasa Latin sih –. Yah seperti itulah kira-kiranya gambarannya. Maka saya berani berkesimpulan bahwa ahli-ahli taksonomi dahulu itu tidak sedang guyonan menamakan sesuatu spesies dengan kata-kata atau istilah-istilah yang sekarang ini dianggap porno. Apalagi zaman dahulu proses dokumentasi kan tidak secanggih dan selengkap sekarang, kebanyakan mengandalkan pada ingatan saja. Memang ada juga arsip berupa buku atau tulisan, namun prosentase kerusakannya kan juga sangat tinggi. Untuk itu digunakanlah nama-nama yang menurut mereka gampang diingat dan sudah familiar di telinga mereka yang disesuaikan dengan ciri-ciri umum maupun khusus dari spesies tersebut. Berbeda dengan sekarang yang mana proses pendokumentasian sudah lebih canggih dan maju yang bisa berupa foto, tulisan cetak, tulisan elektronik, video, kaset audio, CD, internet, dan lain-lain. Selain itu penamaan tersebut juga untuk menggampangkan untuk mengingat nama spesies dengan hanya melihat ciri-ciri padanya, karena kebanyakan yang saya ketahui seseorang ahli yang mendalami suatu bidang tertentu itu biasanya menderita penyakit pelupa.

 

bunga2

Alysicarpus vaginalis yang merupakan salah satu anggota Family Fabaceae (kadang disebut Leguminosae) bersinonim dengan Alysicarpus nummularifolius, Alysicarpus rupicola, Hedysarum cylindricum, dan Hedysarum vaginale. Di dunia internasional juga punya banyak nama seperti White Moneywort, Alyce Clover, One-leaf Clover, Buffalo Clover, Buffalo Bur, atau Divergent Alyce Clover. Aslinya dari benua Afrika dan Asia, namun sudah menyebar hingga benua Australia dan Amerika. Kayaknya benua Eropa ya yang tidak ada rumput kacang ini.

Karena sudah umum ditemukan di Indonesia, tentunya kacang liar ini punya nama lokal ya. Ternyata namanya aneh di telinga kita seperti Brobos, Barobos, Gude Oyod, atau Sesenep. Ada yang tahu artinya? Kalau kata brobos dalam istilah Jawa artinya berjalan di bawah suatu benda seperti jembatan, meja, dan lain-lain. Apa kira-kira si kacang liar ini senang tumbuh di sela-sela rerumputan ya? Sedang arti dari nama lainnya saya tidak tahu.

bunga1

 

Bunga per rangkaian bisa mencapai 12 kuntum. Penampang bunga hanya beberapa centimeter saja panjangnya, berwarna merah atau ungu atau biru atau kuning. Termasuk polong-polongan karena buah kacangnya berada di atas tanah. Melihat gambar-gambar di beberapa blog, kayaknya tumbuhan ini mempunyai beberapa varian, terlihat dari bentuk daunnya yang tidak sama dengan yang saya temukan.

 

2 varian yang fotonya ada di http://famepharma.com/

 

Habitatnya adalah pada tempat yang lembab atau kalau pun agak kering biasanya kacang ini berada di tengah-tengah rerumputan lainnya dengan maksud agar terjaga kelembabannya. Saya menjumpai pada dua tempat, yakni di tepi jalan dekat persawahan dan pada pematang sungai. Pada kedua tempat ini selain terpapar sinar matahari juga tumbuh di antara rerumputan lain. Selain kedua tempat tersebut, saya belum menjumpai pada tipe habitat lainnya. Hanya saja dari beberapa info yang saya baca, tumbuhan ini juga dapat kita temukan pada padang rumput sebagai makanan kesukaan gembalaan seperti lembu, kuda, dan domba. Terkadang dibabat untuk dijadikan sebagai rumput jerami|rumput kering.

DSC06258

Tahan terhadap keteduhan namun tidak tahan terhadap tanah bergaram. Apabila tumbuh di tempat yang kering, umurnya hanya setahunan atau kurang. Kalau tumbuh di tempat basah atau lembab bisa bertahan hingga tahunan|perennial. Jika tempatnya padat atau sempit, batang biasanya akan tumbuh tegak. Namun pada area yang luas seperti taman atau tanah lapang, batang lebih banyak rebah dan bercabang-cabang dengan panjang hingga 1 meter, menjalar menjelajah setiap inci area.

bunga3

 

Level domestikasinya termasuk tinggi. Di beberapa negara seperti Hongkong sudah dijadikan ground cover pada taman, lha kita kok belum memanfaatkan sebagai tanaman hias ya? Toh bunganya juga cantik, perawatan pun mudah. Yang penting kelembaban terjaga dan sinar matahari cukup, wis beres. Nah apalagi yang ditunggu? Apalagi tumbuhan ini tahan terhadap tekanan dan renggutan, cocok kalau dijadikan sebagai penutup lapangan golf.

 

Selain sebagai pakan ternak, kacang liar yang dianggap sebagai gulma belaka ini dapat juga dimanfaatkan sebagai pupuk hijau atau kompos dan tumbuhan pencegah erosi.

daun n batang

Yang menakjubkan pernah dilaporkan bahwa dalam 1 hektar dapat dihasilkan herba seberat 6 ton! Subhanallah luar biasa. Dan 300 kg di antaranya adalah bijinya. Wow subhanallah. Kalau biji itu numbuh semua bisa menutupi pulau Jawa ya. Yuk mari kita coba buktikan. Andai dalam 1 gr ada 100 biji, maka total biji dalam 300 kg ada 30 jt. Jika satu biji mampu tumbuh hingga 1 meter, maka bila batangnya disambung-sambung akan didapatkan panjang ± 30 juta meter. Wow bisa membungkus pulau Jawa ya … ck … ck … ck … Allah Maha Besar.

 

Seperti kacang-kacangan lainnya, kacang ini akarnya juga bisa mengikat nitrogen dan menyuburkan tanah. Bijinya dapat mencegah berbagai penyakit karena mengandung rhizobia yang ada pada polongnya.

close up

Dalam suatu koloni, kacang ini biasanya bersama-sama membentuk rumpun dengan berbagai macam tumbuhan liar lainnya seperti …

Hurricane grass (Bothriochloa pertusa)

Nadi blue grass (Dichanthium caricosum)

St. Augustine grass (Stenotaphrum secundatum)

rumput lain

Showy Pigeon Pea (Cajanus scarabaeoides)

Spanish Clover (Desmodium heterophyllum)

 

Hama dan penyakit merupakan salah satu cara pengendalian alamiah dari suatu spesies. Hama yang menyerang tumbuhan kacang ini yakni jenis nematoda yang menyerang akar, ulat penggerek dan larva ngengat Exelastis crepuscularis menyerang daun. Kemudian ada juga larva kumbang Bruchidius sp. yang sangat nyami dengan polongnya.

 

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s