Waktu Ayah untuk Kerja atau Keluarga?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sepenggal lyrik Pergi Pagi Pulang Pagi – Armada:

Ku rela pergi pagi pulang pagi

Hanya untuk mengais rezeki

Do’akan saja aku pergi

Semoga pulang dompetku terisi

Videonya: https://www.youtube.com/watch?v=ur8K6XPwscY

Sepercik kisah Sahrul Gunawan:

Dengan alasan keasyikan kerja, Sahrul Gunawan digugat cerai istrinya karena lebih banyak kerjanya dibanding berkumpul bersama keluarga. Salahkah Sahrul?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wahai para ayah …

Setiap orang mempunyai waktu-waktunya sendiri-sendiri. Diakui ataut tidak, para ayahlah yang harus membagi waktunya dengan sebaik mungkin, karena ada tuntutan-tuntutan ekstern. Ada waktu untuk Allah, Sang Maha Pencipta dengan menjalankan ibadah-ibadah wajib-sunah dan berdo‘a. Ada waktu buat Rasulnya, Muhammad SAW dengan membaca sholawat dan mengikuti jejak perilaku beliau. Ada waktu buat dirinya sendiri seperti menuntut ilmu/belajar, tidur, istirahat/bersantai, atau hiburan. Ada waktu buat istri tercinta, anak-anak, orang tua dan mertua, dan sosialisasi dengan tetangga dan sesama. Khusus laki-laki meski telah berkeluarga dia tetap wajib berbakti kepada orang tua plus mertuanya. Selain itu juga para laki-laki dituntut untuk bekerja/mencari nafkah, memenuhi kewajiban sosial seperti memandikan – mensholati – menguburkan mayit, memakmurkan masjid, dan mengurus ketatanegaraan. Karena banyaknya waktu yang harus dibagi, banyak yang kewalahan membaginya dengan porsi dan prosentase yang ideal. Salah satu atau beberapa atau banyak yang dikorbankan di sana. Maka dari itu peran serta istri untuk meringankan beban sang suami menjadi urgen. Namun tak semua istri atau pun suami menyadari akan hal ini, terbukti banyaknya kasus suami pergi entah kemana atau istri menggugat suami.

Kita semua tentu paham ya, bahwa ayahlah yang berkewajiban menafkahi keluarganya. Dan tidak hanya itu saja tugas ayah. Seorang ayah juga harus mendidik dan membimbing keluarganya. Karena beratnya tugas sang ayah, terkadang tak semua berjalan dengan mulus sesuai dengan harapan. Salah satunya yang dialami oleh Sahrul Gunawan. Karena ‘keasyikan’ bekerja, dia digugat cerai oleh isterinya.

Sebenarnya fenomena ayah kerja hingga ‘lupa waktu’ tidak hanya menimpa Sahrul saja. Ada Raffi Ahmad, Omes, Andika Pratama, Uya Kuya, Denny & Wendy Cagur, dan lain-lain. Hanya saja yang kena somasi sang istri baru Sahrul.

Kita tahu kan ya bahwa hidup di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan lain-lain itu tidaklah mudah. Tingginya taraf hidup dan tuntutan hidup harus diimbangi atau ditutup dengan tingginya taraf ekonomi. Namun kebutuhan dan jalan pemikiran orang tidaklah sama. Bisa saja orang dengan penghasilan yang sama, namun mempunyai kebutuhan hidup yang berbeda. Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan yang terkadang sulit diterka itu, waktu kerja pun ditambah agar mampu mengisi kebutuhan itu. Penambahan waktu kerja ini bisa saja dengan cara lembur, atau mengambil job di luar waktu kerja, atau mengambil proyek dengan nilai dan waktu yang lebih panjang. Dan memang ayahlah yang berkewajiban memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang terus merangkak naik. Efeknya tentu saja ada. Family time menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Saat ayah pergi kerja, anak-anak sudah tidak ada di rumah karena bersekolah. Dan saat ayah pulang anak-anak sudah pada tidur. Tidak hanya itu saja, acara-acara yang idealnya dihadiri oleh anggota keluarga secara lengkap, menjadi terbengkalai. Itulah yang diperkarakan Indri, istri Sahrul. Dan saya kira masih banyak Indri-Indri yang lain yang berproblem sama.

Para istrilah yang memang tak tahan menghadapi semua ini. Anak-anak merengek-rengek menanyakan ayahnya. Saat hadir dalam acara-acara, orang-orang pada kepo nanya ‘Mana suaminya?’. Atau malah ada yang nyinyir dan nyindir-nyindir. Belum lagi menghadapi yang over kepo dan provokator yang mungkin saja ada, seperti yang disinyalir dalam rumah tangga Sahrul dan Indri. Dan para istri biasanya tidak tahan menghadapi hal-hal itu. Akhirnya baper, ujung-ujungnya pun mensomasi suaminya.

Sesuatu masalah itu pasti ada jalan pemecahannya. Dengan dibicarakan dengan kepala dingin dan hati bersih, pemecahan pun akan datang. Tentu ada segi plus dan minusnya ya. Dengan menimbang-nimbang secara cermat akan ketemulah bagaimana baiknya, apakah ayah mengurangi waktu kerjanya ataukah mungkin back to parent’s home atau malah eksodus ke daerah dengan tingkat kehidupan yang lebih rendah dan tidak bikin stress. Daerah-daerah pinggiran kota-kota besar bisa menjadi alternatif jitu. Namun permasalahannya, daerah-daerah pinggiran itu juga menggeliat menjadi daerah-daerah raksasa. Tentunya tidak hanya satu atau dua orang saja ya yang berpikiran sama dengan kita untuk pindah ke daerah pinggiran. Pengusaha berkantong tebal pun juga berpikiran sama. Pabrik bisnisnya berada di daerah-daerah pinggiran yang masih murah.

Sebaiknya suami istri mendiskusikan tingkat kehidupan yang bagaimana yang mereka inginkan dan mampu mereka capai. Apa yang harus dicapai, keinginan apa yang bisa dibuang, mana yang urgen, mana yang mendesak, dan kategori-kategori lainnya. Anak-anak belajar di tipe sekolah yang bagaimana. Berapa biaya akomodasi dan biaya-biaya hidup sehari-hari. Biasanya para orang tua sih tidak memikirkan kebutuhan atau keinginan dirinya, yang penting kebutuhan anak tercukupi, syukur-syukur mampu memasukkan anak-anak ke sekolah terbaik. Itu pemikiran saya secara garis besar. Namun untuk artis dan public figure tentu ada penambahan biaya perawatan diri dan penampilan kan ya. Tapi ya itu terserah masing-masing suami istri sajalah, bagaimana baiknya. Dan pesan saya, jangan sekali-kali para istri itu gampang melemparkan gugatan cerai, karena siapa tahu ada setan lewat yang membuat suami naik pitam dan mentalak. Risikonya sungguh berat, baik bagi suami dan istri, utamanya anak-anak mereka. Dan Allah tidak menyukai perceraian meski pun menghalalkannya.

Wallahua’lam bishshowwab

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s