Pembelajaran dari Kasus Pedangdut Tersohor

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

=====================================++++++++++++++++++++++++=====================================

SJBanyak orang, utamanya orang-orang terdekatnya, terhenyak tak percaya saat pedangdut tersohor, SJ, ditangkap dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan pelecehan seksual. Kasusnya pun tidak tanggung-tanggung, melibatkan anak di bawah umur. Dan yang makin membikin heboh, si pelapor ini ternyata laki-laki. Kasus ini kian menyulut isu LGBT yang telah berhembus kencang.

=====================================++++++++++++++++++++++++=====================================

Para ayah

Saya sebenarnya tidak ingin menulis tentang kasus SJ karena saya berpikir tidak ingin terjebak kepada opini-opini yang banyak beredar. Atau dengan kata lain memanfaatkan isu-isu yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Namun karena kasus ini juga membetot perhatian masyarakat luas karena melibatkan seorang artis yang memang telah menjadi public figure, mau tidak mau kasus ini juga akan berpengaruh terhadap cara berpikir bahkan mungkin perilaku kita dan keluarga kita, utamanya masalah moral dan agama anak-anak kita. Dan saya tidak menginginkan anak-anak kita terpengaruhi bahkan membenarkan perilaku idolanya tersebut. Untuk itu para orang tua harus menjelaskan yang sedetail-detailnya mengenai perilaku yang baik dan buruk.

Kasus SJ memang membuat kita semua prihatin. Seperti yang telah luas diberitakan di berbagai media massa, seorang artis telah bertindak asusila. Beberapa waktu lalu juga telah beredar aksi video ‘kumpul kebo’ yang melibatkan 3 artis. Satu artis pria akhirnya harus menjalani kehidupan di balik jeruji. Namun kasus ini lebih dahsyat dari kasus 3 artis itu, yakni perilaku seks abnormal seperti yang telah dilakukan oleh umat Nabi Nuh as, homoseks. Meski belum tentu jelas kebenarannya, namun para penegak hukum dan praktisi merasa yakin bahwa tindakan asusila itu benar adanya. Hingga kini SJ tetap berkelit dan mengatakan bahwa dia tidak melakukan tindakan seperti yang diduga oleh pelapor. Artinya ada kesalahan pahaman di sana. Namun apapun itu, kita menghormati proses hukum yang berlaku.

Isu LGBT dan kasus SJ itu sebenarnya bukanlah barang baru. Oroknya sudah ada pada jaman Nabi Luth as. Bagi orang-orang Yahudi, Nasrani/Kristen, dan Islam peristiwa itu diimani dan ada dalam kitab-kitab mereka. Dan atas tindak yang sangat keji tersebut, Allah menghukum dan memusnahkan mereka dengan cara mengangkat tanah tempat tinggal mereka ke udara, membalikkannya, dan kemudian menghempaskannya kembali ke bumi. Beberapa adegan perzinahan sesama lelaki itu dijadikan batu agar menjadi pembelajaran oleh umat-umat sesudah mereka. Namun nyatanya memang manusia tidak mau belajar dari dari apa yang telah terjadi atau sejarah. Peristiwa itu diulang kembali di ranah Italia sana, tepatnya di kota Pompeii. Dan atas aksi-aksi keji mereka itu, Allah juga menghukum mereka dengan meletuskan gunung yang membuat mereka tenggelam dalam lautan lava. Beberapa adegan asusila pun diabadikan menjadi batu.

Khusus untuk perilaku menyimpang seperti LGBT itu, setan tidak akan bersama pelaku LGBT saat melakukan perbuatan terkutuk itu. Memang setan senantiasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan juga selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat dan menjerumuskannya ke dalam neraka. Setan juga menunggui para pendosa saat melakukan aksinya sampai selesai. Orang berzina misalnya, setan akan menjadi teman mereka meski pezina tersebut melakukannya di tempat yang sepi atau di kamar. Namun untuk perbuatan yang bersifat LGBT ini setan akan lari kencang bila perbuatan bejad itu benar-benar terjadi karena setan takut imbas dari adzab atau siksa Allah pada para pelaku LGBT. Allah dan Rasul-rasulNya memang telah mengutuk perbuatan asusila yang dilakukan sesama jenis, maka dari itu setan pun akan langsung lari terbirit-birit sesudah mampu menggoda manusia untuk melakukan perbuatan maksiat terkutuk itu.

Untuk artikel kali ini saya tidaklah membeberkan kasus SJ, namun saya mencoba menggali hikmah atau pembelajaran dari kasus ini. Beberapa di antaranya yang mampu saya tangkap antara lain:

Pertama, tentu saja Berprasangka Baik

Dalam setiap kasus atau terbukanya suatu aib, kita diharuskan mengedepankan prasangka baik, meski bukti-bukti menunjuk dengan kuat pada si pelaku. Dan ini betul-betul dijalani oleh para penegak hukum kita, istilahnya adalah praduga tak bersalah atau the presumption of innocence. Dalam Islam, zina – dengan berbagai variasinya, termasuk pacaran – merupakan perbuatan dosa yang paling ditutupi oleh Allah, karena melibatkan rasa moral yang tinggi dan dosa yang termasuk besar. Hikmah dari ditutupinya ini adalah agar pezina segera bertaubat. Saking tingginya dan beratnya zina, maka seseorang yang mengadukan seseorang yang lain berzina harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang juga berat. Sang pelapor harus benar-benar melihat bertemunya lingga dan yoni para pelakunya. Dan saksinya paling sedikit harus ada 3 orang. Bila tidak memenuhi kriteria itu, pelapor harus mau disumpah hingga 3 kali. Begitu beratnya aturan ini dimaksudkan agar kita bertindak lebih hati-hati dan tidak sembarangan melontarkan tuduhan terhadap orang lain. Kalau begitu enak dong ya melakukan maksiat dengan berzina, kan ditutupi? Pernyataan ini juga tidak benar. Meski Allah menutupi perbuatan itu, namun Allah juga berkuasa untuk membuka dan membeberkan aib tersebut ke khalayak ramai dengan alasan-alasan yang hanya diketahui Allah. Hanya saja hikmah pasti dari terbukanya aib tersebut adalah agar si pelaku tidak terjerumus lebih dalam lagi. Syukur-syukur dia menjadi manusia yang lebih baik lagi. Maka dari itu, kita sebagai ‘penonton’ sesuatu kasus yang belum pasti diketahui kebenarannya, jangan sampai menjustifikasi dan melontarkan komen-komen yang tak pantas, karena kalau kita melakukannya kita pun juga berdosa, bahkan terkadang dosa kita lebih berat dari si pelaku. Maka dari itu juga, apapun kasus yang berhembus dan kita dengar atau lihat, kita senantiasa mengedepankan prasangka baik atau praduga tak bersalah. Meski kelak si pelaku benar-benar melakukan perbuatan tak pantas itu, biarlah kita serahkan saja kepada keputusan hukum dan keadilan Allah. Kita hanya mendoakan agar si pelaku mau bertaubat dan mendapatkan ampunan Allah. Itulah hal terbaik yang dapat kita lakukan.

Kedua, Diam itu Emas

Pepatah ini sudah banyak dilupakan orang. Orang lebih suka tidak diam. Orang lebih suka ngomong, meski ngelantur dan gak jelas juntrungannya, termasuk orang di sekeliling SJ ini. Saat kasus ini mulai mencuat, tentunya para kuli tinta akan berusaha ramai-ramai menggali info dari siapapun dan dari manapun. Tentu saja info itu akan lebih banyak diperoleh dari orang-orang terdekat atau pernah dekat dengan SJ. Celakanya menurut saya, komentar-komentar dari beberapa nara sumber itu justru membuat citra SJ semakin terpuruk. Perkataan dari Dewi Perssik, kakak SJ / Soleh Kawi, dan salah satu kuasa hukum SJ selain melemahkan posisi SJ juga bisa digunakan untuk menyerang balik pada SJ. Selain itu terkadang ada kontradiksi antara pernyataan kuasa hukum dengan kakak-kakak SJ. Kalau sudah seperti ini benarlah kata pepatah, bahwa diam itu adalah emas. Dalam Islam ada juga nasihat seperti itu kurang lebih demikian ‘Kalau kamu nggak bisa berkata baik, maka diamlah’ atau kalimat semacam itu. Dan Deasy Ratnasari telah merintisnya sejak lama. Deasy memang akan menjadi ramah luar biasa saat ditanyakan mengenai pekerjaannya, baik sewaktu menjadi artis atau politikus. Namun kalau kehidupan pribadinya sudah mulai ancang-ancang untuk diobok-obok atau kasus-kasus yang menimpa dirinya dicoba akan digali atau ditanyai komentarnya mengenai kasus atau artis tertentu, Deasy akan mengeluarkan jurus saktinya “NO COMMENT!!!”. Meski tindakan Deasy tersebut membuat para kuli tinta membencinya, Deasy tetap tak bergeming. Keteguhan Deasy itu justru membuat kehidupannya menjadi kian nyaman, karena para kuli tinta sudah mengetahui pribadi Deasy.

Ketiga, Figur Polisi yang T.O.P.

Ya, kita masyarakat Indonesia mendambakan figur polisi yang TOP setelah selama ini kita disuguhi carut marutnya moral para penegak hukum baju coklat ini, yakni: tegas namun ramah, berwibawa namun tidak kaku, pandai membaca dan mampu menempatkan dirinya sesuai situasi dan kondisinya, tidak mengumbar rahasia kepada khalayak terutama para pelaku mass media, tidak gigrig / gentar menghadapi permasalahan, ancaman, dan bahaya apapun, memiliki empati yang tinggi, berjalan dalam koridor lurus/sesuai aturan, dan yang paling penting adalah jujur dan benar. Itulah yang saya tangkap dari profil dan karakter Kapolsek Kelapa Gading, Ari Cahya Nugraha.

Keempat, Waspada dan Hati-hati itu Bukanlah Jangan Gampang Mempercayai Orang

Kepada sesama artis yang menjenguknya, SJ berpesan untuk tidak gampang percaya kepada orang baru. Saya rasa itu bukanlah nasihat yang tepat. Kita harus percaya sama orang, kita harus berprasangka baik sama orang, dan kita harus selalu mengapresiasi setiap perbuatan yang menjurus kebaikan, meski kita tidak tahu ada niatan apa di balik itu dan kita pun berkali-kali jatuh sebagai korban. Namun, itulah yang sebaiknya kita lakukan. Tetapi kita juga tidak boleh meninggalkan kewaspadaan serta bertindak dengan hati-hati. Bertindak hati-hati di sini bukan mencurigai setiap orang lho, tapi justru tindakan dan perbuatan kita harus dilebihbaikkan dibanding sebelum-sebelumnya. Kalau tindakan, perbuatan, dan perkataan kita sudah dijaga namun mendapatkan masih mendapatkan efek dan perlakuan yang buruk, ya itulah cobaan dan seni kehidupan ini. Seseorang yang baik sekalipun, ada haters dan lovers-nya sendiri-sendiri. Seseorang yang bertingkah buruk sekalipun juga ada haters dan lovers-nya. So what? Ya bertindaklah dan berusahalah bahwa akhlak kita baik, tingkah laku kita terpuji, perbuatan kita tidak menyimpang, tidak over dan sesuai dengan konteksnya atau situasi dan kondisinya. Kalau sebagai artis bagaimana tampil yang baik di panggung, bagaimana menjaga akhlak baiknya dengan sekuat tenaga karena apapun yang dilakukannya akan menjadi sorotan. Iya juga sih, kita juga maklum bahwa mereka juga manusia biasa yang juga berbuat dosa. Tapi yakinlah bahwa manusia itu apapun profesinya, Allah akan selalu mengampuni dosa-dosa hamba-hambaNya senyampang hamba itu mau bertaubat dan memohon ampun.

Kelima, Bertaubat dan Mohon Ampun adalah Tindakan yang Terbaik

Siapapun yang benar dan siapapun yang salah, bertaubat dan memohon ampun seperti yang saya singgung pada poin keempat di atas adalah perbuatan yang terbaik. Kita manusia tak lepas dari dosa. Kita bukanlah makhluk yang suci. Namun kita juga tidak boleh berdiri di balik slogan ini. Slogan ini ada agar kita selalu menilai dan menganalisis diri sendiri. Kita ini banyak dosa. Kita lebih banyak melanggar perintahNya. Dan kita juga berjibaku dengan sesama. Maka untuk itulah kita diwajibkan untuk ‘bersujud’ dan memohon ampun kepadaNya. Sebesar apa dosa kita. Semacam apa dosa kita, senyampang kita mau bertaubat dan memohon ampun, tidak ada dosa yang tidak diampuni. Tidak hanya bagi pihak-pihak yang berperkara saja, tetapi juga bagi kita semua. Mudah-mudahan kita senantiasa dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari apapun, dan Allah juga selalu mengampuni dosa-dosa kita, baik yang telah lewat maupun yang akan datang, aamiin.

Keenam, Mendo‘akan, Menumbuhkan Empati, dan Mengambil Hikmahnya

Apapun nanti keputusannya kita mendoakan yang terbaik untuk si pelapor maupun terlapor agar mereka mampu menjadi manusia yang lebih baik lagi ke depannya. Kita juga menumbuhkan rasa empati, bukan kebencian kepada kedua belah pihak, karena mereka juga manusia lumrah seperti kita yang punya keterbatasan dan kelebihannya. Punya kebaikan dan juga keburukan. Kebencian meski terhadap si terhukum hanya akan menambah dosa-dosa kita sendiri dan membuat hati kita menjadi lebih gelap, serta hanya akan menyamankan setan saja di hati dan diri kita. Kita juga belum tentu lebih baik dari mereka. Mengambil dan menggali hikmah adalah yang terbaik bagi kita agar kita juga tak terperosok pada lubang yang sama.

Wallahua’lam bishshowwab

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s