Happy New Year Anakku Lelaki, Rudy A Good Boy

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Panggilannya Goto, seorang anggota kepolisian resort Magelang. Nama yang tertera pada akte kelahirannya, KTP, serta kartu tanda pengenal anggota polri, akan membuat anda mengeryitkan dahi, yakni Andy Go To School. Sebuah nama yang tak lazim diberikan pada orang ya? Ketaklaziman itu tidak hanya pada Goto saja. 2 kakaknya bernama August Dedy My House – 40 tahun dan Happy New Year – 37 tahun. Tidak hanya itu saja, Andy punya adik bernama Rudy A Good Boy – 29 tahun. Masih ada lagi, pada waktu yang tak berselisih lama lahir saudara tirinya yang diberi nama Es Bon Bon – 30 tahun. Masih ada lagi. Kedua adiknya yang masih kecil-kecil dinamakan Friday Back To School – 6 tahun dan Effendy My School – 13 bulan. Tak hanya itu, saudara tiri perempuannya bernama Tutut Ermaningrum. Nggak begitu heran ya atas namanya? Namun kalau anda mengetahui latar belakang namanya itu, anda juga akan geleng-geleng kepala, heran. Kata Ning dalam bahasa Jawa artinya di. Sedang Rum adalah bunyi dari kata Room. Jadi kalau kita translit ke bahasa Inggris dengan menghilangkan kata Erma akan menjadi Tutut In The Classroom, sama persis dengan niat bapaknya semula yang ingin menamai anaknya seperti ini. Ketaklaziman nama ini masih belum berhenti lho. Ayah mereka punya nama Bullking atau Raja Banteng – 60 tahun. Diberi nama demikian karena kakek mereka adalah aktivis berat Partai Nasional Indonesia. Masih ada lagi lho. Andy memberi nama anaknya yang berumur 4 tahun, Virgenio Silvero Goes To Paradise. Masih ingin nambah lagi? Anak keduanya dia beri nama Lucky Star Beloved Mother. Weleh-weleh ….
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Para ayah …
Anda mungkin mengeryitkan dahi ya membaca prolog di atas. Hampir-hampir kita tak bisa bernafas saat membaca itu. Sungguh kata-kata yang tak lazim digunakan sebagai nama orang. Dalam bahasa Indonesia kita juga kenal nama-nama seperti Anakku Lelaki – anak Melly Goeslaw – atau Galang Rambu Anarki – almarhum, anak Iwan Fals –. Anakku Lelaki mempunyai makna yang sangat lugas sekali ya, yang mungkin juga membuat anda  geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan tetangga saya yang namanya Dont Greot. Kata Dont memang diambil dari bahasa Inggris, don’t. Sedang greot dari bahasa Belanda yang artinya sakit-sakitan.
Meski banyak nama yang sekilas nampak keren, namun kalau didalami lebih jauh terkadang arti atau maknanya malah tidak keren sama sekali. Namun, kita memang tak bisa menyalahkan para orang tua itu yang telah memberi nama kepada anak-anak mereka dengan kata-kata yang tak lazim. Namun yang jelas dibalik nama seorang anak tersimpan harapan, do‘a, atau maksud si orang tua.
Apalah arti sebuah nama? Untuk kasus-kasus tertentu seperti penyelamatan korban bencana alam misalnya, nama memang menjadi tidak penting lagi. Tindakan/action penyelamatan itulah yang urgen. Namun dalam kehidupan sehari-hari, apapun kejadiannya slogan apalah arti sebuah nama tidak bisa dikemukakan. Bayangkan jika kita mencari seseorang tanpa tahu namanya, tentu kita akan kerepotan sekali. Sekalipun kita mampu menyebutkan ciri-ciri orang yang kita cari, namun belum tentu orang yang kita tanyai atau diajak bicara juga mempunyai persepsi yang sama dengan kita menganai orang yang kita identifikasi itu. Apalagi di daerah Bali misalnya, yang hampir setiap orang mempunyai nama plus panggilan yang serupa tentu akan repot bila kita tidak mengetahui atau menghapalkan nama lengkapnya.
Dalam setiap nama, ada makna yang tersurat dan tersirat. Makna tersurat itu misalnya bila seseorang menyebutkan sebuah nama, maka kita akan langsung segera mengetahui identitas seseorang itu. Apakah jenis kelaminnya, dari mana asalnya, dan bahkan untuk nama-nama tertentu akan langsung dapat kita ketahui apa agamanya dan status sosialnya. Di Jawa misalnya, nama para bangsawan biasanya ada gelar di depannya seperti Raden, Gusti, Ayu, Ningrat, dan lain-lain. Kalau nama yang paling belakang biasanya ada kata ningrat, negoro, dan lain-lain.
Untuk arti yang tersirat, dibalik sebuah nama itu ada harapan, do‘a atau maksud dari orang yang memberikan nama kepada kita. Namun terkadang pada beberapa nama, kita benar-benar tidak mengetahui sama sekali baik arti tersurat maupun tersiratnya. Nama Tentrem (nama salah satu handai taulan saya) misalnya. Kalau kita tak jumpa dengan orangnya secara langsung, tentu akan kesulitan mengungkap identitas orang tersebut. Apakah laki-laki atau perempuan, apa agama atau kepercayaannya dan lain-lain.  Menurut cerita (Mbah) Tentrem lahirnya pada saat negara kita sudah tentrem / tenang setelah timbulnya berbagai peristiwa pemberontakan semasa awal-awal kemerdekaan hingga rentang sepuluh tahunan kemudian. Dan mbah Tentrem adalah seorang perempuan.
Kita tahu, dibalik pemberian nama kepada bayi atau anak bukanlah urusan yang mudah. Karena nama itu merefleksikan identitas dari sang pemilik nama atau keluarganya, dan juga harapan dan maksud dari orang tuanya. Secara garis besar, pemberian nama dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni Pemberian Nama Berdasarkan Maksud dan Pemberian Nama Berdasarkan Do‘a. Pemberian nama berdasar maksud itulah yang terbanyak kita temukan di negeri ini, karena nama anak bisa diambil dari apa saja, dari mana saja, dan hal apa saja. Misalnya yang sering ditemukan di Jawa, nama anak bisa diambil dari nama pasaran – Wage, Pon, Pahing, Kliwon, Legi –. Mayoritas di negara kita nama anak diambil dari nama benda – sukma, melati, mawa, guntur, siti, sekar, ratna, candra, bayu – atau kata yang mengandung keindahan seperti bambang, endang, endah, sri, adi, wati,  atau nama tempat, termasuk nama negara, seperti Paris, Brooklyn, Fuji, Helsinki, Roma, Indonesia, dan lain-lain. Bisa juga dari suatu kejadian atau peristiwa semisal Tsunami, Gempur Soeharto, dan lain-lain. Bulik saya diberi nama Riyani karena lahirnya pas hari raya Idul Fitri – bahasa Jawanya riyaya –. Pada kasus tertentu, kebijaksanaan politik turut mendasari seseorang memberi nama pada anaknya, seperti yang terjadi di negara kita ini, yang mana orang-orang keturunan Cina disuruh memakai nama-nama yang telah ada atau lokal, contohnya Basuki Tjahaja Purnama. Selain yang telah disebutkan tadi, nama anak bisa saja juga diambil dari nama benda, planet, dan lain-lain.
Sedangkan Pemberian Nama Berdasarkan Do‘a biasanya dipengaruhi oleh agama atau kepercayaannya. Misalnya nama-nama dalam bahasa Arab yang diambil dari al-Quran (biasanya nama-nama Nabi dan Rasul), atau nama-nama Hindu, atau mungkin dari bahasa Sansekerta atau juga budaya leluhur yang mengandung makna pengharapan atau do‘a, atau bahkan juga nama-nama yang terkesan modern namun mempunyai makna yang kuat seperti Abraham, Aaron, Solomon, Jesus yang merupakan nama-nama Nabi.  Beberapa kantong wilayah Indonesia yang pengaruh Islamnya sangat kuat, seperti Minang, Banten, Aceh, dan lain-lain, biasanya mengambil nama anak dari al-Quran. Caranya orang tua membuka al-Quran sekehendaknya namun hanya satu kali saja. Dan di halaman itu ada kata-kata yang akan dijadikan sebagai nama anaknya. Wakil Presiden pertama kita, Mohammad Hatta, nama beliau juga diambil dengan cara demikian ini. Arti hatta sendiri adalah hingga atau sampai yang kemudian didepannya ditambahi kata Mohammad yang artinya kurang lebih menurut saya adalah anak yang berperilaku seperti Nabi Muhammad yang mampu mencapai derajat hingga ke langit atau ke surga. Pada nama-nama yang dipengaruhi oleh agama Hindu, nama-nama wayang diberikan pada si anak dengan maksud agar si anak mencontoh perilaku atau keteladanan dari sang tokoh, misalnya Arjuna, Bima/Bimo, Yudistira, Nakula, Pandu, dan sebagainya. Terpenting dalam pemberian nama berdasarkan do‘a ini, nama bukan sekedar sebagai tetenger/pertanda saja, namun ada harapan dan do‘a orang tua terhadap si anak.
Terkadang dibalik pemberian sebuah nama ada kelucuan di sana. Mungkin si orang tua tidak tahu arti nama itu, dipikirnya nama yang dibaca atau didengarnya itu keren dan cocok dijadikan sebagai nama anak, mungkin begitu pikirnya. Contohnya: Damri – kepala KUA di Medan sana. Atau nama Siti Musrikah yang kedengarannya kearab-araban namun artinya malah tidak baik sama sekali. Musrikah diambil dari kata musryk yang artinya tidak beriman atau tidak beragama.
Namun sekarang ini seiring dengan kemajuan teknologi, komunikasi, dan industri pemberian nama kepada anak sudah tidak begitu peduli lagi pada kaidah-kaidah sebelumnya. Semakin terasa ‘sempitnya’ bumi ini yang mana kita di Indonesia ini bisa ‘ngintip’ orang-orang yang berada jauh ribuan kilometer beserta tetek bengeknya, membuat arus kemodernisasian kian menggempur kita, termasuk dalam pemberian nama. Efeknya norma dan agama pun kian ditinggalkan. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang mana hal-hal yang berbau adab dan agama kian dianggap kuno. Pemberian nama pada anak pun semakin menjadi bebas saja. Aturan atau kaidah yang ada dalam pemberian sebuah nama – termasuk selatan atau syukurannya pun kian ditinggalkan. Nama-nama anak pun kian aneh dan kadang kita harus mengernyitkan dahi mencari arti di balik nama itu. Tapi kita juga tetap harus berprasangka baik bahwa setiap nama itu terkandung harapan, do‘a dan maksud baik orang tua.
Lalu pertaannya, orang tua sudah memberikan nama yang terbaik bagi anak-anaknya sesuai dengan harapan dan do‘a si orang tua. Namun apabila si anak ternyata tidak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan namanya, apakah itu dosa orang tua yang salah asuh kepadanya? Wallahua’lam bishshowwab.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s