Domestikasi

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
HUNTING BUNGA LIAR YUK …. adalah artikel pertama saya. Kontennya tentang ajakan untuk hunting bunga-bunga atau tumbuhan liar berikut tipsnya, mulai cara mendapatkan bunga-bunga liar hingga menanamnya di rumah. Saya tidak tahu kalau yang saya lakukan itu ternyata namanya keren banget, domestikasi. Istilah ini dilontarkan pertama kali kepada saya oleh salah seorang sahabat BPG, Ni Made Sri Andani. Nah, saat saya buka kumpulan majalah saya, ternyata di majalah d’fishes edisi XXIII/September/2009 pada rubrik Nomenklatur ada istilah domestikasi ini.
Secara umum pengertian domestikasi yang saya comot dari majalah itu artinya membawa spesies liar, baik tanaman maupun hewan ke dalam kehidupan yang dikontrol oleh manusia, termasuk mengembangbiakkannya. Alasan awalnya sih hanyalah untuk persediaan dan ketersediaan pakan saja. Kambing atau domba misalnya telah didomestikasi sejak 11.000 tahun lalu di Irak. Dan kemudian dari domestikasi ini akhirnya berkembang metode pemuliaan misalnya hibridisasi yang terus berkembang lagi menjadi teknologi pemuliaan yang lebih pesat dan lebih canggih, seperti rekayasa genetika atau juga pengkloningan. Anggrek-anggrek hibrid yang aneh-aneh bentuk maupun warnanya adalah salah satu contohnya. Juga pada bunga-bunga lainnya seperti krisan, zinnia, dan lain-lain.
Dulu di Indonesia pernah mengalami booming ikan louhan kan? Ikan ini merupakan hasil silangan dari bertingkat-tingkat generasi  yang indukannya tidak diketahui secara pasti. Indukannya memang didomestikasi dari alam liarnya, terus manusia mengembangkannya menjadi spesies yang berbeda melalui teknik hibrid. Penyebab tidak diketahui secara pasti asal-usul indukannya mungkin saja disebabkan sang domestikator memang tidak mendokumentasinya atau mungkin karena masih minimnya pengetahuan akan domestikasi dan dokumentasi ya. Nasibnya berbeda dengan ikan Koi. Ikan Koi indukan dan asal-usulnya berasal dari sejenis ikan Carper asli Cina. Teknik pemuliaannya kemudian diadopsi oleh Jepang. Dan seperti kita ketahui dan sudah menjadi rahasia umum, Jepang dalam mengadopsi apapun akan menghasilkan produk yang lebih bagus dibanding pendahulu atau aslinya. Salah satunya ya ikan Koi ini. Ikan Koi dari Jepang dikenal sangat bagus kualitasnya.
Dari ikan Carper Cina ini dengan teknik saling silang juga dihasilkan ikan yang jauh berbeda dari indukannya. Itulah ikan mas koki yang mempunyai bentuk dan penampilan yang jauh berbeda dengan induk mulanya. Variannya pun bermacam-macam. Ada yang bermata belo mirip teropong. Ada yang mirip hiu martil. Ada juga yang berjumbai atau bertopi, dan lain-lain.
Adanya domestikasi terhadap flora atau fauna, tentu saja membawa perubahan yang berbeda dibanding sebelumnya. Kondisi lingkungan si spesies tentu saja akan berubah dari mekanisme seleksi alamiah kemudian digantikan seleksi buatan yang ditentukan oleh manusia. Dan itu berarti karakter dari si spesies juga akan berubah.
Pada hewan domestikasi akan mempengaruhi berat otak dan proporsi kepala serta badan, menghilangkan daya saing atau kompetisi dan kelangsungan hidup. Namun teknik domestikasi juga akan meningkatkan keberlangsungan hidup spesies-spesies yang lemah daya saingnya, seperti vanili yang mempunyai range polinator sangat terbatas dan spesifik. Dan dengan domestikasi pula akan mampu ditingkatkan kuantitas dari spesies-spesies langka, seperti Komodo, berjenis-jenis anggrek langka, burung Elang, dan sebagainya. Namun fauna domestikan juga akan sulit bersaing dan beradaptasi bila dilepas kembali ke alam liar karena karena sudah terbiasa mendapatkan perlakuan mainstream (nyaman dan mapan). Kalau anda pernah menonton film kartun ‘The Lion King’ itu hanyalah segelintir contoh. Apalagi spesies-spesies hasil pemuliaan tertentu malah tidak akan mampu bertahan hidup bila dilepas ke alam liar, seperti ikan yang bersirip panjang (manvis slayer), atau yang berbadan buntek (ikan rainbow ballon) atau ikan yang lemah (mas koki).
Berat ringannya dampak domestikasi tergantung cara penanganan dan kekuatan si spesies untuk beradaptasi. Dampak terberat adalah terganggunya pola reproduksi alamiah spesies, misalnya pada ikan cupang hias atau ikan guppy. Karena yang laku adalah yang jantan, maka si pemulia biasanya akan mengadakan suatu teknik – bisa suntikan hormon – agar kelak yang dari hasil pembuahan itu dihasilkan pejantan semua, atau paling tidak mayoritas jantan. Atau dari terganggunya pola reproduksi tersebut dihasilkan anak-anak yang cacat.

DSC03775

Beberapa pakis paku yang saya domestikasi

Sebenarnya domestikasi yang saya lakukan terhadap bunga-bunga liar yang sebagian kecil telah saya tuliskan artikelnya di pos-pos sebelumnya bukanlah termasuk domestikasi murni, karena saya hanya memindahkan habitatnya saja, tidak sampai kepada pemuliaan. Hanya menyiraminya, mengontrol perkembangan dan pertumbuhannya atau kalau perlu mengeliminasinya. Untuk tindakan pengeliminasian ada beberapa alasan yang melatar belakangi tindakan itu. Misalnya karena tumbuhnya cepat, gampang berkembang biak, masih gampang diperoleh, atau alasan kesukaan saja. Dan yang utama adalah keterbatasan lahan yang ada. Timun Padang (yang jadi gambar utama post kali ini) misalnya. Bunganya cantik banget, bermahkota putih menyerupai bintang yang berkelepak. Saya suka. Namun karena pertumbuhannya yang very very fast dan juga ‘mencekik’ tanaman lainnya dengan sulur-sulurnya, maka dengan berat hati saya pun memasukkannya ke dalam black list saya. Ruellia tuberosa alias pletekan juga masuk eleminan. Ruellia lainnya bersama-sama Commelina asiatic, ajeran dan asystasia masuk daftar kontrol ketat yang saya berlakukan.
Sedang untuk penyiramannya, saya hanya menyiram sehari sekali, bahkan bisa dua hari sekali bila malas atau ada keperluan. Di musim penghujan saya hanya menyiram tanaman yang tidak terkena hujan atau berada di beranda. Soal pemupukan pun saya juga tak serius-serius amat. Pupuk biasanya berasal dari guguran dedaunan atau cacahan ranting yang saya sertakan pada masa penanaman. Kalau dibiarkan saja lama-lama toh akan terurai juga dan jadilah pupuk alami. Anda dapat juga menggunakan sampah dapur, kulit buah, atau cangkang telur. Kalau ada air cucian beras, sisa air kopi dan teh berikut ampasnya, susu basi, sirup atau likuid kadaluarsa lainya bisa saya gunakan untuk pupuk. Namun dosisnya kecil, hanya satu sendok makan untuk satu pot dengan jarak seminggu. Lebih dari seminggu ya gpp. Namun perlu diperhatikan, jangan digunakan untuk menyiram anggrek, karena kandungan gulanya akan mengundang jamur untuk berkembang biak pada media anggrek. Untuk cucian beras, anda juga harus hati-hati kala menyiram pada anggrek, jangan sampai terkena daun dan batangnya. Tepung beras terlarut bila kering akan menempel erat pada daun atau batang. Untuk menghilangkannya pun susah, padahal daun dan batang harus berfotosintesis dan bernafas.
Untuk saat ini, saya berencana untuk domestikasi anggrek Didymoplexis pallens (Si Anggrek Misterius dalam pos saya sebelumnya). Alasannya beberapa spot yang dahulu ada anggrek ini sekarang sudah berubah. Rumpun bambunya ditebang habis dan dijadikan kebun biasa atau didirikan tembok atau bangunan. Alhasil anggrek ini juga ikut menghilang. Karena herbanya memang kecil, maka penyebarannya pun tidak akan luas. Apalagi dia juga menuntut syarat hidup yang juga khas, yakni harus banyak zat hara dan terlindung dari sinar matahari. Selain itu orang pun tak tertarik memeliharanya, termasuk yang mengaku pecinta anggrek.  Di kebun saya masih ada rerumpunan bambu. Saya berencana memindah anggrek tanah imut ini ke sana barang 2 atau 3 tanaman. Namun sebelum terealisasi habitat anggrek ini sudah rusak. Rumpun-rumpun bambu bertumbangan akibat hujan deras yang disertai angin kencang. Ya, mudah-mudahan saja anggreknya masih ada. Atau saya akan mencari ke tempat lainnya.
Pertanyaan saya yang mengganjal adalah bahwa vanilla dikatakan hanya dapat berkembang biak dengan bantuan manusia. Nah sebelum manusia mendomestikasinya, bagaimana vanilla bisa bertahan hidup dan berkembang biak di alamnya?
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s