Banyaknya Kasus Anak Tersesat, Hilang, dan Penculikan, Perlukah KTP untuk Anak?

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Dengan tubuh gemetar, Iis pun menceritakan hilangnya Berwyn, hingga dua kali. Kejadian pertama saat Berwyn – saat itu 3 tahun – sedang berbelanja dengan kedua orang tuanya. Merasa ingin pup, Berwyn mencari tempat agak jauh dari keramaian. Kedua ortunya pun memberi ruang padanya sebelum dibersihkan di toilet. Namun karena saat itu mall memang sedang ramai-ramainya membuat Berwyn terus mencari tempat yang tersembunyi, hingga terpisah dari orang tuanya. Iis dan Hans pun panik. Setelah 30 menit mencari, Berwyn ditemukan sedang bermain di dekat kasir. Kehilangan Berwyn yang kedua membuat Iis jatuh pingsan. Berwyn hilang saat Hans berlari mencari minuman dingin, padahal keduanya sudah memberlakukan pengawasan yang ketat. Namun, tak urung Berwyn hilang hingga 2 jam lamanya.

Edit bebas dari: Kompas Minggu, 14 Februari 2016

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para ayah …

Peristiwa kehilangan anak di tempat-tempat keramaian seperti cerita di atas tak hanya dialami oleh Hans dan Iis saja. Masih banyak orang tua lainnya yang pernah merasakan kejadian serupa. Meski saya tak – mudah-mudahan tidak sampai – mengalami seperti itu, namun tak urung membuat saya prihatin dan khawatir. Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tua yang kehilangan anak. Panik, khawatir, bingung, takut, gemetar, bahkan hingga pingsan banyak dirasakan orang tua. Kehilangan itu bisa berujung pada penculikan atau bahkan kematian. Namun apapun kronologis dan penyebabnya, orang tualah yang dituduh lalai menjaga anak. Makanya kita pun berusaha untuk menjaga anak-anak kita kan?

Ada beberapa penyebab anak-anak tersesat – bila akhirnya ketemu – atau hilang – bisa jadi ketemu atau tidak sama sekali – di public area. Yakni faktor intern dan ekstern anak. Apa sajakah itu?

Faktor Intern

Hanya fokus pada satu hal tertentu saja. Anak usia balita memang masih pada tahap fokus pada satu hal tertentu saja. Hal-hal yang menarik perhatiannya tersebut dapat saja merusak pembekalan dari orang tua terhadap anak bahwa si anak tidak boleh jauh dan harus terus dekat dengan orang tua bila berada di tempat keramaian. Si anak bisa saja tiba-tiba berhenti karena melihat sesuatu yang menarik atau lucu baginya. Tak sadar orang tua telah menjauh darinya. Atau bisa saja si anak yang tiba-tiba menjauh dari orang tuanya karena melihat sesuatu yang menarik minatnya.

Faktor Ekstern

  • Yang pertama tentu saja kelalaian orang tua. Orang tua harus benar-benar menyadari bahwa berada di tempat ramai itu risiko kehilangan anak itu sangat besar. Untuk itu, orang tua harus ekstra hati-hati dan selalu memastikan bahwa anak mereka benar-benar berada dalam radar pengawasan mereka. Menggendong anak adalah cara teraman. Intinya, acara jalan-jalan ke mall untuk belanja atau destani wisata itu bersifat fleksibel atau bisa diatur sesuai dengan situasi dan kondisi si anak. Pantau situasi tempat yang akan dituju. Bila dirasa situasinya tidak memungkinkan, pembatalan adalah cara yang paling bijak. Atau mengalihkan ke tempat lainnya. Anak biasanya tidak rewel atau acuh mengenai ruang publik yang kita tuju. Kalau memang terpaksa, anak dapat diajak ke tempat bermain bersama ayah, kemudian ibunyalah yang berbelanja keperluan rumah tangga.
  • Ada sesuatu yang menarik minat atau memecah konsentrasi si anak. Badut misalnya.
  • Ada ‘pemangsa’ yang selalu mengincar anak-anak.

Apa Tipsnya?

  • Selalu mengingatkan anak agar si anak terus dekat dengan orang tuanya dan tidak boleh sampai terpisah.
  • Kalau anak sudah mengerti dan paham, bisa diberi penjelasan mengenai cara-cara yang harus dilakukan anak sewaktu terpisah dari orang tuanya dengan cara mengenalkan tempat-tempat informasi, keamanan, kasir, atau tempat aman lain yang dapat dituju oleh si anak. Kalau mau meminta pertolongan pada orang, dapat dikenalkan satpam atau ibu-ibu yang menggendong anak, atau orang yang dirasa relatif aman bagi si anak.
  • Membuatkan kartu pengenal. Saat menonton tv dengan tema KTP pada Anak, Perlukah? Menurut saya perlu sekali utamanya untuk anak-anak yang orang tuanya bekerja di area-area ramai atau yang sering diajak ke tempat keramaian. Kartu tanda pengenal / identitas anak tersebut dapat DIY – atau dibuat sendiri, toh mudah saja membuatnya –. Cantumkan selengkap-lengkapnya info tentang anak, mulai dari nama anak, ortu, alamat, sekolah – kalau ada –, nomor yang bisa dihubungi – lebih dari satu itu lebih baik karena kita tidak tahu nomor siapa yang stay on –, foto anak – kalau dirasa perlu foto ortu juga bisa ditempel di sana – dan juga kalimat pertolongan untuk membawa anak ke tempat aman dan mudah dijangkau oleh orang tua. Pada anak dengan kasus penyakit berat dapat ditambah keterangan mengenai cara-cara pertolongan pertama pada anak yang dapat dilakukan oleh orang yang ‘menemukan’ si anak. Kartu tersebut kemudian dilaminating. Masukkan ke dalam saku anak, atau dikancingkan pada baju anak, atau bisa juga digantungkan di leher anak, sesuaikan dengan usia dan pemahaman si anak. Kalau di taruh di saku, ingatkan selalu si anak untuk menunjukkan kartunya tersebut pada orang yang dirasa ‘aman’ atau menuju ke tempat-tempat yang telah diberitahukan sebelumnya.
  • Membekali anak dengan informasi selengkap-lengkapnya mengenai tempat yang dituju dan juga apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan si anak saat berada di tempat keramaian.
  • Cara lain sesuai pemikiran anda.

 

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s