DEDDY CORBUZIER: Si D(e)ddy yang Meretas Batas Keterbatasan Sang Anak

*************************************************************************************

 

*************************************************************************************

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Gambar-gambar di atas adalah karya Azka Corbuzier yang mengguncang dunia dan menuai pujian di beberapa negara. Sebut saja seperti Amerika dan Cina. Tidak kentara ya kalau gambar-gambar itu adalah hasil karya anak usia 7 tahun, dari keluarga broken home plus penderita kelainan syaraf. Meski Azka ber-background seperti itu, namun mampu berkarya yang mencengangkan dunia, utamanya para nitizen dan blogger. Azka menjadi salah satu ‘youtubers’ anak-anak. Azka boleh juga disebut sebagai motivator atau inspirator cilik yang dapat menjadi contoh dari anak-anak yang berasal dari keluarga broken home. Bahwa anak-anak dari keluarga broken home pun mampu berkarya dan bahagia. Bahasa Inggrisnya pun fasih, namun bahasa ibunya – bahasa Indonesia – tidak begitu baik. Salah satu kalimat dalam bahasa Inggris yang diunggahnya di Youtube adalah “I’m happy”. Kalimat itu tidak mencerminkan bahwa dia berasal dari keluarga ‘broken home’. Deddy memang telah berpisah dari istrinya, Kalina. Namun keretakan rumah tangga mereka tidak mempengaruhi tumbuh kembang buah hati mereka, Azka Corbuzier. Bahkan kini Azka begitu enjoy menjalani kehidupannya yang insya Allah masih panjang itu.

Meski tak serumah dengan mamanya, Azka tak kehilangan kasih sayang mamanya. Mamanya tinggal di rumah yang berjarak hanya lima langkah. Sewaktu-waktu mamanya bisa menjenguk sang buah hati di rumah mantan suaminya. Begitupun Azka, bebas ke rumah mamanya kapan saja. Jadi memang perpisahan orang tuanya nampaknya tidak mempengaruhi tumbuh kembang Azka. Dengan keterbatasannya itu, Azka memahami bahwa kedua orang tuanya telah berpisah. Bukan sudah tidak sayang lagi sama Azka, namun perpisahan itu untuk yang terbaik bagi semuanya. Memang perceraian hanya membuat efek buruk bagi anak-anak. Namun Azka tak mengalami fase yang seperti itu. Rahasianya ya itu tadi, rumah kedua orang tuanya saling berdekatan. Azka bisa ke rumah mamanya kapan saja, dan Deddy pun tak melarang mantan istrinya untuk menjenguk bahkan bermain-main dengan Azka, juga kapan saja.

Pengaruh positif dari metode yang diterapkan keduanya ini adalah Deddy – dan tentu juga Kalina – mampu mengeksplor kemampuan Azka yang mengalami kelainan pada syarafnya itu. Dan dengan keterbatasannya itu, Azka mampu meretas batas dari keterbatasannya itu. Tentu harga yang harus dikeluarkan oleh Deddy dan Kalina juga mahal. Anak dengan kebutuhan khusus seperti Azka, harus menerima perlakuan yang khusus pula. Memang untuk hal-hal lainnya, perlakuan Deddy kepada anaknya yang saya lihat di acaranya Hitam Putih ya wajar-wajar saja seperti yang dilakukan oleh para ayah. Bermain, bercengkerama, dan sebagainya. Namun untuk hal-hal tertentu seperti belajar, Deddy saya kira harus melakukan perlakuan khusus seperti yang dianjurkan para konselornya. Dan memang harga dan pengorbanan Kalina terhadap anaknya sangat besar. Secara hukum, sebenarnya Azka lebih berhak tinggal dengan mamanya, namun pada realitanya Azka tinggal bersama daddynya. Saya tak tahu sebab-sebab Azka tinggal bersama ayahnya, itu adalah urusan mereka.

Memang jika dilihat dari permukaannya, Azka tampaknya baik-baik saja. Azka juga beraktivitas seperti anak-anak lainnya. Dan memang seperti itulah anak-anak dari keluarga broken home lainnya. Tidak memikirkan dan nampaknya enjoy-enjoy saja, karena memang pemikiran mereka belum sampai kesana –menganalisis hitam putihnya sebuah perceraian –. Apalagi perasaan mereka juga masih dalam taraf sedang riang-riangnya. Jadi seakan-akan perpisahan orang tuanya ditanggapi mereka dengan ringan-ringan. No problem. Namun kita tak tahu bagaimana sebenarnya keadaan kejiwaan Azka dan anak-anak broken home lainnya. Untuk itu memang ada pendalaman psikologis. Dan Deddy juga tak boleh sekali-kali lengah akan hal ini. Mulai saat ini dan juga untuk ke depannya. Saat ini mungkin saja kondisi perceraian itu tidak atau belum membawa dampak yang serius pada Azka. Namun biasanya efek itu akan timbul di lain kondisi, lain tempat, atau lain waktu. Mungkin saat Azka remaja atau bahkan menikah, atau lain-lainnya. Bisa saja. Namun kita juga berharap Azka dan juga anak-anak broken home lainnya tidak mengalami dampak psikologis buruk perceraian, baik sekarang, masa remajanya maupun dewasanya. Sepupu saya tiga bersaudara saat kecil tak terpengaruh oleh kisruh rumah tangga orang tuanya. Namun saat menjelang remaja, barulah ketidaktimpangan rumah tangga itu terasa. Ketiga-tiganya berperilaku negatif dengan versi kenakalan yang berbeda-beda. Dan anak kedua sekarang telah meninggal akibat penyakit paru-paru dari efek narkoba yang dikonsumsinya. Yang ketiga tampangnya kayak orang bego, padahal otaknya tidaklah bodoh.

Selain itu Deddy plus Kalina juga harus memikirkan bagaimana tindakan terbaik yang harus dilakukan apabila Azka punya mama baru atau papa baru. Tentu juga harus ada pertimbangan-pertimbangan yang mendalam. Bila salah satu atau masing-masing sudah punya pasangan baru, tentu keadaan tidak akan seperti semula lagi. Rikuh atau jengah bisa jadi terjadi pada mereka. Dan efeknya pada Azka pun akan terasa. Mamanya tentu tidak akan bisa datang lagi setiap saat ke rumah Deddy untuk bermain atau bercanda dengan Azka. Kalau hanya sekedar menjenguk saja masih mungkin. Tapi tentu saja kebersamaan antara ibu dan anak juga akan jauh berkurang. Begitu juga apabila mama Azka punya suami baru, tentu keadaan tidak akan berjalan seperti semula. Nah hal-hal ini tentu harus menjadi pikiran Deddy dan mama Azka mulai sekarang.

Terkadang, tampaknya anak-anak dalam keadaan fine-fine saja. Namun itu biasanya yang tampak di permukaan saja. Mengenai hati dan psikologis si anak, kita tidak tahu. Untuk itu para psikolog atau konselor yang berusaha menguak tabir si anak. Tentu harga yang dibayar memang mahal, namun itu sebanding dengan kebaikan si anak. Dan saya kira Pak Deddy mampu untuk membayar psikolog tenar yang paling mahal sekalipun. Demi anaknya, saya yakin Pak Deddy tak akan berat untuk mengeluarkan bea yang begitu mahal. Apalagi selama ini Azka juga menuntut ilmu di sekolah yang bukan biasa-biasa saja – yang bayarnya juga mahal –. Ini terlihat dari bahasa sehari-hari Azka yang memakai bahasa Inggris. Bahkan Azka tidak fasih berbahasa Indonesia, bahasa ibunya – bahasa nasionalnya – sendiri.

Timbul pertanyaan, mengapa anak-anak dari keluarga broken home selalu menjadi sorotan? Karena selama ini mayoritas tindak kenakalan dan kejahatan anak berasal dari keluarga broken home. Broken home di sini menurut pandangan saya bukan hanya pada keluarga yang ayah ibunya berpisah saja, namun juga pada anak yang mempunyai keluarga lengkap namun mendapatkan perhatian yang kurang. Kalau faktor kasih sayang dari orang tuanya mungkin tidak begitu menjadikan problem bagi anak-anak ya, karena bentuk kasih sayang itu kan luas sekali. Ayah bekerja mencari nafkah banting tulang dari pagi hingga sore hari itu juga wujud kasih sayang kepada keluarganya. Namun untuk unsur perhatian orang tua kepada anak itu lebih ditekankan pada refleksi atau tindakan yang nyata, atau dengan kata lain terjalinnya ikatan emosional antara orang tua dan anak-anaknya. Dan ini tidak akan tercapai bila tidak ada waktu untuk bersama-sama dan berinteraksi. Faktor inilah yang kadang terabaikan. Banyak kasus kenakalan anak ternyata dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai keluarga yang lengkap. Namun mereka mendapatkan perhatian yang kurang dari orang tuanya. Nah untuk itulah para ayah memang kudu lebih care terhadap keluarganya. Para ayah tak keberatan kan?

Come on try to be good father!

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Sumber gambar: Story of a Broken Home Kid Karya Azkanio Nikola Corbuzier – Celeb Bintang.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s