Racun dalam Secangkir Kopi: Presumption of Innocence for Jessica Kumala Wongso

Dalam azas hukum dan peradilan, apapun yang terjadi pihak-pihak yang terkait dengan hukum dan peradilan senantiasa mengedepankan dahulu presumption of innocence untuk kasus yang belum diketahui siapa pelaku atau pada kasus yang masih misterius/belum terpecahkan. Dan itu juga berlaku bagi Jessica, yang dituding khalayak ramai sebagai pembunuh temannya sendiri.

Saat tampil di acara live salah satu tv swasta kita, Jessica begitu confidence. Wajahnya begitu tenang dan percaya diri. Jawaban-jawabannya pun bisa dibilang terukur, terhitung, dan ‘terencana’ dengan baik. Dia tidak nampak tertekan, padahal dia masih dalam lilitan sebuah kasus yang belum selesai. Semua mata sedang tertuju padanya karena dia berada pada peringkat pertama orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Dan apa yang dilakukan Jessica itu menurut pemahaman saya, hanya mampu dilakukan oleh seorang yang tegar atau seseorang yang over confidence. Dan untuk kategori terakhir ini, inilah yang berbahaya. Orang yang percaya dirinya begitu besar, gampang meremehkan orang lain atau hal-hal kecil lainnya. Lebih gampangnya bagai bumerang yang kembali lagi kepada si pelemparnya. Dan mungkin Jessica sedang membuat sinetron dengan bintang utama dirinya. Dan itu hanya dapat kita pastikan kalau kasus ini terkuak. Namun memang kasus sianida dalam kopi ini juga cukup sulit untuk diungkap, meski secara kasat mata, Jessicalah yang mempunyai prosentase terbesar sebagai pelaku. Penyebabnya ya itu tadi, praduga tak bersalah. Selain itu apa yang terjadi di TKP menjungkirbalikkan akal sehat kita. Selain itu, Jessica juga melontarkan statement bahwa ada rekayasa kasus atau dengan kata lain ada orang yang menjebak dirinya. Benarkah? Mari kita lihat gambaran kejadian berikut ini, apakah memang Jessica sebagai pembunuhnya ataukah memang ada rekayasa kasus.

Gambaran Pertama

Beginilah gambarannya kalau Jessica memang pelakunya. Ada tiga skenario yang dilakukannya.

Skenario Pertama

Karena sudah mencari kesempatan untuk membunuh Mirna, Jessica bersegera ke tempat janjian pertemuan mereka. Karena setting meja yang dipilih untuk ketemuan memang di set sedemikian rupa untuk menjaga privacy, maka Jessica pun bisa berbuat apa saja sebelum kedua temannya datang, termasuk memasukkan racun sianida di gelas yang kelak akan diminum Mirna. Dia juga yang memilih menunya. Namun tentunya Jessica yang kuliah di Australia termasuk orang yang sangat bodoh bila memakai skenario racun sianida apabila Mirna langsung meninggal di tempat kejadian. Tentu semua orang akan menuduhnya dialah si pembunuh itu. Inilah yang menjungkirbalikkan akal sehat kita, masa sih Jessica betul orang yang sangat bodoh – membunuh dengan senjata di tangan –, padahal kuliahnya saja di Australia.

Skenario Kedua

Dia bekerja sama dengan suami Mirna atau anggota keluarga terdekat Mirna lainnya, seperti pembantunya untuk menaruh racun sianida sedikit demi sedikit agar pembunuhan Mirna tidak kentara. Di sini ada dua macam akibat. Satu, dia dapat lepas dari pembunuhan dan yang terkena hukuman adalah anggota keluarga Mirna, siapapun itu. Akibat kedua, dia menanggung bersama-sama dengan anggota keluarga Mirna. Saat Mirna meninggal di TKP karena mungkin saat itu sudah efek racunnya sudah kuat, Jessica pun secara diam-diam menaruh sianida pada gelas Mirna yang sebelumnya memang tidak ada racunnya. Jadi racun tersebut sebenarnya sudah masuk dalam tubuh Mirna di lain waktu dan di lain tempat. Bukan di kafe. Alasannya, agar dia lolos dari skenario pembunuhan karena orang akan beranggapan bahwa bodoh membunuh seseorang di tempat umum dan dia dianggap satu-satunya orang yang patut dicurigai sebagai pembunuhnya. Namun skenario kedua dengan dua akibat ini juga sangat riskan dia pilih, karena apapun pilihannya dia tetap akan menjadi terpidana juga nantinya bila kasusnya terungkap. Masa sih ada orang yang membunuh kemudian siap dipidana kalau bukan termasuk orang yang nggak waras atau orang yang dendamnya sudah sundul langit?

Skenario Ketiga

Jessica mempunyai penyakit kejiwaan. Jadi apapun resikonya dia siap menghadapinya, termasuk memanipulasi atau membuat sandiwara laiknya sinetron stripping kita.

Namun apapun skenario dari gambaran pertama ini, Jessica termasuk orang yang sangat bodoh, membunuh dengan bukti-bukti nyata yang tertuju padanya.

 

Gambaran Kedua

Seperti yang dikatakannya di salah satu televisi, ada yang bermaksud untuk menjebak atau merekayasa kasus dengan tertuduh utamanya adalah dirinya. Kalau memang seperti itu, tentu kasus ini akan menjadi semakin panjang dan lama, karena pihak hukum harus menelusuri background ketiga orang yang ada di TKP bahkan juga orang-orang yang terkait dengan ketiga-tiganya. Tentu kasusnya akan semakin berkembang, karena siapa tahu ada pelaku yang sesungguhnya yang masih misterius.

Gambaran Ketiga

Yang ini mungkin saja berkaitan dengan gambaran kedua. Mirnalah sesungguhnya yang memasukkan racun tersebut ke dalam gelas kopinya sendiri. Motifnya tentu harus ditelusuri ke masa lalu Mirna, Jessica, bahkan Hani, bahkan juga orang-orang yang terdekat dengan ketiganya.

Gambaran Keempat

Hanilah pelakunya. Dia tahu pasti bahwa Jessica telah mendahului untuk datang ke tempat janjian mereka. Dan dia dapat ‘melemparkan’ tuduhan bahwa Jessica lah pelakunya dengan anggapan Jessica telah datang duluan yang mana dia dapat berbuat apa saja untuk meracuni Mirna. Di film-film atau sinetron-sinetron misteri, biasanya pembunuh adalah orang-orang yang tak kita duga sebagai pembunuhnya. Apakah Hani termasuk dalam kategori ini? Kalau anggapan Jessica benar, maka Hanilah otak rekayasa itu.

Gambaran Keempat

X-files alias kasus yang tak akan terungkap.

 

Apapun gambarannya, semua mata memang tertuju pada Jessica. Apakah Jessica punya suatu rahasia? Menurut teori psikologi – kalau nggak salah saya baca di bukunya Ary Ginanjar – mulutmu bisa saja tertutup rapat-rapat menyimpan rahasiamu, namun jemarimu atau anggota tubuhmu lainnya tidak dapat menutupinya. Nah, siapakah di antara Jessica dan Hani yang menyimpan rapat-rapat rahasia namun tak dapat ‘memerintahkan’ anggota tubuh yang lain untuk menyimpan rahasia itu? Ataukah kasus ini benar-benar menjadi X-files? Wallahua’lam bishshowwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s