Protes di Dunia Maya: Semua Acara Televisi Di Sensor, Ini Sudah Sangat Keterlaluan!!!

*******************************************************************************************

Saya ingin menyampaikan rasa kecewa saya kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait semua program di televisi dilakukan sensor yang sangat berlebihan. Jujur saja sensor gambar dan suara yang di lakukan oleh KPI itu sangat tidak bermutu sekali karena acara yang ingin di lihat menjadi sangat terganggu dengan adanya sensor baik itu berupa blur gambar yang bikin sakit mata dan sensor suara yang bikin sakit kuping akibat …

*******************************************************************************************

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Itulah salah satu keluhan (= protes) yang terdapat dalam aplikasi pelaporan Lapor Presiden. Menilik temanya, laikkah laporan seperti itu ditujukan kepada pemimpin nomor satu? Tak lebih bijakkah si pelapor (= pengeluh) untuk cek dan ricek dulu ke KPI? Meski aplikasinya Lapor Presiden, namun tentunya Pak Presiden tidak mau disibukkan oleh hal-hal yang berbau remeh-temeh seperti itu, hanya berdasar kepentingan golongan bahkan pribadi. Bagi Pak Presiden masih banyak masalah-masalah lain yang lebih urgen dan mendesak untuk segera ditindak lanjuti. Makanya, sebelum kita ‘melapor’ kepada presiden alangkah bijaknya kita pikir-pikir dan analisis terlebih dahulu sesuaikah aduan kita itu ditujukan kepada personil tingkat kelas petinggi seperti Presiden. Apa tidak lebih bijak keluhan kita itu ditujukan dahulu kepada yang berkepentingan? Kita juga harus memaklumi bahwa tugas presiden sangatlah banyak dan berat. Tentunya Pak Presiden lebih mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan bahkan pribadi.

Dalam hidup memang ada sisi negatif dan positifnya, pro dan kontranya. Namun apabila keluhan kita itu diekspos ke publik tanpa memandang sisi baik lainnya, bagi saya itu keterlaluan. Apakah si pengeluh tidak sadar kalau tulisannya tersebut dibaca ribuan orang yang belum tentu semuanya sepakat dengan apa yang dikeluhnya. Saya salah satunya. Saya pun tak habis pikir, kok bisa-bisanya si penulis mengeluarkan statemen keluhan seperti itu. Apa dia tak punya anak? Ataukah dia tak peduli dengan orang lain, utamanya moral penerus generasi bangsa? Apakah dia hanya berpikir terpenting dia merasa nyaman dan enjoy saja? Apalagi keluhan itu didukung 15 Vote. Benar-benar saya tak habis pikir.

Dalam memberlakukan pensensoran, KPI tentu tidaklah sembarangan. Ada standar aturannya. Banyak pertimbangan yang mereka pikirkan, terpenting apakah tayangan tersebut sesuai dengan moral bangsa ini, utamanya moral generasi penerus bangsa. Tak usahlah terlalu jauh untuk menstandarkan aturan ‘pengguntingan pita’ berdasarkan standar agama, karena kalau kita jujur mengakui mayoritas tayangan di televisi tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, meski itu adalah acara yang mengaku sebagai tayangan Islami. Diakui atau tidak dari ratusan tayangan per harinya acara yang benar-benar bermutu bisalah dihitung dengan jari. Acara anak-anak yang ada selain sangat sedikit juga begitu memprihatinkan kwalitasnya, tidak sesuai dengan moral kita. Tayangan Upin Ipin misalnya, kalau anda jeli mencermatinya, banyak hal yang tak sesuai dengan pola pikir dan moral anak-anak. Seperti misalnya pengenalan karakter Kak Saleh yang dilihat dari fisiknya dia adalah laki-laki, namun berperilaku dan berpenampilan ala perempuan.

Kalau kata yang disensor ditutupi dengan bunyi yang katanya ‘menyakitkan’ kuping dan gambar yang disensor ditutupi dengan blur yang katanya juga ‘menyakitkan’ mata. Saya rasa semua itu ditempuh KPI bukan tanpa pertimbangan. Kalau hanya mengandalkan pengguntingan terhadap gambar dan suara, jelas akan merusak struktur cerita tayangan itu. Untuk mengedit lagi supaya tayangan sesuai moral dan agama bangsa ini dan tidak keluar dari jalur cerita aslinya, tentu akan membuat pekerjaan baru yang tentunya tidak akan gampang. Apalagi setiap harinya KPI harus mensensor ratusan judul acara, mulai dari sinetron hingga acara anak-anak. Kalau satu acara saja pukul rata memakan waktu 1jam, maka satu tenaga KPI seharinya per 8 jam kerja hanya mampu menyeleksi 8 acara yang siap tayang. Padahal beberapa acara banyak yang berdurasi 1 jam lebih. Makanya untuk acara yang disiarkan Live, KPI benar-benar memberlakukan peraturan yang sangat ketat. Namun tak urung juga KPI juga banyak kecolongan. Bayangkan saja bila kata-kata yang tak semestinya itu diserap oleh penonton anak-anak atau gambar-gambar yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran itu juga dikonsumsi anak-anak, bagaimana moral anak-anak bangsa ini ke depannya? Padahal di lingkungan sekitar anak-anak sendiri juga tak kalah banyaknya kata-kata yang tak senonoh dan juga gambar-gambar yang tak pantas yang mau tidak mau dikonsumsi anak-anak beredar setiap saat, seperti yang ada pada baliho, pamflet, dan papan-papan reklame yang berjamuran di pinggir-pinggir jalan. Sungguh tanpa terasa setiap hari anak-anak kita dicekoki dengan hal-hal yang tak sepantasnya dikonsumsi anak-anak.

Nah, masih patutkah kita protes terhadap sensor KPI?

Itu adalah perspektif saya pada awalnya. Kemudian saya berpikir tidak adil rasanya kalau hanya melihat dari kacamata saya yang pro sensor dan tidak mencoba memahami dari sisi kacamata yang kontra sensor. Dan dari browsing ternyata yang kontra tersebut ada alasan-alasan yang kuat yang diajukannya. Saya ringkas saja ya alasan-alasan mereka agar tak memenuhi halaman ini.

  • Tidak ada standar pasti kriteria pensensoran. Misal, belahan dada disensor namun paha yang terlihat ‘kinclong’ dan menyolok dibiarkan saja.
  • ‘Pilih kasih’. Film-film dari barat mendapatkan sensor yang ketat, sedangkan sinetron-sinetron atau tayangan-tayangan buatan dalam negeri mendapat keringanan, terbukti adegan-adegan yang buka paha, dada, dan gerakan atau kata-kata yang menjurus erotik lolos sensor.
  • Bullying yang ada di sinetron-sinetron yang dilakukan oleh anak-anak SD, SMP, SMA, atau lain-lainnya mendapatkan pembiaran. Padahal secara psikologis efek bullying lebih berat dibanding efek penampakan erotis. Dan sinetron-sinetron kita memang berisi bullying-bullying-an.
  • Lebih ketat dalam memberlakukan pensosaran, kalau memang tidak layak tayang ya jangan dilolos sensorin. Jadi nanti stasiun-stasiun TV kita akan lebih selektif dan kreatif dalam membuat program acara/tayangan.

Sebenarnya untuk acara-acara live, pemeran atau bintangnya sudah mengetahui aturan-aturan ini. Terbukti Raffi Ahmad perneh terpeleset, segera minta maat. Atau Gading Martin yang langsung menutup atau menepuk mulutnya sendiri. Namun, memang mereka inilah yang rawan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas, karena seringnya atau telah terbiasanya mereka ‘mengolok-olok’ bintang tamu maupun sesama pemain. Kalau bintang tamu sih biasanya kata-kata mereka terjaga.

Yuk, para ayah jangan tinggal diam, protek anak-anak kita dari hal-hal negatif. Salam ayah!

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s