BABY BLUES: Potret Keluarga Ideal Bule?

***************************************************************************************************

Zoe tak bisa tidur. Bergegas dia pun ke kamar kedua orang tuanya, mengadu. “Dad, saya tidak bisa tidur”. Dengan menahan kantuk, ayahnya bilang, “Coba kamu hitung domba-domba sampai seratus”. Dengan cepat Zoe menjawab, “Sudah yah, bahkan hingga dua kali”. Si daddy pun berkata, “Coba kamu hitung kesalahan saudara laki-lakimu”. Zoe dengan antusias menjawab, “Oh, itu ide yang cemerlang, dad”. Si Mommy bilang, “Ayaaahhh …!!!!

***************************************************************************************************

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ada sebuah komik serial yang dimuat di salah satu koran terbitan ibukota. Namanya Baby Blues. Dan ilustrasi di atas merupakan salah satu adegan dalam serial itu. Baby Blues adalah komik parenting yang menceritakan serba-serbi sebuah keluarga ideal bule. Saya tak tahu pasti dari negara mana pengarangnya. Komik ini ditulis oleh dua komikus, Rick Kirkman dan Jerry Scott. Secara garis besar komik ini menceritakan kehidupan sehari-hari keluarga bule dengan berbagai romantika dan permasalahannya. Saya juga tak tahu pasti apakah kedua orang tua dalam komik ini menikah. Namun kita anggap saja karena ini sebuah gambaran ideal keluarga bule, maka kedua orang tua ini tentunya juga sudah menikah. Zoe, anak perempuan tertua yang cerewet dan cerdas. Disusul adik laki-lakinya, Hammie yang iseng namun taktis, maksudnya apapun yang dia lakukan didasarkan pada ilmu dan pengetahuan yang didapatnya, utamanya Matematika dan Fisika. Contoh, saat mengisengi kakaknya yang sedang bermain bersama temannya, si Hammie dengan jitu melempar bola yang dilentingkan dengan karet/tali. Sebelumnya dia telah men’survei’ dan menghitung jarak bola dengan sasaran/sang kakak dan temannya dengan ilmu Fisika dan Matematika. Dan terakhir, anak ketiga, si baby, Wren yang belum diketahui karakternya. Namun dalam salah satu adegan, si Wren ini dengan ‘buas’ mengunyah apa saja yang dijumpainya. Sofa, karpet, dan lain-lain.

Secara umum kedua anak Mac Pherson ini memang pintar, kritis, dan cuek pada urusan orang tuanya atau mungkin lingkungannya. Biasanya sih kedua orang tua ini sebagai ‘si penderita’ dari ‘kenakalan’ anak-anaknya. Saat anak dimintai tolong membantu sang mama, sulitnya minta ampun. Ada saja alasannya, padahal bila dilihat dari usianya, keduanya sudah bisa dimintai tolong membantu tugas keseharian sang mama. Namun disaat diajak main game yang sangat sulit yang menguras tenaga dan pikiran, ternyata mereka lihai memfiniskan game tersebut. Dalam salah satu adegan, sang mommy berbisik-bisik pada suaminya apakah permen-permen dalam perayaan Halloween sudah disembunyikan dengan sempurna dan sulit dicari? Si daddy pun membalas berbisik, bahwa dia sudah menyembunyikan di tempat yang paling sulit dicari. Namun kedua anak ini nimbrung dalam acara ‘bisik-bisik’ itu dan berkata kalau mereka sudah menemukan permen-permen itu. Bayangkan untuk acara yang menyenangkan mereka tanpa kesulitan menyelesaikan game-gamenya, namun saat disuruh untuk mencari kaos kaki adik bayi mereka, keduanya kompak berkata, “Kami tidak menemukannya, Mom!”.

Si mommy dan si daddy berbagi peran. Sang ibu seorang ibu rumah tangga ala tempoe doeloe. Full mengerjakan urusan rumah tangga mulai dari memasak, bersih-bersih rumah, mengurus anak-anak, dan lain-lain. Sedangkan sang ayah full mencari nafkah dengan kerja kantoran. Hingga saat ini saya belum menemukan hal-hal negatif yang mampu memporak-porandakan kondisi ideal keluarga itu. Tidak ada narkoba maupun zat adiktif lainnya. Tidak ada korupsi. Tidak ada gosip-gosipan. Tidak ada iri dan dengki kepada tetangga, dan sebagainya. Kenakalan anak-anak pun masih dalam batas-batas wajar dan khas anak-anak. Hanya saja memang ada beberapa hal yang tak sesuai dengan kondisi dan moral kita. Semisal adegan dalam prolog di atas. Ada juga contoh lainnya. Seorang tetangga begitu kagum pada daddy mereka yang terlihat sedang kelelahan menyiangi, mencabut, dan mem-blow – saya tak tahu pekerjaan apa ini, harian Kompas mengartikannya dengan kata meniup – rumput-rumput di halaman mereka. Saking kagumnya dan ibanya, si tetangga pun membawakan minuman dan mengajak daddy untuk istirahat. Tetangga pun bertanya apa dia nggak capek mengerjakan itu semua? Daddy pun dengan lugas membuka pintu rumahnya dan olala apa yang ada di dalamnya? Ternyata berbagai suara dan terikan yang memekakkan telinga pun terdengar. Jeritan kedua anak yang sedang bertengkar ditimpa suara tinggi kemarahan sang ibu mereka, plus suara lengkingan tangis bayi. Hiruk pikuk dan ramai sangat. Ternyata ayah mereka ‘lari’ dari suasana yang seperti itu dengan cara bersih-bersih dan merapikan halaman rumah yang kayaknya melelahkan secara fisik, namun ‘menentramkan’ hatinya. Hal-hal seperti inilah yang menurut saya tidak cocok untuk kita terapkan dalam kehidupan seorang ayah. Karena bagaimanapun juga seorang ayah tidak hanya mencari nafkah saja. Sebisa mungkin juga terlibat secara emosi dengan anak-anak. Mengetahui kelebihan dan kekurangan anak-anaknya. Mengetahui kegemaran mereka. Pendeknya, ayah juga harus terlibat dalam kegiatan anak-anak mereka sehari-harinya. Menurut penelitian, pelukan dan belaian seorang ayah mampu meredam masa-masa tantrum. Selain mampu mengurangi hingga sekian jauh persen, juga mampu menyingkat masa-masa itu. Saya tidak tahu apakah si daddy ini ada adegan bermain dengan anak-anaknya atau tidak karena saya beli korannya juga nggak tentu.

Karakter dan kejadian dalam serial Baby Blues memang humanity atau membumi banget, khas budaya dan attitude bule. Ada ‘kenakalan’ anak-anak, yang dapat kita jumpai juga di sini, sebagiannya atau mungkin sebagian kecilnya ya. Ke’susah-payah’an dan ketotalan sang ibu untuk mengurus tetek bengek kerumahtanggaan, yang umum kita jumpai juga di kehidupan keseharian kita. Ada keisengan di sana. Pokoknya hal-hal yang kita temui bahkan kita lakukan sehari-hari mereka juga melakukannya. Sangat berbeda dengan Simpson Family yang terkenal itu. Saya tak tahu pasti potret keluarga bule mana yang terbaik karena sudut perspektifnya juga berbeda. Kalau anda pernah membaca komik atau menonton ‘komik’ keduanya, tentu anda akan punya analisis jitu sendiri. Namun memang secara global ajaran moral atau sopan santun dari orang tua ke anak-anaknya dalam komik berseri ini sangat jarang, bahkan nyaris tidak ada. Sangat mengandalkan atau menitikberatkan pada ajaran kecerdasan dan demokratis khas Barat yang terefleksi dari sikap anak-anak dalam keluarga ini yang sangat kritis dan kalau mau jujur ‘egois’. ‘Pengertian’ dan pembiaran terhadap tumbuh kembang anak sangat ditonjolkan. Padahal kalau kita mau jujur, rem terhadap sesuatu itu harus ada, pun terhadap anak-anak. Apalagi tentunya anak-anak belum tahu mana hitam, putih, dan abu-abunya kehidupan. Kalau sedari kecil sudah diberi pembiaran tanpa ada batas-batasnya, tentu saja pada saat dewasanya kelak dia akan egois dan demokratis banget. Yah seperti yang kita temui pada mayoritas bule. Apalagi dalam komik ini per adegan tidak disertai dengan ‘pemecahan masalah’nya. Pembacalah yang diserahi ‘tugas’ untuk memecahkan masalah dalam keluarga tersebut. Kedua komikus hanya ‘melemparkan’ permasalahan, tanpa menyertakan pemecahannya.

Apakah di barat sana sekarang ini juga masih terjadi krisis figur keluarga ideal? Saya tidak tahu. Dulu di TV ada serial keluarga Cosby’s Show. Sangat terkenal pada masa itu. Menampilkan sebuah potret keluarga yang harmonis. Namun nyatanya dalam kehidupan kesehariannya, para pemerannya sangat jauh dari potret ideal seperti yang mereka perankan dalam serial keluarga Huxtable ini. Lisa Bonet contohnya. Pernah beradegan erotis dalam filmnya dan gemar dugem. Karena untuk menjaga citra keluarga Huxtable itu, maka dia pun dicoret dari daftar cast. Ironis bukan?

Yuk berusaha jadi ayah hebat dengan budaya dan moral ajaran agama kita sendiri!!!

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s