Sulitkah Menjadi Ayah yang Baik?

====================================================================================

Ada pertanyaan: sulitkah menjadi ayah yang baik? Jawabannya adalah …..

====================================================================================

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mungkin anda kaget ya kok artikel saya kali ini judulnya berbeda dengan post-post sebelumnya. Nggak nyambung dengan tema bunga-bunga dan alam ya? Ok, kalau anda punya banyak waktu akan saya ceritakan mula-bukanebahasa Jawa yang artinya awal mulanya – judul artikel di atas. Sebelum punya blog – Blue Purple Garden -, sudah sejak lama saya menulis apa saja yang dapat saya ambil hikmah atau pelajarannya. Saat punya akun di Fb, saya pun unggah tulisan-tulisan itu. Kemudian saat buat blog BPG itu, saya sedang gandrung-gandrungnya sama bunga-bunga liar dan juga bunga-bunga hias. Karena saya harus ‘bersaing’ dengan berjuta-juta blog, kepikiran bagaimana agar blog saya punya identitas sendiri dan bisa bersaing dengan blog-blog lain yang sudah mapan dan punya followers dan visitors yang seuabreg itu? Akhirnya nemu juga formulanya, mix antara tulisan yang berhikmah digabung dengan artikel mengenai bunga-bunga dan alam. Namun terkadang seakan-akan dipaksakan ya antara tulisan berhikmah dengan bunga-bunga. Nggak nyambung. Apalagi kan para visitors dan followers BPG kan beraneka ragam backgroundnya ya. Padahal saya juga ingin mengkhususkan tulisan-tulisan saya di blog yang khusus pula. Gatal juga tangan saya ingin segera punya blog. Akhirnya saya pun buat blog tersendiri. Dan saya pun menetapkan temanya adalah hal-ikhwal tentang perayahan. Mengapa ayah? Karena peran ayah selama ini diabaikan atau diremehkan, baik oleh para ayah sendiri maupun kita. Padahal peran dan figur seorang ayah sangat berperan dalam tumbuh dan kembang anak, meski juga diakui tak sebesar peran dan figur seorang ibu. Namun seorang ayah ibaratnya adalah garam di sepanci sayur. Meski perannya sendikit, namun mampu membuat sedap sayur tersebut. Seorang ayah akan mampu membuat anak menjadi manusia yang utuh dan tidak ‘pincang’. Karena itu saya pun buat blog baru: celotehayah.wordpress.com. Eh, saya lupa passwordnya. Jadilah buat blog baru lagi: perspektifayah.wordpress.com. Namun di blog baru ini tulisan-tulisan saya ternyata tak ter-publish, padahal saya sudah klik tombol publish tetap saja yang keluar nothing to found. Padahal sudah ada 6 artikel lho di situ. Saya tak tahu sebabnya, apakah email saya yang yahoo ditolak oleh wordpress? Atau ada sebab-sebab lainnya? Saya tak tahu karena saya tak lihai dalam perblogan. Akhirnya cara ini yang saya lakukan, mengunggah tulisan tentang perayahan di blog saya yang sudah ada: Blue Purple Garden dan kategorinya adalah Perspektif Ayah.

Untuk membedakan antara sheet Blue Purple Garden dengan Perspektif Ayah, gampang kok. Pada sheet Perspektif Ayah saya buat semacam prolog, pembuka, opening, atau muqadimah, atau apalah namanya yang berisi lagu, syair, puisi, gambar, video, atau yang lainnya. Jadi berbeda kan?  Dan inilah tulisan pertama saya tentang keayahan. Insya Allah berlanjut dengan tulisan-tulisan selanjutnya.

Kembali ke pertanyaan di atas, duhai para ayah, kalau ditanyakan mudahkah untuk menjadi ayah yang baik? Mayoritas ayah akan menjawab sulit. Kesusahannya mungkin seperti halnya menjadi hamba yang baik, saya kira. Namun kalau dipertanyakan, lebih utama mana menjadi hamba yang baik atau menjadi ayah yang baik, saya akan lebih memilih hamba yang baik lebih dahulu. Mengapa demikian? Karena kalau hubungan kita dengan Allah SWT, Sang Maha Kuasa atas Segalanya beres, maka otomatis hubungan kita dengan sesama manusia – dalam hal ini menjadi ayah yang baik – pun akan beres. Bila sudah menjadi hamba yang baik, maka dia akan mengenalkan Sang Pemilik Segalanya ini kepada anak-anaknya. Yang akhirnya anak-anaknya pun akan menjadi hamba-hamba yang baik pula. Selain itu menjadi hamba yang baik sangatlah mudah, mengingat sifat-sifat ke-Maha-an Allah SWT. Asal kewajiban sebagai hamba dijalani, artinya menjalankan perinah-perintahNya dan menjauhi segala laranganNya kita sudah menjadi hamba Allah yang baik. Syukur-syukur kalau ditambah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah serta menjauhi hal-hal yang bersifat mubah dan makruh, semakin sempurnalah kita menjadi hamba Allah yang baik.

Tetapi untuk artikel ini saya hanya sharing untuk menjadi ayah yang baik, bukan hamba yang baik. Untuk itu berbagai usaha terus saya lakukan. Saya pun terus berkaca dan merefleksi diri saya sendiri dengan cara mengurangi kelemahan-kelemahan dan menambah porsi dari kelebihan-kelebihan atau skill yang telah dikaruniakan Allah kepada saya untuk menjadi seorang ayah. Lagi-lagi bukan pekerjaan yang mudah memang. Ada beberapa karakter saya yang sulit untuk dikompromikan. Saya bukan seorang yang fasih berbicara, meski perbendaharaan kata saya banyak. Padahal untuk melatih imajinasi dan kemampuan bahasa anak, juga memerlukan kefasihan berbicara seorang ayah. Di salah satu dari kelemahan-kelemahan saya tersebut, Allah menganugerahkan kepada saya kemampuan yang lain, saya lebih pandai menulis dibanding berbicara. Untuk urusan lagu melagukan sesuatu hal pun, alhamdulillah saya juga dikarunia kemampuan untuk itu. Variasi nada lagu yang bisa saya ajarkan kepada anak, alhamdulillah lumayan banyak. Ada lagu yang memang sudah ada sebelumnya, ada juga yang memang karang-karangan saya sendiri. Asal-asalan yang penting sesuai dengan usia anak.

Alhamdulillah, semasa putri saya berusia 3 bulan hingga sekarang, putri saya saat pagi lebih banyak bersama saya, dibanding di tempat lain – semisal Baby School –. Saya sebut tempat lain itu karena memang pada masa bundanya harus masuk kerja lagi setelah cuti melahirkan habis, putri kami dititipkan di Baby School. Saya sebenarnya sangat keberatan, tetapi tidak ada hal yang dapat saya lakukan, pasalnya kalau saya gendong, putri pasti menangis. Tangisannya sangat keras hingga radius 5 rumah kedengaran tangisannya. Hingga tetangga pun hafal, kalau mendengar tangisan bayi, ya itu pasti tangisan bayi kami. Meski di BS, saya tetap berusaha untuk berlama-lama dengan putri kami. Caranya, sayalah yang harus mengantarnya ke BS. Saya tolak tawaran bundanya untuk membonceng saya dengan sepeda motor. Saya juga tidak mau naik sepeda motor sendiri. Saya tidak mau naik sepeda. Saya jalan kaki ke BS yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah. Dengan menggendongnya, saya pun jalan sepelan yang saya bisa, semakin lama dalam gendongan saya, itu semakin baik menurut saya. Saya juga berusaha belajar kepada para pengasuh di BS bagaimana caranya agar putri kami tidak menangis bila saya gendong. Waktu saya praktikkan di hadapan para pengasuh, cara-cara saya sebenarnya sudah tepat. Namun mengapa putri saya tetap saja menangis bila saya gendong? Saya menyukai anak-anak, dan saya juga sudah lihai menggendong anak-anak. Namun mengapa putri kami di gendongan saya? Hingga hari ini pun saya tak tahu alasannya. Namun apapun itu, saya berusaha untuk terus berlama-lama dengan putri kami, karena saya tidak tahu sampai dimana usia saya. Apalagi seiring bertambahnya usia putri kami, tentunya kebersamaan akan terus berkurang. Usia sekolah akan banyak dihabiskan bersama guru dan teman-temannya. Usia bermain akan dihabiskan bersama-sama dengan teman-temannya. Belum lagi bila bundanya ingin putri kami les sesuatu. Pokoknya, waktu kebersamaan bersama putri kami saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Itulah pengalaman saya dan putri saya semasa bayi.

Yuk, be good father!

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s