Problema Sampah: Pelaku Industri Belum Disasar

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

The BPRers.

Gerakan 3R terhadap sampah, utamanya berbahan plastik, belum atau tidak menyentuh para pelaku industri. Yang saya maksudkan bukan mengenai limbah buangan mereka atau polutan udara mereka, karena untuk hal ini sudah ada aturannya yang cukup ketat meski banyak juga pengusaha yang nakal membuang sembarangan tanpa memfilternya terlebih dahulu. Namun yang saya maksudkan bahwa mereka belum disasar seperti judul artikel ini tentang hasil produk mereka yang kelak setelah digunakan oleh para pengguna / konsumen akan menjadi sampah. Selama ini yang memanfaatkan hasil ‘sampah’ mereka adalah orang-orang yang kreatif saja, yang tentunya jumlahnya bisa dihitung dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah lebih dari seperempat juta itu. Tentunya juga laju pemanfaatan mereka atas sampah-sampah tersebut jauh lebih lambat dibanding laju keberadaan sampahnya. Buktinya sekarang ini saja pemerintah DKI Jakarta kelabakan dalam mengelola dan mengolah sampah yang mencapai sekitar 6.800 ton per hari. Bukan jumlah yang sedikit. Itu belum permasalahan yang berasal dari limbah pabrik, polusi, dan juga ‘barang-barang’ buangan hasil alamiah manusia yang berupa ‘air pipis’ dan ‘barang emas’. Meskipun kelihatannya sepele ‘barang emas’ yang tidak terurai bisa mencemarkan sungai dan air tanah. Di Surabaya saja data mengenai barang emas dan polusi mencapai 5 ton tinja/hari dari +-700 wc helikopter dan 75,48 ton/hari limbah cair dari 368 industri di sepanjang sungai Surabaya. Tentunya di Jakarta akan lebih dari itu. Jelas bukan permasalahan yang ringan bukan? Sampah se Indonesia kalau dikumpulkan bisa mencapai kurang lebih 200.000 ton per harinya. Ck ck ck masya Allah betapa beratnya ya? Kalau sampah itu berupa uang, tentu Indonesia terutama DKI Jakarta akan kaya raya. Namun sampah ini berupa barang-barang rusak, tak terpakai, berbau, potensi sebagai sumber penyakit, dan utamanya sulit diurai oleh alam/bumi. Bayangkan anak cucu kita nanti hanya diwarisi sampah, sampah, dan sampah. Sampah akan berada dimana-mana. Lha wong sekarang saja, sampah sudah merajalela dimana-mana. Tidak salah sampahnya sih, namun salah kita-kita ini.

Melihat rumitnya permasalahan sampah, maka tak mengherankan apabila Gubernur DKI, Ahok mengeluarkan suatu keputusan dan tindakan yang dianggap kontroversial. Tindakannya dianggap sering tidak ‘memihak’ rakyat kecil seperti pendahulunya, Pak Jokowi. Namun kalau dicermati lebih jauh, keputusan yang selain berat juga terkesan ‘berat sebelah’ ini memang harus diambil agar permasalahan yang lebih besar bisa terurai. Dari dulu DKI dan juga kota-kota besar lainnya selalu berkutat masalah sampah, yang tidak semakin terurai dan tuntas, namun justru semakin berat dan menggunung. Efek sampah tersebut juga kian meluas. Tidak hanya banjir, penyakit, dan lain-lain, namun juga permasalahan sosial. Beberapa daerah yang dijadikan sebagai TPA kini telah berani menolak wilayahnya dijadikan sebagai Tempat Pembuangan Akhir.

Selama ini gerakan memanfaatkan atau men-3R-in sampah hanya menyasar pada orang-orang yang berada di ujung sirkulasi sampah, seperti para konsumen / pembuang sampah, pemulung, pemanfaat sampah, petugas kebersihan atau pihak-pihak lain yang berada pada garis hulu dari sampah, namun pihak-pihak yang berada pada garis hilir yakni para pembuat / produsen plastik dan termasuk juga para pelaku industri pangan atau lainnya yang menggunakan bahan baku plastik belum disasar atau dikenakan aturan yang ketat. Padahal sesungguhnya bila semua yang terkait di hilir ini bisa dimenej, insya Allah masalah sampah akan kian teratasi. Kalau hanya berfokus pada garis hulu saja, masalah sampah akan semakin sulit terurai. Pemerintah pusat dan daerah seharusnya juga kian ketat dalam memberlakukan peraturan bagi para pelaku industri. Pelarangan bahan yang sulit diurai seperti styrofoam harus dilarang, meski harganya memang sangat murah. Kemurahan harganya itu tidak sebanding dengan ke-save-an barang tersebut untuk digunakan kembali, utamanya sulitnya bahan tersebut terurai. Dan hal-hal lain yang terkait dengan bahan-bahan plastik harus ditinjau ulang dan dibuatkan aturan yang sangat-sangat ketat.

Biasanya para konsumen dalam membeli barang, memang tidak ada pilihan yang lebih baik di antara berbagai pilihan barang yang telah ada atau telah diproduksi. Anak-anak sekolah misalnya yang memang masih dalam taraf usia senang jajan, akan membeli produk apa saja yang sesuai dengan selera mereka, terutama sesuai dengan saku mereka, tidak perduli apakah makanan atau minuman yang masuk ke dalam perutnya memenuhi standar kesehatan atau tidak. Dan celakanya, bungkus atau kemasan jajanan itu sulit untuk di-3R-in atau diolah lebih lanjut. Pengrajin sampah plastik yang saya ketahui selama ini hanya memanfaatkan bungkus plastik yang tebal dan ‘awet’ seperti bungkus sabun cuci, dan lain-lain. Bungkus ciki-cikian dan snack lainnya atau juga bungkus minuman seperti es krim, jelly, permen dan lain-lain saya belum tahu ada yang memanfaatkannya kembali.

Apalagi kita sebagai konsumen juga tidak dapat berbuat banyak, padahal selama ini himbauan untuk mengurangi atau memanfaatkan sampah sangat santer ditujukan pada para pengguna/pemakai produk plastik, sedangkan para pelaku industri ‘dibiarkan bebas-bebas’ saja.. Kita juga dilarang untuk membakar sampah-sampah tersebut, karena selain mendatangkan penyakit – pernapasan – juga menambah polusi udara. Padahal di sisi lain, laju keberadaan sampah-sampah plastik itu tak bisa kita bendung. Mungkin saja selama ini kita sudah berusaha mati-matian untuk tidak memakai apapun yang berbahan plastik, namun apa daya keberadaan plastik tersebut umumnya diluar jangkauan usaha kita. Kita dapat hantaran makanan misalnya. Ada plastik-plastik di sana. Kita dapat parcel, ada plastik juga di sana. Bahkan kita diam saja di rumah, ada plastik yang datang ‘menyambangi’ kita. Plastik-plastik yang dibuang sembarangan atau tertiup angin. Para pecinta lingkungan menyarankan agar plastik-plastik tersebut ditanam dalam tanah. Padahal plastik tersebut ratusan tahun baru terurai yang tentunya akan terus memakan lahan untuk mengubur sampah-sampah plastik. Selain itu, kebanyakan kita juga dihinggapi rasa malas untuk memilah-milah sampah, apalagi membuat kedukan sebagai tempat plastik tersebut ditanam. Kalau mampu ya menyewa orang untuk membuatkannya. Namun bagi orang yang tak punya lahan bagaimana? Sedangkan tukang-tukang sampah yang setiap hari memungut atau mengambil sampah-sampah kita juga bukan alternatif pemecahan yang terbaik. Saya pernah berusaha memanfaatkan sampah plastik berupa kantong-kantong atau kresek beraneka jenis dan variasi dengan membuatnya menjadi tali. Plastik-plastik tersebut saya kepang menjadi tali. Menurut perhitungan saya, kalau plastik sulit terurai tentunya tali tersebut akan tahan hingga puluhan tahun. Namun apa kenyataannya? Belum ada 3 bulan ada beberapa plastik yang mengelupas. Lama-lama tali tersebut putus. Untuk itu kita memang dihinggapi dilema. Nggak dimanfaatkan, sampah plastik tersebut akan terus menggunung dan juga sulit diurai. Kalau dimanfaatkan, terkadang hasilnya tidak seperti yang kita harapkan atau kita tak punya banyak waktu untuk itu. Nah untuk ini memang perlu dicarikan jalan keluarnya. Pemerintah sekali lagi juga harus menyisir para pelaku industri.

Para pelaku industri pangan – baik makanan, minuman, dan obat-obatan – seharusnya dalam kemasannya mencantumkan cara-cara mengolah, mendaur, atau menggunakan kembali bungkus-bungkus kemasan mereka. Daripada spes kosong pada label diberi kata-kata atau gambar-gambar yang tak bermanfaat alangkah bijaknya bila dicantumkan gambar-gambar mengolah atau memanfaatkan bungkus plastik yang diproduksi atau digunakan oleh mereka. Selama ini gambar atau kata yang bermanfaat dalam label hanyalah anjuran Keep Clean atau gambar orang yang membuang sampah pada tempatnya. Nyatanya anjuran ini kurang efektif. Perlu dan harus ditambah dengan gambar atau kalimat memanfaatkan bungkus produk mereka. Misalnya saja pada bungkus botol air mineral dicetak gambar pot bunga dari botol-botol produk mereka, atau kreativitas lainnya. Dan juga harus dibuatkan blog yang berisikan tutorial cara memanfaatkan bekas bungkus atau kemasan produk-produk mereka. Jadi konsumen bisa mengaplikasikan cara memanfaatkan sampah tersebut dengan mengklik blog pemanfaatan sampah mereka. Jika setiap perusahaan diharuskan harus punya blog/website satu saja, maka akan ada berapa ide kreasi pemanfaatan sampah yang dapat diaplikasi oleh para konsumen jika perusahaan di Indonesia ini ada beribu-ribu?. Syukur-syukur perusahaan itu juga mau menampung bekas-bekas kemasan maupun hasil kreasi konsumen. Atau minimal menampung sampah-sampah plastik mereka. Memang tentu ada biaya yang tak murah di sana, tapi dibandingkan dengan penumpukan sampah yang terus-terusan menggunung dan juga bagaimana nasib anak cucu kita nantinya yang hanya diwarisi sampah-sampah dan sampah, tentu ongkos itu jauh lebih kecil nilainya.

 

Cup gelas n botol

Kiri: Meski gelas aqua bisa dipakai berulang kali tetap saja kita bingung mau diapain gelas itu. Biasanya pelaku IRT yang banyak memanfaatkannya. Kanan: Botol aqua yang hanya sekali pakai namun banyak dipakai kembali mengingat rentang kegunaannya yang lebih luas dibanding gelas aqua, semisal tukang jamu gendongan dan industri minuman lainnya. Dan space kosongnya lebih afdhol bila diisi dengan cara-cara men-3R-in sampahnya

 

Beberapa saran saya kepada para pelaku industri:

  1. Sebaiknya memang memakai bungkus atau kemasan yang ramah lingkungan, seperti penemuan contong/cup es krim yang bisa dimakan, dan lain-lain contoh. Jepang bisa dijadikan teladan akan hal ini.
  2. Memuat tulisan atau bisa juga berupa gambar yang menginformasikan cara-cara untuk memanfaatkan atau mengolah kembali bungkus atau kemasan mereka.
  3. Membuat blog tutorial memanfaatkan kembali hasil industri mereka. Kalau satu perusahaan saja memuat satu tutorial, maka para konsumen akan mendapatkan beribu-ribu ide kreatif dalam memanfaatkan sampah.
  4. Mengambil ide kreatif dari Aqua. Cara yang ditempuh oleh Aqua dengan plastik galonnya bisa diaplikasi. Jadi perusahaan biskuit besar seperti Khong Guan akan punya kaleng atau wadah biskuit isi ulang seperti yang telah dilakukan Aqua. Jadi produk-produk yang sudah membuat produk isi ulang seperti sabun cair atau shampoo harus diubah lagi caranya menjadi kemasan isi ulang seperti pada Aqua, karena cara yang mereka tempuh selama ini adalah selain memproduksi botol untuk isi ulang, juga membuat produk isi ulangnya pada kemasan plastik yang akhirnya juga menjadi sampah.

Tentunya ada ide-ide lain selain keempat ide di atas yang dapat diaplikasi. Syukur-syukur kalau mau membuat inovasi-inovasi yang ramah lingkungan. Jadi para pelaku industri tidak boleh tutup mata terhadap perputaran kemasan produk mereka. Masalah sampah harus ditangani oleh semua pihak, mulai dari hilir hingga ke hulu yang disokong oleh aturan-aturan pemerintah.

Oh ya artikel tentang sampah juga dapat anda intip di tulisan saya yang lalu.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s