Kearifan Lokal yang Kian Tergerus Zaman: KALENDER JAWA KUNO PRANATA MANGSA (PEDOMAN MUSIM)

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

maculOrang dahulu percaya bahwa alam memberikan tanda-tandanya kepada manusia. Apakah gunung akan meletus atau tanah akan longsor ataukah akan datangnya banjir maupun kejadian-kejadian lainnya. Tanda-tanda alam itu kemudian dingat (dan juga dicatat) dan ditularkan (diwariskan) kepada generasi penerusnya. Begitu juga dengan para petani kita dulu yang menggunakan ilmu falak (perbintangan) untuk memulai suatu tanam atau yang lainnya. Misalnya, apabila rasi Gubug Penceng telah tampak, maka para petani pun memulai masa tanamnya. Begitu juga seterusnya, kapan harus memanen atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sawahnya, selain melihat dari fisik tanaman budidaya mereka, juga melihat tanda-tanda yang diberikan langit. Jadi antara manusia dan alam bersatu padu, berjalan selaras atau yang biasa disebut keselarasan alam. Istilah yang lebih modern hal-hal tersebut dimasukkan ke dalam Kearifan Lokal.

Mereka mencatat tanda-tanda tersebut dalam suatu ensiklopedia yang disebut Primbon yang kemudian diwariskan kepada anak cucu. Namun seiring lajunya zaman dan juga semakin pesatnya iptek, apa yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, kini sudah dianggap kuno. Sudah tidak pada zamannya lagi. Namun kini realitanya, semakin canggih peralatan yang kita miliki, semakin susah juga kita membaca tanda-tanda alam. Contohnya, untuk menetapkan tanggal dimulainya Puasa Ramadhan saja, banyak yang berjibaku mengenai tanggal yang valid. Padahal teleskop yang digunakan untuk melihat bulan sangat canggih. Namun pada kenyataannya, Allah melalui kebesaran alam menunjukkan kebesaranNya itu. Tidak mudah dibaca dan menjadi misteri. Padahal semasa saya kecil dulu, tidak ada crash dalam penetapan awal Ramadhan maupun Syawal, meski dengan peralatan yang sederhana, bahkan dengan mata telanjang dengan menggunakan ilmu perbintangan.

Orang Jawa atau tepatnya para petani Jawa membuat Kalender Pranata Mangsa dengan pedoman matahari. Mereka membagi satu tahun menjadi 12 masa|musim yaitu:

Mangsa Kasa/Kartika atau Musim Pertama|Bintang yang dimulai dari 22 Juni – 1 Agustus (41 hari). Sifat atau karakter dari musim ini adalah welas asih (kasih sayang). Tandanya posisi matahari condong ke selatan, belalang masuk ke dalam tanah, daun-daun berguguran sehingga pepohonan menjadi gundul atau meranggas (ngarang) yang diibaratkan seperti sotya murca ing embanan (permata yang hilang dari cincin pengikatnya).

Mangsa Karo/Pusa atau Musim Kedua (2 Agustus – 24 Agustus, 23 hari). Sifatnya crobo (ceroboh). Tandanya bumi menjadi kering atau tandus (nela), pohon randu dan mangga mulai berbunga, harga pangan mahal atau datangnya musim paceklik yang diibaratkan dengan bantala rengka (tanah|bumi retak atau merekah).

Mangsa Katelu/Manggasri atau Musim Ketiga (25 Agustus – 17 September, 24 hari). Karakternya medhit-njedhidhil (pelit yang sepelit-pelitnya). Tandanya rebung bambu bermunculan, tumbuh-tumbuhan merambat seperti kacang, gadung, gembili, dan lain-lain menjalar pada lanjarannya laksana suta manut ing bapa (anak menurut pada bapak).

Mangsa Kapat/Sitra atau Musim Keempat (18 September – 12 Oktober, 25 hari). Sifatnya resikan (suka kebersihan). Tandanya pohon randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur, hujan sudah datang meski tidak sering sehingga mata air atau sumber-sumber air menggenang ibaratnya seperti waspa kumembeng jroning kalbu (air mata menggenang di dalam kalbu).

Mangsa Kalima/Manggakala atau Musim Kelima (13 Oktober – 8 Nopember, 27 hari). Sifatnya juweh (cerewet). Tandanya pohon asam memunculkan tunas-tunas daun, ulat bermunculan, anai-anai keluar dari sarangnya, sudah mulai sering turun hujan seperti pancuran mas semawur ing jagad (pancuran emas bertebaran di dunia). Para petani mulai menanam palawija seperti kacang tanah, ketela, jagung, dan lain-lain.

Mangsa Kaenem/Naya atau Musim Keenam (9 Nopember – 21 Desember, 43 hari). Sifatnya lantip atine (hatinya peka). Tandanya burung Belibis mulai tampak, hujan mulai banyak dan deras, tumbuh-tumbuhan mulai berbuah yang disamakan dengan rasa mulya kasucen (perasaan mulia dan suci).

Mangsa Kapitu/Palguna atau Musim Ketujuh (22 Desember – 2 Pebruari, 43 hari). Tandanya letak matahari condong ke utara, hujan mengguyur dengan lebat, banyak terjadi banjir dan munculnya hama penyakit. Sifatnya cengkiling (?). Lambangnya wisa kentir ing maruta (racun hanyut (terbang) bersama angin).

Mangsa Kawolu/Wisaka atau Musim Kedelapan (3 Pebruari – 28/29 Pebruari, 26/27 hari). Sifatnya mejana (meremehkan). Tandanya musim kucing kawin dan bulir padi membunting yang ibaratnya seperti anjrah jroning kayun (tersebar dalam harapan|keinginan).

Mangsa Kasanga/Jita atau Musim Kesembilan (1 Maret – 25 Maret, 25 hari). Sifatnya ngecemut (berbicara tanpa ada artinya). Tandanya banyak jengkerik atau garengpung (?) berbunyi. Lambangnya wedharing wacana mulya (tersingkapnya|keluarnya suara yang mulia|indah).

Mangsa Kasapuluh/Srawana atau Musim Kesepuluh (26 Maret – 18 April, 24 hari). Sifatnya cugetan aten (hati gampang tersinggung?). Tandanya hewan peliharaan mulai bunting dan padi menguning. Diibaratkan gedhong minep jroning kalbu (gedung tertutup di dalam kalbu).

tebuMangsa Desta/Padrawana atau Musim Kesebelas (19 April – 11 Mei, 23 hari). Sifatnya calimut (senang mengambil milik orang). Tandanya anak-anak burung mulai menetas dan ingin selalu disuapi oleh induknya yang dilambangkan seperti sotya sinarawedi (permata yang sangat disenanginya).

Mangsa Saddha/Asuji atau Musim Keduabelas (12 Mei – 21 Juni, 41 hari). Sifatnya cukupan (merasa cukup dengan yang ada). Tandanya udara teramat dingin (mbedhidhing) yang digambarkan seperti tirta sah saking sasana (air menghilang dari tempatnya).

Dari kedua belas musim tersebut dapat diringkas menjadi 4 musim, yakni Mangsa Katiga yang terdiri atas Mangsa Karo dan Katelu atau 88 hari, Mangsa Labuh meliputi Mangsa Kapat dan Kalima dengan masa hari 95, Mangsa Rendheng yang merupakan gabungan dari Mangsa Kapitu-Kawolu-Kasanga dengan jumlah hari 94, dan Mangsa Mareng ada 88 hari (Mangsa Kasapuluh-Desa-Saddha). Pengelompokkan masa tersebut dilandaskan pada sedikit dan banyaknya curah hujan.

Namun rupanya Kalender Pranata Mangsa tersebut sekarang ini dianggap tidak sinkron dengan alam. Akibat ulah manusia yang mengakibatkan perubahan cuaca dan iklim yang mendadak atau dengan kata lain alam sudah sangat sulit diprediksi lagi, membuat kalender tersebut sudah tidak dijadikan pedoman lagi. Kini hanya menghuni sejarah. Mungkin saja masih ada yang menggunakannya di tempat-tempat yang terpencil. Memprihatinkan juga ya, karena itu juga merupakan salah satu hasil karya manusia yang melalui proses demi proses dan waktu demi waktu. Keprihatinan akan hilangnya kalender ini sudah muncul sejak hampir 50 tahunan yang lampau, yakni dengan terbitnya catatan dari Bapak Natanael Daldjoeni yang berjudul “Menyelamatkan Penanggalan Pertanian Jawa” pada tahun 1971.

 

Keterangan:

Artikel ini saya alihbahasakan dan sadur dengan bebas dari Majalah Jawa “Jaya Baya” No. 30, Minggu V Maret 2009.

Ada juga blog-blog yang menulis dengan tema yang sama, namun ada perbedaan dalam isinya. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Terserah pembaca saja bagaimana menilainya, apakah sepaham dengan artikel saya ini atau blog lainnya, mangga kersa (suka-suka).

sungai

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s