Rerumputan, Nilainya Lebih Dahsyat Dibanding Penampilannya …

ilalang

Meski diinjak-injak, dia bersegera bangun kembali. Meski badai topan melanda, dia hanya bergoyang-goyang saja, tak tercerabut dari akarnya. Tangguh memang. Begitulah seharusnya karakter yang kita miliki, tak mlempem dilanda badai cobaan dan ujian yang memang tak akan habis-habisnya hingga kita pun menghirup napas yang penghabisan. Bila kita cabut atau sabit, mereka akan tumbuh kembali lebih banyak. Begitulah juga seharusnya kita menghadapi segala musibah atau problema yang menimpa kita dengan memakai berbagai cara dan memilih cara yang terbaik, tak grusa-grusu, sehingga alternatif masalah pun akan dapat kita pecahkan dengan kepala dingin dan hati tentang. Namun sayangnya kita tak pandai memaknai/mengambil pembelajaran dari rumput. Meski kecil tapi tangguh luar biasa. Meski hanya rumput, namun Allah mengabadikan keberadaannya – tentunya dengan segudang makna atau hikmahnya – dalam firmanNya yang tertulis dalam al-Quran:

dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,

lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.

Mayoritas rumput saisnya memang kecil. Seringnya sih kehadirannya dipandang sebelah mata. Padahal sebenarnya dia tak tak seremeh itu. Nyatanya Allah menyebut kehadiran rumput dalam beberapa ayat, selain ayat di atas / surat al-A’la ayat 4 dan 5. Tentunya bukan sekedar kalimat atau firman biasa saja, pasti ada makna atau hikmah yang melatarinya. Memang tak banyak tafsir yang mendalami ayat ke 4 dan 5 tentang rumput ini. Hampir semua tafsir yang saya temukan – dari internet –, memaknainya tidak jauh berbeda, yakni mendasarkan makna dari segi bahasa saja. Ya, memang ada beberapa yang mencoba untuk menafsirkan lebih jauh, namun saya belum menemukan sumber yang membahas tentang tafsir ditinjau dari segi maknawi. Saya juga penasaran apa ada tafsir rumput dilihat dari sudut sains modern. Saat ini, ilmu pengetahuan modern memang telah banyak mengungkap rahasia-rahasia al-Quran yang dulunya tidak pernah terbayangkan oleh para mufasir tradisional/konvensional. Maka dari itu banyak ulama Islam yang juga berprofesi sebagai dokter, ahli sains, dan lain sebagainya berusaha terus mengungkap dan membuka tabir rahasia firman-firman Allah yang belum pernah dituliskan oleh para penafsir terdahulu. Misalnya saja kata zahrah. Kata ini artinya adalah benda terkecil. Sebelum diketemukan atom, mufassirin terdahulu memahami kata ini sebagai ‘sebesar biji jagung’. Kemudian meningkat lagi ke biji yang lebih kecil dibanding jagung, yakni ‘biji sawi’. Dan di era modern ini, atom menjadi benda terkecil yang berhak menyandang kata ‘zahrah’. Dan kelak mungkin saja kata zahrah akan berubah lagi.

khutbah-jumat-motivasi-tobat

dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,

Sejak dulu hingga kini sudah banyak orang yang memahami kemanfaatan rumput. Apalagi dengan teknologi modern, sudah banyak diungkap kandungan zat-zat kimiawi atau nutrisi dari rerumputan. Nenek moyang kita juga sudah banyak menggunakan dan memanfaatkan rumput-rumputan sebagai bahan pengobatan maupun pangan. Beberapa jenis rumput atau tanaman liar berfungsi herbal sudah saya tulis di beberapa postingan lalu. Bahkan reremputan herbal yang merupakan herba endemik juga mendatangkan income dan mengangkat nama negara tersebut di percaturan internasional, seperti Korea yang terkenal dengan ginsengnya yang asalnya adalah tumbuhan liar dengan fungsi herbal serba guna. Tentunya Indonesia dengan kekayaan hayati terbesar kedua sedunia setelah Brazil harusnya juga terkenal seperti Korea dengan rumput-rumput endemiknya. Sedangkan reremputan yang bermanfaat sebagai bahan pangan seperti jewawut, jagung, padi, gandum, maupun yang lainnya telah dibudidayakan manusia dan ditetapkan sebagai makanan pokok di banyak negara, selain pakan hewani. Begitu juga rumput lain yang mempunyai keunikan fungsi seperti tebu yang dapat diolah menjadi gula maupun penyedap makanan lainnya.

Awalnya, rumput memang dipandang sebelah mata, karena mayoritas rumput memang kecil, liar, dan tak berguna bagi manusia dalam hal mendatangkan fulus. Bunga rumput dipandang kalah cantik dibanding bunga anggrek, misalnya. Namun dia tetap punya potensi luar biasa bagi kehidupan manusia dan binatang. Allah menumbuhkan rumput-rumput dan menjadikannya sebagai rizki bagi kita. Rumput seperti makhluk lainnya juga bertasbih dan memuji Allah, tentu saja dengan bahasa mereka yang tidak dapat kita pahami. Semua makhluk mempunya cara-cara tersendiri untuk bertasbih kepada Allah, Zat Maha Pencipta. Selain memuji, mereka juga mendatangkan manfaat kepada makhluk lainnya, terutamanya manusia. Hanya saja, manusia sendiri tak banyak yang pandai untuk menilai rumput.

1157

lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.

Tanaman yang tadinya hijau. Indah dipandang mata. Ranting dan daunnya terlihat gagah dan kencang, kemudian bisa berubah menjadi kering dan berwarna hitam. Hitam yang mengerikan. Tanda kematian. Seharusnya manusia berpikir. Sebagaimana tumbuhan berotasi, ia pun akan mengalaminya. Dari tak berdaya saat menjadi bayi kemudian menjadi gagah ketika berusia remaja dan dewasa. Kemudian, ia juga akan seperti rumput yang mengering dan mati. Ada yang bilang: Bunga rumput sering digunakan untuk menggambarkan betapa singkatnya hidup manusia. Mekar sesaat, cantik sekejap … setelah itu layu, kering dan gugur. Hilang tanpa kenangan, kecuali yang terbanyak berbuat amal dan kebaikan. Nah, apakah anda termasuk yang berpikir?

Banyak rerumputan yang berbunga indah yang dapat kita tanam di kebun kita. Beberapa sudah saya unggah di pos-pos lalu. Selain yang itu, rerumputan lainnya masih banyak yang bisa saya atau kita temukan. Namun karena keterbatasan tempat, tidak semuanya saya tanam di pekarangan rumah. Saya pilih dan pilah yang saya sesuaikan dengan selera saya. Kalau persediaan di alam masih sangat banyak, saya tak membawanya pulang, kecuali yang mampu menarik minat saya, yakni bunga rerumput yang berwarna putih dan biru atau boleh juga yang unik.

Sebenarnya, ‘laporan’ tentang hunting bunga-bunga ungu liar belum selesai. Hal ini terganjal pada ketertarikan saya akan anggrek, hingga beberapa pos yang saya tulis selalu anggrek dan anggrek. Akhirnya saya bertekad untuk menyelesaikan tulisan saya mengenai bunga-bunga berwarna lembayung ini. Dan akhirnya step by step, one by one dapat juga saya lanjutkan tulisan saya tentang bunga liar. Dan kali ini giliran dari Bunga Sangketan dan Sembukan.

 Hi1

Heliotrop India

sangketan2Sekilas bunganya yang tiny berderet-deret dalam tangkai yang mirip tanduk itu berwarna putih, padahal sebenarnya ada gradasi lembayung sangat lembut pada mahkota bunganya. Pada tabungnya terdapat warna kuning. Cantik. Apalagi susunan bunganya yang melingkar memang unik, mengikuti malai/tangkai yang berbentuk seperti buntut tikus, atau hidung gajah atau tampak juga seperti ulat. Bunga liar ini dapat kita temukan di pinggir-pinggir jalan, sawah kering, kebun, semak belukar, dan lain-lain. Mulai pada tanah yang bertekstur liat, tanah subur, bahkan tanah yang miskin hara. Mulai dari dataran rendah hingga menengah. Di jagad binomial terkenal dengan nama Heliotropium indicum L. atau Heliotrop India. Nama-nama yang ada pada daerah-daerah di Indonesia sangat banyak, seperti tanaman buntut tikus, sengketan/sangketan, bandotan lombok, buntut tikus, ekor anjing, tusuk konde, gajahan,  langun, uler-uleran, cocok bero, tlale/tulale/telale gajah, sepulut, basinan, lampesan, gringsingan, jukut bau, selasih hutan, ruku-ruku utan, dan lain-lain.

Herbanya, baik dalam keadaan segar maupun dikeringkan memiliki efek pewarna, anti-rematik, obat sariawan, dan aktifitas relaksan yang berguna untuk mengurangi ketegangan otak dan saraf.Hi2 Bermanfaat untuk menghilangkan gatal-gatal, dan mengobati luka akibat digigit ular berbisa; sedangkan daunnya dapat digunakan untuk mengobati radang rahim. Beberapa penyakit lain yang bisa diobati menggunakan sangketan ini dapat anda temukan di Google Garden.

Saya pernah menanam herba ini, namun karena perkembangannya tidak begitu baik, akhirnya saya cuekin saja, toh di alamnya stock tanaman ini masih melimpah. Mungkin disebabkan saya salah menanamnya di tempat yang berpasir kali ya …. Mungkin lain kali saya akan coba lagi tanam bunga ini, ‘cause keunikannya tidak patut kita cuekin.

Pf

Sembukan (Paederia foetida L.)

Awalnya saya tak tahu kalau bunga sembukan itu ternyata indah. Mahkotanya putih kombinasi ungu berbentuk cincin. Pada tabung bunganya juga ungu. Bunganya berambut. Kalau daunnya kita remas-remas akan berbau tidak sedap. Namun saat dimasak bothok, enak sekali rasanya, meski nanti kalau buang angin, baunya minta ampun. Padahal bau kentut kan normalnya sudah nggak enak, lha ini tambah nggak enak lagi baunya. Tapi biasanya kalau makan bothok sembukan, perut akan terasa lebih lega karena banyak angin yang dibuang, apalagi yang sedang kembung. Namun jangan sembarangan membuang anginnya lho ya …

Sembukan punya banyak nama, antara lain entut-entutan, daun kentut, kahitutan, kasembukan, bintaos, gumi siki, sembukan, atau simbukan sesuai dengan nama daerahnya masing-masing. Tumbuhnya merambat atau membelit dengan panjang batang mampu mencapai ± 10 m. Sembukan yang saya tanam belum seukuran itu. Kalau anda mau, anda dapat hunting tanaman ini di beberapa area, seperti di lapangan terbuka, semak belukar, tebing sungai, gundukan batu. Biasanya orang menanam dengan cara merambatkannya pada pagar bambu atau membiarkannya begitu saja.

Selain sebagai pengobat perut kembung, daun sembukan dapat juga berfungsi herbal untuk penyakit-penyakit lainnya. Biasanya orang yang baru operasi – baik persalinan maupun lainnya – akan mencari tanaman ini agar kembung dan masuk anginya bisa sembuh. Caranya tanaman ini dipotong panjang, kemudian dililitkan pada perut. Jangan dimakan / dibotok, karena kalau yang ini biasanya pihak rumah sakit tidak mengijinkan. Kalau ditempel atau dililit sih saya kira boleh.

pf1

Dan untuk pos ini saya sertakan juga deretan bunga ungu liar lainnya hasil hunting bunga-bunga liar ungu. Maybe next time I write about them, insya Allah.

 

 

Picture 116 Picture 041 Picture 053 Picture 159 Picture 122 Monkey_flower1 220px-Rostellularia_species_in_Talakona_forest_AP_W_IMG_8313 Emilia sonchifolia Foto0199

Sumber diolah dari:

Isyarat Ilahi, Tafsir Juz Amma Ibn Arabi

http://saifulelsaba.wordpress.com/

http://flora-faunaindonesia.blogspot.com/

http://jujujitu.blogspot.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s