Duh… Daun Anggrekku Menguning, Kenapa Ya…?

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
The BPGers
Anggrek yang sehat dan berbunga indah merupakan idaman setiap hobiis. Tak usah banyaklah kuntum bunganya. Untuk sekedar berbunga dengan wajar saja itu sudah merupakan karunia. Namun untuk mewujudkan kondisi seperti itu tidaklah mudah. Berbagai problem senantiasa menghadang, terbanyak adalah serangan hama dan penyakit. Ini merupakan masalah terbesar dan terbanyak yang dialami para habiis. Apalagi sifat anggrek yang super slow dalam hal pertumbuhan maupun perkembangannya, hingga tak mudah bagi kita membaca tengara-tengara yang dikirimkan anggrek kesayangan kita.
Anggrek sama dengan tumbuhan lainnya. Mereka mengirimkan tanda-tanda mengenai kondisi dirinya, apakah sedang kekurangan atau kelebihan air atau apakah sedang diserang penyakit dan hama ataukah sedang ‘mereparasi’ dirinya sendiri atau memperbaiki fungsi faal/fisiologisnya, dan lain-lain. Hanya saja pada tanaman selain anggrek, daun-daun yang menguning karena terserang penyakit akan lebih mudah kita lihat, sehingga tanaman tersebut lebih mudah kita ‘selamatkan’.
Karena setiap perubahan pada anggrek terjadinya super lambat, kita pun berpendapat bahwa anggrek kita sedang baik-baik saja. Mata kita yang memang tak mampu menangkap sinyal-sinyal yang dikirimkan anggrek kita menganggap anggrek kita sehat-sehat saja. Tahu-tahu, saat kita sadar, anggrek kita sudah sekarat, kemudian past away and say good bye deh. Maka tak mengherankan jika banyak anggapan anggrek adalah ‘bunga yang rewel’.
Tanda yang termudah dan nampak jelas ditangkap oleh mata kita – meski sebenarnya prosesnya juga lambat – adalah perubahan pada daun anggrek. Daun yang semula hijau lambat-laun menguning. Inilah yang terbanyak kita alami. Apa ya sebenarnya yang menjadi penyebab menguningnya daun anggrek kita?
Menurut pengamatan saya penyebabnya banyak sekali. Namun untuk mendeteksinya, kita harus melihat kondisi keseluruhannya, baik dari anggreknya sendiri maupun area tumbuhnya. Memeriksa secara rutin/kontroling adalah tindakan pencegahan terbaik. Tidak usahlah setiap hari. Seminggu sekali bergiliran itu sudah bagus sekali. Berikut indikator menguningnya daun anggrek yang mampu saya ketahui dan lazim menyerang anggrek-anggrek kesayangan kita.

Siput-siput imut aneka spesies yang nakal
Pada anggrek yang medianya terdapat siput, daun mana yang akan berwarna kuning tidak dapat kita duga atau prediksi. Tidak serta-merta menguning. Dalam satu batang pun bisa satu daun saja yang berwarna kuning atau lebih. Bisa saja daun ke dua dengan daun ke delapan yang berwarna kuning, yang lainnya masih hijau. Atau bisa juga daun ke satu dan kedua yang berwarna kuning. Biasanya yang menguning dahulu adalah pucuk daun – bukan daun pucuk lho …  – , kemudian terus ke pangkal daun. Ini saya amati dari anggrek koleksi Bulik saya. Saat melihat koleksi anggrek beliau, saya penasaran kenapa daun anggrek ini berwarna kuning, sedang anggrek yang berada di pot-pot lain tak apa-apa. Saya lihat dan amati, olala ada banyak siput kecil yang beredar di situ. Dan tak hanya itu saja, banyak telurnya yang tergeletak di sana-sini dengan jumlah yang banyak. Kalau dibiarkan saja, tak akan berapa lama lagi rombongan siput ini tentu akan berekspansi ke pot yang lainnya. Akhirnya koitlah ya si anggrek. Untuk menguningkan daun, siput-siput tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan. Jadi tindakan kontroling adalah tindakan terbagus yang dapat kita lakukan. Kalau nampak siput barang seekor saja, kita harus membongkar media untuk melihat dalamnya. Kalau siputnya tak nampak, tindakan deteksi dapat kita lakukan minimal enam bulan sekali. Biasanya untuk media pot yang diletakkan di bawah sinar matahari langsung sangat jarang terserang siput ini, kecuali medianya basah terus-menerus – keberadaan media yang berkarakter penyerap airnya terlalu banyak  – ditambah sirkulasi air dan udara yang seret.
Penanganan:
Tentu saja media harus dibongkar. Keseluruhan tanaman harus diamati dan dibersihkan dari siput dan telurnya. Termudah adalah media tanam dan pot direndam air panas. Saya tak tahu bagaimana cara penanganan untuk tanamannya karena terus terang saya belum pernah mengalami yang seperti ini. Kayaknya sih penyebabnya media dan potnya terlalu lembab. Hanya saja, saat saya mencoba membersihkan anggrek koleksi Bulik saya, saya hanya membersihkan batang dan akar di bawah kucuran air kran yang mengalir deras.
Siput sebenarnya tak suka pada tempat yang sirkulasi udaranya sangat lancar dan kering. Anggrek yang ditempel pada pohon atau kayu pada kebun saya tak ada yang terserang siput-siput dwarf ini. Mudah-mudahan untuk seterusnya juga g terserang. Dan sekali lagi, media pohon, kayu atau papan memang sangat cocok bagi anggrek agar tak terserang siput-siput imut ini.
Pencegahan:
Kontrol rutin. Kalau mau anda bisa rendam dahulu media – pot maupun tanam – dengan air panas. Boleh juga menggodoknya. Namun saya tak pernah melakukan 2 cara ini karena saya pikir kok ribet banget, wong di alamnya saja anggrek menempel di media apapun. Kalau anggrek keadaannya sehat, dia mempunyai cara kerja tersendiri untuk mengusir hama dan penyakit yang tidak kita ketahui.
Tanam pada media kayu. Kalau bisa, tanam anggrek pada media pohon atau potongan kayu atau pohon palsu atau papan pakis – pokoknya yang bukan bermedia pot atau wadah –
Siram sekedarnya. Jika media tanam bersifat penyerap air dan penahan penguapan, siram anggrek sekedarnya saja tidak usah berbasah-basah/berlimpah-limpah. Kebutuhan anggrek akan air sebenarnya sedikit, namun kelembabanlah yang selalu dijaga. Caranya bisa mengintip pada tulisan saya yang lain.
Menggantung media pot. Jika ditanam pada pot, hindari meletakkannya pada tempat yang bawahnya tidak mempunyai rongga atau lubang, seperti tanah, rak papan, pagar (atau tembok) dan lain-lain. Usahakan pot digantung agar aerasi dan drainase lancar.
Dan lain-lain. Bisa anda intip pada blog-blog anggrek lainnya.

Tungau-tungau dan kutu daun yang super imut
Ukurannya memang minimalis banget, kuecil se-x, hingga keberadaannya pun sering luput dari pengamatan mata kita. Anggrek yang terserang tungau-tungau ini daunnya yang berwarna kuning dahulu adalah yang paling atas atau yang paling muda. Lama-lama daun yang berada di bawahnya pun juga akan menguning.
Jenis tungau lainnya ada yang menyerang sembarang daun. Daun yang terserang akan nampak berbintik-bintik coklat – warna dari tungau ini –. Kalau bintik tersebut kita korek dengan kuku atau benda tajam lainnya akan nampak bekas di bawahnya. Lama-lama daun akan berbintik-bintik kuning karena dihisap sarinya oleh sang kutu. Saya tak tahu pasti apakah hama yang menyerang ini termasuk tungau ataukah siput. Yang jelas dia memang sangat sulit dilepas dari tempat menempelnya.
Penanganan: gunting daun atau tunas yang terserang. Segera buang guntingan daun tersebut sejauh-jauhnya. Rekomendasi terbaik yang saya baca adalah dengan membakar potongan daun dan tunas yang menguning itu.
Pencegahan: kontrol rutin.

Jasad mikro
Termasuk bakteri, jamur, dan virus. Saya tak tahu pasti yang mana menyebabkan yang mana. Daun anggrek yang terserang ketiga makhluk mikro ini biasanya berwarna kuning, namun tidak menyeluruh, mirip pola polkadot atau bahasa Jawanya plenok-plenok. Warna kuningnya bila kita amati nampak tenggelam/di dalam daun atau tidak timbul seperti kasus-kasus di atas. Biasanya daun yang nampak seperti ini adalah daun tua. Adapun daun yang masih muda sekali/tunas bila terserang biasanya akan menguning seluruhnya.
Penanganan: gunting daun.atau tunas yang terserang. Buang jauh-jauh atau bakar.
Pencegahan: kontrol rutin.

Terbakar
Mayoritas pada kasus daun terbakar yang mula-mula berwarna kuning adalah bagian yang terkena sinar matahari terbanyak. Bisa saja hanya bagian dari satu daun saja yang terbakar atau malah seluruh daun pada tanaman, tergantung pada besarnya kemampuan si daun dalam menerima intensitas sinar. Setelah itu, daun yang berwarna kuning tadi perlahan-lahan akan berubah coklat dan kering yang akan meluas ke seluruh daun atau tanaman tergantung pada gejalanya.
Anggrek yang berada di bawah sinar matahari langsung memang akan mudah terbakar, apalagi untuk jenis anggrek yang memang menyukai keteduhan seperti jenis Phal, Bulbo, atau yang lainnya. Biasanya yang berwarna kuning dahulu adalah bagian atas lengkung daun. Namun itu tidak bisa dijadikan patokan yang pasti. Pada anggrek yang toleran terhadap keterikan seperti Dendro, Kalajengking, dan lain-lain, awalnya daun akan berwarna hijau kekuning-kuningan. Pada anggrek berbunga ungu akan tampak guratan warna ungu atau kemerahan pada daun dan batangnya bila kita letakkan di tempat yang panas. Artinya selain sebagai patokan bahwwa bunganya berwarna atau kombinasi ungu, juga sebagai tengara bahwa anggrek masih mampu menerima keterikan. Namun apabila daunnya berubah menjadi kecoklatan dan kering, segera pindah ke tempat yang lebih rendah intensitas sinarnya.
Penanganan: anggrek diletakkan pada tempat yang teduh atau dialihkan ke tempat yang lebih rendah sinar mataharinya sesuai dengan karakter si anggrek.

Masa adaptasi
Daun menguning dalam masa adaptasi adalah hal yang wajar, karena fungsi fisiologis tanaman juga terganggu hingga pasokan nutrisi pada daun dan seluruh batang pun kurang dari batas kenormalan. Pangkal daun atau bagian daun terbawah yang akan menguning dahulu, kemudian menjalar ke atasnya. Perubahan itu akan terus berlangsung selama si anggrek belum mencapai kondisi terbaiknya. Biasanya anggrek yang mengalami hal seperti ini adalah anggrek:
Yang di stek atau dipisah dari indukannya dengan kondisi tanpa akar
Tidak fit. Ada dua kemungkinan anggrek yang kita pindah saat tidak fit, yakni mampu melanjutkan kehidupannya atau mati. Prosentase terjadinya kematian lebih besar dibanding survivenya kalau kita tak dapat menanganinya.
Terlalu kecil sudah dipisah dari indukannya
Yang tidak berada pada tempat yang disukainya
Yang terlalu ekstrem kondisi perpindahannya atau dapat juga disebabkan ekstremnya perlakuan kita dibandingkan kondisi sebelumnya. Contohnya adalah pengalaman saya. Saya pernah meminta Anggrek Vanda dari mertua. Selama di sana anggrek tak pernah disiram dan terpapar matahari yang terik. Karena kasihan melihat anggrek yang kering dan terserang penyakit pada daunnya, saya pun meminta satu rumpun berisi satu batang dengan dua tunas anakan. Saya perlakukan dengan rutin menyiram. Tak tahunya pangkal kedua tunas berwarna kuning dan akhirnya menghitam. Saat disentuh tunas tersebut, jatuh atau rontok. Seharusnya, saya tak terlalu ekstrem meletakkan di tempat teduh setelah sekian lama anggrek berada di tempat yang terpapar matahari. Juga penyiraman dengan cara dispray dengan vol air sedikit saja, kemudian terus meningkat dengan tenggang waktu yang lama. Artinya anggrek di spray dengan vol air sedikit hanya sekali saja selama seminggu. Kemudian volume spray airnya bisa diperbesar namun tenggang waktunya diperkecil atau dipersempit sampai tercapai anggrek dalam kondisi terbaiknya.
Penanganan: biarkan saja atau rubah perlakuan secara bertahap.
Pencegahan: Melaksanakan perlakuan yang berlawanan dari faktor-faktor penyebab daun menguning pada masa adaptasi seperti pada kalimat-kalimat yang bertulis miring.

Tua
Sama seperti tumbuhan lainnya. Wajar. Pada daun yang tua warna kuningnya akan dimulai pada pucuk daun yang kemudian perlahan-lahan menjalar ke bagian bawah hingga mencapai pangkal daun. Daun terbawah pada batang yang akan berwarna kuning dahulu, kemudian menjalar ke daun atasnya.menguning mencoklat karena sudah tua

Over dosis pupuk
Gejalanya mirip pada kasus daun yang sudah tua atau terbakar sinar matahari. Namun ketiganya mempunyai perbedaan dalam kronologisnya. Silahkan dicek pada masing-masing kasus. Pada kasus pupuk lebih, daun akan segera berwarna kuning dengan sangat cepat, yang akhirnya akan rontok. Bila keburu ketahuan, segera ganti medianya atau siram banyak dan sering agar pupuk segera terbuang. Atau kalau anda merasa eman-eman, media yang kelebihan pupuk tadi dapat anda bagi menjadi beberapa bagian untuk digunakan pada anggrek atau tanaman hias lainnya dengan terlebih dahulu mencampur dengan media tanam baru.

Musim Kemarau Panjang
Lingkungan yang menjadi kering dan berdebu mempengaruhi pertumbuhan tanaman anggrek, daun jadi kuning, lalu rontok.
Penanganan: menjaga kelembaban.
Pencegahan: hindari mensplit, memisah rumpun atau anakan atau menstek di bulan-bulan yang sangat kering / September – Oktober atau tergantung musim. Kalau memang harus/terpaksa melakukan hal tersebut, letakkan anggrek di tempat teduh, meski termasuk suka panas. Baru bila anggrek sudah stabil dalam artian telah tumbuh akar dan daun atau tunas, dapat dipindah ke tempat yang sesuai.

Selain kasus-kasus di atas, kasus berikut juga menyebabkan daun menguning, namun prosesnya super-super lambat, yakni berbulan-bulan. Anggrek yang dehidrasi atau kekurangan air – biasanya baru dipindah atau tidak disiram dalam jangka waktu berbulan-bulan – daunnya akan menguning/kering disertai kerutan/keriput batang. Pada kasus media yang terlalu kering, juga bisa menyebabkan daun menguning. Namun saya ingatkan sekali lagi, proses menguningnya daun sangat lama sekali, berbulan-bulan hingga ½ tahun. Di alamnya sendiri anggrek selama 6 bulan atau lebih akan mengalami kekeringan untuk kemudian bertunas dan berkembang pada musim penghujan.
Saya kira kasus yang lainnya juga banyak ya. Untuk itu saya mengajak anda untuk berbagi pengalaman, komentar, atau ‘perbaikan’  tulisan saya di atas karena saya hanya mendasarkan pada pengamatan dan pengalaman. Jadi bisa saja pengalaman anda berbeda dengan saya, untuk itu anda tak harus mengikuti cara-cara saya di atas.
Akhir kata, tindakan kontroling secara berkala merupakan tindakan yang paling baik. Meski kita mengikuti aturan-aturan perawatan yang ditulis para pakar anggrek, tak ada salahnya kita melakukan perlakuan sendiri karena tak semua tanaman atau anggrek kita itu cocok dengan aturan yang ditulis oleh para pakar. Jika anggrek atau tanaman hias anda baik-baik saja dengan perlakuan anda meski tak mengikuti aturan, ya itu sih sah-sah saja dan tetap boleh diteruskan.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s