Serial Bunga Kebanggaan Anak Negeri: Anggrek-anggrek Kurcaci Javanica

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para Tukang Kebun BP

“Hewan langka itu untuk dilindungi bukan untuk dimiliki”

Itulah kalimat bijak dari sang host, Sarah Sechan. Dan menurut saya bukan hanya hewan langka saja ya yang tidak untuk dimiliki, namun termasuk juga tumbuhan / flora langka Indonesia. Melindungi disini yang paling mudah bagi kita adalah membiarkan mereka hidup alami dalam habitat aslinya atau alamnya. Artinya kita tidak usah ikut-ikutan hunting kalau hanya akan mengambil mereka dari alamnya. Dan yang kedua adalah tidak membeli mereka pada pemburu atau pencabut dari alam. Kata Sarah lebih lanjut, dengan tidak membeli mereka – yang berasal dari hutan tersebut – berarti anda telah membantu penstopan eksplorasi liar/illegal terhadap mereka. Sungguh suatu pukulan/godaan yang sangat menyakitkan bagi nafsu memiliki kita ya? Ya, siapa yang tak ingin memiliki flora cantik atau fauna unik yang langka? Merupakan suatu kebanggaan bagi kita memiliki flora atau fauna langka, karena akan mengundang decak kagum bagi para kolektor lainnya. Apalagi kalau ada yang nawar koleksi kita itu dengan harga fantastis. Namun apapun itu, godaan nafsu harus kita perangi, karena kekayaan alam yang ada sekarang ini merupakan titipan anak cucu kita. Apakah kita tega melihat anak cucu kita menghisap jarinya karena kekayaan mereka telah kita rampas?

Sarah Sechan dalam salah satu sessionnya menayangkan video tentang penangkapan burung Nuri Talaud dari Papua. Meski memakai cara tradisional yakni dengan dipulut/pulutan, namun tampak dalam tayangan tersebut burung-burung sangat menderita. Kaki, badan, dan bulunya penuh getah pulut, apalagi paruhnya yang berusaha mematuk-matuk apapun untuk membebaskan dirinya dari jeretan pulut juga tak kurang banyaknya getah yang masuk ke dalam mulutnya. Belum selesai penderitaannya, saat tertangkap sang pemburu pun mencabuti sebagian bulu-bulunya yang tentunya masih sehat dan kuat itu agar sang burung tak bisa terbang lagi, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Tak terkira mungkin ya kesakitannya. Kemudian burung-burung tersebut dibawa pulang dan dimasukkan ke dalam kandang. Meski penangkapan tradisional, namun tetap saja jumlah burung di alamnya akan jauh berkurang karena kecepatan beranak-pinak sang burung tidak sebanding dengan penangkapannya. Coba anda bayangkan kalau tiga hari saja pukul rata sang penjebak mendapat satu burung, tentu dalam satu bulannya akan didapatkan 10 burung. Itu masih satu orang hunter saja lho. Kalau 10 hunter? Berapa jumlah burung yang terkena? Dan informasi  yang dibacakan Sarah kian membuat kita miris karena kini dalam radius 10 km hanya ditemukan burung cendrawasih sebanyak 3 – 5 ekor, padahal tahun-tahun sebelumnya masih dalam kisaran 15 ekor. Padahal jenis Cendrawasih itu kan banyak, lalu jenis mana yang hilang? Sungguh betapa tragisnya kehidupan biodiversitas kita ya?

Hampir setiap saat kita mendengar atau disuguhi berita-berita tentang semakin langkanya dan semakin susahnya menemukan spesies-spesies milik bangsa ini, baik flora maupun faunanya. Flora langka masih mendapatkan nafasnya meski dengan tersengal-sengal, sebab mereka mampu berkembang biak dengan generatif melalui biji-bijinya yang begitu banyak. Mampu juga berkembang biak secara vegetatif. Apalagi kini telah ditemukan metode kultur jaringan, yang mana flora dapat diperbanyak melalui irisan-irisan dari bagian tanaman, maka semakin panjanglah nafas flora langka kita. Berbeda dengan fauna, yang hanya berkembang biak melalui satu cara saja yakni perkembangbiakan generatif melalui beranak atau bertelur yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah jari tangan kita, meski hanya sebelah saja. Walaupun sudah ditemukan metode canggih cloning, namun saya belum pernah dengar cara itu digunakan untuk hewan langka. Dan juga meski kedua metode tersebut kedengarannya tampak hebat, namun kelemahannya juga ada. Kabarnya kalau nggak salah ingat, flora hasil kultur jaringan tidak mampu berkembang biak secara generatif. Sedangkan pada hewan hasil cloning tak mampu berkembangbiak secara alamiah, dalam artian alat dan sistem perkembangbiakannya tidak berfungsi dengan normal.

Oh ya … untuk Serial Bunga Kebanggaan Anak Negeri, mengingat begitu kayanya jenis flora yang kita miliki dan juga bertaburannya blog-blog anggrek, maka untuk kini dan post-post selanjutnya saya tak akan membahas flora kebanggaan anak negeri dengan mendetail. Hanya akan memuat nama, gambar, dan mungkin juga keterangan seperlunya saja. Dan mungkin juga beberapa jenis saya rangkap jadi satu post, bisa dari genus yang sama atau berbeda. Bisa pula dari satu pulau atau berbeda. Manasuka. Jadi post-post saya tujuannya hanya untuk mengingatkan kembali saja mengenai kekayaan flora – kalau perlu juga fauna – kita yang kian lama kian tak tentu nasibnya di habitat alamiahnya/in-situ.

Dan pada post ini saya tampilkan 3 jenis anggrek yang saya rasa tak disukai para hobiis anggrek hibrida, karena ketiganya memiliki bunga yang mungil. Namun karena itu termasuk kekayaan kita, sepatutnyalah kita menjaga dan melestarikannya. Dan ketiganya telah ada yang menjualnya secara OL. Tentunya dari hasil budidaya.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Acriopsis javanica / Anggrek Bawang

ajMaksud nama javanica artinya bukan endemik/berasal dari Jawa, namun spesimen yang diambil saat penamaan binomialnya berasal dari Jawa. Dan anggrek ini juga tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Filipina, Malaysia, Thailand dan Australia Utara. Nama sinonim terakhir yakni Acriopsis liliifolia yang terbit pada tahun 2001. Acriopsis berarti berbentuk seperti Acrididae (belalang) – bila dilihat dari samping –. Sedang liliifolia karena bentuk daunnya lanset (sempit memanjang) seperti daun bunga Lili berukuran kecil. Anggrek mungil ini bila tampak depan saat mekar akan membentuk susunan seperti tanda “+”. Jadi menurut saya nama terakhir ini lebih tepat, biar tidak membingungkan.

 

 

Chiloschista javanica / Anggrek Akar

 cj

Berhabitatendemik?di Jawa Timur. Sulit dipelihara dan jarang berbunga. Hanya memiliki akar saja. Disebut juga Anggrek Hantu. Dan ada pula yang nyebut Leafless Orchird, namun bukan jenis anggrek saprofit.

 

Luisia javanica

ljTak banyak informasi yang saya peroleh dari Google Garden. Kemungkinan besar sih saya tak tepat menebar jenis pupuknya. Hanya saja Mbah Wiki menulis genus Luisia tersebar di Asia tropis, India dan sekitarnya, China, Jepang, Malaysia, Philipina, Australia, Mikronesia dan Melanesia. Beberapa jenis dari genus ini digunakan sebagai indukan anggrek hibrid.

Referensi:

http://www.blogger.com/profile/10852541192531838473

Catatan:

Untuk meminimalisir eksplorasi liar di alamnya, beberapa sumber tidak saya tuliskan dalam referensi karena sumber tersebut secara jelas menulis nama habitat dari flora kebanggaan kita. Mohon dima’af dan dimaklum bagi pemilik blog yang tidak rela apabila tidak dicantumkan namanya. Terima kasih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s