Aku Cinta Anggrek Indonesia: Acriopsis liliifolia var. liliifolia, si Anggrek Bawang yang Berpotensi sebagai Obat Malaria

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

7

Populasi di habitat alamiahnya masih melimpah. Mudahnya berkembang biak, daya tahannya yang luar biasa terhadap perubahan kondisi lingkungan atau kemampuan adaptasinya yang tinggi, serta tidak pilih-pilih pohon inang sebagai tempat menempelnya merupakan beberapa faktor penyebab anggrek ini bertahan di alam liar. Apalagi ukuran habitusnya yang relatif kecil menjadikannya terluput dari perburuan anggrek. Bahkan dalam keadaan berbunga sekali pun anggrek ini tersamar dari perhatian. Kombinasi warna bunganya yang tidak semarak (kuning dan ungu buram) nampak tersamar di antara rindangnya pepohonan. Meski jumlah kuntumnya sangat banyak (puluhan hingga ratusan), namun bunganya yang kecil-kecil tak mampu mencuri perhatian para pemburu anggrek. Apalagi tampilannya juga tidak mirip kebanyakan anggrek epifit. Daunnya yang mirip daun lily, dan juga akar serabutnya yang ‘ruwet’ menjadikan tampilan habitusnya menjadi sulit dibedakan dengan tumbuh-tumbuhan epifit lainnya.
8ETIMOLOGI

Sebelumnya anggrek ini termasyhur dengan nama Acriopsis javanica Reinw. ex Blume yang mana spesimen saat penamaan diambil dari Jawa.

Dari bentuk daunnya yang mirip daun lily/bakung atau seperti pita memanjang, anggrek ini sering disebut The Lily-Like Leaf Acriopsis yang artinya sama dengan Acriopsis liliifolia, yang akhirnya menjadi nama binomial terbarunya. Maka dari itu nama Acriopsis javanica sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 2001.

Dari bentuk bunganya, para ahli binomial menamakan Acriopsis asal kata Acrididae (belalang, Greek). Koenig 1791 memberi nama binomial Epidendrum liliifolium karena bentuk bunganya mirip simbol +, bentuk yang umum dipunyai oleh genus Epidendrum.

Di Brunei anggrek ini disebut Kambang Satahun. Sementara orang Malaysia menamakannya Anggerek Darat, Sakat Bawang atau Sakat Ubat Kepialu.

Di Indonesia anggrek ini sering disebut dengan Anggrek Bawang karena bentuk bulbnya mirip dan seukuran umbi bawang. Namun, pada kenyataannya nama Anggrek Bawang tidak hanya ditujukan pada anggrek ini saja, namun juga untuk anggrek Acriopsis lainnya. Di beberapa daerah juga mendapatkan namanya sendiri, seperti Ki Plengpeng (Sunda), Tongkil-tongkil (Batak), dan Bosur-bosur Hau (Sumatra).

SINONIM

  • Acriopsis annamica
  • Acriopsis crispa
  • Acriopsis floribunda
  • Acriopsis griffithii
  • Acriopsis harae
  • Acriopsis insulari-silvatica
  • Acriopsis javanica
  • Acriopsis javanica var. auriculata
  • Acriopsis javanica var. floribunda
  • Acriopsis liliifolia var. auriculata
  • Acriopsis picta
  • Acriopsis nelsoniana
  • Acriopsis papuana
  • Acriopsis philippinensis
  • Acriopsis picta
  • Acriopsis sumatrana
  • Spathoglottis trivalvis

 

11PERSEBARAN

Thailand, Vietnam, Myanmar, Philipina, Malaysia, wilayah Indonesia lainnya (Borneo, Sulawesi, Papua), Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, dan Australia bagian utara (Cape York Peninsula).

TIPE TUMBUH

Pseudobulb epiphyte atau tumbuhan epifit.

HABITAT

Berada di hutan-hutan primer maupun sekunder dengan kondisi setengah ternaung hingga terbuka (terkena sinar langsung) pada daerah yang panas hingga hangat (dataran rendah hingga menengah atau mencapai 1600 mdpl) yang kelembabannya terjaga. Tidak memiliki karakteristik tertentu terhadap kulit pohon inangnya, apakah yang bertekstur kasar (pecah-pecah) atau tidak. BPG menjumpai anggrek ini menempel pada pohon Pinus dan sejenis Lamtoro yang keduanya memiliki karakteristik kulit pohon yang jauh berbeda. Ketinggian menempel dari permukaan tanah juga sangat rendah, tidak sampai dari separuh tinggi pohon inangnya. Bahkan anggrek ini juga mampu tumbuh dengan baik pada ketinggian 1 m dari atas tanah.

1

BUNGA

Berukuran mungil ± 1 cm bahkan kurang (diameter terlebar 2 cm) dengan kombinasi warna yang tidak ngejreng (ungu dan kuning buram) sehingga tersamar di antara keteduhan dan pepohonan. Malainya bercabang-cabang yang menyangga bunga sekitar puluhan hingga 200 kuntum. Lama berbunga ± 15 – 18 hari, mekar dan rontok bergantian. Kalau menurut saya bentuk bunga seperti ular yang sedang mengangakan mulutnya dengan memakai topi laksana topi dalam film-film silat Mandarin.
5

DAUN

Jumlah daun per bulb antara 2 – 3 helai yang panjangnya dapat mencapai 15 cm dengan lebar sekitar 1 cm. Menurut referensi jumlah daun dapat mencapai 4 helai/bulb yang panjangnya 25 cm dan lebar 1,5 cm. Daunnya memang tipis namun relatif kaku (tegak), dengan ujung agak melengkung.

4

PSEUDOBULB

Bulb bulat telur (ovate) dan beralur (node) 5 – 7. Panjang bulb sekitar 5 cm dan lebar 2 cm. Menggerombol membentuk rumpun. Dari pangkal bulb inilah tempat keluarnya malai.

AKAR

Kecil-kecil, serabut/bercabang-cabang khas anggrek simpodial, berwarna kekuningan berujung putih. Dengan warna akar seperti itu, anggrek ini mampu menerima sinar langsung. Agar tumbuh baik letakkan pada tempat yang terang dengan sinar yang menerobos atau bisa juga terkena meski sinar beberapa jam.

9

SIMBIOSIS

Sering dijumpai berhubungan dengan semut, karenanya anggrek ini juga sering dijumpai menempel dalam satu rumpun dengan tumbuh-tumbuhan epifit yang juga bersimbiosis dengan semut, semisal Dischidia atau Dischidopsis.

8

PROSPEK BUDIDAYA DAN PENGOBATAN

Mampu berbunga dan berbuah sepanjang tahun atau tidak mengenal musim. Selain mudah dibudidayakan sebagai anggrek hias, plantnya juga berpotensi sebagai obat herbal (medicinal plant). Beberapa literatur menyatakan anggrek ini digunakan untuk penyakit malaria. Namun sayangnya kandungan kimiawi anggrek ini belum banyak diketahui. Salah satu zat kimiawi yang dikandungnya adalah alkaloid.

 

 

 

 

 

in situ

Masih bisa dijumpai pada habitat alamiahnya

Catatan yang nggak penting:

Yang punya kamera bagus saja mengeluh susahnya memotret bunga ini dengan baik karena ukurannya yang kecil serta warnanya yang tidak ramah kamera, apalagi menggunakan kamera Hp seperti pada gambar-gambar ini.

10

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s