Ajeran dan Kupu-kupu Gagak Hitam Putih Euploea core

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kita tahu tumbuhan Widuri itu mempunyai getah beracun. Kita tahu juga kalau Nerium oleander|bunga Mentega menjadi the top ten of poisonous plant in the world. Namun kita juga tahu jika Allah sudah berkehendak atas sesuatu, pasti akan terjadi, walau di luar jangkauan nalar manusia. Nah tumbuhan-tumbuhan yang beracun itu Allah menjadikannya tawar bahkan makanan favorit dari larvanya kupu-kupu Gagak dan kupu-kupu Monarki. Genus Euploea bersama Genus Danaus menjadikan Milkweed|Rumput Getah dan tumbuhan beracun lainnya sebagai tanaman inang utama bagi larva-larva mereka. Namun karena populasi tumbuhan beracun tersebut sudah jauh berkurang, maka populasi dua genus ini pun juga berkurang. Widuri, salah satu dari Milkweed yang ada di negeri kita ini populasinya di alam juga memprihatinkan. Saya menemukan Widuri hanya di beberapa spot saja, itu pun tidak sampai merumpun. Satu spot terdiri dari 1 – 2 tumbuhan saja. Beberapa alasan orang tidak menanam Widuri karena daunnya memang fave ulat. Selain beracun juga manfaatnya belum tereksplor.

gagak1

Nama Binomial dan Tampangnya:

Euploea core

The Crow Butterfly|Kupu-kupu Gagak|Kupu-kupu Gagak Inti|The Common Crow Butterfly|Oleander Butterfly

Diskripsi secara umum:

Taksiran lebar sayap 7 – 8 cm. Tampilan sayap dan warnanya serupa dengan jenis Kupu-kupu Gagak lainnya, dominan hitam kecoklatan. Terkadang ditemukan juga warna sayap yang memutih|kusam. Perbedaan ada pada corak sayap. Warna pola pada sayap semua putih. Beberapa di antaranya memang ada yang bersemu biru atau bahkan terdapat warna biru. Dan kupu-kupu Gagak ini tak memiliki warna biru sama sekali. Strip putih|margin sayap bawah pada kupu-kupu jantan sedikit melengkung, sedang betina lurus.

Model terbang:
Kecepatan sedang cenderung lambat dan lebih sering hinggap.

Tumbuhan inang:

Widuri dan Milkweeds lainnya (Asclepias spp), Streblus asper, Beringin-beringinan|Ficus sp. (benjamina dan hampir semua jenis tergantung persebarannya), Nerium (odoratum, oleander, indicum), Brachystelma glabriflorumCeropegia cumingiana, Ichnocarpus frutescens, Toxocarpus wightianus, Morinda spp., Girionniera reticulata, Allemanda sp., Carissa ovata, Holarrhena antidysenterica, Mandevilla sp., familia Moraceae, Chilean Jasmine|Mandevillea laxa, Stephanotis spp, Melati Jepang/Cina|Trachelospermum jasminoides

Tumbuhan pangan:
Ajeran (Bidens pilosa), Lantana camara, Rumput Pecut Ekor Kuda|The Snakeweed (Stachytarpheta indica), Muntinga calabura(Cherry Tree|Talok|Kersen), Chilean Jasmine|Mandevillea laxa, Stephanotis spp, Melati Jepang/Cina|Trachelospermum jasminoides, Widuri dan Milkweeds lainnya (Asclepias spp).

Level jepret:

Easy. Karena jarang berjumpa pada spot Ajeran, so, tak banyak file yang saya dapat.

Habitat:

Mungkin jarangnya saya menjumpai kupu-kupu Gagak ini dikarenakan mereka memang lebih menyukai area tertutup dengan banyak vegetasi pepohonan. Dan saat saya menjepretnya di padang terbuka, mungkin mereka sedang melakukan perjalanan menuju tempat yang disukainya. Meski tinggal pada habitat tertutup tapi ada yang melaporkan kalau jumlahnya memang sudah sedikit. Maka perlu mendapat perhatian yang lebih agar keberadaannya tetap terus terjaga.

Populasi:

Jarang|sedikit. Kupu-kupu Gagak yang saya temukan ini populasinya lebih rendah dibanding Euploea mulciber (Kupu-Kupu Gagak Bergaris) yang belum pernah saya temui. Kalau dibiarkan saja, dikhawatirkan kupu-kupu ini populasinya akan kian terancam. Ups … jangan sampai dech …. Namun fakta-fakta di lapangan memang sudah mengarah ke sana lho, apalagi kuantitas tumbuhan inangnya juga semakin berkurang.

Keistimewaan:

Mengeluarkan bau yang kuat sebagai penanda bahwa dia beracun agar para predator tidak memangsanya. Namun tidak semua predator menjauhinya seperti laba-laba, capung, lalat, tawon|tabuhan serta beberapa jenis burung tawar terhadap racun tersebut.

gagak

Kemiripan spesies:

Sesama anggota genus.

 

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Penghias-Penghias Taman Gratisan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Paku pakis liar kian lama kian naik pamornya. Meski termasuk tumbuhan liar bahkan cenderung gulma, namun pesonanya tak kalah dengan tanaman hias maupun paku pakis hias lainnya. Karena itu sudah banyak hotel-hotel, rumah makan/kafe, dan taman-taman kota mulai melirik tanaman hias daun ini, salah satunya adalah Taman Menteng. Tumbuhan liar ini juga menghiasi lokasi suting acara-acara televisi, baik sinetron, bincang-bincang, maupun acara-acara lain. SCTV lah yang banyak menanyangkan dalam program-program mereka. Beberapa stand penjual bunga di tempat saya juga mulai menyediakannya. Namun kalau anda mau meluangkan sedikit waktu dan tenaga, anda dapat memperolehnya secara gratisan, karena dapat ditemukan dimana-mana. tak dilepa
Ya memang, maksud penghias-penghias taman gratisan seperti judul artikel adalah paku pakis liar. Keindahan dan kecantikannya ada pada daunnya, yang terkadang unik bentuknya. Bagi pecinta tanaman hias sejati, tak ada bunga yang tak indah, tak ada tumbuhan yang tak mempesona. Semua akan dicintai dengan sepenuh hati, meski diperoleh secara gratis. Hampir di setiap sudut area yang lembab dapat kita temukan tumbuhan ini. Selain itu, paku pakis juga masih sulit untuk diperdagangkan kecuali jenis tertentu. Alasannya, ya karena ketersediaan di alam masih melimpah ruah, walaupun beberapa teman-teman blogger mengatakan pada beberapa tempat sudah mulai berkurang banyak, baik kuantitas/jumlah apalagi kualitas/jenis-nya. saluran air
Kelompok paku pakis ini mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai tanaman lainnya. Selain jenisnya yang sangat beragam, habitat dan tempat tumbuhnya pun berbeda-beda, mulai yang hidup di tanah (bersifat terestrial), air (hidrofit), dan udara (epifit). Paku pakis hidrofit pun terbagi untuk jenis yang mengapung atau tumbuh di bawah air/underwater. Karena itu paku pakis sangat mudah kita temukan. Hampir di setiap area dapat kita jumpai paku pakis. Ada yang tumbuh di celah-celah bebatuan / rekahan (litofit), tepi sungai/saluran air dan tempat-tempat yang lembap (higrofit), pada tumpukan sampah dan sisa tumbuhan maupun hewan (saprofit), pepohonan, sudut/celah/rekahan tembok/bangunan hingga tempat-tempat yang berlumut. Pokoknya hampir di setiap tipe tempat dapat kita temukan paku pakis meski barang 1 atawa dua jenis. Bahkan, paku pakis mampu tumbuh di tempat-tempat yang  cadangan tanahnya sedikit atau hanya sekumpulan debu saja, seperti di atas tembok atau celah-celah bebatuan.sudut Hebatnya, beberapa jenis paku epifit atau litofit mampu juga hidup bermedia tanah, atau sebaliknya. Contohnya Paku Sarang Burung. Bahkan Java Vern mampu hidup di air maupun di darat. Karena ukurannya yang relatif kecil dan pendek, si paku asli Jawa ini cocok sebagai penghias akuarium atau terarium.
Sebagai penghias taman, paku pakis dapat dijadikan sebagai tanaman pagar atau sebagai tanaman gardening bertema hutan-hutan tropis – apalagi bila dipadupadankan dengan anggrek – akan wow … jadinya. Paku pakis juga memberi kesan teduh karena memang menyukai kelembaban. Untuk paku pakis hidrofit dapat kita gunakan pada kolam, bejana maupun akuarium. Karena variannya sangat buuuaaanyak, kita pun punya alternatif pilihan yang banyak pula tergantung yang kita maui. Terkadang kita pun tak menyangka antara paku satu dengan paku yang lain ternyata masih sodaraan karena dilihat dari struktur bagian tanamannya sangat jauh berbeda. Seperti suplir dengan paku ekor kuda misalnya. Masing-masing varian membawa pesonanya masing-masing.

Karena tidak mempunyai bunga, paku-pakis berkembang biak dengan spora dan tunas anakan. Namun tidak semua paku pakis menghasilkan spora. Meski mampu menghasilkan beribu-ribu bahkan berjuta-juta spora, namun tidak semuanya mampu tumbuh menjadi tumbuhan baru. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar spora mampu tumbuh. Dan itulah salah satu cara alam mengontrol perkembangan suatu makhluk hidup. Kalau anda beruntung, mungkin di halaman anda akan tumbuh paku pakis yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, padahal anda tidak merasa menanamnya. bataYa, paku pakis ibaratnya adalah tamu yang tak diundang bila bikin kesel anda karena dianggap ‘merusak’ tema taman anda atau bahkan tamu tak diundang yang bikin bahagia karena yang ‘menclok’ di sana adalah paku pakis berharga mahal, seperti jenis-jenis Platycerium/Paku Simbar Menjangan. Saya pernah mengelami yang demikian ini. Tetangga saya mempunyai paku sarang burung. Saya pun ketularan punya pakis jenis ini. Dari dua tanaman, yang satu mati saat saya pindahkan ke dahan pohon yang bercabang. Rupanya masih terlalu dini saya mindahin ke sana. Pakisnya masih kecil.
Menurut analisis saya yang infonya dari berbagai sumber ditambah pengamatan, paku pakis yang hidup di tanah biasanya berakar serabut dan tidak berperekat. Batang/rhizomanya hampir atau bahkan tidak terlihat. Suplir termasuk salah satunya. Namun paku pakis jenis terestrial juga mampu tumbuh pada media kayu/pohon atau tembok yang hanya ada sekumpulan debu saja atau pada tempat yang berlumut. Saya pernah melihat di sebuah rumah ada Pakis Boston yang ditanam di cekungan percabangan pohon dengan sedikit media tanah.Untitled-2 copy
Menurut info, sebagian jenis paku sudah banyak yang punah. Paku purba ini berciri-ciri tidak berdaun atau daunnya kecil-kecil (mikrofil) yang belum terdeferensiasi. Ada yang belum memiliki akar, bercabang menggarpu dengan sporangium pada ujung batang dan bersifat homospor. Contohnya Rhynia major, Taeniocrada deeheniana, Zosterophyllum australianum, Asteroxylon mackei, Asteroxylon elberfeldense, Psilotum nudum, Psilotum triquetrum, dan Tmesipteris tannensis. Dari semua jenis itu, Psilotum dan Tmesipteris sajalah yang masih ada hingga kini. Psilotum nudum hidup di Pulau Jawa, Psilotum triquetrum hanya terdapat di daerah tropika, dan Tmesipteris tannensis masih hidup di Australia.
Sebagian besar tumbuhan paku memang masih dianggap liar cenderung gulma. Belum diketahui kemanfaatannya. Padahal Allah dalam menciptakan segala sesuatu tidaklah ada kesia-siaan di sana. Untuk itu kita memang perlu lebih menggali dan mengeksplor manfaat paku pakis. Yang sudah mampu diidentifikasi kegunaannya adalah:
Sebagai tanaman hias: ada paku tanduk rusa (Platycerium bifurcatum) atau aneka macam suplir (Adiantum sp).
Obat–obatan: seperti Aspidium sp, Dryopteris filixmas, atau Lycopodium clavatum.
Sebagai sayuran: semanggi (Marsilea crenata) misalnya, atau Pteridium aqualium (Paku Sayur).
Bahan pupuk hijau, misalnya Azolla pinata.
Sebagai hiasan karangan bunga, misalnya Lycopodium cernuum.

Note:
ü    Diferensiasi menurut KBBI artinya n 1 proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan; 2 perkembangan tunggal, kebanyakan dari sederhana ke rumit, dari homogen ke heterogen; 3 proses pembedaan hak dan kewajiban warga masyarakat berdasarkan perbedaan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan
ü    Karena begitu banyak variannya dengan penampakan yang mirip-mirip, utamanya bentuk daunnya, membuat informasi tentang tumbuhan ini yang ditulis para blogger pun menjadi simpang siur. Untuk itu, saya juga mohon maaf bila paku-pakis yang saya identifikasi ini juga salah. Untuk itu sudilah kiranya anda memberikan pembetulan agar bermanfaat bagi yang membacanya. Terima kasih.

BAHASA DAUN

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bahasa Daun, mungkin belum ada yang menggunakan istilah itu ya? Kalau Bahasa Kalbu, saya tahu dari lagunya Titi DJ. Kalau bahasa cinta dari lagu-lagu juga, utamanya dari dari Mbak Vina Panduwinata. Timbul pertanyaan, memang daun punya bahasa? Ya iya lah. Kalau baca puisi atau dengerin syair lagu kan ada kalimat seperti ini …

Daun-daun berbisik lirih

Ye … itu kan kalimat puitis doang. Ye … iye … aye tahu. Tapi beneran kok, daun itu juga punya bahasa. Siapa lagi nih yang bilang? Ya kitab suci al-Quran yang artinya Allah lah yang bilang kalau daun itu juga punya bahasa. Ya setiap makhluk, baik itu makhluk hidup maupun benda mati – benda tak bernyawa –, semuanya mempunyai bahasanya sendiri-sendiri. Dan semuanya memuji Allah, Sang Maha Pencipta. Dan saya mengimani hal ini. Hanya saja kita tak memahaminya. Namun sebenarnya alam dengan berbagai caranya memberitahu atau mengabarkan kepada mengenai sesuatu hal. akan atau sudah terjadi. Tentunya bahasanya juga lain. Dan itu tidak semua orang mampu mendengar dan membacanya. Orang-orang terdahulu berpatokan pada kumpulan bintang untuk membaca alam, seperti kapan akan mulai menanam padi, atau kapan akan datang musim hujan, dan sebagainya. Umat Islam pun juga berusaha membaca gerakan matahari dan bulan untuk membaca kapan mulai sholat wajib. Dan dengan berpatokan pada perputaran pada matahari dan bulan akhirnya lahirlah almanak.

Dan inilah beberapa bahasa daun yang saya ketahui.

Krowak-krowak

Apa ya bahasa Indonesianya krowak-krowak untuk menyebut daun yang digigit-gigit itu. Kalau bolong-bolong tidak tepat. Kalau sobek-sobek juga tidak pas. Karena lupa dan tidak tahu sebutannya, akhirnya saya pakai bahasa Jawa krowak-krowak.

Ada dua penyebabnya.

Ulat

Dampak besarnya dari kerakusan ulat hanya tercapai bila dia dalam jumlah yang banyak. Ciri-ciri daun yang berulat biasanya tepi-tepi daun akan krowak-krowak dan menyisakan tulang daunnya. Kalau daun berlubang-lubang di tengah, berarti daun itu sudah berlubang duluan, baru ulatnya makan.ulat

Belalang yang Rakus

Lain lagi dengan belalang. Si serangga ini sangat rakus. Daun akan dimakannya daun10.jpghingga tak bersisa. Tidak hanya itu, dia juga makan bunga dan pucuk-pucuk tunas. Tanaman juga bisa mengalami kematian. Meski hanya seekor saja, efek yang ditimbulkannya relatif besar dibanding jumlah dan besar tubuhnya itu. Dan inilah yang menimpa tanaman-tanaman hias saya. Anggrek yang tak disukai ulat pun disantapnya. Penanganannya cukup repot juga. Karena tak ingin memakai zat kimia, belalang biasanya saya tangkap dan kemudian saya lemparkan ke sarang laba-laba. Ini juga tak efektif, karena belalang biasanya juga bisa meloloskan diri. Secara alamiah sebenarnya ada predator di sana. Ada laba-laba berjaring, baik jenis besar maupun kecil. Ada laba-laba pelompat. Dulu juga ada belalang sembah, sang predator, namun kini entah kemana. Dan kayaknya serangannya lebih tinggi dibanding penyantapnya. Terbukti banyak daun yang krowak-krowak. Bunga pun juga begitu. Yang masih kuncup tak sampai mekar sudah dimakan. Bunga yang sudah mekar, mahkotanya disikat juga. Urgh … bikin kesel juga nich. Tapi ya sudahlah, saya niatkan untuk sedekah saja.

Walau tidak sampai 100%, belalang tidak begitu suka daun yang tebal, berbau menyengat/tajam, bergetah, dan kasar. Banyak juga tanaman hias saya yang dihindari belalang. Ada Begonia, Bakung cs, Palm, dan lain-lain. Anggrek pun jenis tertentu saja yang dimakan, itupun juga nggak sampai dilalap habis. Paling-paling tunasnya, itupun juga kalau ketahuan sang belalang. Kalau tidak, ya aman-aman saja.

 

Daun Tua

daun3a.jpg Proses alamiah. Biasanya yang menguning dahulu adalah tepian daun hingga sampai ke pangkal daun. Kalau sudah begitu, daun akan gugur. Atau berubah ke warna coklat dulu baru gugur.

 

 

 

 

 

 

Perubahan Cuaca Mendadak

Di antara warna hijau akan ada warna coklat tua cenderung hitam. Tak peduli dia daun yang masih muda atau yang sudah tua. Tanaman yang tidak kuat hanyalah segelintir saja. Dari sepetak kebun, 2 – 3 tanaman saja, salah satu di antaarnya anggrek Scorpion. Plus serangan jamur, daun anggrek berwarna coklat kehitaman berukuran relatif besar. Tapi alhamdulillah, hanya menyerang satu batang saja. Lainnya aman.

daun11

Serangan Kutu

Daunnya akan cepat berwarna coklat kehitaman. Serangan terparah ada pada daun yang dekat dengan pangkal batang, karena memang si kutu nggerombol di sana. Kutu ini warnanya coklat. Bentuknya gepeng cembung di tengah. Menempelnya sangat kuat, kayak kerang trip yang menempel pada dermaga-dermaga atau kapal-kapal. Keberadaannya baru diketahui setelah jumlahnya telah banyak, dan tanaman tidak kunjung berbunga, padahal persyaratan tumbuh tanaman sudah dipenuhi. Atau selain perubahan warna daun, tanda lainnya adalah batang tidak tumbuh-tumbuh atau memanjang dan membesar. Penanganannya saya kerok. Termudah menggunakan kuku. Kalau anda jijai ya pakai saja gunting/cutter yang sudah tumpul. Pisau juga bisa.

Ini nih tampang dari si kutu.

 

 

Dan ini bahasa sang daun.

 daun1a

Daun yang Sehat

daun8aWarnanya hijau muda untuk daun yang masih baru, dan hijau tua untuk daun yang sudah ‘berumur’. Warna itu dipengaruhi oleh karakteristik si tanaman. Tanaman yang menyukai cahaya matahari, daunnya berwarna hijau terang dan bila diletakkan di tempat yang teduh, daunnya akan berubah menjadi hijau gelap dan tidak gilap/mengkilap.

Serangan Virus/Bakteri/Jamur

Menyerang Sanseviera saya. Karena hanya satu daun saja yang diserang, itu pun hanya lapisan atas daun, saya pun membiarkan saja. Kalau dirasa merusak penampilan, anda dapat memotong daun yang terserang.

daun12

 

Bintik-bintik Kuning

Penyebabnya kutu-kutu kecil yang bisa terbang. Saya tak tahu namanya. Daun akan ketahuan diserang apabila kutu-kutu tersebut sudah banyak. Daun bercak-bercak berwarna kuning atau abu-abu atau kecoklatan sesuai dengan sifat dan ketebalan daun.

 

Terpapar Sinar Matahari

Biasanya tepi daun menggulung dan berwarna coklat layaknya terbakar. Anda dapat DSC03786membuang daun yang rusak tersebut, kemudian memindahkan tanaman ke tempat yang lebih teduh atau intensitas cahayanya tidak begitu kuat. Untuk daun tebal, biasanya berwarna kuning kecoklatan saja seperti anggrek dendro di bawah ini.

Tampilan daun yang terbakar ini hampir sama dengan daun yang diserang belalang-belalang anakan. Dalam jangka waktu yang relatif lama, daun akan menggulung dengan tepian seperti terbakar. Namun tidak semua daun bertanda seperti ini. Ada juga yang tampilannya seperti ini.

 

Lupa Disiram

Daun mulai dari ujung hingga pangkalnya dengan cepat akan mengering berwarna kuning, kemudian coklat, dan gugur. Namun tidak semua tanaman berpenampilan seperti itu, tergantung jenis dan daya tahan tanaman. Untuk tanaman yang tahan kekeringan, tentu saja efeknya berbeda dengan tanaman yang menyukai media basah.

daun6a

Dan itulah bahasa daun yang saya ketahui. Sebenarnya masih banyak sekali bahasa daun yang mengirimkan sinyal-sinyal kepada kita mengenai keadaan mereka. Namun karena saya hanya punya foto seperti di atas dan juga pengalaman lainnya tidak ada, maka ya ini saja dululah yang bisa saya upload. Semoga bermanfaat. Selamat berkebun.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Bunga Kamboja Putih Tetangga Sedang Rajin-rajinnya berbunga

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para gardener …

Bunga Kamboja warna putih dan kuning pada dalam tabung bunga milik tetangga sebelah itu sedang rajin-rajinnya berbunga. Aromanya yang lembut pun nyampai di rumahku. Aku pun jadi senang mencium-cium wanginya yang dihembuskan angin. Meski di halamanku banyak jenis bunga, namun untuk yang wangi belum ada yang mekar. Bunga Lili Paris yang sedang mekar wanginya tidak kecium cos bunganya yang mini. Bunga pukul empat juga sudah aku cabut, dan sekarang tumbuh generasi berikutnya. Beraneka jenis Bakung pun sudah satu tahun belum menampakkan kuncupnya. Pernah lho saat ada tamu bertandang pas Bakung ku mekar, tamu itu mengira rumahku disemprot parfum. Senang ya kalau bunga-bunga kita menebarkan aroma wangi.

Dulu sih aku pernah tinggal di Malang, yang mana rumah kontrakanku dekat dengan pembuangan sampah. Meski masih skala RW tempat sampahnya, selain bau busuknya menyengat juga jadi sumber penyakit. Beraktivitas apapun menjadi tak nyaman keganggu bau yang nggak enak itu. Kalau ada tamu juga nggak enak hati, meski bukan kesalahan kita. Apalagi kalau musim penghujan datang, selain baunya tambah menyengat, lalat-lalat pun berpesta pora untuk kawin dan memperbanyak keturunannya. Sedangkan limbah sampah yang cair itu selain berbau juga bisa membuat penyakit kulit. Wah … tambah jengkel lah kita. Kalau boleh milih, memang kita inginnya tinggal deket dengan tetangga yang rajin menanam bunga, apalagi yang harum-harum dibanding deket dengan tempat sampah. Namun toh kenyataannya tak selalu demikian kan?

Begitulah dalam kehidupan ini. Inginnya kita pun bertetangga dengan orang-orang yang berakhlak baik, sopan terhadap siapa saja, baik hati kepada sesama, penyayang, dan akhlak-kambojaakhlak baik lainnya. Orang yang berakhlak baik itu laksana bunga-bunga yang memancarkan selain pesona kecantikannya juga keharumannya. Membuat orang nyaman, senang, dan merasa aman dari gangguan tangan maupun lidahnya. Meski kita punya rumah mentereng bak istana, namun kalau punya tetangga yang ringan tangan pun lidahnya, kita pun jadi nggak nyaman hidupnya. Kalau sudah keterlaluan banget ingin rasanya kita gampar mulutnya yang lancip itu dan menarik lidahnya yang tajam itu. Namun itu tak mungkin kita lakukan bukan? Mendendam bukanlah pemecahan masalah yang baik. Nasihati. Ya lewat nasihat baik yang kita berikan siapa tahu bisa merubah tabiat jelek tetangga kita itu. Dan juga meski rumah kita type RSS, namun bila memiliki tetangga yang baik, kita pun serasa tinggal di rumah yang indah, karena kenyamanan yang kita dapatkan saat bertetangga dengan orang berakhlak baik.

Dikisahkan, ada seseorang yang sedang berkeinginan mencari sebuah rumah. Keliling-keliling, keluar masuk kampung, akhirnya hatinya pun terpaut dan merasa cocok pada sebuah rumah yang memang sedang dijual. Dia pun menemui sang pemilik rumah dan bertanya berapakah harga rumahnya. Dijawab sang pemilik dengan jumlah tertentu. Sang calon pembeli pun protes. “Lho pak, bukankah harga pasaran sebuah rumah saat ini itu sekian?”. Sang pemilik pun menjawab, “Betul tuan, harga rumah ini sebenarnya memang sekian, namun di sebelah rumah itu tinggal seorang yang sholih, bagus agama maupun akhlaknya yang dapat mendatangkan keberkahan bagi tetangganya. Maka dari itu saya pun menjual rumah ini dua kian, karena ada bonus tetangga yang sholih itu”. Luar biasa memang memiliki tetangga yang sholih, bagus agama maupun akhlaknya. Kita pun merasa beruntung bertetanggakan orang yang memiliki karakter-karakter yang demikian ini. Dalam pandangan manusia, sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik akhlaknya. Namun dalam pandangan Allah, Sang Maha Pencipta, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bertakwa/takut kepada Allah. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, bagai dua mata rantai yang saling terpaut. Tidak bisa orang itu sangat baik kepada para tetangga dan sesamanya, namun maksiat kepada Allah pun juga rajin dia lakukan. Dan tidak bisa juga seseorang itu rajin beribadah kepada Allah, namun lidah dan tangannya tak mampu dia jaga dari menyakiti tetangga dan sesamanya. Wallahu a’lam bishshowwab.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Indonesia Pelangi Jingga

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

BPGers …

Indonesia …Merah Darahku, Putih Tulangku

Bersatu Dalam Semangatmu


Indonesia …Debar Jantungku, Getar Nadiku

Berbaur Dalam Angan-anganmu
Kebyar-kebyar, Pelangi Jingga

Biarpun Bumi Bergoncang

Kau Tetap Indonesiaku

Andaikan Matahari Terbit Dari Barat

Kaupun Tetap Indonesiaku

Tak Sebilah Pedang Yang Tajam

Dapat Palingkan Daku Darimu

Kusingsingkan Lengan

Rawe-rawe Rantas

Malang-malang Tuntas, Denganmu …

Indonesia …Merah Darahku, Putih Tulangku

Bersatu Dalam Semangatmu


Indonesia …Nada Laguku, Symphoni Perteguh

Selaras Dengan Symphonimu
Kebyar-kebyar, Pelangi Jingga

 

Saya terpesona saat band Arkarna menyanyikan Kebyar-kebyar yang sedang ditayangkan salah satu chanel TV kita. Mereka sedang di atas panggung secara live. Saya tak mengira band skala internasional itu menyanyikan lagu kita dengan penuh penghayatan (sebagai salah satu tanda keprofesionalisan mereka). Sungguh mempesona saat lagu ini dinyanyikan dengan versi mereka. Apalagi sang vokalis Ollies pun tak gagap menyanyikan lagu ini dengan bahasa aslinya – bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa –. Lidahnya pun tak tampak cedal bagi seorang bule. Sungguh membangkitkan keheroismean saya. Dan mau tak mau saya pun teringat pelajaran Sejarah semasa di bangku sekolah dulu.

Nusantara begitulah kita dulu disebut, pernah termasyhur di percaturan politik dunia melalui kejayaan kerajaan-kerajaan tempoe doeloe. Ada Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan lain-lain yang mampu mengepakkan sayap kekuasaannya hingga ke negeri-negeri tetangga. Kita juga terkenal dengan melimpahnya kekayaan alamnya yang mampu dieksploitasi dan dieksplorasi oleh kerajaan-kerajaan kita dulu, hingga mampu membuat kita berjaya, baik di darat maupun di lautan.

Sejarah pun berganti. Kejayaan kita pun meredup, berganti masanya para pahlawan dan pejuang untuk merebut kemerdekaan. Para pahlawan dan nenek moyang kita berjuang dengan mengorbankan apa saja demi tercapainya suatu kebebasan yang disebut dengan kemerdekaan. Dan setelah kemerdekaan tercapai, bukan berarti juga kita sudah lepas dari problematika. Para pelopor kemerdekaan harus memeras dahi untuk memikirkan suatu landasan ideologi dan hukum bagi negara yang bisa mencakup kebhinekaan bangsa ini. Yang mampu diterima semua orang dari berbagai suku, wilayah, dan budaya. Yang mampu tak menimbulkan rasa keegoismean. Mampu untuk berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Mampu menghujamkan ke dalam dada masing-masing individu yang merasa dirinya bagian dari bangsa ini semangat Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda dari sudut manapun namun sesungguhnya kita adalah satu. Dan bagaimana juga para pelopor melahirkan dasar dan hukum negara tanpa menyakiti hati semua pihak. Dan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, malah mungkin saja kesulitannya melebihi saat berjuang untuk merebut kemerdekaan.

Pancasila dan UUD 1945 diakui atau tidak merupakan pemikiran yang sangat brilliant dari para pelopor kita. Keduanya merupakan hasil cita rasa yang fenomenal dan fundamental yang sangat cocok untuk negeri ini yang dihadiahkan para pelopor kita bagi negeri ini. Negeri dengan sejuta budaya, sejuta bahasa, dan sejuta adat yang secara logika masing-masing sangat rawan menimbulkan keegoisan, kedaerahan maupun perpecahan. Namun syukur alhamdulillah, pemikiran logis ini tidak terjadi pada bangsa ini. Kedua landasan ini kata demi katanya, kalimat-demi kalimatnya, makna demi maknanya dipikirkan dengan sangat matang agar tak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, utamanya runtuhnya kemerdekaan yang telah dicapai dengan susah payah itu. Dan pada kenyataannya keduanya mampu meredam sifat keegoisan kedaerahan kita masing-masing. Kita adalah saudara. Tak peduli apa bahasa kita, suku kita, adat kita, budaya kita, norma kita, dan lain-lainnya semua adalah satu dan menyatu menjadi sebuah negara dan bangsa yang sangat sekali kita cintai ini, negeri Indonesia. Ibaratnya sebuah taman yang penuh dengan beraneka macam bunga dengan berbagai bentuk, variasi, warna, maupun keharuman. Andaikan suku Papua adalah Anggreknya, Kalimantan Mawarnya, Sumatera Kambojanya, Bali dan Nusa Tenggara dengan Nusa Indahnya, atau Jawa adalah bunga Melatinya. Mereka terbagi-bagi lagi dalam berbagai macam sub spesiesnya. Bukankah Jawa itu ada suku Madura, suku Tengger, Osing, Solo, Yogja, dan lain-lain. Bukankah bunga melati pun ada melati gambir, dan jenis-jenis melati lainnya. Begitu pula yang lainnya, ada yang bagai Dahlia, Bougainville, dan lain-lain yang menyemarakkan sebuah taman yang bernama Indonesia. Suatu negeri yang laksana berada di awan, karena saking indahnya, saking kaya alamnya, dan saking ramah dan tepo selironya rakyatnya. Subhanallah.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

– Surat Hujuraat / Kamar-kamar (50) ayat 13 –

Allah memang sudah berkehendak untuk menciptakaan manusia ini berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, maka Allah pula yang akan memudahkan lahirnya bangsa-bangsa itu, termasuk Indonesia / Nusantara. Allah menganugerahkan kemerdekaan yang merupakan prasyarat mutlak berdirinya suatu negara kepada kita. Dan kemerdekaan itu juga diraih dengan pengorbanan apa saja, termasuk nyawa. Hikmahnya adalah terjalinnya kesolidan atau kesatuan di antara kita. Menyatukan seluruh rakyat Indonesia yang majemuk dengan berbagai bentuknya, adat-istiadat, bahasa, ragam budaya, maupun agama/kepercayaan bukanlah perkara yang sangat mudah. Mustahil jika tidak mendapat pertolongan dari Allah kita akan mampu melewati semua ujian itu. Dan para pelopor kita sangat menyadari hal ini, maka dalam Pembukaan UUD 1945 ada kalimat “.. dan atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, maka …”

Dengan kemerdekaan, kita dapat dengan bebas menjalankan agama dan kepercayaan kita masing-masing tanpa takut apa-apa. Andaikan ada bentrok di antara kita, itu merupakan proses pendewasaan diri. Permasalahan akan selalu ada selama dunia ini belum ‘kukut’ / tamat. Riak-riak kehidupan tersebut memang telah ditetapkan Allah sebagai ujian dan cobaan bagi hamba-hambaNya. Apakah kita pandai bersyukur dan bersabar. Dan kenikmatan-kenikmatan yang kita rasakan ini sebagai anugerah Allah atas jerih payah para pahlawan kita, baik yang dikenal maupun tak dikenal. Kita nikmat beribadah, bekerja, melakukan sesuatu yang kita senangi, dan lain-lain tanpa ada rasa takut melakukannya karena kita merdeka. Berbeda bila terjajah.

Selanjutnya perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan tidaklah selesai begitu saja. Masih banyak PR-PR yang harus diselesaikan. Masih banyak masalah-masalah yang harus dicarikan alternatif pemecahannya. Korupsi secepat mungkin di atasi, hingga kita pun tak perlu membuang uang yang tidak bermanfaat untuk menggaji lembaga non koruptor. Itulah yang disindirkan Bu Mega dalam pidato perayaan kemerdekaan lalu. Bu Mega tidak menyentil seseorang atau sesuatu lembaga saja, namun teguran beliau itu ditujukan kepada kita semua, seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Kalau menurut saya, Bu Mega selain mengajak kita semua jangan melakukan korupsi, juga jangan ‘menggembosi’ lembaga non koruptor. Kalau lembaga non koruptor tersebut terus-terusan digoyang, bagaimana masalah korupsi dapat segera teratasi?

Permasalahan-permasalahan di negeri ini seakan-akan memang tak ada habis-habisnya. Kini waktunya rupiah terpuruk, sedangkan harga-harga barang terutama kebutuhan pokok mencoba menggapai mega. Tapi ya begitulah romantika kehidupan ini. Maka sudah sewajarnya kita pun memotivasi diri untuk terus semangat menghadapi apapun yang terjadi. Berkepala dingin, berhati lapang, dan ringan tangan adalah 3 faktor penentu sukses tidaknya kita. Artinya selama masalah itu tidak membangkitkan emosi kita, kedangkalan kita, pun kemalasan kita, maka pelan-pelan tapi pasti segala problematika bangsa ini akan menyingkir. Tentu saja kita tak boleh lupa kepada Yang di Atas Sana, Dzat Pemilik Kehidupan dan Segala untuk memohon petunjuk.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

INDONESIA, I LOVE YOU WHATEVER YOU ARE

Jangan-jangan Anggrek yang kita Beli Anggrek Instan ya …?

Lindenia1888(04)140(curtisi)

DIGITAL CAMERA

DIGITAL CAMERA

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabat the BPGers

Sekarang jamannya serba instan serba cepat, bahkan kalau bisa serba flash atau super flash. Keinstanan telah menjarah seluruh lini kehidupan masyarakat. Informasi serba cepat. Kereta super cepat. Makanan cepat saji. Karena ingin serba cepat – menuai hasil – domba-domba dan sapi-sapi pun kita kloning agar dapat segera dihasilkan atau diperoleh manfaatnya. Dengan kloning dapat dipangkas waktu yang dibutuhkan untuk perkembangbiakan dan pertumbuhan secara alami. Dengan begitu waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasilnya semakin singkat, dan tentu saja perputaran uangnya pun akan semakin cepat. Ayam-ayam potong diperpendek umurnya agar dagingnya dapat segera dikonsumsi. Pahanya disuntik biar cepat-cepat diperoleh paha-paha yang gemuk. Dan perlakuan ini tak hanya berlaku pada binatang aja, tanaman malah sudah lama dipangkas atau diperpendek umurnya. Bagaimana caranya supaya dihasilkan tanaman yang serba cepat tumbuhnya, serba cepat berbuahnya, dan buanyak hasilnya. Kelemahan-kelemahan dibuang, keunggulan ditimbulkan. Kadang-kadang saya pun dibuat geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Bunga matahari yang secara alamiahnya selalu mengikuti pergerakan matahari, sekarang karakter seperti itu dibuang karena dianggap bisa menghambat percepatan pematangan biji sebab energi untuk bergerak mengikuti matahari dapat dialihkan kepada pematangan biji. Contoh lainnya buanyak sekali …

Tentu saja yang serba flash, serba cepat atau serba instan tersebut menuai dampak-dampak negatif. Makanan-makanan cepat saji/fast food pada kenyataannya lebih banyak mudharat/kerugiannya dibandingkan keunggulannya. Para pakar kesehatan juga ahli gizi pun sudah menjustifikasi bahwa makanan cepat saji sebenarnya adalah junk food/makanan sampah. Mi instan misalnya, ada bahan yang merugikan tubuh kita, meski bahan yang positif bagi tubuh juga banyak. Jika cara pengolahannya tidak benar, dalam jangka waktu yang lama penyakit yang akan kita dapatkan dibanding kesehatan yang fit. Domba-domba atau sapi-sapi kloning tidak dapat menghasilkan keturunan melalui cara alamiah. Para petani harus membeli di balai benih untuk mendapatkan ikan atau ternak yang super cepat menghasilkan. Dulu para petani mampu membenihkan sendiri calon-calon padi. Namun sekarang mereka harus membeli benih-benih tersebut dari balai benih. Kalau maksa membenihkan sendiri sih bisa, namun hasilnya tak sebagus dan ‘selezat’ dalam mendatangkan hasil dibanding jikalau membeli dari balai benih/pertanian. Itulah beberapa efek dari kehidupan yang serba instan.

Tak hanya hal-hal yang berkaitan dengan kita saja saja yang kita flash-kan, bahkan kehidupan kita sendiri pun kita percepat. Kita hidup seakan-akan dikejar-kejar waktu dan takut kehilangan peluang. Inginnya serasa berlari laksana flash/kilat. Karena ingin serba flash, kita pun tidurnya juga flash. Sebelum ayam jago berkokok, kita sudah melek duluan. Kalau dulu ayam paling jago menanda waktu pagi/subuh, sekarang sudah kita ganti dengan jam beker yang kita stel sebelum waktu ayam berkokok. Kasus-kasus instan dalam hal keburukan pun banyak kita dengar atau baca. Kasus ijazah palsu dapat kita jadikan contoh. Karena ingin serba flash, kita jadi menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan kita itu. Teori ekonomi dengan bersedikit-sedikit dapat dihasilkan dengan sebanyak-banyaknya pun kita camkan dan realisasikan benar-benar, tak peduli cara-cara tersebut dapat menyengsarakan orang lain karena kita sikut sana sikut sini. Bahkan berurusan dengan hukum kita juga oke-oke saja. Toh ada temannya karena berbuatnya dengan berjamaah. Sebenarnya istilah jamaah tak pantas disematkan untuk hal-hal negatif seperti itu, melukai hati. Jamaah yang semula mempunyai arti yang baik – beribadah sama-sama – sekarang berkonotasi negatif – melakukan kejahatan bersama-sama –.

Karena ingin serba cepat, kita pun jadi ogah-ogahan untuk berjerih payah ria dalam mencapai hasrat atau keinginan. Inginnya semua telah ada, semua telah tersedia, tak usah memeras keringat untuk mendapatkannya. Mirip-mirip pomeo muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga. Artinya kita tak usah berpayah-payah untuk mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan, bahkan kalau bisa tanpa berkedip pun apa-apa yang kita inginkan sudah ada di tangan kita, sudah tercapai. Namun tentunya itu hanyalah isapan jempol belaka. Adanya dalam dongeng-dongeng khayalan. Sim salabim, abrakadabra. Memang sih kalau Allah menghendaki apa yang kita inginkan pun akan kita dapatkan, namun itu prosentasenya bagaikan nol koma nol nol sekian dibanding sekian milyar peluang. Sangat-sangat muskil bukan?

Jangan-jangan anggrek yang kita beli pun tak lepas dari keinstanan tersebut. Dengan memanfaatan teknologi kultur jaringan, akan semakin mempersempit waktu yang dibutuhkan anggrek untuk berkembangbiak. Ditambah lagi dengan pemberian hormon, obat-obatan atau pupuk-pupuk perangsang pertumbuhan maupun pembungaan akan memaksa aktivitas kehidupan anggrek semakin dipercepat. Tentu saja pasti ada efek sampingannya. Jangka waktu kehidupan biasanya juga semakin singkat. Itulah sebabnya saat kita membeli anggrek yang telah berbunga lebat dan indah, tak urung saat kita pelihara di rumah eh … tak berapa lama kemudian anggrek kita pun is dead-lah. Itu bukan efek satu-satunya lho, karena hibrid dan pemaksaan berbunga sebelum waktu alamiahnya, anggrek pun tak mampu berkembangbiak secara generatif. Ingat dengan ikan-ikan konsumsi maupun tumbuhan-tumbuhan pangan atau ayam potong yang tak mampu memberikan keturunan alaminya. Tentu saja anggrek-anggrek instan yang dijual itu merupakan anak pinak dari pemanfaatan kultur jaringan. Treatment indukannya tentunya juga berbeda dengan anggrek instan tersebut. Biasanya indukannya akan dibiarkan berkembang dan tumbuh secara alami dan leluasa. Ya mungkin saja penambahan zat-zat hara atau organik diberikan namun itu cara itu digunakan dengan maksud anggrek dapat suplai makanan yang cukup. Sedangkan anggrek instan diberikan berbagai macam treatment agar waktu untuk berbunga dapat dipersingkat atau diperpendek namun bunganya banyak. Yah … siapa yang nggak kepincut dengan anggrek yang sedang berbunga banyak, kompak, dan indah. Tak terasa kitapun dengan leluasa merogoh kocek untuk membawa bunga anggrek tersebut. Dan tentu saja harga akhir yang kita keluarkan pun jadi lebih mahal dibanding membeli anggrek yang mendapat perlakuan sewajarnya. Anggrek instan tentu saja akan cepat mati setelah merontokkan bunga-bunganya yang cantik nian itu.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Catatan:

Artikel ini saya tulis berdasar analisis dan dugaan saya semata, hasil dari baca-baca curhat para friend, pun milis blog anggrek. Jadi anda bebas-bebas saja tidak percaya. Percaya pun juga nggak ngaruh pada saya. Dan hasilnya adalah saya berhipotesis bahwa beredar anggrek-anggrek instan di kalangan kita, utamanya yang di luar negeri sana. Memang harus dibuktikan dulu kebenarannya. Namun kalau kita jujur, tanda-tanda adanya anggrek instan itu ada kan?

Duh … Orkid Q pun Rest in Peace, Innalillahi …

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabat the BPGers

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan

– al-Qur-an surat Ali ‘Imran ayat 185 –

Untuk mencapai kondisi yang seperti ini dibutuhkan dana yang tidak sedikit, tidak cocok bagi hobiis rumahan

Untuk mencapai kondisi yang seperti ini dibutuhkan dana yang tidak sedikit, tidak cocok bagi hobiis rumahan

Perbedaan perlakuan bisa menyebabkan anggrek kita mati

Perbedaan perlakuan bisa menyebabkan anggrek kita mati

Pemberian hormon, obat2 hama, pupuk, dll banyak dilakukan oleh para nursery besar

Pemberian hormon, obat2 hama, pupuk, dll banyak dilakukan oleh para nursery besar

Anggrek tidak mudah mengirimkan sinyal2 'penderitaannya', karena itulah kita harus proaktif

Anggrek tidak mudah mengirimkan sinyal2 ‘penderitaannya’, karena itulah kita harus proaktif

Kematian adalah hal yang pasti terjadi, hanya saja cara atau penyebabnya yang tidak dapat dipastikan. Dzat yang Maha Kuasa sajalah yang mengetahui rahasianya. Semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati, termasuk pula Malaikat Maut / Izrofil. Yang jelas ketuaan adalah salah satu penyebab kematian yang kita ketahui. Kala itu Nabi Ibrahim as didatangi malaikat Maut untuk mencabut nyawa beliau. Sebelum itu, Nabi Ibrahim as meminta kepada Malaikat Izroil bila akan datang kembali untuk mengirimkan 3 tanda kepada beliau kalau memang saat kematiannya telah tiba. Dan Malaikat Maut pun menjelaskan telah mengirimkan tanda-tanda kepada beliau yakni lemahnya tubuh, putihnya rambut, dan keriputnya kulit – untuk yang ketiga ini saya lupa -. Itulah ketuaan yang merupakan salah satu penyebab alamiah kematian.

Kematian juga bukanlah perkara yang menyenangkan, sangat-sangat menyakitkan bagi siapapun yang mengalaminya, termasuk para Nabi dan Rasul, dan juga Malaikat Izrofil sendiri. Padahal mereka adalah makhluk yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena itulah banyak yang lari darinya. “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. Makanya, kita inginnya hidup hingga 1000 tahun lamanya. Namun apakah mungkin? Hanya saja bagi para kekasih Allah itu, kesakitannya diringankan atau dialihkan. Sakitnya sakaratul maut/kematian bagi para Nabi dan Rasul itu laksana bulu-bulu yang dicabut dari badan burung. Kalau kita pernah mencabuti bulu ayam yang masih hidup, kita akan mendengar kokokan kesakitan sang ayam. Begitulah gambaran sakitnya kematian yang paling ringan.

Kelak, kala merasakan betapa sakitnya ruh yang dicabut dari media wadag-nya, Malaikat Maut menyesal telah mencabut nyawa seluruh makhluk, tak terkecuali tumbuh-tumbuhan. Namun Allah telah menetapkan hal yang demikian, yakni Malaikat Izrofil adalah makhluk terakhir yang mengalami kematian, sehingga dia pun akan dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya karena dia baru akan mengetahui kesakitannya setelah seluruh makhluk telah mati. Apalagi kematian sudah merupakan ketetapan Allah, tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghindarinya, seperti sepenggal firman berikut:

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”

Saya banyak baca milis mengenai anggrek. Banyak keluhan yang dilontarkan para anggrekers. Terbesar tentang kematian anggrek kecintaan mereka. Pada postingan yang lalu saya memang sudah tuliskan betapa gampangnya memelihara tanaman anggrek. Namun betapa pun mudahnya menanam anggrek dan betapa juga ahlinya kita mengenai keanggrekkan, tak urung juga suatu waktu kiita pasti mengalami kegagalan dalam merawatnya, hingga ujung-ujungnya anggrek kesayangan kita pun kering dan akhirnya RIP. Sekeras apapun kita, dan semati-matinya kita berusaha untuk mempertahankan keberlangsungan sang anggrek, kalau sudah waktunya anggrek dead ya is dead lah bunga kesayangan kita itu. Allah menggambarkan dalam firmanNya – tentu saja firman ini ditujukan kepada kita, manusia sebagai makhlukNya yang termulia – yakni: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, …”. Artinya kalau dihubungkan dengan dunia anggrek, seexpert apapun kita, sehandal apapun kita dan setinggi apapun kita dalam perawatan anggrek, tak akan mampu memundurkan atau memajukan kematian sang anggrek kita.

Tentu banyak sebab yang melatarinya. Dan saya mencoba untuk menganalisisnya berdasar pengalaman, pengamatan, dan juga baca-baca milis. Yang manakah penyebab anggrek anda go pass away?

 

Minimnya pengetahuan kita

Untuk masalah ini sudah saya singgung pada tulisan lalu . Yah … kekurangpahaman kita tentang anggrek adalah faktor terbesar kita menjadi ‘pembunuh’. Memang ada pepatah yang mengatakan ‘pengalaman adalah guru yang paling berharga’, namun mengingat yang kita lakukan ini berhubungan dengan nyawa – tumbuhan –, maka pepatah tersebut yang paling tepat adalah ‘Pengamatan lebih utama dibanding pengalaman’. Bagi kita yang baru terjun dalam bidang keanggrekkan, pengamatan merupakan guru yang terbaik. Kita dapat mengamati bahkan kalau perlu sharing atau bertanya pada pemilik anggrek yang telah berhasil membungakan dan membudidayakannya. Tak usahlah muluk-muluk bertanya pada ahli anggrek, cukup tetangga sekitar yang dapat kita ambil pelajarannya bagaimana cara mereka merawat anggrek. Dibanding pada nursery, para pecinta anggrek rumahan/tetangga tidaklah njelimet dalam perawatan anggrek mereka, dan anda pun tak akan kesulitan untuk mengaplikasikannya di taman anda.

Perbedaan perlakuan

Perbedaan perlakuan menjadi penyebab terbesar kedua atas kematian anggrek. Meski pengetahuan kita mengenai bunga anggrek tingkatnya excellent, namun jika dalam realitanya terdapat perbedaan perlakuan, maka tak akan mengherankan apabila anggrek kita pun koit. Anggrek merupakan tanaman statis, artinya menyukai perlakuan yang sama dan keteraturan. Apabila anggrek mengalami perlakuan atau perawatan yang berbeda dengan awalnya, baik itu perlakuan di habitat aslinya maupun dari penganggrek lain, maka tak akan mengherankan apabila anggrek kita mati, kecuali yang memang mampu beradaptasi . Di alamnya sendiri pun, anggrek tidak mudah untuk move on. Mereka menempel erat pada pepohonan, tanah maupun bebatuan. Dan anggrek pun bukanlah tipe tanaman yang mudah beradaptasi, meski mempunyai tingkat daya juang hidup yang sangat tinggi. Karena itu biasanya kita pun terlambat membaca tengara-tengara yang dikirimkan anggrek kesayangan kita yang sedang menderita. Tahu-tahu anggrek kita sudah meninggalkan kita selama-lamanya. Hal ini juga ‘disebabkan’ lambatnya pertumbuhan maupun perkembangan si anggrek sendiri, namun ini bukan dosa sang anggrek loh … hanya sekedar pengetahuan saja bagi kita.

Yang termasuk dalam perbedaan perlakuan itu antara lain perbedaan perawatan ––, manipulasi habitat, tingkat ketinggian, dan lain-lain. Namun yang paling besar adalah tingkat kesabaran kita yang sangat rendah. Artinya kita menginginkan anggrek kita cepat tumbuh besar, cepat berbunga, dan cepat berkembang biak yang memang tidak bisa dipenuhi oleh anggrek berdasar karakter alamiahnya.

Anggrek Hibrida

Mengapa anggrek hibrida saya jadikan penyebab terbesar kematian anggrek?

Kita tahu bahwa anggrek hibrida merupakan silangan dari jenis anggrek yang berbeda. Bisa dalam satu spesies dan genus maupun antarnya. Karena anggrek dinikmati akan keindahan bunganya, maka fokus pemuliaan adalah hasil bunganya. Mereka tentu saja mengabaikan sifat-sifat kelemahan atau keunggulannya. Terpenting hasil silangan adalah anggrek yang lebih indah dari aslinya. Walaupun ada yang mengklaim bahwa anggrek silangannya tahan banting, cocok untuk ditanam di ‘sana-sini’, mudah untuk dirawat, dan lain-lain dengan ‘sejuta’ keunggulan lainnya namun tetap saja dalam penilaian saya anggrek hibrida juga banyak kelemahan. Anggrek hibrida selain mewarisi keunggulan-keunggulan dari induknya, juga menuruni kelemahan-kelemahan sang induk – dobel malah –. Meski kelemahan ini sifatnya tidak dominan, namun bukan berarti tidak dapat mempengaruhi keberlangsungan si anggrek. Bila suatu saat kondisi lingkungan sangat kondusif mendukung kemunculan sifat-sifat resesif ini, tak urung juga anggrek kita pun akhirnya mati. Selain itu pemuliaan yang sudah menjadi trend industri perbungaan, tentunya akan melibatkan permodalan yang sangat besar, dan pastinya pelaku industri bunga juga tak mau rugi. Mereka pun dengan cermat dan sungguh-sungguh merawat bunga-bunga mereka dengan berbagai cara dengan perlakuan yang njelimet dan terkadang tidak umum agar dihasilkan anggrek yang mampu memikat para pembeli, sehingga perputaran roda fulusnya pun juga akan cepat. Maka dari itu, saat kita membeli bunga hibrida yang sudah mendapatkan perlakuan sedemikian rupa, kemudian membawanya ke rumah, si anggrek pun terkaget-kaget dan stress, hingga anggrek yang kita beli tak berumur lama.

Analisis saya ini juga mendasarkan pada bunga-bunga hibrida lainnya. Dan inilah beberapa hasil hibrid yang saya anggap hanya mengandalkan pada keindahan bungannya saja, bukan keunggulan-keunggulannya seperti jenis hibrid dari tanaman pangan.

Anda tahu bunga apa ini?

Anda tak mengira bukan kalau ini bunga Cosmos zinnia yang sekilas sulit dibedakan dengan bunga dahlia

Pemberian obat-obatan

Anggrek adalah salah satu tipe tanaman yang tumbuhnya sangat lambat, seperti bunga Tulip. Nah karena karakter lambatnya itu, kita pun menjadi tak sabaran. Berbagai cara pun kita tempuh untuk memaksa si anggrek mengeluarkan bunga-bunganya yang cantik. Pemberian hormon, obat-obatan maupun pupuk-pupuk perangsang pun rutin kita berikan agar slow character dapat diubah menjadi fast bahkan flash atau super fast seperti nasib ayam-ayam suntik. Inilah yang ditempuh para nursery dan perusahaan-perusahaan anggrek besar di luar negeri sana. Agar apa? Ya agar perputaran fulusnya juga berlangsung super cepat. Apalagi sekarang dengan teknik-teknik modern bisa didapatkan anggrek yang tumbuh supercepat dengan kuntum bunganya yang banyak lagi awet. Namun tentu saja ada efeknya, yakni kalau kita tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan para nursery tersebut, siap-siap saja anggrek yang kita beli tak akan berumur panjang. Nah perlakuan yang diberikan perusahaan-perusahaan anggrek tersebut tentu saja tak murah. Ada teknologi dan pengetahuan modern yang bercokol di sana. Dan ini tentu saja tak cocok dengan kita, pecinta anggrek rumahan yang menginginkan perawatan anggrek yang simpel-simpel saja.

Tumbuhnya sangat lambat

Bagi anggrek sendiri, tumbuh lambat adalah kelebihan dan keuntungan baginya. Namun bagi manusia – termasuk kita yang serakah ini yang ingin cepat-cepat anggrek kita berbunga – lambatnya perkembangan si anggrek dinilai sebagai kelemahan, padahal kita pun nyadar bahwa Allah sudah memplot si anggrek memang tumbuh lambat. Namun lagi-lagi karena kita menginginkan anggrek kita agar cepat-cepat berbunga dan berkembang biak, sedangkan anggrek tak dapat memenuhi tuntutan itu, maka jadilah anggrek spesies sebagai tumbuhan langka. Artinya terjadi kontradiksi antara kepentingan manusia dan karakter alamiah si anggrek. Karena pertumbuhan dan perkembangan yang lambat tersebut, seringnya kita tidak mampu menangkap sinyal-sinyal yang dikirimkan si anggrek. Apakah ia sedang terkena penyakit, kekurangan air, kelebihan air, dan lain-lain hingga akhirnya kita pun terlambat untuk ‘menyelamatkan’ si anggrek. Maka tak mengherankan kalau kita pun menjadi ‘penjagal anggrek’ yang menyumbang turunnya prosentase kehidupan anggrek. Itu banyak lho yang saya baca di milis-milis pecinta anggrek. Keberhasilan yang kini mereka dapatkan dalam memelihara anggrek memakan korban anggrek yang tidak sedikit. Selain perbuatan kita tersebut yang ‘membunuh’ anggrek, ada tambahan lagi kegiatan-kegiatan manusia seperti tingginya laju deforestasi hutan, kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan ilegal yang langsung maupun tak langsung disebabkan oleh para pecinta anggrek, membuat nasib si anggrek di ‘rumah’ alamiahnya menjadi kian mengenaskan. Padahal banyak di antaranya yang belum sempat diidentifikasi, namun sudah keburu musnah. Innalillah.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ilustrasi:

@PKT Kebun Raya LIPI 2014

Arsip dari download

Meminimalisir Kemubaziran di Hari Raya (Lebaran) dengan Me-Reduce, Reuse, dan Recycle

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mitra BPGers
Idul Fitri memang sudah berlalu beberapa hari, namun suasananya masih akan terus terasa hingga bulan Syawal berlalu. Selama masih belum berjumpa dengan handai taulan, kaum kerabat, kawan sahabat untuk meluruhkan kesalahan-kesalahan, selama itu pula suasana Idul Fitri masih ada. Hari raya memang merupakan hari yang ditunggu-tunggu dan patut dirayakan, tidak hanya untuk kaum Muslim saja, namun juga umat-umat lainnya dengan hari rayanya masing-masing. Meski begitu, jangan sampai kita tenggelam pada euphoria, kesenangan yang berlebihan-lebihan hingga melupakan esensi hari raya itu sendiri. Umat Muslim harus mampu memaknai hari raya tersebut sebagai anugerah, rahmat dan ampunan Allah terhadap kita yang telah menjalankan puasa untuk mengekang nafsu dan membersihkan hati dan jiwa. Bersenang-senang boleh, biarkan jasmani saja yang melakukannya. Namun rohani kita harus senantiasa bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan dan keberkahan yang senantiasa diturunkan Allah kepada kita, hambaNya yang senantiasa berusaha untuk menjauhi larangan-laranganNya, menjalankan perintah-perintahNya, serta melaksanakan apa pun yang dianjurkanNya.
Pada hari raya sangat jamak terdapat beraneka makanan, minuman dan jajanan atau suguhan yang disediakan untuk tetamu. Kadang berlimpah-limpah malah. Ya itulah karakter orang Indonesia, lebih baik menyediakan berlebih daripada kekurangan agar tak membuat kecewa orang. Makanan berat seperti opor, ketupat, rawon, bakso, lontong dan lain-lainnya, selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk disuguhkan kepada tamu atau dihantarkan kepada tetangga. Begitu juga dengan makanan ringan seperti assorted biscuit buatan pabrik, aneka kerupuk, permen dan jelly aneka rasa, maupun jajanan tradisional yang masih terus bertahan seperti dodol, jenang, tape ketan, madu mangsa, kembang gula, dan sebagainya. Pun dengan minuman yang aneka rasa dan merek, maupun air mineral. Semuanya berlimpah-limpah demi menyenangkan para tamu. Namun seringnya makanan dan minuman tersebut tidak habis dimakan atau diminum. Mubazir. Padahal Allah tidak menyukai kemubaziran. Dari pengamatan saya, penyebabnya adalah ‘paksaan’ tuan rumah yang dengan semangat empat lima tak bosan-bosannya menawarkan dan mempersilahkan kita untuk mencicipi aneka suguhan yang ada. Seringnya malah mengambilkan suguhan tersebut langsung kepada kita dengan porsi berlebih, padahal mungkin saja perut kita sudah tak mampu menampung lagi karena sudah kenyang hasil ‘menabung’ dari rumah-rumah sebelumnya, atau suguhannya tidak cocok dengan selera kita, atau karena adanya faktor penyakit seperti alergi, diabetes, maupun penyakit lainnya yang memang harus berpantang, dan lain-lainnya.
Nah karena banyak makanan maupun minuman yang tersisa, ditambah lagi dengan sampah yang terus menumpuk membuat kita bingung mau diapakan dan mau dikemanakan. Bagi para pecinta lingkungan atau alam, tentu ini menjadi problematika yang tidak enteng. Dicarilah berbagai solusi agar sampah-sampah dan makanan-minuman sisa dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya. Apalagi untuk sampah plastik yang memang sangat susah diurai. Dibakar jelas bukan solusi yang baik, padahal sampah-sampah tersebut kalau dikumpulkan akan banyak sekali yang tentunya akan memakan tempat. Itu problem masih dari satu rumah saja. Coba anda bayangkan kalau sampah-sampah dari satu RT dikumpulkan. Kemudian dari satu RW, satu desa, hingga wilayah yang lebih luas. Tentu akan memberatkan petugas sampah dan juga bumi untuk mengurai sampah-sampah tersebut. Maka dari itu kita harus bijak sebelum membeli atau membuat makanan dan minuman sebagai suguhan di hari raya. Penggunaan berbahan plastik harus sedapat mungkin dihindari. Jika tak mampu menghindarinya, maka meminimalisir penggunaan plastik merupakan suatu keharusan. Program reduce, reuse, dan recycle harus kita realisasikan benar-benar. Yuk mari kita bedah sampah dan limbah apa saja yang dapat kita 3R-in.
Dijadikan Pupuk organik
۞ Makanan sisa / basi
Caranya:
– Gali lubang. Timbun makanan basi di dalamnya, urug dengan tanah. Tunggu beberapa minggu. Gunakan. Makanan sisa yang ditimbun dengan tanah tak akan berbau.
– Masukkan dalam komposer
Saya pernah mencoba membuat kompos dari buah-buah busuk yang dimasukkan ke dalam kantong plastik besar karena saya tak punya komposer dan juga masih malas harus menggali tanah. Saya tambahkan starter hasil campuran dari ± 200 gr tape singkong, air ½ botol aqua besar, plus 5 sdm gula yang dibiarkan selama 5 hari. Namun hingga beberapa minggu, saya belum yakin apakah hasil olahan ini bisa digunakan atau tidak, karena buah-buah tersebut berwarna hitam dan baunya pun tidak enak meski tidak menyengat. Saya akan tunggu beberapa minggu lagi.
۞ Minuman sisa
Sisa minuman apa saja dapat kita gunakan sebagai pupuk, apakah aqua, aneka sirup, teh, kopi, atau susu basi, dan lain-lain. Caranya pun mudah saja, cukup siramkan pada media tanam, jaga jangan sampai kena tanamannya karena akan mengundang semut maupun jamur.
۞ Jajanan sisa
– Caranya sama seperti pada makanan sisa.
– Karena ukurannya relatif kecil dapat langsung kita pakai sebagai pupuk dalam pot. Cukup membuat lubang pada media. Masukkan snack sisa, tutup dengan media tanam.
Tanah/bumi merupakan media terbaik pembuat kompos. Apapun tak akan berbau jika ditimbun dengan tanah. Itu memang sudah menjadi sifat tanah. Bayangkan kalau bumi/tanah tidak mempunyai karakter seperti itu, tentu bau mayat dan bangkai akan membuat kita tak akan nikmat menikmati kehidupan ini. Makanya tubuh manusia yang awal penciptaannya berasal dari sari pati bumi itu tidak berbau, tidak seperti badan hewan lainnya yang mempunyai bau khasnya masing-masing, meski sama-sama berbalut daging.
Dan …
Berbagai macam sampah di bawah ini dapat kita gunakan sebagai pot, penjaga kelembaban atau cadangan air dengan menjadikannya sebagai tatakan pot yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman atau keinginan kita.
۞ Gelas plastik berbagai ukuran, model, dan ketebalan
Gelas mineralInilah sampah terbanyak di rumah kami, karena setiap orang pasti lebih memilih minum dibanding makan, apalagi bila cuaca sangat panas. Gelas bekasnya dapat kita jadikan pot untuk bibit bunga hias dan juga anggrek. Sudah banyak yang mencoba menanam bibit anggrek dalam gelas plastik, dan berhasil. Saya pernah juga melihat anggrek berbunga yang ditanam dalam gelas plastik dan dijual di kios bunga. Biasanya gelas plastik tersebut berukuran besar dan tepi atasnya dipotong atau dibuang. Dapat juga kita gunakan sebagai penjaga kelembaban dari tanaman anggrek dengan cara menuang air ke dalamnya dan letakkan di sekitar pot atau media anggrek. Untuk menghindari jentik nyamuk, isi gelas bila air telah benar-benar habis atau gelas kering. Bila terdapat jentik nyamuk, siramlah air ke media tanam, isi lagi dengan air baru. Gelas ini cocok juga sebagai pot untuk tanaman hias tini seperti Lily Paris, Portulaca, Sanseviera mini, dan lain-lain.
۞ Wadah biskuit plastik berbagai ukuran, model, dan ketebalan

wadah biskuit bundar

wadah biskuit bundar

Wadah biskuit bundar satu lubang tampak atas

Wadah biskuit bundar satu lubang tampak atas

Terkadang dalam kaleng biskuit ada wadah/keranjang plastik untuk meletakkan biskuit. Ada yang mempunyai lekukan tunggal atau lebih. Tujuannya agar kaleng tidak cepat berkarat dan juga menjaga agar biskuit tidak berhamburan. Untuk yang tunggal ukuran relatif besar dapat kita gunakan sebagai tatakan pot anggrek penyedia kelembaban. Air dapat kita isi secara langsung atau berasal dari buangan siraman. Sedangkan untuk wadah dengan beberapa lubang atau kotak, anda harus mengguntingnya satu-satu atau manasuka sesuai kebutuhan. Lubang yang besar dapat kita jadikan tatakan, sedangkan untuk yang lebih kecil atau mini dapat kita gunakan sebagai penyedia air dan kelembaban, terutama yang bermedia tanam cepat kering seperti sekam, arang atau pasir.

Cup diatur sebelum ditutup tanah dan bunga ditanam

Cup diatur sebelum ditutup tanah dan bunga ditanam

Caranya isi pot/botol aqua/wadah lain yang tak terpakai dengan media tanam beberapa senti saja. Atur wadah tersebut di atasnya. Urug dengan media tanam beberapa volume lagi. Kemudian tanam bunga dengan cara biasa. Air yang kita siram sebagiannya akan tertahan dalam wadah tersebut, jadi memang sangat cocok untuk bunga-bunga yang memerlukan kelembaban tinggi seperti suplir atau tanaman air atau untuk penghobi yang tinggal di daerah sangat panas seperti Surabaya atau Jakarta, atau daerah-daerah yang mahal air hingga dapat menghemat siraman. Perlakuan yang sama dapat kita pakai untuk gelas bekas minuman mini 120 milian.

Cup minum mini

Cup minum mini

Atau cup imut jelly. P001-Mini-Jelly-CupBekas yakult juga bisa.

Atau yang lainnya …

cup jelly cup120ml Cup gelas n botol Baru-100pcs-lot-Putaran-Batal-Plastik-Cupcake-Box-Muffin-Cookie-box-Pastry-Kontainer-Makanan-Kemasan-Kasus.jpg_220x220 wadah biskuit kotak besar wadah biskuit tiga lubang Mika kotak wadah suguhan Mineral Water (Cup) wadah biskuit 4 kotak

Manasuka sesuai kreativitas anda.

Sebagai tatakan pot anggrek

Sebagai tatakan pot anggrek

Sebagai tatakan pot anggrek

Sebagai tatakan pot anggrek

۞ Kaleng plastik maupun seng

Kaleng yang masih baik dapat digunakan kembali

Yang sudah rusak dijadikan pot.
۞ Botol Minuman dan semacamnya aneka ukuran, model, dan ketebalan
779901_12032013014 botol plastikAda banyak cara dan variasi pot dari botol-botol minuman ini. Anda dapat mencarinya di internet. Bila leher botol digunting, kemudian dibuat bolongan sebanyak-banyaknya pada sisi-sisinya dengan membiarkan beberapa senti di atas dasar botol, akhirnya jadilah media pot anggrek. Bolong-bolong tersebut berfungsi sebagai drainase dan aerasi. Sedangkan beberapa senti sisanya sebagai wadah sisa air penyedia kelembaban. Bila digunakan sebagai media pot tanaman hias lainnya, potong botol jadi dua sama besar. Pada potongan bawah anda harus membuat lubang sebagai drainase berlebih. Tanam bunga seperti cara biasa. Letakkan dimana saja anda suka. Untuk potongan atas, balikkan dan buat lubang pada tutupnya. Bunga ditanam seperti biasanya. Untuk potongan atas ini, anda dapat menggantungnya, atau mengikatnya pada pagar besi, atau memakunya pada tembok. Manasuka.
Kemudian …
Untuk sampah-sampah berikut, saya belum punya ide untuk memanfaatkannya …
– Bungkus permen, biskuit, coklat, wafer, dan lain-lain yang berwarna-warni

images2
– Kantong plastik ukuran kecil, baik seal atau tidak

Plastik seal bungkus aneka snack
– Tutup cup

Tutup cup
– Sedotan

sedotan

Anda punya ide? Mari berbagi agar ilmu anda bermanfaat dan tentunya anda akan mendapatkan pahala.
Catatan:
Foto-foto di atas hanyalah sebagai ilustrasi saja, karena variasi dari wadah-wadah tersebut banyak sekali dengan berbagai ukuran, bentuk, bahan, dan ketebalan. Silahkan dimanfaatkan dengan yang paling mirip dengan cara-cara di atas.
Bila dikatakan media itu bisa berarti sebagai media pot, media tanam, media tempel, media gantung, dan lain-lain disesuiakan dengan konteks kalimat atau pembicaraannya.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ipomoea triloba, Ubi Jalar Liar Bunga Ungu nan Mungil

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

triloba-guTumbuhan invasif dari Amerika Tropik (Solomon Islands, Palau (Belau), Marshall Islands, Ralik Chain, Micronesia Yap Islands, Guam Island, Northern Mariana Islands, Micronesia Chuuk Islands) dan Tiongkok ini memiliki morfologi yang bervariasi karena mempunyai keragaman genetik yang tinggi terutama pada karakter daun dan bunganya. Karena itu kalau kita buka-buka blogs akan kita jumpai gambar-gambar yang bervariasi tentang Ipomoea liar ini. Di sekitar tempat tinggal saya, Ipomoea triloba ada yang daunnya bercorak merah, tidak terbagi tiga (atau tunggal seperti hati), dan lain-lain variasi. Begitu pun bunganya, banyak variasi warna. Ada yang ungu, ungu pucat, ungu tua, pink, atau lainnya (merah), baik ada corak putihnya maupun tidak. Di tempat terlindung bunga bewawarna pink atau ungu pucat. Di tempat yang terang warna bunganya lebih cerah.

Meski liar namun mempunyai potensi menjadi bibit unggul untuk disilangkan dengan Ipomoea batatas (Ubi Jalar) dan menghasilkan silangan yang tahan cekaman biotok (biotik dan abiotik). Rawatan Ungu juga menjadi sumber gen tahan kekeringan karena mampu tumbuh di kawasan berkapur dan lahan kering, sangat adaptif, dan tahan serangan hama.

Bunganya sih berukuran kecil, ± 2 cm diameternya. Bentuknya tak jauh berbeda dengan Ipomoeae sp. lainnya yakni petal berbentuk bintang (bersudut lima yang lancip) berwarna ungu muda disatukan oleh sepal tipis yang juga ungu muda.

Daunnya terbelah (bercuping) seperti mata tombak bermata tiga atau ada yang berbentuk hati, 3 – 6 centimeter panjangnya. Kebanyakan, walau tidak selalu, daun yang saya lihat pada internet bercuping tiga. Ada juga yang tunggal.

Batang double (bercabang dua), berdiameter kecil, setengah berkayu, melilit atau menjalar, bersudut atau segitiga.

Nama yang umum disematkan padanya antara lain Little Pink Bell, Little Bell, Three-lobed Morning Glory, Three-lobe Morning Glory, Aiea Morning Glory, Pink Convolvulus, dan Potato Vine. Nama binomial yang pernah disandangnya antara lain: Batatas triloba, Convolvulus trilobus, Ipomoea blancoi, Convolvulus heterophyllus, Ipomoea eustachiana.

Termasuk ubi jalar kecil yang tidak dikonsumsi dan tidak bernilai ekonomis danbersama-tumbuhan-liar-lainnya dianggap sebagai tumbuhan pengganggu pada beberapa tempat di dunia, bahkan menjadi gulma jahat (noxious weed) karena cepatnya tumbuh, memanjat|membelit tumbuhan inang, rentang hidupnya tahunan, sehingga mampu bersaing dengan tumbuh-tumbuhan lainnya, bahkan dengan sesama gulma jahat. Selain dibiarkan rawatan-ungutumbuh meliar di pinggir-pinggir jalan daerah pedesaan, padang rumput, bukit, pinggir hutan, tanah terlantar, sekitar area perkebunan dan persawahan, biasanya digunakan sebagai pakan ternak. For full sun, partial, or deep shade areas. Sometimes we’ll find them in our place or garden.

Sebagian besar Ipomoea triloba mempunyai sifat self-incompatible, artinya bunga tidak mampu menghasilkan biji dari persilangan sendiri.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Torenia fournieri, si Torenia Ungu yang Murah Meriah Namun Molek Pisan

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
close upHarga bunga yang satu ini memang murah, sangat murah malah. Ada yang menawarkan lewat jasa online bibitnya seharga Rp 500/gr. Itu artinya setara dengan sebuah torenia yang telah matang. Padahal dalam buah tersebut terdapat banyak puluhan bahkan ratusan biji. Meski murah, namun ketidakmahalannya tersebut ternyata tak sebanding dengan kecakepannya. Bunganya mirip-mirip anggrek ya. Ada petal bawah yang serupa labellum dan juga petal samping yang mirip sayap/tangan seperti pada anggrek. Dari petal samping inilah diperoleh nama Bluewings atau Blue Pig’s Ears.
Tanaman hias ini memang memiliki bunga yang elok punya, cantik nggak ketulungan, sehingga banyak yang naksir dan menjadi Toreniamania atau Torenisti yang akhirnya tak segan-segan berburu semua jenis Torenia, baik asli maupun hibrid. Seakan-akan ke ujung dunia pun dikejarnya. Ya … bagaimana tidak? Selain bunganya yang memikat, perawatannya juga minim, eh … sama Allah yang Maha Pencipta dikasih bonus rajin berbunga. Nah lho … bagaimana kita tidak dibuat klepek-klepek?
bungaDari berbagai warna, yang sangat saya sukai adalah Torenia warna ungu tua kebiruan yang biasa kita jumpai itu atau yang ada pada gambar-gambar pada artikel ini. Ya … memang sih, warna Torenia-torenia hibrid itu atraktif punya. Namun entah mengapa saya merasa hambar-hambar saja terhadap Torenia-torenia hibrid ini. Di mata saya warna-warna torenia jenis baru ini tidaklah secakep Torenia ungu idola saya itu. Entah nanti kalau menjumpai yang bunganya full biru dan putih/alba. Di Kediri saya hanya menjumpai 3 varian warna saja, ungu tua, ungu kemerahan, dan pink putih. Dari ketiganya, yang paling beranak pinak hanya torenia ungu tua, bahkan Torenia pink saya sudah pergi entah kemana. Ternyata yang bernasib seperti saya banyak juga ya. Nampaknya yang warna pink ini memang gampang mati dan sulit dipelihara. Sedangkan yang berwarna ungu kemerahan, bunga tidak dapat mekar sempurna atau bisa dibilang cacat. Itu yang di tempat saya, entahlah kalau di tempat shob.
Tips Berkebun Torenia ala BPG
Karena gampang berbiak, kita tidak perlu membeli dalam jumlah banyak. Satu varian cukup satu pot atau satu kantong saja. Tak usah menunggu berapa lama, dalam hitungan satu atau dua bulan biji-bijinya yang berjatuhan akan menjelma menjadi benih-benih torenia yang baru. Asal shob bisa menjaganya dari hama belalang dan ulat, dijamin dari satu pot bunga bisa mengkover banyak area di taman shob. Saking mudahnya berkembangbiak, saya tak pernah mempruningnya|pinching dan membiarkan apa adanya. Ya memang sih jumlah bunga yang mekar mungkin tidak sebanyak bila rajin dipruning, namun karena dalam satu pot ada banyak tanaman, jadi kelihatannya ya sama saja antara dipruning atau tidak.
bunga2Tidak perlu rebyek dengan persyaratan mengenai kondisi dan jenis media tanamnya apakah pakek tanah humus, kompos, sekam bakar, pakis, cocopeat, dan lain-lain yang sering ditulis dalam blog-blog bunga. Cukup tanah biasa ditambah dedaunan kering plus sedikit pasir. Torenia bukan termasuk tanaman yang rewel akan kondisi tanah, bahkan dalam media tanam yang minim sekalipun, si bunga yang cantik ini mampu hidup, bahkan bisa tumbuh secara litofit. Boleh juga diberikan pupuk kandang atau pupuk cair hasil buangan dari dapur, seperti susu basi, air cucian beras atau daging, dan sebagainya.
bunga1Dari beberapa artikel, dinyatakan bila dalam kebun kita terdapat beberapa varian, prosentase hadirnya varian baru terbuka lebar dengan terjadinya perkawinan silang (hibrid) secara alamiah, karena itu disarankan untuk menanam Torenia aneka warna.
Wishbone Flower yang merupakan tanaman pendek/kecil/semak ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai tanaman hamparan (ground cover), pembatas/border lane, atau tanaman gantung atau sebagai penghias meja bila telah berbunga. Beberapa individu saya tanam pada bambu panjang yang diikat pada pagar. Shob dapat juga berkreasi dengan variasi lain, dengan kebun vertikal misalnya.
Jemur pada panas matahari langsung yang akan membuat Torenia kita bisa berbunga kaaapan saja. Jadi tidak hanya berbunga pada bulan-bulan tertentu saja seperti yang ditulis pada blog-blog.
Yang terpenting dari berkebun Clown Flower adalah jaga jangan sampai tanaman kekurangan air. Walaupun sangat toleran terhadap cahaya matahari yang panas, namun tanaman bisa layu, yang akhirnya berujung pada kematian bila media tak ada cadangan air. Untuk itu, jangan lupa selalu menjaga pasokan airnya, apalagi bila ditanam dalam pot, harus sering-sering disiram, minimal sehari sekali. Asalkan media masih nampak basah atau kondisi tanaman tampak segar, Torenia tidak perlu disiram. Begitu pula pada musim penghujan, hanya disiram bila sehari penuh hujan tidak turun.
batang cabang dan daunPerbanyakan dapat dengan mudah melalui bijinya. Caranya buah yang hampir matang sebar di atas media pada tempat yang kita inginkan. Biarkan buah matang sendiri dengan bantuan cahaya matahari/penjemuran. Atau bisa juga dengan mengumpulkan buah-buahnya dalam sebuah wadah dan kemudian dijemur. Bila sudah kering dan pecah, biji-bijinya dapat kita tanam pada tempat yang kita inginkan. Beberapa minggu kemudian akan muncullah tunas-tunas dari benih-benih tersebut. Bila sudah agak besar, shob dapat memindahkan ke tempat lain yang shob inginkan. Pemindahannya diusahakan terbawa juga sedikit medianya. Cara lainnya bisa dengan stek batang. Potong dengan panjang sesuai keinginan, namun jaga agar setiap potongan terdapat node/ruas batang. Tanam pada media dan letakkan di tempat yang panas. Selain itu dapat juga dengan memotong geragihnya, itu lho batang rebah/batang merunduk yang menempel pada tanah dan keluar akar pada ruas-ruasnya.
buahIngin mengirit kantong untuk memperoleh varian-varian Torenia? Cara yang termudah adalah tukar-menukar. Namun biasanya penghobi letaknya saling berjauhan, jadi nambah biaya ongkos ya? Yang paling realistis adalah membeli pada penjual bunga dengan memilih pot atau polibag bunganya berbeda namun letaknya saling berdekatan/berdempetan. Lihat apakah sudah ada buah yang pecah? Bila ya, dan shob beruntung biji yang pecah tersebut akan jatuh pada pot atau polibag yang shob beli. Jadi bisa kita dapatkan varian berbeda dalam satu kantong saja. Atau sambil membeli sepot, kita minta buah dari varian lain pada penjualnya barang satu saja yang telah tua.
Cek berkala dari serangan belalang. Kalau ulat saya belum pernah menemukan.
Di tempat saya daun Torenia juga rawan keriput. Rupanya ini hasil serangan kutu-kutu penghisap daun. Biasanya mereka ada di bawah daun, warnanya putih dan ada juga yang abu-abu atau kehitaman. Potong saja cabang-cabang yang terdapat kutu-kutu ini.
Di musim penghujan, akar juga rawan terserang jamur. Bila memang serangannya tidak dahsyat dan tanaman masih aman-aman saja, dapat dipertahankan. Namun bila tidak, tanaman sebaiknya dicabut saja. Ciri-cirinya daun-daun berwarna kecoklatan seperti karat.
Shob dapat juga melakukan cara-cara lain yang tidak sama dengan cara-cara yang BPG lakukan. Misalnya memakai pupuk buatan, obat-obatan, dan lain-lain. Suka-suka saja. Yang penting happy berkebun.

g bisa mekar

pink

kumpulan
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ageratum conyoides, Obat Herbal Alami, Pestisida Alami, Herbisida Alami, Insektisida Alami, Fungisida Alami, dan Nematosida Alami

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

pita-putihTak banyak tumbuhan yang mempunyai multi manfaat seperti Ageratum conyoides ini. Tidak hanya sebagai obat herbal alami saja, namun juga berfungsi sebagai fungisida, insektisida, pestisida, maupun herbisida alami. Dan nama yang didapatkan, yakni Bandotan atau Goatweed karena bau yang dikeluarkannya mirip bau kambing.

Sebagai obat herbal, daun Berokan memiliki kemampuan tinggi sebagai obat anti inflamasi untuk menghentikan pendarahan dan mengobati luka-luka, lecet, memar, terbakar maupun gatal-gatal. Bahkan di Tapanuli juga digunakan untuk luka membusuk dan berulat. Caranya sangat mudah. 2 3 helai daun Bandotan|Babandotan diremas-remas sampai berair dan kemudian diteteskan ke kulit yang bermasalah. Atau beberapa lembar daun segar (± 5 gr) ditumbuk atau dihaluskan, dicampur dengan minyak goreng atau kapur yang sudah diinapkan (enjet – Jawa), kemudian dioleskan pada luka.

Selain untuk luka, daun juga dapat digunakan sebagai pencuci mata, obat sakit perut, dan sakit gigi. Akarnya bermanfaat untuk menurunkan demam dan batuk. Seluruh bagian tumbuhan digunakan sebagai obat asma, kolik, demam, flu, diare, rematik, kejang-kejang, bahkan kista, atau sebagai tonik saja.

bandotSebagai inseksitisida, kandungan 12-6-metil asam heptadecenoicnya yang disemprotkan pada tanaman anggrek mampu mengurangi jumlah tungau. Perlakuan ini dilakukan setiap dua hari sekali hingga hama tungau benar-benar habis. Dapat juga digunakan sebagai insektisida pada belalang. Ekstrak kloroformnya beracun bagi larva Artemia salina. Daun Wedusan yang diekstrak dengan metanol pada konsentrasi 1% beracun terhadap serangga. Tepung daunnya yang dicampur dengan tepung terigu menghambat pertumbuhan larva nyamuk, hama pascapanen (Sitophilus sp. dan Callosobruchus sp.), nematoda (Meloidogyne incognita) dan sebagainya.

Sebagai fungisida, ekstrak metanol dari daun dan akar menghambat pertumbuhan bakteri S. pyogenes. Flavones yang dikeluarkan oleh Rumput Tahi Ayam dapat digunakan untuk mengendalikan patogen jamur sebagai fungisida alami.

pada-suatu-koloniSebagai herbisida alami, secara alamiah minyak atsiri atau kandungan kimiawi yang dilepaskannya mampu menghambat pertumbuhan bahkan membunuh (bila konsentrasinya tinggi) tanaman lain atau yang disebut dengan allelopati. Karena itu tak mengherankan apabila Rumput Kambing Berok ini mampu mendominasi suatu area atau koloni.

Sayangnya populasi Tampua atau Sibaubau kian lama kian menurun. Sekarang hanya menghuni pada area-area yang belum tersentuh perlakuan pertanian. Padahal dahulu Chick Weed tumbuh hampir di segala tempat. Namun karena dianggap sebagai pengacau dan bukan tumbuhan yang bernilai ekonomis, petani sesegera mungkin menyingkirkan babandotan jauh-jauh dari area budidaya. Meski mudah berkembang biak dan tumbuh pada hampir segala kondisi dan area seperti pekarangan rumah, tepi jalan, ladang, tanggul, saluran air, persawahan, perkebunan, dan area bersemak belukar namun tumbuhan ini masih mudah dimusnahkan dengan pembabatan maupun pencabutan. Maka tak mengherankan apabila beberapa blog melaporkan tumbuhan ini sudah mulai sulit untuk dijumpai.

7Batangnya yang besar namun agak lunak sedikit berkayu membuat petani mudah untuk menariknya, apalagi akarnya juga tidak begitu menghujam tanah membuat Jukut Bau ini juga mudah dicabut.

Penurunan populasi dari Billygoat Weed ini patut disayangkan ya, karena potensinya sebagai tanaman multi guna sangatlah besar, terutama bagi petani sehingga mampu menekan biaya bercocok tanam atau obat-obatan.

Selain berkembang biak dengan biji, vegetatifnya secara stek batang atau batang merunduk.

Bunga Daun Tombak sebenarnya cantik, hanya sayangnya karena belum memiliki nilai ekonomis, maka tak banyak yang berminat menjadikannya sebagai tanaman hias. Padahal di luar negeri Dus Wedusan sudah didomestikasi sebagai tanaman hias, bahkan ada jenis-jenis hibridnya.

pada-suatu-koloniDibalik nilai plusnya, Whiteweed juga memiliki nilai minusnya, yakni menjadi tumbuhan inang bagi Platigaster oryzae yang merupakan parasitoid hama ganjur yang menyerang padi, dan inang virus Ruga tabaci yang menyerang tembakau. Jadi Bandotan dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela untuk menolak atau mengendalikan hama pada tanaman budidaya selain padi dan tembakau.

Dan meski mengandung kandungan kimiawi yang tidak bersahabat dengan serangga, beberapa jenis kupu-kupu berikut nyantai-nyantai aja hingga pada daunnya.

Kemiripan Spesies

Plik-plok (Ageratum houstonianum)

 


Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Lantana camara, si Tahi Ayam yang Cantik

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

lantana pink2Ada yang dengan berat hati saya deportasi dari kebun. Itulah Saliyara/Saliyere spesies pink, salah satu bunga terindah di dunia menurut situs yang saya baca. Meski bunganya kecil-kecil namun rangkaiannya membentuk semacam jambangan (bundar) yang cantik. Warnanya pun memikat, pink ngejreng. Tanaman ini memang harus out, karena saya merombak taman yang luasnya tak seberapa tersebut dengan menyisakan bunga-bunga yang saya sukai, yaitu yang berwarna biru, putih, dan warna lain yang berat untuk berpisah, seperti Torenia, Bauhina pink, dan tanaman-tanaman hias daun. Tentu saja beberapa jenis sudah mengalami pengurangan kwantitas. Lagian fokus utama saya kini pada anggrek, yang sekarang lagi gila-gilanya. Dan lagi mayoritas bunga yang ada membutuhkan sinar matahari langsung yang banyak, sehingga saya harus pandai-pandai memilih jenis dan memanaj peletakannya. Sedangkan Lantana spesies ini bila sudah beradaptasi pertumbuhannya sangat pesat, sehingga menghambat atau menggeser keberadaan tanaman hias lainnya. Saya pun dibuat kerepotan untuk memangkas cabang-cabangnya berdurinya yang justru kian membuat cabang-cabangnya bertambah banyak. Selain beracun, daunnya juga berbulu, sehingga tak aman bagi anak-anak. Apalagi tingginya bisa mencapai 2 meter.

lantana pink5Tahi Ayam spesies yang umum kita jumpai berwarna jingga dan pink yang tumbuh meliar di tepi sungai, area pertanian (persawahan, perkebunan, atau ladang), tepi hutan, lembah, padang rumput, hutan sekunder, daerah pantai, daerah pantai, hutan (sekunder, hutan budidaya/komersil), daerah terganggu (tepi jalan, jalur rel, terusan/kanal, dan perkampungan), tepi sungai, semak belukar, baik di tempat yang terbuka, setengah teduh, atau bahkan teduh. Pada tempat yang teduh, bunga jarang mekar dan sedikit sekali kuntumnya. Walaupun jumlahnya tak sebanyak kedua varian sebelumnya, spesies warna putih juga dapat kita temukan.

habitusBunga memang kecil-kecil dan berbentuk payung. Kalau kita amati bentuk petalnya mirip biskuit anak-anak. Bunga mengalami perubahan warna yang berbeda-beda, mulai kuncup hingga layu. Ada mengatakan penyebab perubahan warna tersebut dipicu/dirangsang oleh kehadiran sang polinator. Hampir semua varian, saat kuncup berwarna kuning kecoklatan, kemudian berubah menjadi oranye, merah muda, merah, putih, kuning, dan lain-lain tergantung varitasnya. Warna kuning pada kerongkongan (tabungnya) menandakan bahwa bunga tersebut masih ‘perawan’ atau belum dipolinasi oleh serangga-serangga polinator. Bila warna tersebut menghilang, menandakan bunga telah mengalami penyerbukan dan berkembang menjadi buah. Warna-warni dari bunga Tembelek/Tembelekan ini memang sangat atraktif mengundang kupu-kupu, lebah, lanceng, tawon, semut, dan hewan polinator lainnya. Di alam liarnya saya belum banyak jam terbang untuk mengamati jenis-jenis kupu-kupu apa saja yang menghisap sari bunganya. Yang saya ketahui adalah Yellow/Orange/Mottled Emigrant , member genus Eurema, Kupu-kupu Jeruk, dan Skippers. Meski jumlah kuntum dari bunga hibrid lebih banyak, namun varian spesies lebih disukai.

Setelah masa berbunga lewat, gantian burung-burung yang memakan buahnya. Buah buni/berry-nya yang telah masak dan berwarna biru kehitaman mengkilap memang aman dikonsumsi oleh hewan. Kita juga boleh memakannya. Namun kalau nggak kepepet banget, tak usahlah makan buahnya, toh masih banyak buah-buahan yang nyata-nyata aman, enak, dan murah harganya. Buah mudanya berwarna hijau mengkilap dan bertangkai yang seiring bertambahnya usia dan kematangan berganti menjadi biru kehitaman dan menggerombol. Buah masak sangat disukai burung-burung dan menyebarkannya ke tempat lebih jauh, sehingga penyebaran tumbuhan ini mampu mencakup rentang wilayah yang luas. Karena itu untuk mencegah meluasnya persebarannya yang berarti meningkatkannya menjadi gulma serius, maka di Guam didatangkanlah Ular Pohon Coklat (Boiga irregularis) yang memangsa burung-burung pemakan buah Kamanco, sehingga Mainco tidak tersebar ke wilayah yang lebih luas. Namun cara ini dapat merusak lingkaran ekosistem asli.

lantana pink4Camara vulgaris yang berada di tempat-tempat yang terbuka, pertumbuhannya sangat bagus. Selain warnanya lebih ngejreng, kuntumnya juga lebih banyak. Karena pertumbuhan dan perkembangannya yang cepat tersebut, Bunga Pagar spesies telah menjadi tumbuhan invansif yang penting di berbagai negara. Beberapa alasan membuat Lantana aculeata tanaman invansif yang diperhitungkan, yakni:

  1. Penyebaran bijinya sangat luas karena dibawa burung-burung dan hewan-hewan lain yang menyukai buah buninya yang manis.
  2. Herbanya tidak disukai hewan pemakan tumbuhan karena racun yang dikandungnya, kecuali beberapa kasus.
  3. Mampu hidup dan toleran terhadap kondisi tanah dengan rentang yang sangat luas. Jadi pemeliharaannya bila didomestikasi taklah
  4. Tahan terhadap perubahan iklim dan cuaca yang ekstrim.
  5. Pertumbuhannya sangat cepat bila sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
  6. Mampu bersaing dengan tumbuh-tumbuhan lain dengan cara melepaskan racun, sehingga pertumbuhan para pesaingnya menjadi terhambat. Kanopinya juga menghambat sinar matahari yang dibutuhkan oleh tumbuhan yang berada di bawahnya.
  7. Sari bunga dan warna yang atraktif sangat disukai para polinator seperti kupu-kupu, lebah, lanceng, tawon, dan sebagainya sehingga prosentase penyerbukan sangat tinggi.
  8. Jumlah biji yang dihasilkan sangat besar, sekitar 12.000 biji per tahun per Puyengan memang mampu berbunga dengan tidak kenal musim, sehingga prosentase terbentuknya biji juga besar. Tentu saja tidak semua biji itu mampu berkembang menjadi individu baru.
  9. Daunnya memiliki fungsi sebagai anti bakteri/antimicrobial, anti jamur dan anti serangga sehingga membuatnya tahan terhadap serangan-serangan hama dan penyakit.

lantana merahMeskipun memiliki keunggulan yang lebih, namun tetap saja pengendalian secara alamiah terhadap perkembangan tanaman ini tetap ada. Pengendalian secara biologis diketahui belum mendatangkan hasil yang memuaskan. Beberapa percobaan dengan memakai agen-agen hidup 40 jenis serangga, di antaranya Teleonemia scrupulosa (Hemiptera), Octotoma scabripennis (Coleoptera), Uroplata girardi (Coleoptera), Ophiomyia lantanae (Diptera) belum menunjukkan tanda-tanda yang memuaskan. Harapan terbesar disematkan pada fungi, seperti karat daun Prospodium tuberculatum, Puccinia lantanae atau juga Ceratobasidium lantanae-camarae yang memang sudah dikenal sebagai pengontrol tanaman-tanaman liar/weed yang baik. Di Guam digunakan Ular Pohon sebagai pengendali populasi burung-burung penyebar buah Lantana. Namun secara umum tanaman ini memang masih sulit dikendalikan terkait kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Penerapan secara kimiawi memang menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Namun selain memerlukan ongkos yang mahal, penggunaan akan obat-obatan kimia/herbisida harus diterapkan semaksimal mungkin dengan memperhatikan dan menimbang efek yang ditimbulkannya terhadap lingkungan, hewan, maupun tumbuhan lainnya. Pengendalian secara mekanik biasa dilakukan para petani atau pekebun dengan cara memangkas/menyabit atau pun dengan pendongkelan hingga ke akar-akarnya, namun selain membutuhkan tenaga yang besar juga hasilnya juga tak begitu maksimal. Karena itu, menurut saya pengendalian yang utama memang harus dilakukan oleh manusia.

Mengapa saya berpendapat demikian? Karena meski selama ini dipandang sebagai tumbuhan invasif yang merugikan bagi ternak dan juga tanaman-tanaman budidaya, namun dibalik itu, Kayu Singapur memiliki kemanfaatan sebagai berikut:

1.     Dengan memakai tumbuhan ini sebagai bahan obat-obatan, maka pertumbuhan dan perkembangannya akan termanaj. Pengobatan tradisionil di beberapa negara di Australia, Asia, Amerika, dan Afrika menggunakan tanaman ini untuk melawan penyakit-penyakit ringan dan kulit (bisul, bengkak, gatal-gatal), flu, TBC (kelenjar dan batuk darah), rematik, keputihan, asma, panas tinggi, rematik, dan memar. Ekstrak akarnya dipercaya dapat mengobati sakit gigi, radang, dan beberapa penyakit berat semisal gonorrhea.

  1. Ekstrak tumbuhannya menurunkan perkembangan bisul atau borok. Di Brasil bahkan digunakan sebagai obat infeksi saluran pernapasan. Ekstrak daunnya berpotensi sebagai antimicrobial, fungicidal, insecticidal dan nematicidal.

3.     Mempunyai kandungan zat yang berfungsi sebagai bio insektisida, seperti menghambat pertumbuhan Staphylococus aureus (bakteri patogen penyakit saluran pernafasan). Sebagai pestisida alami digunakan untuk menanggulangi kutu daun Aphis Cracivora dan penggerek polong Maruca testulalis pada tanaman kacang hijau. Larutan encer dari tanaman ini dapat membunuh Eceng Gondok, sang gulma air nomor satu.

4.     Pilihan utama pada konservatorium kupu-kupu dan tanaman madu pada peternakan lebah.

5.     Batangnya sudah lama dibuat untuk meja atau kursi atau sebagai hiasan/ornamen.

6.     Sebagai bahan bakar kayu yang potensial. Kandungan minyaknya dapat memperbesar nyala api. Pada beberapa kasus kebakaran saat kekeringan melanda, batang-batang Lantana membuat nyala api kian membesar dan menjadi sulit untuk dipadamkan.

  1. Dapat diolah menjadi pulp (bahan baku kertas). Namun karena batangnya sangat keras, maka pengolahannya pun menjadi tak ekonomis lagi.

Jadi sebenarnya tanaman ini meski dianggap sebagai gulma namun memiliki multi manfaat. Meskipun begitu, pengendalian tetap saja harus dilaksanakan sebijak mungkin supaya tidak terjadi over populasi.

Banyak kasus keracunan yang berujung kematian pada hewan ternak (kambing, sapi, biri-biri, dan lain-lain) yang memakan tanaman ini. Mungkin daunnya yang berwarna hijau segar mengundang selera makan ya. Beberapa negara seperti, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, India, dan Meksiko mengalami kerugian besar akibat ternak-ternak yang keracunan karena memakan tanaman Lantana scabrida yang mengandung zat toxic pentacyclic triterpenoids atau biasa juga dikenal dengan Lantadine yang juga dikandung oleh tanaman lain. Keracunan zat ini disebut penyakit Bali Ziekta. Mengapa di Indonesia kasus-kasus pada hewan ternak tak mengemuka? Saya menduga, salah satu sebabnya adalah pakan hijauan ternak (rumput-rumputan dan dedaunan) di Indonesia biasanya dicarikan oleh sang empunya atau ngarit (Jawa), jadi tidak digembalakan di padang-padang seperti di Australia atau Amerika.

Beberapa hewan seperti sejenis binatang berkantung di Australia dan tawon dari genus Exoneura, nyamuk malaria, lalat tsetse tidak terpengaruh akan zat-zat racunnya. Mereka berlindung dan bersarang di antara rerumpunan dan cabang-cabang Kembang Satek.

Nama binomial Lantana diambilkan dari nama tumbuhan yang semirip, yakni Viburnum lantana. Nama internasionalnya antara lain Lantana, Wild Sage, Prickly Lantana, Shrub Verbena, Tick Berry. Di Indonesia dikenal dengan banyak nama sesuai nama daerah, semisal Cente, Kembang Telek, Dilem, Lai Ayam, Tamanjho dan lain-lain yang telah tersebut di atas. Asalnya dari Amerika Tropis (Meksiko, Bahama, Kolombia, Venezuela, dan Kepulauan Antilles), namun kini sudah jamak kita temukan tumbuh meliar dan menyebar hampir ke seluruh dunia, bahkan dataran Eropa (Spanyol, Belanda, Portugal) yang notabene adalah negara 4 musim. Meski banyak variasi warna bunga, namun namanya tetap satu, yakni Lantana camara saja, tanpa embel-embel kata varian atau sub spesies.

Oh … ya saya pernah baca kalau daun Lantana bisa dibuat lalap. Saya tidak tahu pasti apakah pernyataan ini hoax ataukah memang ada resep untuk menawar racunnya. Bila berpikir positif, nenek moyang kita memang memiliki pengetahuan menawar racun yang terdapat pada tumbuhan yang dapat dimakan, semisal gadung, tangkai daun Talas/Lompong, dan lain-lain.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

 

 

Tahi Ayam

warna jingga

tumbuh meliar

bunga kecil

Tembelek

jenis kupu

buah buni

Camara vulgaris

Lantana aculeata

anti bakteri

anti jamur

anti serangga

tumbuhan invasif

bio insektisida

hewan ternak

Lantadine

Bali Ziekta

Wild Sage

Prickly Lantana

Tick Berry

Cente

Kembang Telek

Amerika Tropis

Lantana camara

racun tumbuhan

 

Anthurium crystallinum, Kuping Gajah yang bukan Kupingnya Gajah

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

daunShob-shob yang lahir sebelum tahun 2000 pasti kenal dengan tanaman hias daun yang indah ini. Selain familiar, namanya juga unik dan gampang diingat. Ya, dialah si Kuping Gajah yang bentuk daunnya lebar-lebar mirip telinga gajah. Namun ternyata di dunia ini ada dua nama Kuping Gajah yang berbeda jauh bentuk habitus maupun genusnya. Ngehnya saya bermula dari bincang-bincang blog dengan Ibu Lois yang tinggal di https://kiyanti2008.wordpress.com/ . Waktu itu saya ‘ngotot’ kalau Kuping Gajah yang selama ini dikenal di Indonesia adalah dari genus Anthurium. Namun beliau menjawab Elephant Ear (translate bahasa Inggrisnya) berasal dari genus Colocasia. Saya kemudian berpikir, Bu Lois yang berasal dari Indonesia meski kini berdomisili di Australia tidak mungkinlah nggak kenal dengan namanya Kuping Gajah. Akhirnya saya pun berjanji akan menulis tentang tanaman hias ini. Dan setelah searching di internet, benarlah ada dua versi Kuping Gajah, yakni Anthurium crystallinum yang hanya dikenal di Indonesia saja – saya tidak tahu apakah negeri-negeri jiran juga menyebut Kuping Gajah untuk tanaman yang satu ini – dan satunya lagi adalah Elephant Ear dari genus Colocasia, Alocasia, dan Xanthosoma dikenal luas di seluruh dunia. Jenis pertama berasal dari benua Amerika bagian Selatan dan Tengah atau dari Panama hingga Peru dan jenis kedua berasal dari benua Asia. Namun untuk artikel ini saya hanya bahas tentang Kuping Gajah versi Indonesia saja.

Pada era sebelum 80-an si Kuping Gajah ini pernah menjadi tanaman hias idola yang ekslusif serta prestise. Harganya juga mahal. Saya tahu karena tetangga depan rumah juga punya tanaman ini. Subur sekali dengan tampilan yang sangat cantik, sehingga membuat banyak orang kepincut. Namun meski ditawar dengan harga yang lumayan mahal, tidak diberikan, karena memilikinya termasuk golongan eksklusif. Memang sebelumnya beberapa anggota genus Anthurium dikenal sebagai tanaman hias prestise karena hanya para raja-raja dan bangsawanlah yang memilikinya. Namun sekarang, tanaman hias daun yang bentuknya mirip cuping telinga gajah ini sudah masuk daftar yang tak dirindukan. Entah nanti.

Dari genus Anthurium sendiri, banyak variasi Kuping Gajah yang penampilannya sangat mirip, namun berbeda-beda bunganya. Nama binomialnya pun juga beda. Yang jelas Anthurium crystallinum yang familiar adalah tampangnya seperti pada gambar-gambar pada artikel ini yang memiliki tangkai daun berbentuk bulat atau silinder. Malai bunganya mirip ekor sehingga ada juga yang menamakannya Tail Flower, meski sejatinya nama ini juga digunakan untuk jenis Anthurium Kuping Gajah yang lain. Namun agar tak tertukar atau simpang siur, sebaiknya nama untuk kuping gajah ini adalah Crystal Anthurium.

Walaupun memiliki bunga, namun letak keindahan tanaman hias ini ada pada daunnya yang lebar, berwarna hijau, berbentuk mirip cuping telinga gajah atau bisa juga dibilang bentuk hati dengan urat-urat ayau tulang-tulang daun yang nampak menonjol berwarna putih. Belahan pada pangkal daunnya hampir berdempetan bahkan overlapping, serta mempunyai tangkai dan daun yang kaku. Ternyata di alam aslinya sana, salah satu keluarga dari Araceae ini menempel pada batang pohon atau termasuk tanaman epifit. Namun di sini saya belum pernah memergoki orang menanam Kuping Gajah dengan cara ditempel.

daun1Kuping Gajah yang berpenampilan prima adalah daun-daunnya tampak mulus, tidak ada kecacatan (sobek, hangus, mlungker ujungnya, dan lain-lain), tumbuh roset dan kompak. Susunan daun juga harus membentuk trap atau tingkatan. Semakin muda daunnya, ukurannya harus semakin lebar dibanding daun-daun yang berada di bawahnya atau tumbuh sebelumnya.

Tidak menyukai panas matahari, jadi sangat cocok digunakan sebagai tanaman hias indoor maupun di tempat-tempat yang ternaung. Jadi shob yang hanya memiliki halaman seuprit atau hanya memiliki tembok saja, asalkan lembab dan teduh, dapat menggunakan tanaman Kuping Gajah dengan versi Vertical Garden. Apalagi pemeliharaannya juga mudah, hanya perlu menjaga daun-daunnya saja agar tidak rusak.

Katanya dapat digunakan sebagai tanaman obat, namun saya belum menemukan rujukan yang valid. Jadi saya pun tak membahas kegunaannya.

serupa tapi tak sama

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Aerides odorata var. calayanensis, Anggrek Asem Wangi Bersplash Ungu

gu copy

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

Karena data dan informasi di negeri kita ini tidaklah memadai, maka meski sudah banyak yang mengulas anggrek Aerides odorata, namun hanya sedikit keterangan mengenai Bunga Ungu atau Anggrek Ungu (namanya di Kalimantan) ini. Indonesia meski memiliki kekayaan alam yang sangat besar, namun eksplorasi dan penelitiannya sangatlah minim, padahal varian yang ada di Indonesia terbanyak di dunia. Sedangkan kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh para peneliti atau pemerhati lingkungan tidak dapat mengejar tingkat kelajuan kian langka dan raibnya populasi kekayaan hayati kita, utamanya anggrek. Pembukaan pembangunan industri, kawasan pemukiman, peternakan, peternakan, maupun perkebunan mempercepat hilangnya flora dan fauna Indonesia. Plus alih fungsi lahan, kebakaran hutan, atau penebangan liar. Karena itu diduga sudah ada kekayaan kita yang sudah punah sebelum sempat ditemukan.

Karena penelitian atau eksplorasi terhadap anggrek ini sangat kurang membuat saya juga kesulitan untuk menulis anggrek ini dengan informasi yang berbeda. Karena itu saya terus berusaha untuk menggali infonya dengan membaca lebih banyak lagi blog-blog anggrek ditambah hasil pengamatan dan pengalaman saya mengenai anggrek ini. Dan inilah ‘laporan’ saya.

bunga2Anggrek Asem yang telah masuk kriteria Endangered (EN) atau genting – info lain memberitakan bukan termasuk anggrek yang dilindungi – ini sangat lambat dalam pertumbuhan maupun adaptasinya dibanding Phalaenopsis Alliance lainnya. Misalnya member dari genus Vanda.

Karena persebarannya merata, di Indonesia dan juga negeri-negeri sekitarnya, kemungkinan adanya banyak varian juga sangat besar, apalagi anggrek ini juga termasuk tinggi perkembangan generatifnya melalui biji, sehingga berbeda tempat (pulau/negara), tampang atau warna bunganya juga berbeda. Ada varian/form immaculata, alba, annamensis, ballantiniana, birmanica, calayanensis, cochinchinensis, demidovii, eburnea, major, micholitzii, pallida, virens, dan lain-lain. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, jenis Anggrek Lilin manakah yang termasuk kriteria EN tersebut, mengingat ada banyaknya variasi. Saya kira kita tak perlu mempermasalahkan variasi yang mana ya, karena semua varian membutuhkan perhatian dan perlakuan untuk dilestarikan dengan sama besar/tinggi.

Tempel di pohon, lebih surviveKarena pada lingkungan aslinya anggrek menempel pada pohon tertentu seperti Asam atau Mangga Hutan, seharusnya para hobiis juga membuat rekayasa habitat yang sedemikian itu. Namun yang saya lihat biasanya orang menempelkan anggrek ini pada pohon jambu, rambutan, mangga buah, atau pohon-pohon lain yang telah ditanam di kebun atau halaman depan. Masalah cocok atau tidaknya pohon inang pada anggrek budidaya ini, pengaruhnya pada tingkat perkembangan dan pertumbuhannya serta jumlah malai plus kuntum bunganya. Selama ini Fox Brush Orchids yang saya tempelkan pada pohon Jambu Air meski hidup subur, namun saya tak pernah mendapati anakannya yang berasal dari biji. Padahal setiap masa berbunga dihasilkan banyak buah.

:: Cara Budidaya

Karena pemeliharaannya tidak sulit, cocok untuk pemula hobiis anggrek spesies. Cukup ditempelkan pada batang pohon. Itu merupakan cara yang termudah dan teraman. Namun ada juga yang menanamnya pada pot dengan media porous seperti cacahan pakis atau arang. Digantung lebih baik karena akarnya akan bebas menjalar kemana-mana. Termasuk anggrek yang tahan terhadap penyakit. Selama ini saya juga belum pernah menjumpai hama dan penyakit yang serius. Paling-paling bercak-bercak daun saja yang relatif tidak begitu berpengaruh terhadap perkembangannya. Hanya saja pertumbuhannya sangat lamban. Apalagi kalau kita mensplit tunas anakan yang masih kecil, akan semakin lama proses adaptasi dan perkembangannya. Sebaiknya kalau ingin memperbanyaknya, potong batang yang terdapat akar dan daun dengan panjang minimal 10 cm untuk menghindari waktu yang kelamaan untuk adaptasi dan pertumbuhannya. Biarkan dahulu anggrek tetap pada tempatnya. Setelah potongan tadi mulai menunjukkan kualitas pertumbuhan dan perkembangan yang baik, anggrek boleh kita letakkan pada tempat yang kita inginkan. Perbanyakan sebaiknya dilakukan setelah masa berbunga selesai.

Karena termasuk monopodial (satu titik tumbuh), ada trik untuk menumbuhkan tunas lebih dari satu, yakni tempelkan atau letakkan batang secara horisontal atau datar atau paling tidak miring. Kalau beruntung akan tumbuh 2 – 3 tunas anakan. Perbanyakan dapat juga dengan memotong batang bawah yang sudah tua dan masih berakar (syukur juga kalau masih ada daunnya). Biarkan pada tempatnya beberapa waktu hingga keluar tunas. Bila tunas sudah mapan, anggrek dapat dipindahkan ke tempat yang kita inginkan.

:: Akar

MKarena ukuran akarnya besar-besar, maka penerimaan terhadap ketahanan intensitas matahari tidak dapat langsung. Kebutuhan sinar didapatkan dari cahaya yang condong/miring dan yang menerobos dari sela-sela pohon inang. Kalau memang perlu, bisa dipasang paranet. Akar utama yang tumbuh langsung dari batang berbentuk gilig (silindris) dengan ujung berwarna hijau agak transparan. Akar cabang lebih kecil ukurannya dengan ujung hijau bersemburat coklat. Akar tua berwarna putih. Selama tahun 2016 hingga Februari 2017 ini, anggrek nihil berbunga yang diakibatkan terus turunnya hujan hampir setiap hari. Minimal satu bulan hujan turun sebanyak 4x. Akibatnya intensitas sinar yang dibutuhkan untuk berbunga pun berkurang. Terakhir berbunga pada November 2015.

:: DaunM

habitusKarena sangat mirip dengan anggrek Vanda, banyak hobiis yang salah mengira kalau The Fragrant Aerides adalah Vanda karena kemiripan habitusnya (akar, batang, susunan daun). Para ahli taksonomi juga memasukkan anggrek ini sekeluarga dengan Vanda. Saya juga masih suka ‘kecolongan’ mengira anggrek ini adalah anggrek Vanda kalau melihat di luar kebun saya. Misalnya di penjual bunga hias atau rumah-rumah penduduk. Memang sekilas sulit juga ya. Meski sama-sama memiliki daun yang tebal dan kaku (coriaceus), namun biasanya daun anggrek Vanda lebih kaku. Cara mengeceknya dengan cara memencet kedua tepi daunnya. Biasanya juga susunan antar daun pada Vanda lebih rapat. Daun dari Anggrek Asem serta akarnya dapat digunakan sebagai anti inflamasi dan TBC. Tipe daunnya ligulate, sedangkan ujung daun bertipe mucronate. Seperti ini gambarnya …

:: Penyerbuk

Karena mudah mendatangkan serangga dan tingginya prosentase keberhasilan penyerbukannya, anggrek ini gampang berbuah. Meski penyerbuk utamanya adalah Lebah Lanceng, namun saya menduga Anggrek Asem termasuk tumbuhan yang dapat menyerbuki dirinya sendiri (self polinate). Buah yang dihasilkan pun cukup banyak, sehingga saya pun kebingungan mau diapakan buah-buah ini karena saya belum bisa menyemaikan bijinya karena membutuhkan perlakuan yang rumit.

:: Sinonim

Aeeridium odorum, Aerides (ballantiniana, cornuta, dayana, jucunda, latifolia, micholitzii, nobilis, reichenbachii, rohaniana, suaveolens, suavissima, virens, wilsoniana), Epidendrum aerides, Epidendrum odoratum, Limodorum latifolium, Orxera cornuta, Polytoma odorifera.

Nasib Anggrek Kini

LKarena pengrusakan habitat alamnya serta adanya eksploitasi yang tidak memperhatikan masa depan anggrek, maka seperti anggrek Indonesia lainnya, populasi Anggrek Kuku Macan pada habitat aslinya juga kian mengenaskan. Beberapa laporan menyebutkan sudah sulit dijumpai di beberapa titik habitat di Pulau Jawa. Namun informasi berbeda berasal dari PAI Bandung yang menyebutkan kalau populasi anggrek ini di hutan-hutan Jawa Barat masih melimpah. Namun data tersebut mungkin telah valid ya karena dirilis pada tahun 2009. Dari informasi lain pada beberapa spot di provinsi Kepri atau Lesser Islands (Nusa Tenggara) beberapa tahun lalu masih dapat dijumpai anggrek ini dengan jumlah populasi terbanyak kedua dari berbagai jenis anggrek. Untuk habitat exsitu, saya lihat jumlahnya juga tidak bisa dibilang baik. Tak banyak penduduk yang menanam Anggrek Kuku Macan, tidak seperti Anggrek Larat atau Dendrobium x superbiens yang lebih populer dan lebih cepat tumbuh dan berbunganya atau anggrek-anggrek impor yang gampang dipelihara seperti Oncidium maupun Cattleya. Stoknya juga tidak banyak, meski masih diperdagangkan, namun pedagang biasanya hanya mampu menjual beberapa rumpun atau pot saja. Nah, kalau Cat’s-tail Orchids yang populasinya menempati urutan kedua terbanyak saja sudah masuk kategori EN, lalu bagaimana dengan anggrek-anggrek lainnya dengan populasi di bawah Anggrek Asem?

Karena nasibnya kian runyam, maka anggrek ini layak untuk dilestarikan, utamanya pada habitat alamiahnya agar anak cucu kita nanti tidak hanya mengetahui dari gambarnya doang.

Catatan:

Aerides (tanaman udara) odorata (wangi)

buah

Thanks to: https://elimgs.wordpress.com/2010/10/11/more-smelly-orchids-aerides-odorata/

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh

 

Pteris vitatta, Si Paku Sahabat Pelaku Industri Penyerap Racun Arsenik

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

remajaBertambah lagi tanaman-tanaman anti polutan sahabat para pelaku industri yang tentu saja sangat ramah lingkungan. Memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan penanganan polutan secara kimiawi. Mereka (genus) ini adalah tanaman yang bersifat hyperaccumulator atau phytoremediation atau bioremediation atau disebut juga tanaman pengontrol polusi. Kalau kemarin-kemarin saya sudah menulis tentang tanaman anti polutan yang berada di air seperti Eceng Gondok dan Melati Air, juga penyerap polusi udara yaitu Pakis Boston, kali ini giliran tanaman pakis penyerap zat berbahaya arsenik, yakni Pteris vitatta, tanaman paku pakis dari Family Pteridaceae. Di beberapa negara, tampilan paku ini mungkin sekali mirip dengan jenis Pteris cretica.

Dalam suatu industri, selain menghasilkan barang-barang yang bermanfaat bagi manusia, dihasilkan pula hasil sampingan yang dibuang yakni polutan, baik yang berbentuk cair/limbah, gas maupun benda-benda logam maupun zat-zat kimia yang berbahaya. Maka dari itu tidaklah mengherankan apabila dalam suatu kawasan industri tingkat pencemarannya sangat tinggi. Untuk itu, para industriawan tidak boleh memikirkan dirinya sendiri dengan mengejar keuntungan/laba semata, namun juga memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri mereka. Salah satu zat yang berbahaya yang berada dalam kawasan industri adalah arsenik/arsenat. Konsentrat arsenik yang diijinkan (masih dalam ambang normal) adalah 5/1 juta. Konsentrat tersebut sebenarnya sangat kecil ya kalau dilihat dari skalanya, namun karena zat ini sangat berbahaya, dalam konsentrase yang sangat kecil tersebut arsenik sudah mendapatkan ‘lampu kuning’ untuk tingkat dampak yang ditimbulkannya. Arsenat/arsenik sendiri selain diproduksi secara industrial, juga merupakan hasil sampingan dari industri, di samping secara alamiah juga terkandung dalam bumi dan masuk dalam lategori 20 zat yang berbahaya. Arsenat dapat menyebabkan kanker kulit, paru-paru, saluran air kemih, dan prostat.

Dan ternyata untuk menetralisir kandungan arsenat dalam tanah tersebut, telah ditemukan cara alamiahnya, yakni dengan memakai tumbuhan pakis jenis Pteris vitatta. Paku-pakuan memang berpotensi sebagai fitoremediasi yang dapat mengadakan pembersihan, pengurangan, atau bahkan penghilangan polutan berbahaya yang mencemari bumi.

bayi2

Simply Ladder Brake Fern sendiri mampu menyerap arsenik yang berada dalam tanah hingga 200x. Artinya kandungan arsenik yang terdapat dalam herba pakis ini, mulai dari akar hingga pucuk daun konsentrasinya 200 kali lebih besar dibanding kandungan arsenik yang terdapat pada tanah dimana pakis ini tumbuh atau habitatnya. Sumber lain mengatakan mampu menyerap kandungan arsenik mencapai 90%. Karena itu meski tumbuh liar di sembarang tempat, pakis ini tidak dimasukkan ke dalam gulma jahat atau gulma penting. Bahkan semakin banyak pakis yang berada dalam kawasan industri, maka semakin baik pula, karena konsentrat arsenat yang diserapnya juga semakin banyak. Apalagi Brake Fern ini mudah tumbuh, adaptif, tahan banting (tahan terhadap zat berbahaya, minim hara, dan panas), memiliki biomassa yang besar, dan keberadaannya sepanjang tahun/mudah didapat. Juga pantas dijadikan tanaman hias, baik pada kawasan industri maupun skala rumahan karena memiliki daun yang indah.


bayiPteris sp.
atau genus Pteris memiliki ciri-ciri utama helai anak daun (terminal pinnae) yang terletak di ujung memiliki ukuran yang lebih panjang dan terkadang juga lebih lebar dibanding helai anak daun lainnya (lateral pinnae). Beberapa jenis memiliki tampilan daun yang berbeda di saat mudanya dengan tanaman dewasanya. Anak-anak daun Ladder Brake Fern ramping dan memanjang – lancelot/lancet atau mirip tombak –, berhadapan secara selang-seling, tepinya rata, ujung lancip dengan permukaan agak kasar. Sedangkan ental (tangkai daunnya) panjang, ramping, bentuk sirkuler linier, permukaannya kasar dan ditumbuhi rambut-rambut halus, berwarna coklat sampai coklat kehitaman. Saat saya amati gambar-gambar pakis ini yang berada di berbagai negara, terlihat memiliki ukuran yang bervariasi, mungkin disesuaikan kondisi iklim setempat dan habitatnya ya. Pakis yang umum saya lihat ukurannya tidak sampai semeter, padahal ada gambar pakis ini dengan panjang sekitar 2 meteran. Ada referensi yang mengatakan ukuran Pakis vitatta sekitar 12 inci jika tumbuh pada area terbuka dan lebih dari 20 inci pada area ternaung. Untuk membedakan apakah mereka masih sejenis atau sudah lain genus karena ukurannya yang bervariasi tersebut, kita dapat mengamati dari kedudukan dan susunan sorusnya, di luar terminal pinnae yang mana spora sebagai alat perkembangbiakan generatif terletak di permukaan bawah daun, sepanjang tepi anak daun. Dapat juga berkembang biak secara vegetatif dengan tunas-tunas anakan.

Kata pteris berasal dari bahasa Yunani yang artinya sayap atau bulu. Sebagian besar member Pteris memang mempunyai daun mirip dengan bulu. Jenisnya sekitar 280 spesies, yang umumnya berada pada daerah tropis. Jarang membentuk kelompok atau merumpun atau berkoloni dengan sesama jenisnya, melainkan lebih umum dijumpai bersama-sama terna atau rumput-rumputan lainnya. Hal ini bisa dimengerti karena sebagian besar jenis pakis memiliki rimpang menjalar yang panjang dan memunculkan individu baru di tempat yang agak berjauhan dengan induknya. Karena hingga saat ini saya belum menemukan namanya dalam bahasa Indonesia atau daerah, maka saya sebut saja paku ini dengan nama PAKU ARSENIK, biar yang mendengarnya langsung ngeh kalau paku ini penyerap arsenik.

foto-0077Secara umum Chinese Ladder Brake Fern dapat kita temukan pada tebing-tebing, menempel pada batang paku tiang, di sekitar kawah, saluran air, bebatuan, cepitan tembok, serta lainnya, bahkan dapat dijumpai di daerah perkotaan maupun metropolitan pada gedung-gedungnya. Itu artinya tumbuhan paku ini mampu hidup pada kondisi tingkat polusi dan suhu yang tinggi. Dan memang pakis ini tahan terpapar sinar matahari langsung. Seringkali juga terlihat pada habitat atau vegetasi tanah berkapur. Pun biasa terlihat menempel atau tumbuh pada pondasi gedung atau lantai tingkat atau rumah-rumah, balkon, dan pada retakan-retakan bangunan. Pada musim kemarau panjang, pakis akan mengering, namun rimpang atau buntilan akar akan dorman, yang kemudian akan bertunas pada musim penghujan tiba.


foto-0052Meski umum tumbuh secara litofit, pakis ini juga mampu hidup secara terestrial. Karena daunnya juga indah, cocok juga dijadikan tanaman hias, yakni ditanam pada pot atau sebagai border lane atau digantung atau ditempelkan pada media (kayu atau cekungan pohon) dengan sedikit media tanah/debu atau bisa juga pada sabut kelapa. Bibit atau anakannya dapat kita peroleh di sekitar pekarangan, tembok, saluran irigasi|buatan, tepi sungai, sumur,
atau menempel pada pohon (palem), dan lain-lain. Cukup cabut pelan-pelan, syukur-syukur ada media tanah yang menempel. Kemudian langsung tanam pada pot yang telah disiapkan. Kalau bisa media tanahnya yang gembur dan banyak kompos atau pupuk. Kalau tak ada kompos pun tak mengapa, karena pakis ini termasuk pakis yang kuat dan tahan hidup pada media yang minim hara. Namun agar makanannya tercukupi, kita dapat meletakkan daun-daunan kering pada media pot, kemudian ditutup dengan tanah. Kemungkinan dalam proses adaptasi daun-daun dan ental akan mengering dan gugur. Biarkan saja seperti itu, karena rimpangnya masih hidup. Kalau shob risih melihat pemandangan seperti itu, ental bisa dipotong. Tunggu barang satu atau dua minggu, maka insya Allah akan keluar tunas-tunas baru yang telah adaptif dengan kondisi barunya.

Ada yang mengatakan kalau pakis ini asli Tiongkok (termasuk Taiwan), seperti namanya Chinese Brake Fern. Namun referensi lain mengatakan saat penamaannya, spesimennya diambil dari Tiongkok, itu artinya Tiongkok hanyalah salah satu daerah asal saja. Sumber lain menyatakan berasal dari benua Afrika bagian tropis. Namun, sumber lain juga mencatat jikalau paku ini merupakan tumbuhan asli Australia dan sebagian wilayah Afrika. Kini telah tersebar di empat benua, utamanya yang beriklim tropis. Sisa-sisa populasi di Eropa yang hingga kini masih eksis berada di Semenanjung Italia, yakni di Sisilia, Kalabria dan Kampania.

Nama sinonimnya sangat banyak. Tercatat: Pteris acuminatissima, Pteris aequalis, Pteris alpinii, Pteris costata, Pteris diversifolia, Pteris ensifolia, Pteris guichenotiana, Pteris inaequilateralis, Pteris lanceolata, Pteris longifolia, Pteris longifolia var. brevipinna, Pteris microdonata, Pteris obliqua, Pteris tenuifolia, Pteris vittata forma cristata, Pteris vulcanica, Polypodium trapezoides, dan Pycnodoria vittata.

foto-0055

// Hama dan Penyakit //

Tidak diketahui karena data dan informasinya sangat kurang. Kemungkinan adalah belalang dan serangga-serangga kecil penghisap daun. Kemungkinan yang lain juga adalah ulat. Namun hampir sejua jenis paku pakis tidak memiliki musuh hama. Biasanya serangan hama tersebut karena ‘terpaksa’ tidak ada alternatif makanan yang disukai.

// Pengontrolan //

Pengontrolan perkembangbiakan terhadap pakis ini pada tempat yang tidak semestinya relatif mudah. Cara terbaik yang ramah lingkungan adalah dengan cara manual yakni pencabutan atau pendongkelan. Namun cara ini mungkin sulit dilakukan pada gedung-gedung bertingkat. Namun cuaca kering pada daerah perkotaan mampu menahan laju pertumbuhan dan perkembangan paku ini. Karena spora untuk tumbuh diperlukan kondisi yang lembab, maka pada musim penghujan saja paku-pakis ini tumbuh dan bertunas. Itu artinya alam telah mengendalikan dengan cara yang telah digariskan oleh Allah, the Creator.

foto-0054

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Antara Aku, Anggrek Hibrid, dan Species

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Meski kecantikan anggrek spesies tanpa polesan, namun biasanya hobiis pemula lebih tertarik kepada anggrek-anggrek hibrid yang memiliki warna-warna yang atraktif, variatif, serta showy. Ukuran bunga anggrek hibrid juga relatif besar, sehingga kian memanjakan mata. Apalagi perawatannya juga sudah disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan hunian, hingga siapapun bisa menanamnya. Anggrek hibrid banyak yang berasal dari genus Dendrobium dan Phalaenopsis. Kenapa dua genus ini lebih banyak disilangkan? Karena pertumbuhan keduanya cepat, berbunganya juga relatif cepat dengan umur mekar yang lama. Keduanya juga mempunyai penampilan yang wow … bahkan ada yang unik. Mayoritas keduanya juga memiliki buah sehingga dapat ditumbuhkan secara generatif. Walaupun begitu, bentuknya tidaklah begitu variatif karena indukannya yang dipakai hanya itu-itu saja. Yang paling ‘laris’ sebagai cikal bakal adalah Dendrobium phalaenopsis dan Phalaenopsis amabilis.

Meski bukan spesies asli, namun harganya saat launching mengalahkan anggrek langka sekalipun. Dendrobium kuning (Gold Swan? sumbernya tidak menulis ID-nya) saja dibandrol 1200K saat nyampe di Indonesia. Temen saya mengusung Vanda hibrid ke rumah dengan salam tempel pada penjualnya berupa 8 lembaran yang warna merah itu. Padahal harga emas kala itu masih kisaran 100K/gr. Wow … subhanallah fantastisnya harga anggrek-anggrek hibrid. Kalau misalnya saat itu shob dikasih uang sejuta, pilih anggrek atau emasnya? Kalau saya jelas pilih emasnya, meski seneng banget ama anggrek, namun logika saya juga masih jalan. Saya juga belum pernah membeli anggrek yang mahal-mahal. Apalagi anggrek spesies harganya saat ini masih wajar kisarannya, kecuali anggrek Phalaenopsis javanica atau Vanda tricolor, atau mungkin jenis lainnya yang belum saya ketahui kisaran harganya.

Meski harganya selangit, tak kurang-kurang juga pembelinya, utamanya hobiis anggrek yang berdoku tebal atau penjual anggrek yang mampu mengendus trend. Apalagi telah beredar anggapan di kalangan pecinta anggrek jikalau anggrek spesies lebih sulit pemeliharaannya karena harus dilakukan rekayasa habitat (lingkungan). Karenanya banyak yang gagal memeliharanya, sehingga para pecinta anggrek pun mengalihkan perhatiannya kepada anggrek-anggrek hibrid. Walaupun sebenarnya anggrek spesies tidaklah sesulit yang dibayangkan, namun anggapan sulitnya dalam budidaya sudah beredar luas, sehingga para pecinta anggrek pun jerih bila ingin memeliharanya walaupun sangat berhasrat.

Meski anggrek hibrid diklaim banyak keunggulan-keunggulan yang merupakan percampuran warisan dari kedua indukannya, namun tak kurang-kurang juga keluhannya. Sama banyak dengan keluhan memelihara anggrek spesies. Meski katanya anggrek hibrid lebih mudah dalam pemeliharaannya, tetap saja banyak yang mengeluh mengapa anggrek hibrid mereka tidak kunjung jua berbunga. Saran saya sebaiknya dicek dan ricek kembali pemenuhan syarat-syarat kehidupan mereka. Meski hibrid, mereka tetaplah makhluk hidup yang memiliki kesenangan dan ketidaksukaan. Kesenangannya tentu saja apabila prasyarat kehidupan mereka terpenuhi. Ketidaksukaannya mereka juga dapat terkena hama dan penyakit. Nah, apabila sudah ketemu sebab-sebab masalah anggreknya, sebaiknya diadakan spesialisasi saja sesuai karakter lingkungannya, apakah:

Khusus memelihara Dendrobium hibrid saja

ataukah Anggrek Bulan hibrid saja

 

atau Oncidium hibrid kali

atau jenis hibrid lainnya…

??????????????????????????????????????

Meski anggrek hibrid karakteristik sudah disesuaikan dengan kehendak manusia (penyilangnya), tetap saja ongkos perawatan anggrek spesies jauh lebih murah. Anggrek spesies mampu mengambil zat-zat hara langsung dari alam atau tidak begitu memerlukan pupuk, berbeda dengan anggrek hibrid yang harus disediakan. Penyiraman (atau biaya air) pun bisa dilakukan seminggu sekali atau minimal dua hari sekali, asalkan kelembaban terjaga. Berbeda dengan anggrek hibrid yang harus disiram setiap hari/waktu. Anggrek spesies yang sudah dalam kondisi prima, tanpa perlakuan yang berarti pun dia akan tetap mempersembahkan bunganya. Bukankah di habitat asalnya mereka juga tidak dirawat oleh manusia? Meski mungkin beberapa di antaranya berharga mahal, namun toh biaya perawatannya jauh lebih murah dibanding anggrek-anggrek hibrid.

Meski jenis-jenis hibrid sangat banyak, namun tidak semuanya saya suka. Corak norak (terlalu meriah) dengan warna-warna ngejreng tidak begitu saya sukai. Namun kalau anggrek-anggrek hibrid yang bukan dambaan saya dan sudah terlanjur saya miliki, tetap akan dirawat dengan sepenuh hati. Saya memang lebih menyenangi anggrek-anggrek hibrid yang berwarna kalem dan bersahaja, meski begitu saya juga bersifat realistis dan tidak terlalu mengangan-angankan apa yang jauh di depan mata saya. Artinya walaupun anggrek hibrid tersebut bukan masuk dalam idaman saya, namun jika pengkoleksiannya lebih besar kemungkinannya, saya pun juga tak segan-segan mewujudkannya. Biasanya perolehan anggrek-anggrek hibrid ini dengan cara barter atau bahkan gratis.

Meski betapapun ‘hebat’nya anggrek-anggrek hibrid, saya tetap akan memilih anggrek spesies, karena itu adalah kekayaan negeri kita yang harus dilestarikan. Selain itu, anggrek spesies mampu hidup/beradaptasi dengan rentang yang lebih luas dibanding anggrek hibrid. Tidak percaya? Buktinya di Kediri anggrek yang merajai rumah-rumah penduduk adalah jenis spesies dan hibrida alami, yakni Phalaenopsis pulcherrima dan Dendrobium x superbiens. Sedangkan Dendrobium phalaenopsis dan Phalaenopsis amabilis berada di peringkat kedua.

Catatan:

Tulisan ini saya dedikasikan kepada shob https://lcnursery.wordpress.com/ yang telah melahirkan beberapa Dendro hibrid yang salah satunya adalah Dendrobium Kiki Hendarsyah yang merupakan salah satu anggrek hibrid idaman saya. Mudah-mudahan tetap semangat untuk membangun kembali laboratoriumnya dan dapat menghasilkan inovasi-inovasi serta varian-varian baru dari indukan asli Indonesia sehingga dapat menjadi ratu di negeri sendiri dan berekspansi ke negeri orang, aamiin.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Phalaenopsis amabilis subspecies amabilis, si Ratu Anggrek Bulan dari Jawa

gu-copy

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kalau anggrek Dendrobium phalaenopsis mengundang perdebatan mengenai asal-usul habitat endemiknya, apakah dari Pulau Larat – Maluku – Indonesia ataukah dari Cooktown Island – Australia, serta apakah Dendrobium bigibbum merupakan nama sinonimnya atau bukan, maka anggrek Phalaenopsis amabilis ini diperdebatkan mengenai namanya oleh hobiis/pemerhati anggrek negeri sendiri. Perlu diketahui agar tidak mengundang perdebatan lagi, bahwa penamaan (lokal, nasional, internasional) suatu spesies biasanya mengikuti kesepakatan keumuman, baik tertulis maupun tidak. Sedangkan penamaan binomial mengikuti pendapat ahli taksonomi. Ini pun sifatnya juga tak pasti karena saking banyaknya ahli, terkadang satu spesies memiliki nama sinonim yang banyak. Sedangkan nama ‘resmi’nya mengikuti keumuman atau yang paling banyak dipakai.

bunga7Di Indonesia, Phalaenopsis amabilis telah dikenal dengan nama Anggrek Bulan (Moon Orchid). Ada juga yang menyebut Anggrek Lebah atau Anggrek Kupu-kupu. Nama lokalnya Anggrek Wulan (Jawa dan Bali), Anggrek Terbang (Maluku), atau Anggrek Menur (Jawa). Nah, dari nama yang sudah ada, apakah kita harus mengganti dengan nama Anggrek Ngengat (ditranslate dari Moth Orchid)? Tidak bukan? Begitu juga di dunia internasional yang tidak memakai nama Moon Orchid. Jadi nama suatu spesies mengikuti sifat keumuman, kecuali ada aturan yang pasti dan dipatuhi di seluruh dunia, ceritanya beda lagi. Namun seperti ini musykil terjadi, kecuali untuk spesies yang baru ditemukan.

Sedangkan mengenai asal-usul nama Anggrek Bulan, saya belum menemukan sumber yang valid. Tetapi yang jelas nama Anggrek Bulan sudah disahkan pemerintah melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 dengan menetapkannya sebagai Puspa Pesona Indonesia. Sedangkan nama Moth Orchid didapat dari bentuk bunganya yang sekilas mirip ngengat yang sedang mengembangkan sayapnya seperti ini …

bunga3Tidak berlebihan kiranya jika The Lovely Phalaenopsis ini menyandang predikat Puspa Pesona. Beberapa persyaratan mampu dipenuhi dengan baik, seperti kecantikan, keanggunan, daya pesona, kebersahajaan, kelembutan, juga keawetan, kuntumnya banyak, dan lain-lain. Apalagi habitatnya hampir tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Karenanya hal yang lazim bila terdapat banyak varian/form maupun sub spesiesnya. Ada varian cinerascens, grandifloria (Kalimantan), papuana, rosenstromii, aurea, vinicolor, concolor, fuscata, marmorata, gloriosa, aphrodite, fournieri, gracillima, moluccana, ramosa, rimestadiana, borneensis, atau ruckeri. Begitu pula sub spesiesnya: moluccana, amabilis, rosenstromii. Terlepas apakah data-datanya valid atau tidak, namun begitulah yang saya dapatkan dari berbagai sumber. Yang jelas, kecantikan dan keanggunannya memang mampu memikat siapa saja, ‘tuk para pecinta anggrek tentunya.

Karena banyak varian dan sub spesies dari Anggrek Bulan, maka untuk artikel kali ini saya hanya membahas sub spesies amabilis dari Jawa saja, tepatnya dari Trenggalek – Jawa Timur. Insya Allah kalau saya memiliki varian-varian lainnya, saya akan post lagi.

Karakteristik

Anggrek monopodial yang menyukai kesejukan, berangin, keteduhan (namun tidak terlalu gelap), kelembaban, dan aerasi (perputaran angin) yang bagus, dan tidak tahan panas atau tidak boleh dijemur atau mendapatkan sedikit cahaya matahari saja. Untuk daerah rendah yang panas memang memerlukan paranet atau dapat langsung ditempel pada pohon yang rindang. Sinar pagi dan sore yang condong serta yang menerobos dari sela-sela dedaunan masih dapat ditoleran. Bila letaknya dekat sungai atau sumber air, perkembangannya akan lebih bagus lagi. Bila tidak, dapat diletakkan wadah air di bawah pohon atau deretan anggrek, sehingga terjadi penguapan alamiah. Jaga jangan sampai menjadi sarang nyamuk.

Bunga

Saya tidak akan membahas secara mendetail mengenai morfologi bunganya yang dapat kita lihat pada gambar-gambar pada artikel ini.

Mungkin shob bertanya “Bagaimana membedakan dengan Anggrek Bulan dari luar Jawa?”. Perbedaan yang nampak jelas ada pada labellumnya, seperti ini.

 

pembeda

(1) Ujung lateral lobe tidak begitu merapat atau tidak menutupi ‘kepala’ (2) Garis bibir pada callus tampak rapi (relatif tegas) berwarna merah kecoklatan (3) Corak warna pada labellum kuning hampir jingga (tidak kuning murni) (4) + (5) Misai (Cirrus) kuning jingga yang panjang dan pada pertemuan pangkal keduanya terdapat tonjolan (puting) sedikit Diameter 8 cm (anggrek saya) atau bisa mencapai 10 cm (kata referensi).

Lama Mekar

bunga2Variatif ya. Ada yang mengatakan 2, 3, atau 4 minggu. Namun anggrek koleksi saya per kuntum mampu bertahan hingga sekitar 45 hari dengan jumlah 10 kuntum. Hingga 60 hari, masih ada 2 kuntum yang masih segar bugar, padahal itu pun sudah hampir setiap hari diguyur hujan. Kini telah menyusul 2 knop bunga dari ujung spike untuk mekar gelombang kedua. Perkiraan saya, insya Allah gelombang ketiga juga ada, nampak di antara dua kuncup tersebut masih ada ujung tangkai yang masih kosong. Yang jelas lama mekar dipengaruhi banyak faktor, baik in maupun ekstern. Faktor utama dalam proses pembungaan adalah cocok tidaknya intensitas cahaya yang diterima.

Daun dan Akar

Daun hijau dengan bentuk lanset dan tebal. Akar tua putih, bulat memanjang, dan berdaging dengan ujungnya hijau kekuningan dan terdapat warna kecoklatan. Dari warna akar dapat kita prediksi kebutuhan sinarnya. Bila akar muda warna hijaunya semakin berkurang dan juga tercampur warna lain, maka kebutuhan sinarnya menjadi kian rendah. Sebaliknya jika ujung akar semakin nampak hijau, maka kebutuhan sinar juga semakin besar/banyak. Dan semakin besar ukuran akar, semakin rendah pula intensitas cahayanya.

Perawatan

seperti-ngengatBanyak yang mengeluh anggrek ini sulit berbunga. Namun tidak sedikit yang berhasil membudidayakan Anggrek Bulan. Ada cara termudah dan teraman untuk merawat Anggrek Bulan yang dapat kita aplikasikan kepada anggrek epifit lainnya, yakni menempelkan anggrek pada pohon. Kemudian kebutuhan sinar mataharinya dapat kita gali dari sumber-sumber referensi anggrek yang banyak diunggah di internet. Anggrek Bulan memerlukan kondisi yang teduh. Jadi sangat aman bila anggrek kita ikat pada batang pohon yang teduh. Pohon apa saja bisa. Dapat juga menggunakan paranet. Anggek Bulan di kebun saya tempel pada pohon rambutan, terlindung dari sinar matahari langsung karena tertutup pohon Melinjo saat pagi hari, tajuk pohon rambutan saat siang hari, dan pohon Jambu saat sore hari. Dengan kondisi seperti itu, anggrek tumbuh subur dan mempersembahkan bunganya dalam waktu 1,5 tahun dari pertama kali saya membelinya berupa young plant dengan tiga daun. Nah, kalau shob belum cukup berpengalaman dengan dunia anggrek atau menanam anggrek pada pot dengan media seperti akar pakis cacah, moss (hidup atau kering), sabut, arang, kulit kayu, pecahan bata/genting dan tidak berhasil dengan baik, maka sebaiknya ditempel saja pada pohon. Tidak usah memakai bahan tambahan apapun kecuali tali untuk mengikat anggrek agar tidak goyah. Cara ini memang lebih simpel dan juga murah meriah walau memerlukan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi (keluarnya akar baru), namun hasilnya juuoossss ….

Habitat

bunga1Tersebar merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Ada yang memasukkan Australia bagian utara sebagai wilayah habitat, namun ada juga yang tidak. Mayoritas menyebut genus Phalaenopsis sub genera Phalaenopsis hanya ada di Indonesia, Malaysia, dan Philipina. Indonesialah yang terbanyak memiliki varian dan subspesies. Malaysia dan Philipina hanya sebagian kecil saja terdapat habitat Anggrek Bulan.

Sinonim

Sebelum dimasukkan ke dalam genus Phalaenopsis, pernah didaftar dalam genus Angraecum, Cymbidium, Epidendrum, dan Synadena.

Polinator

Umumnya diserbuki Lebah Tukang Kebun (carpenter bees) genus Xylocopa. Prosentase keberhasilan mencapai 50%.

Nasib si Ratu Anggrek Kini

Meski jenis-jenis keturunan hibridnya sangat banyak, namun populasi dan kelestarian si Ratu Anggrek ini di alam liarnya semakin terdesak oleh hilangnya habitat (tempat hidup) akibat deforestasi hutan (penebangan liar maupun kebakaran), juga eksplorasi besar-besaran tanpa mengindahkan keberlangsungan si anggrek ini.

bunga5

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Serial Aku Cinta Anggrek Indonesia: Coelogyne speciosa ssp. speciosa, Anggrek Putri Hutan yang Eksotik, Cantik, Unik, dan Cetar Membahana

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

bagai-putriKeeksotikannya khas anggrek tropis Indonesia. Cantik? So pasti lah. Makanya dinamakan speciosa (cantik) dan dikenal sebagai Beautiful Coelogyne. Di Indonesia dikenal dengan nama Anggrek Bibir Berbulu. Bunganya besar dengan diameter sekitar 12 cm! Labellumnya juga lebar. Kalau saya analogikan bentuk lidah serupa seorang wanita yang bergaun dengan mengangkat kedua tangannya. Maka beginilah deskripsinya. Ujung gaun berwarna putih yang berlekuk (wiru) dengan tepian bergelombang, bagian atasnya terdapat corak berwarna coklat agak kemerahan. Bajunya lengan panjang (lateral lobe) berhiaskan garis-garis dan corak coklat menyatu dengan baju. Jadi, seakan-akan mengembang seperti sayap. Lehernya jenjang berhiaskan ‘mantel’ (callus) bulu hingga mencapai bagian putih gaunnya. Ada tiga baris bulu. Dua bentuknya seperti alis yang melengkung dengan 2 – 3 deretan bulu yang dimulai dari pangkal callus hingga hampir sampai ujung lidah, dan satu berupa garis lurus yang memanjang hingga tengah-tengah lidah. Kepala (column) menunduk dan bertopi (anther cap) lebar mirip topi wanita Eropa jaman dulu kala. Warnanya putih gading atau krem sangat pucat. Warnanya hijau kekuningan cenderung putih kehijauan. Baunya juga wangi lembut, berasa manis mirip aroma jeruk (Mandarin?) atau Musk (seperti wangi bunga Mawar yang manis) atau kalau menurut saya seperti bau mangga matang.

tidak-mekrokUkuran petalnya yang jauh lebih ramping dibanding sepalnya membuatnya benar-benar unik. Sungguh berbeda dengan bunga anggrek kebanyakan – kecuali beberapa jenis dari Phalaenopsis – dan juga mengandung ketidakterdugaan. Apa pasal? Karena model tumbuhnya tidak dapat dipastikan, apakah tegak/lurus, miring, melintir, melingkar, melengkung, spiral, bengkok, atau yang lainnya. Arahnya pun bisa ke atas, bawah, samping, depan, atau ke belakang.

Sedangkan 2 petal dan 3 sepalnya bila dilihat dari sudut tertentu dan terkena sinar seperti berkilau dan nampak seperti dilapisi lilin. Menurut info bunga yang seperti ini awet mekarnya. Hingga tulisan ini diunggah, bunga telah mekar 15 hari dan belum ada tanda-tanda kelayuan. Benar-benar luar biasa. Tak heran bila ada yang menjulukinya “Sang Putri Hutan”. Julukan putri sungguh tepat baginya, yang idiomnya adalah cantik, harum, dan berumur panjang. ‘Hebat’nya masih bayi sudah berbunga! Nah lho, kurang apa coba. Belum lagi keunggulan-keunggulan lainnya, semisal kemampuan adaptasi yang tinggi, bersifat self pollinating, dan lain-lain. Maka tak mengherankan bila pecinta anggrek bule memuji bunganya dengan ungkapan spektakuler atau cetar membahana bila meminjam istilahnya Syahrini .

Asal Muasal Anggrek dan Penanganan Tingkat Pertama

Anggrek ini saya dapatkan dari salah satu kios pusat tanaman hias Rembang Kediri. Keadaannya tampak parah. Daunnya ada yang membusuk, ada juga yang sudah mengering berwarna coklat tua. Terdapat banyak bercak-bercak berwarna coklat dan abu-abu di sana-sini. Bulbnya yang berjumlah empat juga ada bercak-bercaknya. Dua sudah mulai keriput, satu masih nampak hijau dan agak mulus. Yang nampak sehat dibanding lainnya hanya 1 bulb saja. Pot yang satu ini keadaannya lebih parah dibanding pot-pot lainnya. Ya sudah, saya pun membelinya dengan meminta kemiringan harga. Alasan saya, prosentase risikonya sangat besar. Apalagi saya juga belum berpengalaman dengan jenis Coelogyne. Tapi karena memang sudah niat untuk melestarikan dan meramaikan slogan Aku Cinta Anggrek Indonesia, saya pun nekat membelinya. Andaikan penjualnya tak mau menurunkan harga pun, anggrek tetap akan saya bawa pulang. Alhamdulillah, dikasih harga miring, sangat miring malah .

Di rumah, daun-daun yang membusuk dan mengering saya gunting dan buang. Bagian daun dengan bercak-bercak yang parah juga saya gunting. Bercak-bercak abu-abu saya kerik. Namun kemudian saya pikir bercak abu-abu yang ternyata kerak ini bukanlah penyakit. Jadi saya biarkan saja. Toh setelah berkali-kali diguyur hujan, kerak-kerak tersebut juga sudah sangat jauh berkurang.

Meski epifit, namun saya taksir anggrek sudah berminggu-minggu di tempat penjualnya, tandanya ada rumput yang tumbuh di pot. Jadi saya pikir anggrek mulai adaptif dengan cara barunya itu, maka saya pun tetap menanamnya pada pot. Pot bawaan yang terbuat dari tanah liat tidak saya ganti. Pot dibongkar. Di dalamnya ada kelabang merah dan siput-siput imut. Tentu saja hama ini saya buang. Media saya susun kembali dengan menambahkan pecahan genting dan bata pada lapisan terbawah agar terdapat banyak rongga di dalam pot, disusul moss kering dan cacahan pakis bawaan dari penjual. Pot diletakkan pada tempat yang terkena cahaya matahari selama 2 jam lebih, namun tidak terlalu panas karena sudah diserap oleh tembok tetangga dan atap kanopi. Selebihnya anggrek mendapat intensitas cahaya terang secara tidak langsung atau dari pantulan. Alhamdulillah, setelah 2 minggu sudah mulai bermunculan akar-akar baru. Dan dua bulan kemudian anggrek sudah mulai mekar.

Daun

1 helai. 2 helai sangatlah jarang adanya. Bentuk lanceolate (lanset/elips) yang ujungnya meruncing (acuminate), bertangkai, warna hijau tua, kaku, jumlah alur sebanyak 5 garis dan terdapat juga alur-alur yang tipis. Keadaan daun tidak mulus banget, ada bercak-bercak hitam atau coklat, namun saya kira tak mengganggu. Yah … seperti kulit manusia yang banyak tahi lalatnya.

Bunga

Mulai dari knop hingga berbunganya membutuhkan waktu hingga dua bulan lebih. Jumlahnya hanya 1 – 3 yang mekarnya bergantian. Katanya termasuk bunga majemuk. Memiliki daun pelindung berbentuk bulat telur atau bulat memanjang dengan ujung runcing. Tiga sepal berwarna hijau kekuningan berbentuk bulat memanjang dengan ujung berlekuk dan meruncing. Sepal mediannya lebih banyak tidak mekar sempurna. Jadi mirip payung yang memayungi ‘kepala’ labellum. Petala juga hijau kekuningan dengan bentuk serupa pita memanjang dengan lebar 2,5 – 3,3 mm.

Bulb

Seperti telur yang bersudut empat. Namun bentuknya tak mulus banget. Ada yang miring, ada yang sudutnya tak beraturan, dan sebagainya. Warna hijau tua dengan panjang 5 – 8 cm. Diameter pangkal sekitar 4 – 5 cm. Pada pangkalnyalah tumbuh tunas anakan sekaligus bakal bunganya.

Akar

Ukuran sangat kecil, lebih kecil dibanding akar Dendro umumnya. Warna coklat dan nampak kering bila sudah tua. Akar muda hijau kekuningan. Bila tak melekat pada media, akar mudah hangus jika terkena sinar. Secara akaliah sungguh tak bisa menalarnya bagaimana mungkin akar sekecil itu mampu menopang bulb, daun, dan bunga yang besar. Dan itulah masih rahasia Allah Sang Maha Kreator yang harus kita pecahkan maknanya.

Sub spesies dan varian

bagan

Keterangan: 1. Lateral sepala 2. Anther cap 3. Column, terdapat rostellum, talon, stipe, dan pollina 4. Petala 5. Calon bunga berikutnya 6. Callus (dasi) 7. Lateral lobe 8. Sepala kiri-kanan 9. Lip

Kategori sub spesies dengan varian sangatlah membingungkan. Meski secara umum saya mengetahui perbedaannya, namun tentu saja saya juga tak bisa seenaknya mengatakan anggrek ini sub spesies anu atau varian anu. Secara garis besar, sub spesies memiliki perbedaan-perbedaan yang banyak, bisa nyata atau samar-samar dibanding spesies utamanya, namun belum dapat membentuk suatu spesies sendiri atau dengan kata lain mengacu pada perbedaan dalam hal fisik (morfologi) plus fisiologis dan yang lainnya. Banyak faktor yang mempengaruhi adanya sub spesies ini, misalnya lokasi habitat, iklim dan cuaca, pertunasan melalui proses generatif, mutasi gen, dan sebagainya. Sedangkan varian merupakan variasi dalam hal bentuk, warna, atau yang lainnya dari suatu spesies maupun sub spesies atau dengan kata lain mengacu pada bentuk fisik semata. Jumlah perbedaannya hanya satu atau dua saja. Misalnya Phalaenopsis amabilis yang memiliki varian berdasarkan lokasi habitatnya, seperti Pleihari, Jawa, Sabah, Sumatra, Kalimantan, dan lain-lain yang mana masing-masing memiliki perbedaan-perbedaan kecil dan juga terkadang samar. Sedangkan Coelogyne speciosa sendiri memiliki 3 sub spesies yang kesemuanya anggrek endemik Indonesia yang dapat dibedakan berdasarkan ukuran petala, sepala dan labellum serta warna bunga secara keseluruhan, bahkan penampakan buahnya. Ketiga sub spesies tersebut adalah:

  • fimbriata – hanya ada di pulau Sumatera

  • incarnata – Sumatera dan Jawa Barat

  • speciosa – Jawa dan Flores (nama-nama lokasi saya simpan)

Dari lokasi habitat dan juga membanding-bandingkan gambar, sub spesies yang saya miliki adalah speciosa.

Sedangkan varian Coelogyne speciosa, antara lain:

  • rubiginosa

  • albicans

  • salmonicolour – telah menjadi spesies Coelogyne salmonicolor

  • alba (= albicans?)

  • major

  • fimbriata

  • green

Menurut pengamatan dari gambar-gambar di internet, varian yang saya miliki ini mirip bahkan mungkin adalah varian albicans, yang katanya endemik di salah satu titik habitat di Jawa Tengah. Benar atau tidaknya informasi ini saya tidak begitu tahu, mungkin juga saya juga salah dalam mengidentifikasinya. Namun apapun itu, kalau endemik ya alhamdulillah, tidak pun juga alhamdulillah. Meski begitu bagi saya juga tetap kebingungan apakah anggrek saya ini termasuk sub spesies ataukah varian atau mungkin juga kedua-duanya. Jadi kalau misalnya saya memakai dua nama yang dipakai sekaligus atau sendiri-sendiri, yakni Coelogyne speciosa sub species speciosa dan/atau Coelogyne speciosa var. albicans atau bisa juga Coelogyne speciosa sub species speciosa var. albicans, tentunya sah-sah saja ya? Namun, untuk sementara ini saya cenderung memakai nama Coelogyne speciosa sub species speciosa. Wallahua’lam.

Agar lebih jelas, saya sertakan banyak gambar, terutama perhatikan topi dari ‘kepala’ labellum yang tidak terdapat warna kuning atau pun kekuningan sama sekali.

tidak-mekroklabellumkepala1kepalabunga4foto-0054gu1bunga3bunga1

Pollinator

Berbagai jenis semut dan juga serangga kecil mirip lebah (bukan lanceng) datang silih berganti menyambangi sang bunga, padahal anggrek sudah saya letakkan di dalam ruangan agar terhindar dari hujan. Mungkin disebabkan tebaran wangi baunya ya … Menurut info, anggrek ini mampu menyerbuki sendiri. Kalau seperti itu, tentunya angin dan hujan juga mampu bertindak sebagai polinator juga kan?

Meski bukan anggrek langka (hanya terdaftar pada Appendix II CITES) dan tidak termasuk dalam IUCN Red List, namun pelestarian yang dimulai saat ini mutlak dilakukan.

foto-0052

Keadaan bunga setelah mekar 2 mingguan, belum ada tanda kelayuan


Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Ypthima baldus, Kupu-kupu Padi Lima Cincin

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

1Kupu-kupu ini namanya The Common Five Rings atau Ypthima baldus. Nama Indonesianya saya tidak tahu, namun saya lebih suka menerjemahkannya menjadi Kupu-kupu Padi Lima Cincin. Lho, bukankah lingkaran yang ada pada sayap itu kalau kita hitung ada 7, bukan 5? Ya, untuk penamaan genus Ypthima memang tidak mudah, tidak didasarkan pada jumlah ringsnya (ocellus), namun berdasarkan letak rings pada space sayapnya.

Agar lebih mudah, sayap bawah (hindwing) ini saya bagi menjadi 6 bagian/spaces seperti ini. Namun ingat ini hanyalah garis bantu, yang terpenting adalah letak dari ring-ring tersebut.

dibagi

Dari gambar diperoleh jumlah ring yaitu 5, meski ringnya ada 7. Ring paling atas tidak digunakan sebagai penamaan, jadi diabaikan. Ring yang kecil dan menyatu (dempet) dihitung satu buah. Untuk ring yang letaknya paling bawah meski ada dua buah ring yang sama besar dan letaknya agak terpisah dihitung satu buah. Ring bawah ini bisa juga titik putihnya ada dua namun dikelilingi satu ring hitam dan kuning, juga dihitung satu buah. Contohnya seperti di atas. Jadi letak ring tersebut ada pada space 1, 2, 3, 5, dan 6. Meski letak ring ke-3 ada di space 4 namun menghitungnya bukan berdasarkan garis di atas namun letak ringnya, jadi space 4 kosong. Oleh karena itu namanya adalah The Common Five Rings Butterfly.

Meski kita sudah tahu nama Inggrisnya, namun nama latinnya berbeda-beda antar daerah persebarannya, seperti Ypthima stellera stellera (Philipina) atau Ypthima baldus selinuntius (Palawan, Philipina) atau Ypthima baldus newboldi (Malaysia, Indonesia, Singapura). Semuanya jumlah ringnya 5. Memang membingungkan ya, apalagi jumlah spesies dari genus Ypthima atau The Rings Butterflies sendiri ada 111 yang memiliki jumlah ring yang sama, yakni tiga, empat, lima, dan enam. Jadi masing-masing kalau dibagi adil setiap grup dengan ring yang sama memiliki sekitar 28 jenis. Dan meski jumlah ringnya sama, namun nama latinnya juga berbeda-beda sesuai dengan habitat dan mungkin juga ciri khususnya.

Meski bukan aturan baku, kita juga dapat terbantu untuk mengidentifikasi genus Yphtima dengan melihat jumlah ring pada sayap dalam (innerside). Caranya ring pada sayap atas dihitung satu buah, ring pada sayap bawah meski berukuran kecil dan mungkin juga berdempetan, dihitung sendiri-sendiri. Namun ingat cara ini hanya sebagai pembantu atau pelengkap saja.

Walaupun aturannya sudah disepakati oleh kebanyakan para ahli kupu-kupu (entolog) dunia, namun mengenai jumlah ring masih mengundang perdebatan, apakah dihitung satu demi satu ataukah ada yang tergabung menjadi satu meski letaknya berdempetan atau menyatu. Hanya saja apa yang telah menjadi kelayakan, itulah yang umumnya dipakai oleh khalayak.

Hebatnya atau ajaibnya, meski menurut kita tanda-tanda yang dimiliki genus ini membingungkan, namun mereka tidak bingung untuk kawin dengan sesamanya. Mereka tidak mungkin “nyasar” untuk mengawin dengan yang bukan sesamanya, Lima Cincin mating dengan Tiga Cincin misalnya. Meskipun terjadinya persilangan antarspesies juga besar, namun belum ada laporan mengenai hal ini. Tidak seperti manusia ya, banyak yang bingung membedakan antara istri/suami sendiri dengan istri/suami orang. Opo ora isin?

3

Tak banyak informasi mengenai host maupun food plants-nya. Saya pun harus pandai-pandai mengumpulkan informasi-informasi dari puluhan blog, sekeping demi sekeping. Namun saya yakin tumbuhan inang maupun pakannya tidaklah jauh-jauh dengan saudara maupun sepupunya. Bunga-bunga rumput yang berada di sekitar habitat mereka seperti Putri Malu, Cyperus microiria (Teki), Sidaguri, Rumput Pecut Kuda atau bunga-bunga rerumputan lainnya. Ulatnya memakan daun Alang-alang/Imperata cylindrica, Rumput Bambu/Pogonatherum crinitum, Microstegium ciliatum dan juga daun-daun rerumputan lain yang juga menjadi tumbuhan inang dari Familia Nymphalidae dari genus Mycalesis. Hanya saja mungkin berbeda-beda jenisnya sesuai dengan persediaan di daerah habitatnya.

513

Kupu-kupu Ypthima ukuran relatif kecil (± 3 cm, bahkan tidak lebih) selain itu warnanya juga tidak menarik (coklat dan abu-abu). Apalagi mereka lebih suka terbang rendah di antara rerumputan dan lebih banyak bersembunyi di antara semak belukar atau rumpun tanaman budidaya monokotil (padi, jagung, tebu, millet, dan lain-lain).

2Sayap atas bagian dalam berwarna coklat keabu-abuan dan memiliki ocelli berukuran besar pada sudut sayapnya. Seperti yang lainnya, ring ini juga terdiri dari tiga cincin berwarna coklat, krem/kuning pucat dan hitam yang di tengah-tengahnya terdapat titik putih. Pada sayap bawah (hindwing) jumlah ringnya bervariasi sesuai namanya. Ada yang dua, tiga, empat, atau lima. Meski tidak resmi, jumlah ring pada sayap bagian dalam ini dapat juga dijadikan patokan dengan cara menghitung jumlah ring (meski berukuran kecil tetap dihitung satu buah) ditambah dengan satu ring yang ada pada sayap atas.

Perbedaan Jantan Betina

Jantan: abdomen ramping, ujung agak meruncing atau sedikit menonjol. Ocelli yang letaknya di pojok atas sayap bagian dalam ukurannya lebih kecil dan agak lonjong. Sayap bagian dalam juga minim pattern. Betina kebalikannya.

 

Special thanks to http://butterflycircle.blogspot.co.id

5

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh